SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 79


__ADS_3

"Le, kok, kamu yang jemput aku?"


"Ck, dari tadi kemana aja baru nanya sekarang?"


Safa merengut memukul pelan punggung Leo. "Jawab aja, sih!"


"Mobil Kamila lagi di bengkel, bannya bocor. Jadi dia minta aku buat jemput kamu."


"Oh, gitu? Terus, sekarang dia gimana?"


"Gimana apanya?"


"Ya, kan, mobilnya di bengkel?"


Leo kembali berdecak, "Taksi sama ojek banyak, Sayang... ngapain harus pusing?"


"Ih, apaan, sih, Sayang-sayang!" Lagi, Safa memukul punggung Leo. Sekarang lebih keras hingga si empunya mengaduh.


"Aw! Sakit. Galak banget, sih. Gak berubah, ya, kamu."


Safa mencibir, "Aku bukan kamu Si Cupu yang tiba-tiba berubah jadi don juan," ketusnya.


Leo tertawa di balik helmnya.


"Inget gak? Dulu kamu sering marah-marahin aku, nyuruh ini itu. Piket sama PR aja aku yang kerjain. Mentang-mentang aku masih cupu, kamu jadi bersikap superior," ujar Leo disertai dengusan.


Safa manyun. Sebenarnya, dulu dia malu berteman dengan Leo. Lebih tepatnya Leo yang kerap mengikutinya ke manapun. Safa pernah marah, tapi layaknya itik yang keras kepala cowok itu terus saja membuntutinya.


Safa juga kasihan karena Leo sering di bully. Jadi, ya sudah lah, Safa biarkan Leo bergabung dengannya dan Kamila. Tapi karena takut diejek, Safa perlakukan saja Leo sebagai babu.


Sekejam itu dirinya dulu.


"Salahin aja tampang kamu yang memang cocok banget buat itu."


Safa mengedarkan pandangan menyisir lautan kendaraan di sekitarnya. Ini yang membuat Safa benci naik motor. Selain panas, polusi dan debu membuatnya tak nyaman. Semoga lotion SPF 110 PA+++ mampu menangkal sinar ultraviolet yang meresahkan makhluk bumi, terutama wanita. Safa akan minta pertanggungjawaban asuransi pada Leo kalau semisal kulitnya belang.


"Le, lampunya kapan ijo, sih? Lama banget!" Safa menggerutu tak sabar.


"Bentar lagi. Kamu udah kepanasan, ya?"


"Udah tau nanya!"


Safa melirik kanan kirinya yang rata-rata pengemudi ojol. Lalu pengendara motor lain yang sama kepanasan seperti dirinya, terlebih mereka membawa anak kecil. Safa menghela nafas merasa terenyuh. Seharusnya dia bisa lebih bersabar seperti mereka. Kena panas beberapa menit saja sudah ngeluh.


Tanpa sengaja Safa menangkap sesuatu yang familiar. Matanya melihat sebuah Fortuner hitam yang berjarak beberapa meter dari samping kanan, agak belakang. Safa mengernyit. Bukankah itu mobil Edzar?

__ADS_1


Buru-buru Safa menolehkan lagi kepalanya ke depan. Lalu, entah ada apa dengan tangannya yang sekonyong-konyong melingkari pinggang Leo.


Si empunya tersentak dan sedikit menoleh ke belakang. "Saf?"


"Leo, jalan! Lampunya udah berubah!"


Benar. Mau tak mau Leo segera melajukan lagi motornya membelah jalanan. Mengabaikan jantung yang berdegup seolah ingin meloncat keluar. Safa membuatnya terkejut, namun Leo tak menampik desiran halus itu menyergapi hatinya.


Sementara itu, Safa melonggarkan belitan tangannya. Saat dirasa mobil Edzar sudah tak nampak, Safa segera melepas pelukannya di pinggang Leo.


"Fyuhh... reflek apaan itu? Geer banget Si Om bakal cemburu," gumam Safa tak jelas.


"Kamu ngomong apa?" tanya Leo setengah berteriak.


"Enggak! Tadi aku lupa masukin bedak!"


..............


Di sisi lain, Edzar mati-matian menahan dadanya yang memanas. Safa tak henti-henti memenuhi isi pikirannya. Tidak cukup dia melihat adegan mesra memasang helm, Edzar juga disuguhi pemandangan Safa yang berpelukan dengan bocah tengik itu.


Apa benar hanya teman? Mereka persis orang pacaran.


