SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 109


__ADS_3

Raut Edzar nampak datar sejak tadi. Tapi, kenapa Safa harus peduli? Bukankah biasanya juga seperti itu?


Safa tengah bertukar pesan dengan Kamila, membahas endorse yang beberapa waktu lalu Kamila bicarakan. Safa belum sempat berdiskusi lebih lanjut. Sebenarnya dia enggan. Alasannya jelas karena komentar miring yang belum mereda di akunnya.


Tapi barang dari klien sudah terlanjur ia terima. Kamila sendiri yang mengirimkannya lewat kurir. Safa tidak bisa serta-merta bersikap abai. Bisa-bisa masalah semakin rumit jika dia dilaporkan.


Mau tak mau Safa harus lakukan. Seakan mengerti kekhawatirannya, Kamila menyarankan untuk menutup kolom komentar. Tapi menurut Safa itu terlalu berlebihan. Bukannya mereda netizen akan semakin mengganas mengatainya pecundang.


Safa tidak mau itu terjadi. Nanti juga mereka lelah sendiri.


"Ehem."


Suara deheman terdengar dari arah samping. Safa hanya menoleh sebentar lalu fokus lagi pada ponsel. Tanpa tahu Edzar mati-matian menahan kesal karena merasa diabaikan.


Beginikah perasaan Safa saat Edzar mengabaikannya dulu?


"Yang tadi itu.... Bima?"


"Hmm." Safa hanya menjawab dengan gumaman.


"Kalian mau pergi ke mana? Kenapa dia harus jemput kamu?"


Entah ini hanya perasaan Safa saja atau nada suara Edzar memang sedikit ketus?


"Makan."


Jawaban Safa sungguh tidak memuaskan bagi Edzar. Sebetulnya banyak yang ingin dia tanyakan. Tapi takut nanti Safa marah lagi dan semakin kesal padanya.


"Oh." Alhasil hanya dua huruf itu yang bisa Edzar keluarkan.


Mereka sampai di rumah tepat sebelum magrib. Rasanya Edzar tidak rela harus berpisah sekarang. Meskipun mereka tetangga, Edzar tak selalu bisa melihat Safa. Apalagi setelah hubungan mereka merenggang. Safa semakin jauh dari jangkauan matanya.


Bruk.


"E-eh!"


Lamunan Edzar buyar. Kepalanya menoleh dan mendapati Safa yang tengah sibuk memunguti barangnya. Tasnya tidak sengaja terjatuh. Spontan Edzar melepas sabuk pengaman dan mencondongkan tubuh membantu Safa.


Sialnya, posisi itu malah membuat matanya melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Safa yang juga menunduk tidak menyadari blouse bagian atasnya menjulai karena kerahnya yang longgar.


Glek.


Buru-buru Edzar mengalihkan pandangan. jantungnya seakan berlomba dengan suhu tubuh yang tiba-tiba naik. Lagi-lagi gadis ini menguji imannya.


"Om."


Edzar terlalu larut dengan pikirannya sampai tidak sadar Safa memanggilnya beberapa kali. Gadis itu mengernyit menatap Edzar yang terbengong.


"Om!"


"Ah, iya! Kenapa?"


"Om yang kenapa. Aku panggil gak nyaut-nyaut."


"Tuh. Ambilin lipstik dekat kaki Om."


Edzar menunduk mencari-cari benda yang Safa maksud. Ketemu. Segera Edzar mengambilnya dan menyerahkannya pada Safa. "Ini."


Safa meraih lipstik itu dari tangan Edzar. Kerutan di dahinya semakin dalam. Dia mendongak mengamati Edzar yang beberapa kali membuang muka. Jakun pria itu juga naik turun. Tingkah Edzar sangat aneh. Seperti gugup akan sesuatu.


"Om sakit?"


"Hah?"

__ADS_1


"Wajah Om merah."


Refleks Edzar menyentuh wajahnya. Panas. Sial, apa dia sedang merona? Menggelikan. Mendadak Edzar ingin Safa pulang sekarang juga.


"Eng-enggak. Saya hanya kepanasan."


"Ya, kepanasan." Edzar mengangguk rusuh sembari mengibas kerah bajunya.


Safa menyipit tak percaya, tangannya terangkat mengecek suhu udara dalam mobil. "AC-nya dingin, kok."


Edzar menghentikan sejenak gerakannya, "Masa, sih? Kok, saya gerah?"


"Mana kutahu." Safa mengangkat bahunya tak acuh sembari membuka pintu. "Makasih tumpangannya."


Brak!


"Alhamdulillah...." Edzar menghela nafas lega. Akhirnya godaan itu telah pergi. Nafasnya sesak bukan main. Belum lagi bagian tubuhnya yang lain.


Edzar menunduk menatap celananya. Wajahnya seketika merana merasakan sesuatu berdenyut di dalam sana. Tubuhnya terbanting ke belakang, "Sepertinya aku memang harus segera melamar Safa," gumamnya.


.............


Tepat pukul tujuh Safa sudah bersiap berdandan cantik. Akhirnya dia memutuskan menerima ajakan Bima. Safa benar-benar penasaran apa yang akan lelaki itu tunjukkan mengenai Dava.


Awas saja kalau Bima main-main, Safa akan pecat dia dari perusahaan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Halim begitu ia menuruni tangga.


"Mau dinner sama teman kantor, Bun."


"Teman kantor?"


