
Pukul 10 pagi, semuanya sudah berkumpul di tempat peristirahatan. Sebuah villa cukup besar yang disewa Tante Miranti untuk menampung seluruh anggota keluarga yang ikut. Letaknya berada di dataran tinggi dan cukup jauh dari jalan raya.
Safa bisa melihat hamparan kebun teh yang luas dan nampak kecil dari sini. Udaranya segar dan sejuk, berbeda jauh dengan tempat tinggalnya di Jakarta.
Tak heran warga ibu kota berbondong-bondong kemari setiap weekend, hal itu yang menyebabkan jalanan sedikit macet tadi. Tapi tak apa, karenanya Safa bisa berdua lama-lama dengan Edzar.
Ngomong-ngomong Edzar, kamar pria itu di mana, ya?
“Safa?”
Safa menoleh ke arah pintu kamar, Tuan Halim berdiri menatapnya di sana.
“Dipanggil Bunda, tuh. Suruh bantu nyiapin makan siang katanya. Sepupu-sepupu kamu juga di sana.”
Safa mengernyit, dia gak bisa masak ngapain dipanggil? Lagian sudah ada banyak orang di sana. Dengan setengah hati Safa mengikuti Tuan Halim menuju dapur, Safa belum tahu tata letak ruang di sini, jadi dia minta sang ayah untuk mengantarnya.
Persis apa yang Tuan Halim bilang. Para sepupunya berkumpul di sana. Dan seperti dugaannya dapur terlihat penuh. Hih, ngapain sih desak-desakkan di sana? Kayak naik KRL aja. Safa menggerutu dalam hati.
Dia berjalan menghampiri Erina yang tersenyum menyambutnya. Safa merasa banyak pasang mata yang menatapnya. Dia sedikit risih. Pasalnya, di sana bukan hanya ada keluarga Halim, melainkan keluarga Om Tirta, yang artinya keluarga Edzar juga. Aih ... kok, jadi gugup, ya?
“Nah, kalau itu anak gadisnya Mas Surya sama Mbak Sofi.”
Mendengar nama ayah bundanya disebut, Safa menoleh. Tante Erika tengah berceloteh memperkenalkan satu persatu anggota keluarga di sana. Memang pada saat lamaran tidak semua sempat berkenalan.
“Ya Gusti ... cantik-cantik semua ya anak cucunya Oma Halim ...” ujar salah satu tante Edzar.
Jadi sebenarnya ini sesi memasak atau ngerumpi? Karena yang Safa lihat dapur ini tampak bersih, gak ada tanda-tanda bahan makanan yang berserak.
Ini bundanya yang nipu atau ayahnya yang keliru? Siapa tahu ‘kan Tuan Halim salah menyampaikan informasi.
“Mbak, bisa nih pilih satu buat Edzar. Mau sampai kapan dia sendiri? Keburu bangkotan entar.”
Mendengar nama sang pujaan, sontak hati Safa kelonjatan. Biasa lah ya, orang lagi kasmaran, setiap dengar namanya pasti langsung panas dingin, deg-degan tak karuan.
Orang yang dipanggil Mbak oleh tantenya Edzar itu hanya menanggapi dengan senyuman kalem. Rautnya mengingatkan Safa pada Edzar yang selalu berwajah datar dan tenang. Sekarang Safa tahu dari mana sifat pendiam lelaki itu berasal.
__ADS_1
Sejauh yang Safa lihat, ibunya Om Tirta atau Edzar ini memang tipe wanita anggun dan kalem. Safa melihatnya saat acara lamaran kemarin, wanita itu juga tidak banyak bicara. Persis Edzar sekali.
“Wahh ... sayang banget, Tante. Stoknya tinggal sisa dua. Yang satu udah mau tunangan,” celetuk Liliana membuat semua orang menoleh.
Safa melotot pada sepupunya yang nampak santai itu. Entah wanita itu berniat menyinggung atau bukan, Safa benar-benar tak habis pikir.
Dan gilanya lagi Tante Edzar menanggapi. “Serius? Udah sold out semua? Yah ... Sayang sekali,” keluhnya. “Lalu yang mana yang masih ready?”
Safa mengernyit sekaligus meringis dalam hati melihat ke absurd’an di depannya. Ini mereka lagi tawar-menawar barang atau orang? Kok, Safa jadi kesal.
