SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 164


__ADS_3

Safa menggigit bibir merasa gugup. Kakinya maju mundur terlihat ragu. Berkali-kali dia mengintip Edzar dari balik birai bambu yang tertata apik.


Safa terlambat. Niatnya dia ingin kembali sebelum magrib. Tapi apa daya, Safa jadi keasikan belanja saat di mall tadi.


Dia lupa beli sesuatu yang penting dan paling utama. Alhasil Safa baru kembali ke cottage sekitar pukul setengah delapan. Tepat saat Edzar melipat sajadahnya, selesai sholat isya.


Pria itu sempat meliriknya sekilas. Edzar belum menceramahinya, mungkin memberi kesempatan bagi Safa untuk bebersih, mandi dan beribadah.


Dan saat Safa menyelesaikan salamnya, Edzar sudah tak nampak di kamar. Dia lihat pintu beranda yang terbuka. Rupanya Edzar tengah berendam di hot tube, semacam jacuzzi dengan pemandian air panas yang terletak di halaman belakang cottage ini.


Meski mengusung tema outdoor dan menyatu dengan alam, tempatnya sangat privat. Hanya penghuni masing-masing kamar yang bisa mengaksesnya. Setiap cottage dengan unit yang sama dibekali fasilitas serupa. Konsepnya pun sangat unik. Seakan-akan kita tengah berada di tengah hutan. Cocok untuk merefresh pikiran orang-orang metropolitan yang sehari-harinya berjibaku dengan gedung dan asap kendaraan.


Berlaku juga bagi Edzar, lelaki itu tampak begitu menikmati waktu berendamnya. Matanya terpejam, kepalanya mendongak, bersandar pada pinggiran kolam dengan tangan terentang.


Safa mengerucutkan bibir, merapatkan kimono batik yang menutupi tubuhnya. Tak main-main udaranya sangat dingin. Jari kakinya sampai menekuk merasakan angin yang berhembus. Berkali-kali dia melirik sang suami yang asik sendiri, tanpa mengetahui istrinya kedinginan dikerubungi nyamuk, mengintip dirinya.


Tentu hal itu membuat Safa merengut. Dia menghentak tanpa suara. Baru saja Safa hendak kembali ke cottage, mengurungkan niat menghampiri Edzar. Namun tiba-tiba pria itu berujar. "Kamu tidak pegal berdiri di sana terus?" tanyanya tanpa mengubah posisi. "Kemarilah."


Safa tersentak. Dia menggigit bibir, berbalik perlahan pada Edzar yang tampak berkilauan dalam remangnya lampu kekuningan. Sangat seksi. Tubuh Safa sudah berdenyut hanya dengan melihat dada bidangnya yang seperti papan cucian.


Sialan. Ternyata suaminya sepanas ini.


Ia meneguk ludah sebelum memutuskan melangkah ke hadapan Edzar. Sejenak mata Safa mengedar meneliti sekitar yang dikelilingi birai bambu berwarna kuning. Aestetik dan romantis. Sedikit menyesal Safa tak membawa ponselnya untuk berfoto.


Tatapannya kembali beralih pada Edzar. Tertegun saat ternyata pria itu tengah membuka mata, menatapnya dengan intens. Safa tergagap, tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia salah tingkah. Berbeda dari bayangannya yang sudah berniat untuk bersikap berani malam ini.


Ia gugup setengah mati, terlebih mendapati Edzar yang ternyata hanya mengenakan bokser ketat untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Lagi-lagi Safa meneguk ludah, teringat dengan ukuran sang suami yang menurutnya di luar perkiraan.


Lihatlah, belum bangun saja gundukannya sudah sebesar itu. Apalagi jika sudah menegang seperti kemarin, Safa bergidik membayangkannya.


Tapi, mau tidak mau Safa harus menyingkirkan ketakutan itu.

__ADS_1


Ditatapnya kembali sang suami yang setia memandangi dirinya. Sesekali mata tajam itu turun ke bawah, menelusuri tubuh Safa yang terbalut kimono persis seperti yang Edzar kenakan tadi.


Safa menunduk malu, jari jemarinya saling meremas dan menekuk satu sama lain. Berharap bisa meredakan sedikit saja kegugupannya di hadapan Edzar yang masih saja beraura dingin. Sedingin udara yang semakin menurun seiring waktu beranjak malam.


Kening Safa berkerut, menahan rasa sedih dan kesal karena diabaikan. Kenapa Edzar masih saja bungkam. Safa kan jadi bingung harus berbuat apa. Edzar benar-benar menyeramkan jika sudah seperti ini. Safa menyesal, coba saja tadi dia mendengarkan pria itu, bukan malah adu mulut dan berujung marahan, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang.


Rasanya mau menangis saja.


"Buka," ucap Edzar tiba-tiba.


Safa mendongak, matanya berkedip bingung. "Hah?"


Edzar menunjuk kimono yang Safa gunakan dengan lirikan matanya. "Mau berendam, kan? Buka," ulangnya sekali lagi.


"Oh. I-iya." Tanpa pikir panjang Safa menarik tali kimono hingga terlepas. Namun gerakannya berhenti saat ia akan menyibak kain itu.


Perasaan kembali gugup. Jantung berdetak tak karuan saat tahu mata Edzar tak lepas menatapnya. Niat hati ingin memberi pria itu kejutan, tapi nyalinya malah dibuat ciut hanya karena rautnya yang datar.


