
“Iihh... Om nyebelin. Kesannya kayak Safa itu dulu jelek banget.” Safa merengut membuat Baskoro tertawa. Tangannya terangkat mengacak pelan rambut gadis itu yang langsung ditepis oleh si empunya.
“Enggak... enggak jelek, kok. Cuman dulu kamu agak gendutan, pipinya chubby-chubby gemesin gitu.”
Kamila mengulum bibir, akhirnya ada juga orang yang mengungkit kegembilan Safa dulu.
“Permisi, bisa minggir? Ngobrolnya jangan di sini, dong. Ngalangin jalan orang.”
Seseorang menginterupsi perbincangan mereka. Baskoro langsung meminta maaf pada orang-orang yang merasa terganggu saat hendak melewati tangga. Sebelum pergi pria itu merunduk mengambil sesuatu yang tergeletak di lantai. Safa mangamati itu dan melotot kaget.
“Ponsel Om rusak? Pasti karena jatuh tadi, ya?” Ekspresi Safa berubah tak enak. Perasaan bersalah menghinggapi hatinya. Melihat layar hape yang retak parah itu membuatnya berpikir, sekeras apa benturan tadi.
“Gak apa-apa, perkara hape doang. Nanti bisa beli lagi,” ujar Baskoro menenangkan.
“Om minta ganti rugi aja sama Ayah, ya? Safa gak ada duit sebanyak itu....”
Safa tahu dari logonya saja benda pipih itu berharga fantastis. Dia gak sanggup beli, lebih tepatnya sayang sama tabungan, haha.
Pria itu berdecak, “Apa, sih. Om gak minta ganti rugi. Santai aja. Gak usah cemas gitu. Dulu juga kamu sering rusakin hape Om, Om gak marah ‘kan?”
“Tapi....”
“Udah, sana. Katanya mau makan. Om duluan, ya, masih ada urusan. Nanti kapan-kapan Om ke rumah kamu. Om juga rindu sama Ayah dan Bunda kamu. Mereka sehat ‘kan?”
Safa mengangguk, “Alhamdulillah, baik. Makanya jangan ilang-ilangan lagi. Mana sombong banget gak pernah hubungin,” rengut Safa.
Baskoro mengulas senyum, sekali lagi tangannya mengusap kepala Safa dengan sayang. Mereka sudah seperti ayah dan anak. Safa memang sangat dekat dengan pria itu sejak kecil. Kemana pun Baskoro pergi Safa suka menempelinya.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba pria itu menghilang tanpa diketahui keberadaannya. Setiap Safa bertanya pada Ayahnya, Tuan Halim akan berkata hal yang sama, bahwa dia pun tidak tahu kemana sahabatnya itu pergi.
Rasa kehilangan yang Safa rasakan sampai berbulan-bulan. Meski setelahnya dia biasa lagi, tapi dalam hati Safa selalu merasa rindu pada pria yang ia anggap ayah keduanya itu.
“Om Baskoro ganteng, ya. Umurnya berapa, sih?” tanya Kamila tiba-tiba selepas kepergian Baskoro.
Safa menoleh menatap aneh pada Kamila. “Serius, Mil? Om Baskoro itu hampir seumuran Ayah aku, lho.”
“Masa, sih? Coba ingat-ingat lagi. Waktu kamu SMP dia umur berapa?”
Safa diam berusaha mengingat. “Kayaknya... 38, deh,” ucapnya tak yakin. “Eh, iya bener 38. Aku ingat kita sempat ngerayain ultahnya dia, lilinnya angka 38.” Safa berujar santai tanpa tahu raut Kamila yang terperangah.
“The real ahjussi rasa oppa....”
\=\=\=
“Belum lagi dia juga harus menafkahi dua adiknya yang masih sekolah. Ternyata ada orang yang lebih menderita dari saya, ya, Pak.”
Doni berujar sesaat setelah mereka keluar dari ruang persidangan. Edzar melangkah sembari merogoh kunci mobil di saku celana. Toga kejaksaan masih melekat di tubuh jangkungnya, hingga sesekali berkibar saat terkena terpaan angin.
