
"Sudah, kenapa merengut begitu? Bukankah tempatnya cukup bagus?"
"Bagus, sih, tapi kecil. Sudah gitu banyak orangnya," ujar Safa merengut.
Mereka baru saja keluar dari Kampung Korea yang sebelumnya Safa idam-idamkan. Tapi dia dibuat kecewa karena setelah masuk tidak seperti bayangan.
Edzar terkekeh pelan, "Namanya juga tempat wisata, sudah pasti ada orangnya. Kamu pikir itu kuil suci?"
"Ya seenggaknya jangan sepenuh itu~ Safa 'kan jadi gak leluasa foto."
Edzar tersenyum mengecup pelipis Safa. "Wajar tempatnya kecil, itu hanya tiruan. Paling hanya memakan sekitar 2 persen dari tempat ini. Apalagi ini weekend, jumlah pengunjung pasti meningkat lebih banyak."
"Kalau mau yang luas, kapan-kapan kita ke Korea langsung. Bagaimana?"
Safa menoleh cepat, "Serius A?"
Edzar mengangguk, "He'em. Tapi nanti kalau kita bulan madu." Seketika wajah Safa melayu. "Makanya, kamu jangan halang-halangi aku buat lamar kamu."
Safa berpaling melihat kembali ke depan, bibirnya mengerucut tak puas. Saat ini mereka tengah berdiri di pinggir danau menunggu atraksi air mancur yang katanya akan segera digelar.
Tepat sehabis magrib tadi Edzar pamit keluar dan memintanya menunggu, katanya dia mau beli cilok, padahal di sini ada Mekdi dan Solaria, kenapa harus jauh-jauh nyari cilok di luar. Hampir saja Safa mengira Edzar meninggalkannya saking lama pria itu pergi. Bahkan Safa sempat hampir menangis dan menelpon Pak Iwan atau Tuan Halim untuk jemput. Syukurlah, kurang lebih setengah jam Edzar muncul.
Masih jelas di ingatan Safa bagaimana wajah redup Edzar saat melihat ekspresinya yang seperti anak hilang. Pria itu berkali-kali meminta maaf, hal itu malah membuat Safa semakin ingin menangis.
Hey, ini daerah orang, wajar Safa ketakutan. Apalagi dia jarang bepergian jauh sendiri. Kalau masih Jakarta, Safa tidak akan sekhawatir ini. Masalahnya ini Bandung, dia belum tahu seluk beluknya bagaimana.
Setelah berhasil menenangkannya, Edzar mengajaknya berdiam di pinggir danau. Safa berdiri memegangi pagar pembatas, sementara Edzar mengungkungnya dari belakang.
Sesekali pria itu menyuapinya cilok sebesar biji kelereng yang hanya diberi perasa gurih. Edzar bilang sengaja tidak menambahkan saos atau bubuk cabai karena Safa sudah banyak makan pedas hari ini, terutama saat di tenant-tenant Kampung Korea tadi.
Hari ini dia banyak sekali makan, habisnya Bandung memang surganya kuliner. Ditambah Edzar yang mendadak boros jajan mulu, kan Safa jadi ikut-ikutan. Katanya mumpung di sini, jadi puas-puasin.
__ADS_1
Itu Edzar, sedangkan Safa masih harus tinggal beberapa lama lagi di sini. Dia harus menjalani terapi dengan Kak Rey. Mengingat itu rautnya sedikit meredup. Rasa insecure kembali muncul, mendadak dia sedikit tak percaya diri. Apa Edzar mengetahui hal ini? Sepertinya tidak, dan akan lebih baik jika tetap seperti itu.
"Ai-nya Uda kenapa masih murung aja, sih? Ciloknya gak enak, ya?"
Lamunan Safa seketika buyar. Kepalanya menunduk pada sebungkus cilok di tangan Edzar. Kemudian dia berujar ketus, "Cilok itu yang bikin Safa menunggu lama."
Edzar mengulas senyum maaf, "Maaf, habisnya di Jakarta kita jarang menemui ini. Uda jadi kalap."
"Awas nanti A Uda gendut. Safa gak mau punya pacar gendut," ketusnya.
Hal itu justru terlihat lucu di mata Edzar. "Tenang, Ai, setiap sore Uda selalu olahraga. Gak kayak kamu yang rebahan mulu. Persis kucing, habis makan langsung tidur. Haha...."
Sementara Edzar tertawa, Safa menatapnya penuh arti. Entah kenapa perasaannya jadi melow. Safa merasa hubungan mereka tak akan mudah.
