SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
AFTER 1


__ADS_3

"Ai, Ibra sudah tidur?"


Sebuah pergerakan Safa rasakan di belakangnya. Tak lama tangan Edzar melingkar melewati perut. Ia menyentuh kaki kecil Ibra yang montok, menggerakkannya sedikit hingga membuat bayi mungil yang tengah menyusu itu mengejat.


Safa menepik pelan tangan Edzar. "Gimana mau tidur? Dari tadi Papi gangguin terus."


Edzar merengut, "Ya habis lama banget nyusunya. Uda kan bosan nungguin."


"Emang A Uda mau ngapain, sih? Aw! Shh ..." Safa meringis saat Ibra menyedot puncak dadanya lumayan keras.


Tanpa tahu di belakang sana ada yang menegang mendengar suaranya yang lebih mirip desa*han.


"Ai ..." lirih Edzar.


Safa tak menyahut karena fokusnya terbagi pada Ibra yang tiba-tiba melepas mulutnya dari pucuk dada Safa. Lantas berkedip, melempar tawa yang terdengar menggemaskan.


Bayi 5 bulan itu mengangkat kedua kakinya ke atas. Dari rautnya, Safa tahu Ibra tengah mengajaknya bermain.


"Ai, kenapa Ibra belum tidur juga?" tanya Edzar yang melihat putranya tertawa-tawa dengan wajah segar alias tidak mengantuk sama sekali.


Edzar kesal. Wajahnya masam. Apalagi saat Safa malah meladeni anak mereka yang tak kunjung memejamkan mata.


"Gak tau nih. Dari tadi susah banget tidur."


"Jangan diajak main terus, dong, Ai. Nanti dia gak tidur-tidur."


Safa menghela nafas. "Terus Safa harus gimana? Dari tadi udah Safa tepuk-tepuk sambil mimi. Tapi Ibra kayaknya memang belum ngantuk."


Diam-diam Edzar merutuk dalam hati. Matanya menatap datar sang putra yang berguling di atas ranjang. Mentang-mentang sudah bisa tengkurap, Ibra jadi semakin gigih untuk melancarkan kemampuan barunya itu.


Plak.


"A Uda. Jangan macam-macam di depan anak," bisik Safa memperingati. Ia berusaha mengeluarkan tangan Edzar yang menyusup ke balik gaun tidur satin yang dia kenakan.


Edzar pun menurut. Namun wajahnya kusut tak enak dipandang. Safa jadi merasa serba salah. Enggak anak enggak bapak, keduanya sama-sama manja. Sejak ada Ibra, Edzar semakin kekanakan. Masa pria itu sering cemburu sama anak sendiri.


Hal ini kerap terjadi kalau pria itu sedang on. Seperti sekarang. Safa tahu pasti hasrat Edzar tengah menggelora minta dilepaskan. Bukti gairahnya sudah terasa di belakang tubuh Safa. Gimana enggak, Edzar seolah dengan sengaja menyenggol bokongnya dan menggeseknya sesekali.


"A Uda, sabar, ih. Biar Ibra tidur dulu."


"Kelamaan, Ai ..." melas Edzar.


Kasihan juga, sih. Wajah Edzar sudah berkeringat. Telinganya pun tampak memerah. Safa yakin pria itu sudah berada di tegangan paling tinggi.


Karena kasihan, akhirnya Safa mengulurkan tangan ke belakang. Menyentuh pusat gairah Edzar yang mengeras di balik celana.


Mata Edzar terpejam. Mulutnya setengah terbuka menikmati elusan Safa pada miliknya.


"Jangan bersuara. Gak baik didengar Ibra."


Edzar mengangguk saja. Yang penting ia mendapat stimulasi untuk meringankan kebutuhan mendesaknya. Wajahnya terbenam di balik rambut Safa yang terurai. Menghirup aroma segar memabukkan yang membuat libidonya semakin meningkat.


Susah payah Edzar menahan mulutnya untuk tak bersuara. Ia menarik turun celananya, membantu Safa mengeluarkan batang berurat yang telah menegang sempurna itu.


Nafas Edzar terhela berat. Ia menunduk, menatap sayu pergerakan Safa yang tengah mengusap benda pusakanya dengan belaian menggoda.


Luar biasa. Istrinya memang paling tahu cara membuat Edzar menggila.


Meremas, mengurutnya perlahan serta sesekali menyentuh kepalanya. Menekan pelan lubang kencingnya hingga Edzar menggelinjang.


