SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 199


__ADS_3

"Sabar ya, Sayang. Dokter bilang masih pembukaan empat. Ketubannya juga belum pecah." Edzar menatap iba sang istri yang sedari tadi mengeluh sakit.


Dengan telaten dia pijat pinggang serta punggung Safa. Berharap bisa sedikit saja meredakan rasa nyeri atau setidaknya membuat Safa tenang.


Hari ini tepat sembilan bulan Safa mengandung. Dan pagi tadi Edzar membawanya ke rumah sakit karena terlalu panik saat tiba-tiba saja keluar lendir dan bercak kemerahan dari jalan lahir Safa. Saat itu istrinya baru selesai mandi seusai bercinta dengannya.


Edzar bahkan tidak sempat membersihkan diri. Tapi tadi dia menumpang di kamar mandi rumah sakit karena harus shalat.


Padahal ini masih kurang 7 hari dari perkiraan dokter. Apa karena mereka bisa dibilang sering melakukan hubungan suami istri? Entahlah.


Sebelumnya ia ditemani Bunda Halim. Lalu tak lama ibunya menyusul bersama Tirta, Miranti, serta Omanya Safa. Edzar lega di saat seperti ini banyak orang yang mau mengawani. Dia benar-benar kebingungan. Ini pengalaman pertamanya menyertai seorang wanita yang hendak melahirkan.


Perasaannya campur aduk. Gugup, cemas, takut, khawatir Safa kenapa-napa. Andai bisa, Edzar ingin meminta pada Tuhan agar melimpahkan saja semua kesakitan itu padanya. Ia betul-betul tidak sanggup menyaksikan Safa yang gelisah. Nampak sekali wanita itu menderita setiap detiknya.


"Ai, kita operasi saja, ya?"


Ada satu kesempatan Edzar bertanya dan menawarkan jalan yang lebih mudah. Tapi Safa menolak.


"A Uda diem, deh. Berapa kali Safa bilang, Safa mau melahirkan normal! Kalau gak mau nemenin sana pergi! Bosan 'kan pasti lama-lama di sini?"


"Bukan gitu, Ai. Uda gak sanggup aja lihat kamu kesakitan."


"Ya namanya juga orang mau lahiran. Ya sakit lah!"


"Udah, ah, diem. Jangan ngajakin ngomong terus! Capek tau! Mending pijetin, nih!"


Edzar menurut. Dia lekas memijat kembali sekujur tubuh Safa, terutama bagian punggung ke pinggul.


Tirta yang menyaksikan perdebatan kecil itu tak bisa menahan kekehan. Namun mulutnya seketika bungkam ketika mendapat pelototan dari Bu Dyah serta istrinya. "Diem kamu, Mas. Nanti kalau aku lahiran, kamu gitu juga." Miranti berucap tajam.


Memang, pasangan itu juga sebentar lagi akan dikaruniai anak. Berbeda dengan Safa, Miranti baru menggelar acara empat bulanan beberapa hari lalu.


"Nak Edzar, kalau mau ngopi dulu, gak papa keluar aja. Biar Bunda dan Ibu kamu yang nemenin Safa. Nak Edzar juga pasti belum sarapan sejak pagi."


"Tirta, ajakin, gih," lanjut Nyonya Halim menegur adik dari menantunya.


"Ayo, Bang. Lemes banget itu muka. Kayak mau pingsan."


Edzar menggeleng. Tangannya aktif mengurut Safa. Sesekali mengelap keringat yang tampak mengganggu kenyamanan sang istri.


Bu Dyah yang melihat memilih diam. Dia mengerti perasaan Edzar. Putranya itu tengah dilanda cemas luar biasa, kendati wajahnya masih berusaha tetap tenang.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


Tuan Halim dan Dava muncul dari ambang pintu ruang rawat. Setelan jas masih melekat di tubuh keduanya. Pertanda bahwa mereka langsung kemari setelah dari kantor.


Dua pria itu mendekat pada Safa yang tengah berbaring miring. Di belakangnya ada Edzar yang setia menemani.


"Ayah ... Sakiit ..." rengek Safa ketika sang ayah menduduki pinggiran ranjang.


Pria baya itu tersenyum teduh. Mengusap kening putrinya yang kuyup dibasahi keringat. Menyingkirkan anak rambut yang menempel.


"Sabar, Sayang. Tadi kata dokter sudah pembukaan berapa?" Ia bertanya pada Edzar.


"Katanya empat, Ayah. Tapi harusnya sebentar lagi sudah dicek kembali," jawab Edzar.


Begitu. Tuan Halim mengangguk faham. Dava turut mengusap kepala adiknya. Memberi semangat pada calon ibu yang kini tengah disuapi sereal oleh bundanya.


"Yang sabar, Dek. Kalau keponakan Abang nakal gak mau keluar, Abang akan tarik paksa kepalanya," ujarnya mengundang kekehan orang-orang.


