
"Bunda, ini serius kita mau kondangan? Malam-malam begini? Terus, harus banget pake kebaya, gitu?"
"Udah, kamu diam aja. Udah telat kita nih," jawab Nyonya Halim dengan tangan yang sibuk mendandani Safa. Safa hanya pasrah wajahnya diotak-atik.
Hari ini tepat 5 hari Safa di rumah sakit. Sebenarnya dia sudah bisa pulang sejak kemarin, tapi entah alasan apa yang membuat ayah serta bundanya menahan Safa di sini.
"Bun, Abang kapan pulang dari Brunei? Adiknya sakit gak dijengukin," rengut Safa.
"Katanya, sih, minggu ini. Ya kamu maklum, dong. Abangmu lagi sibuk-sibuknya urus proyek yang terbengkalai saat kena kasus itu. Belum lagi investor yang pada lari."
Safa mengangguk mengerti, melihat bundanya mengobrak-abrik koper make up yang dibawanya dari rumah. Sebenarnya dia sedikit heran, cuman mau kondangan apa harus seheboh ini? Biasanya Safa mengenakan riasan tak setebal ini meski pergi ke acara mewah di hotel sekalipun.
"Bunda, apa ini gak terlalu lebay? Masa, sih, kita harus pake kebaya?"
"Ck, ya emang udah dress code-nya begitu, mau gimana lagi?"
Safa manyun, dia sangat tidak nyaman dengan kebaya pas badan itu. Memang, sih, terlihat cantik. Lekuk tubuhnya membentuk sempurna menampilkan kesan anggun. Tapi tetap saja Safa tak terbiasa meski ini untuk kondangan. Menurutnya ini terlalu berlebihan.
Kalau yang nikah masih keluarga tidak apa-apa. Kalau orang lain, kan banyak model kebaya yang lebih simple dan santai. Tidak perlu pakai dress ketat yang membuat susah berjalan. Banyak, kok, midi dress brokat yang tak kalah cantik dan elegan, panjangnya juga sebatas lutut atau lebih. Safa lebih suka model yang begitu, terkesan santai namun berkelas. Dan yang paling penting tidak kaku di badan.
"Selesai," ucap sang bunda menutup aktivitasnya mendandani Safa.
Padahal Safa bisa dandan sendiri, tapi katanya make up Safa terlalu tipis. Memang seformal apa, sih, acaranya? Ribet banget.
"Ah, iya. Itu mule shoes-nya di atas sofa. Kamu pakai sendiri, ya?" Kini kesibukan Nyonya Halim beralih pada dirinya sendiri.
Safa menatap stand mirror yang tadi sempat dibawakan Pak Iwan atas permintaan Nyonya Besar, siapa lagi kalau bukan bundanya. Wanita itu tidak main-main sampai menggondol cermin segala ke kamar rawatnya. Dari sini kita bisa lihat serempong apa istri Tuan Halim itu.
Meski begitu, Safa tetap saja tak bisa menyangkal bahwa ia takjub dengan kemampuan bersolek sang bunda. Lihat saja dirinya sekarang, Safa persis habis didandani Make Up Artis profesional.
Daebak!
Badan boleh mungil kayak Syahrini, tapi sangat seksi dengan beberapa tempat yang berisi. Kebaya blush pink itu sangat cocok membalut tubuhnya. Sanggulan cantik yang tertata apik dengan tusuk konde yang sepertinya dibuat khusus. Katakan kalau Safa salah, dia tak begitu tahu mengenai konde-kondean.
__ADS_1
Pun kebaya itu yang kelihatannya juga dijahit baru-baru ini. Apa Nyonya Halim mempersiapkan semuanya hanya untuk pergi ke hajatan teman? Wah, totalitas sekali wanita itu.
Safa membolak-balik tubuhnya di depan cermin. Look ini lebih cocok untuk lamaran ketimbang kondangan. Yakin, nih, mereka gak salah kostum? Bisa berabe jika iya. Malunya itu, lho. Mau ditaruh di mana mukanya nanti. Kalau begini ceritanya, mungkin calon mempelai akan kalah pesonanya dengan mereka.
Tapi dia hanya bisa diam sambil meringis, tanpa protes karena pasti Kanjeng Mami tak akan menggubris.
Haih, inilah suka dukanya anak penurut.
Safa berjalan ke arah sofa, mengambil sepatu yang dimaksud bundanya. Pump shoes silver dengan butir-butir permata di beberapa sisi. Terlihat mewah namun tak meninggalkan kesan sederhana yang elegan.
Cantik sekali. Pilihan Nyonya Halim memang tak perlu diragukan. Sosialita kelas atas dilawan.
Safa kembali ke arah cermin setelah memasang sepatu itu di kakinya. Wah, benar-benar seperti Bidadari. Oke, berhenti narsis. Karena Nyonya Halim sudah mengajaknya berangkat.
Seperti biasa mobil dikendarai oleh Pak Iwan. Safa duduk di kursi belakang bersama bundanya. Entah kenapa sepanjang perjalanan Safa malah deg-degan, padahal yang mau nikah bukan dia.