"Ai ..." desah Edzar serak.


"Syut."

__ADS_1


"Ibra kayaknya udah tidur. Pindah kamar, yuk?" Suara Edzar terdengar sangat berat.


Safa menoleh pada sang putra yang meringkuk memunggungi mereka. Tubuh gempalnya naik turun dengan nafas teratur.


"Sebentar."


Safa melepas pegangannya, lantas mencondongkan tubuh untuk memastikan. Benar. Ibra sudah pulas dengan mulut mengemut ibu jari. Menggemaskan sekali.


"Pindahin box, A," titah Safa.


Spontan Edzar membenarkan letak celananya dulu. Kemudian merangkak ke tengah kasur, mengangkat tubuh Ibra hati-hati, lalu menggendongnya ke arah box bayi di samping ranjang mereka.


"Tidur yang nyenyak, ya? Sekarang giliran Papi yang kelonan sama Mami. Biar adil. Kamu 'kan sepanjang waktu udah sama Mami. Jadi gantian," ucap Edzar dengan suara pelan.


Safa menggeleng menyaksikan aksi konyol suaminya. Edzar membungkuk mencium kening sang putra setelah menutupi tubuhnya dengan selimut.


Lantas mengajak Safa ke kamar sebelah untuk melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.


............


"Permohonan Uda untuk pindah tugas ke Bandung dikabulkan. Mungkin lima bulan lagi kita bisa tinggal di rumah baru. Kebetulan taman belakang sudah selesai direnovasi. Kolam dan gazebonya juga sudah jadi. Tinggal isi air. Rencananya Uda akan pilih ikan koi untuk menjadi penghuni kolam itu."


"Ini. Tadi arsiteknya kirim foto. Gimana menurut kamu?"


Safa terdiam. Mulutnya bungkam tak menjawab. Edzar pun menoleh dengan raut sedikit tegang. "Ada apa? Kamu gak suka, ya?"


Safa ikut menoleh. Ia balas tatapan Edzar yang menatapnya harap-harap cemas.


Safa menunduk saat Ibra mengejat-ngejat di pangkuannya. Anak itu sepertinya ingin turun. Dengan hati-hati Safa baringkan Ibra di atas karpet. Kontan tubuh gembulnya langsung bergerak ke kiri dan ke kanan, berusaha untuk tengkurap.


Safa menoleh kembali pada Edzar. Pria itu masih menatapnya. Ia pun menghela nafas sebelum membuka suara.


"Sebenarnya Safa sudah penasaran dengan hal ini sejak awal. Tentang rumah itu."


Dahi Edzar mengkerut. "Kamu bicara apa, Ai? Tentu rumah itu untuk kamu."


Safa mengangguk. "Lalu, A Uda dapat desain itu dari mana?"


Edzar terdiam. Ia tidak tahu kenapa Safa bisa sampai bertanya seperti itu. Ke mana sebenarnya arah pembicaraan mereka.


"A Uda?"


Sesaat suasana menjadi hening. Edzar menatap mata Safa dengan dalam. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu curiga sebelumnya Uda menyiapkan ini untuk orang selain kamu?"


Safa menggeleng. "Bukan. Justru Safa curiga kalau A Uda lah yang sudah mencuri sesuatu milik Safa."


"Apa?"


"Desain rumah itu. Mirip dengan desain rumah impian yang Safa gambar waktu SMA. Keseluruhan tata letak ruangan juga persis seperti denah yang pernah Safa buat."


"Memang coretan itu sudah sangat lama. Safa bahkan lupa di mana pernah meletakkannya."


"Tapi, Safa ingat persis bagaimana desain dan denah rumah itu."


"Pertanyaan Safa, bagaimana bisa rumah itu bisa begitu serupa dengan bayangan yang Safa impikan sejak dulu?"


"Di mana A Uda mendapatkan desain itu?"


"Ai ..."


"Jawab yang jujur. Apa A Uda mengambilnya dari Safa?"


"Apa kamu akan marah jika Uda jujur?"

__ADS_1


Safa menggeleng. Edzar pun mengangguk lega.


"Benar. Uda ambil desain itu dari kamar kamu."


Kening Safa mengkerut. "Kapan?"


"Saat awal-awal kita pacaran. Uda sempat ke kamar kamu untuk bertanya perihal keinginanmu untuk backstreet kan?"


Safa mengangguk. "Terus?"


"Saat itu tiba-tiba Bunda panggil kamu karena ada tamu. Kamu tinggalin Uda di sana." Edzar sedikit merengut mengingat itu.