Edzar jadi resah tanpa sebab. Mendadak dia membenci motor jenis Kawasaki Ninja karena desainnya yang akan membuat orang menungging saat dibonceng.


Sial, apa dia sedang cemburu?


Baru beberapa hari gadis itu sudah menggandeng pria lain.


"Sulit dipercaya," gumam Edzar tanpa sadar.


"Apanya yang sulit dipercaya?" Dyah yang tanpa sengaja mendengar berkerut heran.


"Kamu seperti suntuk begitu? Yang sabar, dong. Baru juga sepuluh menit. Tuh, Liandra nya udah datang."


Dyah salah persepsi. Namun Edzar tak berusaha untuk menyangkal. Dia bahkan tak peduli saat Liandra membuka pintu dan mulai duduk di sampingnya.


"Aduh, maaf, ya, Tante. Kalian jadi menunggu lama," ucap Liandra tak enak hati.


"Gak apa-apa. Wajar kalau perempuan dandannya lama. Apalagi yang secantik kamu. Benar 'kan, Nak?"


Liandra tersenyum malu, "Tante bisa aja." Kemudian dia menoleh pada Edzar. Pria itu hanya meliriknya sekilas. Membuat Liandra sedikit kikuk.


Dyah menggemik Edzar dari belakang. Edzar menoleh dengan dahi berkerut.


"Liandra cantik 'kan?" Mata Dyah terlihat berusaha mengirim isyarat agar Edzar menjawabnya.

__ADS_1


Dengan malas Edzar mengangguk, "Ya."


Lebih cantik Safa, lanjutnya dalam hati.


Liandra yang tak tahu isi pikiran Edzar pun merona. Dia berusaha tampil semaksimal mungkin hari ini, agar terlihat lebih segar dan muda.


Dyah tersenyum melihat itu. Semoga kali ini tidak gagal seperti sebelum-sebelumnya.


Edzar menarik perseneling segera melajukan mobilnya. Hari ini mereka berniat mengunjungi toko batik Sang Ibu yang ada di daerah Senayan.


.............


Ckrek.


Safa merubah duduknya jadi menyamping. Satu kakinya terjulur ke depan, matanya mengarah pada kamera dengan senyum khasnya yang menawan.


Ckrek.


Si fotografer mengacungkan jempolnya, "Keren!"


Kemudian Safa diminta untuk berdiri melakukan pose lain. Kalau kata Kamila gaya songong. Entah sudah berapa kali Safa ganti baju. Ternyata produknya memang sebanyak itu.


Safa tak habis pikir dengan Kamila. Bagaimana dia bisa mendapat tawaran bejibun, sedang kalau dipikir-pikir, bukannya Safa yang harusnya menerima banyak permintaan?


Usut punya usut, ternyata Kamila mencantumkan kontaknya sendiri di Instagram Safa. Jadi yang mau meng-endorse dirinya, langsung menghubungi pada Kamila.


Haih, Safa tidak tahu kapan Kamila mengotak-atik akunnya.


Setting berganti menjadi tema gelap. Dari ujung rambut hingga kaki semuanya perpaduan barang promosi. Lama kalau satu-satu. Mending sekalian kata Kamila.


Tidak tahu sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di studio. Sesekali istirahat untuk sekedar minum dan makan cemilan. Lalu lanjut lagi dengan tema yang berbeda-beda.


Meskipun lelah, Safa menikmati itu semua. Bolehkah ia sedikit berbangga hati? Walau tidak sepopuler Mbak Fuji, ini sudah cukup membuatnya meroket.


Akan Safa buktikan bahwa dia juga mampu mencari uang. Mungkin setelah ini dia akan minta diajari bisnis pada ayah atau abangnya. Yang ringan-ringan saja. Karena Safa tidak sanggup kalau harus hitung berhitung yang berat-berat.


"Saf, sepatunya ganti."


Kamila membawakan Safa sepatu jenis lain yang masih nyambung dengan bajunya.


"Oke."


Leo melambai saat mata Safa mengarah padanya. Cowok itu berdiri di samping komputer yang menampilkan hasil gambar.


Safa tersenyum kecil. Entah apa yang membuat Leo rela menunggunya selama berjam-jam. Padahal Safa sudah menyuruhnya pulang duluan. Tapi pria itu menolak. Katanya bosan di rumah saja tanpa ada kegiatan.

__ADS_1


"Lagian seru juga ngeliatin orang difoto," ujar Leo saat itu.


Safa hanya menggeleng pasrah. Terserah, lah. Suka-suka Leo mau ngapain.


__ADS_2