"He'em," gumam Safa sembari memasang sepatu.


Safa berpikir sejenak. "Belom tau sih, Bun."


"Jangan malam-malam. Jam sepuluh harus sudah pulang."


"Iya..."


"Jangan mampir ke mana-mana."


"Iya, Bundaku sayang~"


"Muah. Safa pergi dulu ya, Bun." Safa bergegas keluar setelah mencium pipi sang bunda.


Bima sudah menunggu di mobil. Nyonya Halim berdiri di ambang pintu mengawasi Safa yang memasuki sedan hitam itu.


Beberapa saat dia terdiam. Mengamati kendaraan Bima yang melaju menjauhi komplek. Menghela nafas pelan, Nyonya Halim masuk menutup pintu rumah.


Laki-laki itu bahkan tidak pamit sebelum membawa putrinya. Kalau suaminya tahu, habislah dia, mengizinkan Safa keluar dengan seorang pria.


Di sisi lain, Edzar juga melihat kepergian Safa dan Bima dari lantai dua kamarnya. Rupanya mereka benar-benar pergi makan malam bersama. Dan Edzar tidak bisa menahan rasa cemburunya mendapati fakta itu.


Dadanya terasa panas membayangkan Safa dinner romantis dengan pria lain. Apa ini artinya perasaan Safa sudah berubah? Safa tidak lagi menyukainya?


Meski begitu, Edzar tidak akan menyerah. Dia akan berusaha mendapatkan hati Safa kembali. Karena Safa hanya miliknya.


...........


Safa bersyukur dia tidak salah kostum. Sesuai dugaan Bima mengajaknya ke restoran mewah. Safa tahu perangai orang-orang seperti Bima ini. Tipe-tipe pria perlente yang menjerat wanitanya dengan kemewahan.


Seorang petugas mengantar mereka ke meja yang sudah direservasi sebelumnya. Berhubung restoran ini terlentak di lantai 6 sebuah hotel, kerlap kerlip lampu gedung dan jalanan yang berwarna-warni menjadi pemandangan utama.

__ADS_1


Mereka tidak duduk di samping jendela, tepatnya agak pertengahan sedikit. Meski begitu tak mengurangi rasa nyaman yang ditawarkan.


Tapi, bukan ini pokok utamanya. Melainkan apa yang sebenarnya hendak Bima tunjukkan.


"Jadi, anda mau menunjukkan apa?" tanya Safa tanpa basa-basi.


"Woho... Pelan-pelan, dong. Kita bahkan belum memesan."


Safa berdecak.


"Satu lagi, berhenti bicara formal. Ini bukan kantor. Aku tidak mau dianggap sedang berkencan dengan rekan kerja."


Apa lagi ini?


"Memang kenyataannya begitu, kan? Kita hanya rekan kerja."


Helaan nafas terdengar dari mulut Bima, "Setidaknya bersikaplah sebagai teman."


"Safa, percayalah, aku tidak bermaksud apa-apa. Jadi, kamu tenang saja. Sekarang ayo kita pesan makan dulu."


"Lagipula sepertinya mereka belum datang," lanjut Bima bergumam.


"Mereka?" tanya Safa dengan kening berkerut dalam.


"Hm. Makanya kamu sabar kalau memang penasaran." Bima membolak-balik buku menu yang dibawakan pelayan.


Mau tak mau Safa melakukan hal yang sama. Terlebih dia tidak mengisi perut sore tadi. Sengaja, karena Safa berniat menerima ajakan Bima.


Lumayan, lah. Hitung-hitung buat lupain Edzar sejenak. Lagipula Bima tak kalah ganteng. Intinya gak malu-maluin buat digandeng.


Lama mereka terdiam menunggu pesanan—dan 'mereka' yang Bima maksud. Safa sungguh tidak sabar dengan keduanya. Perutnya lapar, otaknya penasaran. Sungguh kombinasi yang sempurna.


Ting!


Tiba-tiba pesan masuk di ponselnya.


Dari Edzar?


Safa melirik sebentar pada Bima yang tengah mengedarkan pandangan. Lalu kembali pada ponsel dan mengklik notifikasi untuk melihat pesan.


"Kamu di mana?"


Safa mengernyit. Sejak kapan pria itu mulai sering bertanya-tanya posisinya? Apa Safa harus menjawabnya? Atau dia abaikan saja?


Logikanya ingin membiarkan, namun hatinya menyuruh Safa untuk membalas.


Safa : Di—


Belum selesai ia mengetik tiba-tiba Bima berdesis memanggilnya.


"Ssstt... Ssstt..."


Safa mendongak menatap Bima yang sibuk melarikan matanya ke suatu tempat. "Itu," bisiknya tanpa suara.


Safa mengikuti arah pandang Bima. Tepatnya di sebelah kanan, beberapa meter dari meja mereka. Safa tidak bisa melihat jelas karena terhalang tanaman hias yang cukup menjulang tinggi.


"Siapa?" tanya Safa pada Bima.


Bima tak menjawab, matanya terus tertuju pada objek yang menjadi perhatian mereka. Pun Safa yang kembali menoleh pada tempat itu.


Berbeda dengan tadi, kali ini mata Safa sukses dibuat terbelalak begitu melihat siapa yang ada di sana. Orang itu berdiri hingga Safa bisa melihatnya dengan jelas sekarang.


"Lho, Pak Anjas?"

__ADS_1


__ADS_2