Tuhan, akankah kebersamaan ini terjalin selamanya, hingga mereka tua nanti.
Apa benar Edzar adalah jodohnya?
Dancing fountain. Seketika mengingatkan Safa pada Marina Bay Sands di Singapura. Meski tak sebesar Marina Bay, tapi ini sudah sangat memukau. Terlebih lagi karya anak bangsa, Safa ikut bangga sebagai warga Indonesia.
Safa terpaku pada gerakan air mancur yang indah itu hingga tidak menyadari sesuatu melingkari lehernya. Dia terkesiap saat sebuah benda dingin mulai menyentuh permukaan kulitnya.
Kepala Safa menunduk, seutas kalung dengan rantai kecil minimalis tampak berkilauan di tengah kerlap-kerlip lampu yang meriah. Untaian kata 'Safazar' terukir indah dengan porsi yang pas.
Sangat cantik, ukuran hurufnya tidak terlalu besar hingga terlihat ramping dan elegan. Terdapat beberapa butir berlian kecil yang menambah kesan mewah dan menawan.
Safa mematung, pelan-pelan dia menoleh pada Edzar yang berdiri di belakangnya. Pria itu menyorot Safa dengan lembut, tak lupa bibirnya mengulas senyum yang membuat siapapun terbius melihatnya.
Seketika pertunjukan air mancur tak lagi menjadi perhatiannya. Mata Safa berkedip dengan raut wajah yang linglung. "A Uda, i-ini...."
"Happy birthday, Safana Halim," bisik Edzar dengan senyum lebar.
__ADS_1
Mata keduanya terpaku satu sama lain. Safa masih belum sadar dari keterkejutannya. Ritme jantungnya merambak kian cepat seiring desiran halus terasa di perutnya.
"Uda tahu ulang tahunmu bukan sekarang, melainkan besok. Tapi setelah ini Uda sudah harus ke Jakarta. Tak apa, kan, Uda memberi selamat sekarang? Sekalian juga dengan hadiahnya."
"Bagaimana? Kamu suka?" Edzar menunjuk kalung itu dengan lirikan matanya.
Safa tak tahu harus bilang apa, dia terlalu terkejut. Safa bahkan lupa besok dia ulang tahun. Dari mana Edzar bisa tahu?
Matanya tiba-tiba membayang, ditatapnya Edzar dengan raut setengah bingung juga terharu.
"Ini gabungan nama kita. Jika kamu sampai mengagumi pria lain maka lihatlah itu, kamu harus ingat bahwa kamu milik Uda."
Safa berkedip, membuat bendungan air di matanya meluruh perlahan. Tubuhnya berbalik memeluk pria itu. Dia tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar mereka. Yang Safa tahu hatinya tengah bahagia.
Edzar membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Sesekali dia mengecup kepala Safa, matanya mengarah pada tarian air mancur yang berkelip. Sudut bibirnya terangkat tipis merasakan gemuruh di hatinya. Jantungnya bertalu keras, namun ia merasa nyaman.
"A Uda.... Hiks." Safa tidak bisa berkata-kata selain menangis. Dia teringat perjuangannya mendapatkan hati Edzar. Tak pernah sekalipun dia menyangka akan bisa memeluk Edzar seperti ini.
Benarkah ini nyata. Jika mimpi, tolong jangan bangunkan Safa.
Safa tidak tahu harus memberi tanggapan apa selain bergelung di pelukan Edzar yang hangat. Tubuh besar pria itu berhasil menyelimutinya dari angin malam yang sejuk, cenderung dingin dan membuat menggigil. Padahal Safa sudah pakai cardigan rajut yang tebal.
"También te amo," bisik Safa pelan, menjawab ungkapan Edzar beberapa waktu lalu yang sudah ia cari tahu artinya di google.
Edzar tertawa renyah. Ada apa, apa pengucapannya salah? Safa menggeleng. Masa bodo, dia tersenyum di tengah air mata yang belum sepenuhnya mengering.
Mereka berdua terlalu larut dalam uforia romansa yang ternyata ikut mengalir pada orang-orang di sekelilingnya. Para pengunjung yang sama-sama menikmati dancing fountain itu mendadak bisu seakan takut mengganggu momen dua orang itu.
Safazar. Safa dan Edzar. Dua sejoli yang berhasil mengukir kisah di hati orang-orang Pasundan.
Mereka tak terlupakan.
__ADS_1