Kurang lebih 16 jam terlewati sudah. Pembukaan Safa sudah menginjak pada tahap ke 6. Kontraksi mulai sering dan lebih intens dirasakan. Ketubannya juga sudah pecah. Kemungkinan pembukaan lainnya akan menyusul lebih cepat.


Perasaan Edzar semakin dibuat tak karuan. Dia benar-benar cemas. Kata dokter, bobot putranya cukup besar dari beberapa bulan kemarin. Ibunya sempat bilang itu faktor genetik. Karena saat hamil dirinya, sang ibu juga mengalami hal yang sama seperti Safa. Janinnya besar.


Sungguh, Edzar tak bisa tenang mengetahui hal itu. Karena Safa memilih jalan normal, kemungkinan proses persalinan akan memakan waktu lebih lama. Serta ada resiko lainnya yang membuat Edzar takut luar biasa.


Belum apa-apa Edzar sudah ingin menangis. Dia tegang bukan main. Padahal Safa saja terlihat biasa saja dan menikmati prosesnya.


"A Uda, Safa pengen buah mangga, deh. Tolong beliin, gih."


Edzar terhenyak. "Tapi, Ai. Ini sudah hampir tengah malam. Di mana ada toko buah yang buka?"


"Kan ada supermarket 24 jam."


Benar. Kenapa Edzar tidak kepikiran.


"Ya sudah, Uda pesankan supaya dikirim saja ke sini, ya?"


Namun Safa menggeleng. "Safa pengen A Uda yang beli langsung."


"Ai ..." Edzar memelas. Dia enggan meninggalkan Safa meski keluarganya ada banyak di sini. "Bisa-bisanya kamu masih mengidam di saat seperti ini? Uda gak mau pergi."


Safa menghela nafas. "A Uda, persalinannya masih lama. Ini aja masih pembukaan enam. Pasti keburu, kok. Jalanan udah gak macet. A Uda bisa cepat-cepat kembali ke sini."


Edzar tetap enggan. Padahal yang lain sudah menawarkan diri untuk pergi, tapi Safa tetap mau Edzar yang beli.

__ADS_1


Karena tak tega melihat Safa yang sepertinya sangat ingin memakan Mangga, akhirnya dengan berat hati Edzar keluar mencari buah yang memiliki aroma manis itu.


Sepanjang perjalanan hati Edzar diliputi perasaan tak tenang. Hingga saat memilih buah pun dia tak bisa fokus. Mungkin karena melihat tangannya yang tremor, seorang petugas yang kebetulan bekerja di shift malam menawarkan diri untuk membantu.


"Anda baik-baik saja, Pak? Saya lihat sepanjang masuk tadi wajah anda tegang sekali," ujar pemuda berseragam merah itu seraya memasukkan satu persatu Mangga ke dalam keranjang.


"Istri saya mau melahirkan," jawab Edzar seadanya.


"Oh ... pantas. Pembukaan berapa, Pak?"


"Enam."


Pemuda itu mengangguk. "Kelahiran pertama, ya, Pak?"


Sebetulnya Edzar kesal karena bocah itu banyak sekali bertanya. Tapi tidak bijak juga kalau dia marah-marah. "Iya."


"Tahun lalu istri saya juga melahirkan, Pak."


Edzar sedikit terkejut mendengarnya. Tak disangka pria yang ia kira bocah itu ternyata sudah menikah. Edzar tak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Kami dikaruniai anak kembar."


Edzar mengangguk. "Pasti kalian bahagia sekali." Hanya itu yang bisa ia ucapkan.


"Sayangnya saya hanya bisa menikmati itu sendiri. Karena dia meninggal setelah melahirkan anak-anak kami," lanjutnya sendu.


Tak pelak pernyataan itu membuat Edzar langsung terhenyak. Ia menelan ludah, berusaha tetap berpikir positif.


Hingga tiba ia membayar belanjaannya di kasir. Ponselnya berdering dalam saku. Panggilan dari sang ibu. Lekas Edzar mengangkatnya seraya memberikan kartu pada kasir yang telah selesai menghitung nominal yang harus ia bayar.


"Halo. Assalamualaikum, Bu. Ada apa?"


"Edzar, cepat kembali. Safa mau melahirkan!" serunya membuat Edzar terlonjak.


"A-apa? Kenapa cepat sekali?"


"Nanti saja jelasinnya! Kamu cepat ke sini!"


Telpon ditutup.


Edzar mematung. Jantungnya berdegup kencang. Pun tubuhnya semakin gemetar saat buru-buru meninggalkan tempat. Teriakan petugas kasir tak ia hiraukan. Pikirannya penuh oleh anak serta istrinya yang kini tengah berjuang.


Safa, Uda mohon untuk kamu baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2