“Tuh,” tunjuk Liliana mengarah padanya.
Safa mengernyit sekaligus merengut. Gak bisa lebih elit gitu mempromosikan dirinya?
Tante Edzar menganga, Safa berdiri was-was ketika wanita itu mendekat.
“Si imut yang satu ini?”
Liliana mengangguk.
“Ini sih bibit unggul! Mbak, ambil Mbak. Kapan lagi punya anak cucu keturunan Tionghoa!”
Krik ...
Krik ...
“Tionghoa?” Nyonya Halim mengernyit dalam.
“Kita gak ada darah Tionghoa, Tante.” Rizkia ikut heran.
Tantenya Edzar mematung, matanya berkedip pelan. Kemudian dia meringis sambil mengernyit. “Begitu? Lalu ... ini dapat mata minimalis dari mana?” tanyanya kembali melihat Safa.
Kini giliran Nyonya Halim yang meringis, lagi-lagi mata Safa yang jadi pertanyaan. Itu berarti dia memang sudah sering menghadapi situasi seperti ini.
“Kalau itu ... saya juga gak tau, Mbak. Keluarga saya dan suami turunan mata besar semua, gak tau itu yang bontot kenapa jadi sipit gitu, mungkin karena kedapatan sisa, kali.”
__ADS_1
“Tapi pas tes DNA dia beneran anak saya, kok. Asli, Mbak. Beneran ori ...”
Safa merengut menatap bundanya. Sekate-kate! Kalau Tuan Halim tahu, Safa yakin seratus persen bundanya habis dicecar. Kejam sekali, masa Safa dibilang produk sisa.
“Serius, Mbak? Ih ... beruntung banget, sih. Apa pas hamil nge-fans sama artis Korea?”
“Nggak, saya malah lebih suka India.”
“Kok, bisa? Saya kemarin ngidam nonton Drakor, si Ricko gak ada mirip-miripnya tuh sama aktor di sana. Malah item mirip bapaknya.”
Di sampingnya, Erina merangkul Safa menyembunyikan tawanya. Bukan hanya Erina, tapi sepertinya semua penghuni dapur saat ini. Berbeda dengan Safa yang menjadi topik pembicaraan, entah harus marah atau bangga dengan mata sipitnya yang sempat diragukan sang bunda.
Tapi di situasi berbeda Safa beribu-ribu mengucap syukur, karena orang-orang selalu bilang dirinya mirip idol Korea, apalagi Safa memang menyukai berdandan seperti mereka.
“Mbak, ambil buat Edzar. Lumayan buat pabrikan kopi susu. Si Edzar ‘kan item, tambahin yang cerah-cerah gitu biar gak gelap mulu. Surem banget hidupnya perasaan.”
Gara-gara kalimat itu pikiran Safa jadi ke mana-mana. Dia membayangkan tubuhnya dan tubuh Edzar menyatu dengan warna kulit yang kontras, pasti terlihat hot dan seksi.
Aih ... Otak kamu harus direndam pakai Gentle Gen, Safa. Biar bersih dan tetap halus. Ini pasti karena kebanyakan nonton bokep, jadinya gini.
Salahkan Kamila yang selalu menjejalinya dengan hal-hal berbau dewasa. Tapi jujur saja Safa juga suka, haha. Tinggal menunggu prakteknya nanti kalau sudah halal.
Namun perkataan mama Edzar selanjutnya membuat Safa rada ciut, dia jadi ragu bisa bersatu dengan Edzar.
“Edzar butuh seseorang yang dewasa untuk mendampinginya, yang bisa mengimbanginya dengan baik,” ujarnya dengan suara lembut, tapi berhasil menusuk ke relung hati Safa.
Maksudnya, Safa gak dewasa, gitu? Safa gak bisa mengimbangi Edzar?
Ya ... Safa akui dirinya memang ... agak sedikit manja. Tapi kalau untuk masalah pasangan, sebisa mungkin Safa pasti berusaha menyeimbangkan diri, kok.
Apakah ini sinyal untuk Safa bahwa dia harus berjuang lebih keras? Belum dapat anaknya, dia juga harus merayu ibunya.
Demi Pororo dan Winnie the Pooh, gini amat ujian dapetin jodoh.
__ADS_1