"Karena kamu lama, akhirnya Uda iseng obrak-abrik kamar kamu. Gak sopan, sih. Tapi Uda terlanjur penasaran sama kamu."


"Saat itulah, Uda tanpa sengaja menemukan kertas HVS yang terlihat usang. Terselip di antara kumpulan novel ero*tis kamu." Edzar terkekeh. Sementara Safa merengut malu. Ternyata Edzar sudah mengetahui kegesrekannya sejak lama.


"Uda tarik karena penasaran. Dan ternyata isinya gambar cakar ayam yang sama sekali tidak bisa dimengerti. Tadinya tidak Uda hiraukan. Mungkin itu adalah satu dari sekian coretan kamu saat bayi."


Edzar tersenyum, menoel hidung sang istri yang kini cemberut merasa terhinakan.


"Tapi setelah diteliti lebih dalam, Uda tahu bahwa itu gambar sebuah rumah serta denahnya. Dan ternyata di belakangnya tertulis sebuah catatan."


"Aku hanya akan menikah dengan seseorang yang mengerti dan mau membuatkanku rumah seperti ini."


"Itu yang kamu tulis. Apa Uda benar?"


Safa tak tahu lagi harus mendeskripsikan Edzar seperti apa. Yang jelas, Edzar adalah sosok lelaki idaman yang langka dan diharapkan semua orang.


"Akhirnya Uda memutuskan membangun rumah itu. Desainnya Uda perinci lagi dan sedikit konsultasi dengan arsitek. Setelah gambarnya benar-benar jelas dan mudah dimengerti, proyek itu segera disahkan ketika Uda berhasil membeli tanah di Bandung. Sesuai yang kamu harapkan. Kamu ingin tinggal di wilayah yang dingin karena bosan dengan panasnya Ibu Kota."


Senyum Edzar tersungging. Ia usap sudut mata Safa yang mulai berair. "Saat itulah Uda mendatangi ayahmu di kantornya. Meminta izin untuk bisa mendekati dan menjadikanmu sebagai milik Uda."


"Ayah tak serta-merta memberi restu. Tapi, yaa ... seiring waktu ayahmu juga jatuh dalam pesona Uda. Hahaha."


Safa mencibir. "Dengan memberinya barang-barang mahal, begitu?"


"Safa tahu, ya. Bukan hanya pancingan dan tas Hermes yang Uda beli untuk Ayah dan Bunda. Villa baru di Bandung itu, sebenarnya Uda juga kan yang beli?" tanya Safa menyolot.


Edzar meringis menggaruk tengkuknya. "Ya mau gimana lagi, Ayah kamu yang minta."


"Terus kalo Ayah minta A Uda loncat dari atas bukit, A Uda juga akan lakukan, begitu?"


"Ya enggak lah, Ai. Sia-sia dong perjuangan Uda."


Safa mendengus. "Pantas waktu itu A Uda bisa langsung tahu alamat Vila-nya. Orang A Uda sendiri yang beli."


Edzar tersenyum. Ia merangkul Safa, membawanya dalam dekapan. "Ya sudah sih, Ai. Kan yang penting sekarang kita udah sama-sama."


Safa membuang muka menghindari tatapan Edzar. Mulutnya bergumam tak jelas. "Tetap saja, A Uda yang diam-diam seperti ini membuat Safa baper tingkat Dewa."


"Hm? Kamu ngomong apa?"


"Enggak. Apaan sih, ah. Lepas." Safa menggeliat dalam pelukan Edzar.


Bukannya lepas, Edzar malah semakin mengeratkan tangannya pada tubuh Safa.


Baru ia hendak mencuri cium, jeritan putranya yang melengking keras mengagetkannya hingga terlonjak menjauh. Pun Safa yang terkejut langsung menghampiri Ibra yang menangis histeris.


"Ya ampun! Maafin Mami, Sayang! Mami kurang perhatiin kamu. Ya Tuhan, gimana ini ...?"


"A Uda! Jangan diem aja! Ini kening Ibra benjol tau! Hiks, ini semua gara-gara A Uda. Kenapa sih harus ngajakin Safa ngobrol? Hiks."


"Ai, hey." Edzar bingung karena Safa malah ikut menangis. Ibra yang kepentok lantai, tapi istrinya yang seolah kesakitan.

__ADS_1


Kalau sudah begini, mana dulu yang harus Edzar tangani? Istrinya atau anaknya?


__ADS_2