Haish, ini pasti karena dress kebaya yang dipakainya. Safa betul-betul merasa salah kostum. Kalau hanya kebaya boleh lah ya, lah ini pakai konde segala, mana kondenya norak banget menjuntai-juntai, persis yang sering Safa lihat di drama atau komik-komik China yang bergenre fantasi atau jaman-jaman masa kerajaan.
Ya ampun, agaknya dia harus segera menyiapkan muka setebal mungkin. Penampilannya terlalu berlebihan, padahal Nyonya Halim sendiri berdandan seadanya. Maksud Safa lebih sederhana dengan sanggul tanpa konde. Dasar, apa bundanya mau membuat Safa malu sendiri?
Seketika Nyonya Halim mendelik, "Enggak. Itu udah cantik. Kamu diem aja."
"Tapi lebay banget gak, sih, pake konde...." rengeknya mengerucutkan bibir. "Kayak nenek-nenek, tau, Bun."
"Jangan banyak ngeluh. Konde mahal itu. Dipesan langsung, khusus buat kamu."
"Kok, Bunda gak pake?"
"Enggak. Duitnya cuman cukup buat pesen satu."
Bohong banget. Mana ada duit Bunda habis. Orang dia pegang kartu tanpa limitnya Ayah.
Safa cemberut tak mendebat lagi. Tangannya bersilang di atas perut, menoleh ke arah jendela di sampingnya. Kerlap-kerlip sinar lampu dari berbagai bangunan dan rumah sesekali menerpa wajahnya.
__ADS_1
Jam di dashboard menunjukkan pukul setengah delapan malam. Entah berapa lama perjalanan yang mereka tempuh, sampai beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi pun berhenti.
Tapi, Safa malah dibuat heran. Sebentar, ini, kok
"Bunda, kok, kita ke villa? Ada yang ketinggalan? Terus itu banyak mobil ngapain?"
Bunda tak menjawab, hanya menyuruh Safa menunggu sementara dirinya turun. Sepertinya betul ada yang ketinggalan. Tapi, mobil-mobil itu sedang apa di sini? Apa Tuan Halim kedatangan tamu penting?
Safa celingukan menatap ke luar jendela. Rautnya nampak penasaran. Berbagai jenis kendaraan roda empat mewah berjejer di halaman villa keluarga Halim. Dari mulai BMW, Jaguar, Alphard, dan masih banyak lagi. Safa bukan anak otomotif, jadi tidak bisa menyebutkan semua.
"Pak, Ayah lagi gelar acara? Kok, Safa gak tahu?" tanyanya pada Pak Iwan yang sedang fokus menatap ponsel.
Kontan pria itu menoleh ke belakang, "Betul, Non. Kalau masalah itu Non tanya sendiri pada Tuan, ya. Saya sendiri kurang tahu-menahu."
"Gitu? Ya sudah, deh." Safa menyandarkan tubuh, enggan bertanya lagi.
Tak berapa lama Nyonya Halim kembali. Dia pikir wanita itu akan naik ke mobil. Tapi yang dilakukannya malah membuka pintu di samping Safa dan menyuruhnya keluar.
Safa mengernyit, "Kok, turun, sih, Bunda? Gak jadi berangkat?"
"Udah jangan banyak tanya. Pokoknya ayo ikut Bunda."
Safa manyun, setengah hati dia menurut, turun dari mobil dengan bantuan Bunda serta Pak Iwan yang sigap menghampiri. Tahu saja dia kesulitan karena kebaya panjang itu.
Mereka lalu berjalan ke arah villa. Samar-samar Safa sudah bisa mendengar gemuruh kecil dari suara di dalam sana. Dahi Safa semakin berkerut tatkala mendengar lantunan ayat dari salah satu surah Al-Qur'an yang dibacakan seseorang. Sangat fasih, seolah-olah orang itu memang hafiz.
Safa berhasil melewati pintu utama, dan apa yang dia lihat setelahnya sukses membuat kakinya terpaku. Safa berhenti melangkah, pun Nyonya Halim yang menuntun di sampinya.
Ruang depan villa yang luas kini berubah padat dan sesak. Sebenarnya tidak sesesak itu, hanya saja Safa tidak bisa menghitung berapa orang yang duduk di sana.
Kursi-kursi disusun berjajar menjadi dua kelompok, dan yang Safa tahu salah satunya diisi oleh keluarga besar Halim.
Tunggu, kenapa Oma ada di sini? Tante Miranti, Kak Rizkia, Renata, juga sepupunya yang lain. Termasuk keluarga jauh dari berbagai kota. Mereka semua menoleh ke arah Safa, menatapnya dengan tatapan rumit yang gagal Safa artikan.
__ADS_1
Safa berkedip kala melihat Dava juga ada di sana, bersama Lalisa dan Om Baskoro yang kini melempar senyum hangat padanya.
Sebenarnya, acara apa yang mereka gelar?