
Tiga hari sudah Safa menginap di rumah sakit. Kini giliran dia pulang dan berbaring di kamar yang dirindukan. Rasanya lega sekali, masalah Dava sudah selesai, mungkin sebentar lagi abangnya bisa bebas setelah beberapa tahap pemeriksaan dengan pihak terkait, membuktikan bahwa dirinya tak bersalah.
Sebelum jatuh tak sadarkan diri, Pak Anjas sempat membuka kunci brankas di ruangannya. Di dalamnya ada beberapa berkas dan file yang akan melepaskan Dava dari jeratan hukum. Safa tidak menyangka pria itu sudah menyiapkannya sedemikian rupa.
Polisi memaparkan kronologis penyerangan Galuh waktu itu. Dari beberapa aspek dan saksi, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Pak Anjas di kantor saat hari libur bertujuan menyerahkan barang bukti pada pihak berwajib.
Sayang seribu sayang, niatnya itu diketahui oleh Galuh. Karena takut kebusukannya terbongkar, Galuh nekat melakukan percobaan pembunuhan, yang tanpa disangka akan melibatkan Safa sebagai korban.
Dengar-dengar, Galuh dijatuhi hukuman berlapis. Sama halnya seperti Pak Menteri yang kasusnya semakin menemui titik terang.
Safa bersyukur prahara yang ikut menyeret keluarganya kini telah usai. Bonusnya lagi dia bisa berbaikan dengan Edzar.
Mengenai Edzar, Safa tidak pernah bermimpi sekalipun pria itu akan membalas perasaannya. Sejak hari di mana Edzar melempar penolakan tegas, Safa juga bertekat mengubur dalam-dalam harapannya.
Siapa sangka pria itu akan berbalik menatapnya. Safa masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya semalam.
Pernyataan Edzar, ciuman dan sikap manisnya benar-benar seperti khayalan. Berkali-kali Safa melihat cermin untuk menatapi bibirnya yang dikecup Edzar. Denyutan saat pria itu menghisapnya masih terasa.
Safa benar-benar dibuat gila tiap kali mengingat peristiwa manis itu. Wajahnya akan memanas dan memerah seperti kepiting rebus. Sampai-sampai bundanya dibuat heran karena bangun tidur dia sudah senyum-senyum.
Bahkan Nyonya Halim sempat meminta dokter untuk memeriksanya. Dikira kejiwaan sang anak bergeser setelah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawa.
Karena Safa sedang senang, jadi dia tak begitu menggubris tindakan sang bunda. Rasanya Safa ingin tertawa mengingat ekspresi bundanya saat mendengar penjelasan dokter yang mengatakan, "Putri anda tengah bahagia."
Wajah galak Nyonya Halim terlihat konyol karena tercengang.
Saat ditanya kenapa Safa bahagia, Safa bilang saja karena abagnya akan segera bebas. Semudah itu.
"Safa, coba lihat di tas itu. Bunda lupa udah masukin celana belum ya?"
"Celana apa, Bunda?" Safa meraih travel bag berukuran sedang di depannya, di atas ranjang pasien yang saat ini ia duduki.
"Kulot, warna hitam," sahut sang bunda.
Safa segera mencari benda yang dimaksud. "Ini, Bunda?" tanya dia menunjukkan sepotong celana bahan premium. Warnanya persis seperti yang bundanya cari.
"Oh, udah, ya. Berarti udah beres semua."
"Baskoro mana, lagi. Kok, belum datang-datang?" Nyonya Halim bertanya pada dirinya sendiri sambil mondar-mandir lihat hape.
Dahi Safa mengernyit. "Yang jemput kita Om Baskoro, Bunda?"
"He'em," sahut bundanya dengan gumaman.
"Kenapa bukan Ayah atau Pak Iwan?" tanya Safa heran. Biasanya mereka berdua yang siap antar jemput jika Dava tak ada.
__ADS_1
"Ayah kamu ke Bandung lagi kemarin. Pak Iwan ikut."
"Oh gitu," gumam Safa. Pasti masalah kantor cabang lagi.
Tak lama setelah itu, Baskoro datang dengan setelan formalnya, seperti yang biasa Safa lihat.
"Maaf, Mbak. Tadi ada masalah sedikit di jalan," ujarnya begitu masuk ke ruangan Safa.
Safa dan Nyonya Halim kompak menoleh. Pria itu nampak sedikit ngos-ngosan seperti habis berlari.
"Oke, gak papa. Tapi, kenapa kamu kayak dikejar sesuatu? Kamu sibuk, ya?" Nyonya Halim menyisir Baskoro dari atas ke bawah. Penampilannya masih rapi, hanya rambutnya saja yang sedikit acak-acakan.
"Enggak juga. Jadwal meeting-ku setelah jam makan siang. Aku hanya takut kalian sudah menunggu lama," terangnya kemudian menghampiri Safa. Mengusap kepalanya sekilas, lalu mendaratkan kecupan di sana.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Tentu saja baik. Kalau enggak, dokter gak akan nyuruh aku pulang sekarang."