Penampilannya yang seperti ini tak jarang menggetarkan hati kaum hawa, terutama para jaksa wanita yang terbilang sering bertemu dengannya. Ditambah visualnya yang pendiam membuatnya terkesan misterius, menumbuhkan rasa penasaran di hati dan benak orang-orang. Sayang sekali Edzar terlalu tak peduli dengan sekitar.
“Memangnya kamu semenderita apa? Kamu masih bisa makan dan punya pekerjaan tetap.” Edzar menekan remot kontrol mobilnya hingga terdengar bunyi ‘bip’.
“Saya menderita, Pak. Saya belum punya pacar, cicilan mobil pun belum lunas. Hidup saya hampa, Pak.”
“Gak kayak bapak. Ortu kaya, bapak sendiri juga kaya. Disukai banyak wanita pula. Hidup udah senikmat itu masih... aja betah menjomblo. Kalau saya jadi bapak, saya pasti udah punya empat istri.”
__ADS_1
Edzar memasuki mobil disusul Doni yang duduk di kursi penumpang. Tangannya menekan tuas hingga mobil keluar dari parkiran dan membelah jalanan.
“Hidup itu harus disyukuri. Kamu harus berlega hati karena rezekimu masih lebih besar dari sebagian orang. Berhenti mengeluh, itu tak akan menyelesaikan masalah apalagi angsuran KPR-mu.”
Doni terlonjak di kursinya. Matanya menatap Edzar terkejut. “Bapak tau dari mana saya punya KPR?”
Edzar melirikkan matanya sekilas, lalu kembali fokus menatap jalan. Sekarang Doni benar-benar berpikir bahwa Edzar memang sehebat Dewa. Kenapa lelaki itu selalu terkesan mengetahui segalanya?
“Saran saja, mending kamu sewakan itu rumah. Banyak produser film yang mencari properti untuk syuting. Kamu tawarkan pada mereka. Benefitnya lumayan, bisa buat bayar angsuran dan sisanya kamu tabung.”
Doni terperangah, sekali lagi dia dibuat takjub dengan sosok di sampingnya. Ternyata selain pintar di bidang hukum, Edzar juga menguasai aspek ekonomi. Pantas duitnya banyak, otaknya berkembang ke berbagai arah. Sungguh beruntung yang akan jadi istrinya kelak.
Fortuner hitam itu mendarat di parkiran, selepas sidang mereka kembali ke Kejari karena jam kerja memang belum usai. Edzar memasuki ruang kerjanya diikuti Doni. Pria itu melepas Toga dan menggantungnya di stand hanger.
Selanjutnya Edzar melangkah mendekati mejanya. Doni kira pria itu akan mulai bekerja lagi, ternyata dia salah. Edzar malah membuka.... rantang? Dan menyusunnya di atas meja.
Sebentar. Ini salah satu yang kerap mengganggu di pikiran Doni. Otaknya selalu bertanya-tanya mengenai hal ini, tapi dia belum sempat bersoal pada Edzar. Entah waktu yang tidak tepat atau justru dia yang lupa. Sekarang adalah kesempatan yang pas untuk Doni mengorek informasi.
“Pak,” panggil Doni yang hanya ditanggapi gumaman oleh Edzar.
“Bapak beneran single ‘kan?”
Edzar menoleh dengan wajah datar, “Kenapa? Kamu tertarik pada saya?”
Sontak Doni menggeleng menggerakkan tangan kelabakan. “Enggak lah, Pak. Saya masih normal tau.”
Pria itu hanya melengos dan kembali fokus dengan makanan. Tangannya mulai menyumpil nasi dengan sendok, memasukannya ke mulut bersamaan dengan lauk. Doni menatap itu dengan seksama. Dia sadar betul Edzar jadi jarang ke kantin sejak membawa bekal dalam rantang itu.
__ADS_1
Pertanyaannya, dari manakah makanan itu berasal? Tidak mungkin Edzar minta dibuatkan asisten rumahnya ‘kan? Apalagi ibunya, itu lebih tidak masuk akal. Setahu dia ibunya Edzar tinggal di Depok. Edzar di sini karena pindah dinas dari tempat sebelumnya.