Edzar tampak seperti pemangsa yang mengincar buruan. Belum apa-apa Safa sudah tremor duluan. Entah dia harus memilih diomeli karena pulang telat atau dihukum dengan cara lain yang umum Safa baca di novel-novel romance. Suasananya memang lebih mendukung yang kedua. Tapi, Safa tidak yakin dengan kemampuannya merayu pria itu sesuai rencana awal.


"Kenapa berhenti? Pilih buka sendiri atau saya bukakan?"


Safa sedikit tak nyaman dengan nada formal yang lelaki itu lontarkan. Sangat jauh beda dari biasanya. Safa jadi teringat Edzar sebelum mereka dekat apalagi menikah. Datar dan dingin. Aura intimidasi kental terasa, dan Safa tidak suka.


Safa menunduk menyembunyikan raut sedih. Tidak tahu mengapa masalahnya jadi serumit ini. Padahal ini hanya soal kecemburuan Edzar. Mungkin karena Safa menanggapinya dengan keras kepala. Jadi malah terkesan drama banget.


Ragu-ragu Safa melepas kimononya, menurunkannya perlahan hingga kain itu menumpuk di bawah kakinya. Mata Safa terpejam, malu saat tahu tubuhnya kini terekspos di hadapan Edzar. Meski semalam Edzar sudah melihatnya lebih dari ini. Yang menjadi masalahnya adalah, apa yang Safa pakai di balik kimono itu.


Udara Lembang yang kian mendingin seiring waktu berlalu. Mungkin ini sudah lebih dari jam delapan malam. Safa menggigil, entah karena gugup atau angin yang berhembus sejuk. Safa betul-betul tak berani membuka mata, apalagi bertatapan langsung dengan Edzar.


"Kemarilah."

__ADS_1


"Kemari," titah Edzar sekali lagi.


Safa mau tak mau menurut, dia takut menimbulkan masalah lebih besar jika lagi-lagi bersikap ngotot dan menolak.


Perlahan kaki Safa terangkat menaiki undakan cukup tinggi jacuzzi itu. Namun dia tak memperkirakan ubin kayunya akan licin. Sontak tubuh Safa oleng. Dia pasrah jika detik selanjutnya tubuhnya berdarah-darah menghantam bebatuan.


Tapi hal itu tidak terjadi. Bunyi kecipak air kontan terdengar seiring jatuhnya Safa pada sesuatu yang keras namun juga lembut. Setidaknya tidak jauh lebih sakit ketimbang dirinya membentur pinggiran kolam.


Nafas Safa terengah, terkejut sekaligus takut. Sarafnya seolah melemah saat kakinya tergelincir. Matanya masih terpejam, meresapi kelegaan luar biasa saat dirasa dirinya selamat dari ancaman bahaya yang bisa saja merenggut nyawa.


Tiba-tiba sebuah bisikan mampir di telinga. Terasa panas dan menggelikan. Safa yakin cupingnya sudah memerah sekarang.


"Inilah akibat kamu berjalan sambil terpejam."


"Apa kamu malu dengan kain transparan ini?"


"Rayuanmu kurang totalitas, Sayang. Tapi sangat berhasil membuatku menegang dan ingin menggempurmu habis-habisan."


Safa bahkan belum sempat membuka mata ketika bibirnya diraup keras oleh Edzar. Pria itu mencengkram erat pinggang Safa yang berada di atas tubuhnya. Gadis itu masih berusaha beradaptasi dengan suasana yang mendadak melonjak ke situasi terpanas.


Sedetik kemudian Safa menyesal dan merasa sia-sia telah jauh-jauh ke mall dan membeli pakaian dalam berupa jaring yang bahkan harganya jauh melebihi hape Samsung tipe terbaru.


Dengan mudah seolah tanpa tenaga Edzar merobek jaring itu hingga menjadi onggokan tak berguna, mengambang di atas air saat pria itu melemparnya asal.


Safa mendesah kala dua tangan Edzar yang besar dan kasar meremas dadanya. Tanpa sadar tubuhnya bergerak di sela ciuman mereka. Dia tak bisa mengendalikan gelora saat kulit mereka bersentuhan.


Edzar menggeram, entah disadari atau tidak, gerakan Safa menyenggol sesuatu yang mengeras di bawah sana. Gadis itu terus menggesek pelan seolah mencari kepuasan. Edzar mengerti istrinya minim pengalaman hingga kemungkinan sulit menahan hasrat sangat besar.


"Sebentar, Sayang. Posisi kamu yang seperti ini bisa membuatmu sesak dan kesulitan berbafas," ucap Edzar mengingatkan Safa yang tengah tengkurap di atas tubuh pria itu.


Safa menggigit bibir malu. Dia pasrah saat Edzar mengubah posisi mereka. Pria itu duduk di antara kakinya yang melebar. Pun Edzar yang merenggangkan tungkainya sendiri, memberi celah untuk merapatkan tubuh mereka.

__ADS_1


"Emh ...." Mata Safa terpejam saat mulut Edzar meraup puncak dadanya. Menggigit dan memainkan lidahnya di sana.


"A Uda, apa tidak sebaiknya kita pindah ke kamar? Ini tempat terbuka. Kalau ada yang lihat kita gimana?"


__ADS_2