Baskoro tertawa.
"Kenapa cemberut gitu? Gak senang Om yang jemput?"
Serta-merta bibir Safa mengerucut. "Katanya Om mau beliin tas kalo aku sembuh. Mana?" rengutnya menadahkan tangan.
"Kamu itu ya, kerjaannya malakin orang. Kapan berubahnya sih?"
Safa merengut, "Safa gak minta, kok. Om Bas sendiri yang nawarin. Ya kan, Om?" Safa menoleh meminta persetujuan Baskoro.
Pria itu menatap bergantian dua wanita di hadapannya, lalu mengangguk membenarkan perkataan Safa. Spontan Safa memeletkan lidah pada sang bunda, yang dibalas pelototan tajam oleh wanita itu.
"Sudahlah, Mbak. Safa gak morotin, kok. Aku yang memang mau kasih buat iming-iming dia mau makan kemarin," lerai Baskoro halus.
"Tetap saja yang dia minta itu pasti gak murah," ketus Nyonya Halim. Dia memang terbilang perhitungan terhadap uang.
"Mbak malah terdengar seperti meremehkan keuanganku, haha." Baskoro menggaruk kepalanya dengan bibir menyeringai tipis.
"Bunda jangan gitu. Om Bas itu kaya. Dia tersinggung kalo kita minta barang murah," celetuk Safa.
Nyonya Halim hanya mendengus, malas menanggapi lagi. "Sudahlah, ayo pulang. Sumpek Bunda 3 hari nungguin kamu di sini," ketusnya mencangklong tas. Sementara travel bag ia biarkan Baskoro yang membawanya.
Safa mencibir, kalau gak ikhlas ngapain ikut nginap? Padahal kemarin saja khawatir banget waktu Safa pertama kali bangun. Dasar Bunda Galak, baiknya pas anak lagi sakit aja.
Baskoro menggeleng melihat interaksi dua wanita beda generasi itu. Senyumnya terbit, mereka masih sama seperti yang terakhir ia ingat. Selalu bertengkar meski dalam hati saling sayang.
"Ayo pulang," ajaknya pada Safa.
__ADS_1
Dibantunya gadis itu menuruni ranjang, lalu mengambil travel bag berisi pakaian ganti Nyonya Halim.
Lantas mereka pun segera meninggalkan tempat dan pulang ke rumah.
.............
Di tempat lain, Edzar tengah melamun di meja kerjanya. Matanya terpaku pada ponsel yang menampilkan foto hasil curian dari akun instagram seseorang.
Mulutnya menyungging senyum mengingat kekonyolan yang ia lakukan waktu lalu. Entah apa yang merasuki kepalanya hingga jarinya bergerak membuka Play Store, mengunduh aplikasi dengan ikon kamera bergradasi warna pink.
Membuat akun samaran hanya untuk mengintip kegiatan seseorang, melihat-lihat, lalu mencomot satu persatu fotonya. Edzar sudah seperti penguntit sejati kala itu. Ada apa dengan dirinya. Kenapa dia mendadak kekanakan seperti ini.
Dia sendiri merasa asing dengan sikapnya akhir-akhir ini, yang lebih sering mengikuti hati ketimbang logika. Anehnya itu hanya berlaku pada satu orang, yaitu Safa.
Senyumnya kembali terbit mengingat nama itu. Terlebih semalam dia sudah meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Rasanya sungguh luar biasa lega.
Hati Safa sudah kembali digenggamnya, dan Edzar tidak akan melepasnya dengan alasan apapun.
Edzar terlalu larut dalam dunianya sampai-sampai ia lupa bahwa Doni juga berada di ruangan itu, menatapnya dengan dahi berkerut.
Rautnya Doni terlihat heran sembari tangannya terus bekerja. Mendadak jiwa keponya keluar. Tingkah sang atasan yang tidak seperti biasa membuatnya curiga.
Ingin bertanya, tapi takut mood Edzar jadi rusak. Ujung-ujungnya nanti dia yang kena.
Di samping itu, Edzar beralih membuka ruang percakapan dirinya dan Safa di WhatsApp. Jarinya mengurai kata mengirim pesan pada si gadis.
"Maaf saya tidak bisa jemput kamu. Nanti malam saya ke rumah, ya," tulis Edzar.
Tak sampai satu menit Safa membalas. "Jangan!"
Refleks Edzar mengernyit melihat balasan itu.
"Kenapa?" tulis Edzar lagi.
"Nanti Bunda dan Ayah malah curiga," balas Safa.
"Kamu mau menyembunyikan hubungan kita?"
Beberapa saat tak ada balasan, tapi centang duanya sudah biru. Mendadak Edzar merasa kesal. Apa maksud Safa barusan, Edzar belum mengerti.
Ting.
Pesan dari Safa kembali muncul. Lekas Edzar membuka dan membacanya. Namun ia dibuat terdiam melihat sederet kalimat yang Safa kirim.
"Untuk sementara iya. Boleh, kan?"
__ADS_1