SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 150


__ADS_3

Sesuai janjinya, Edzar mengajak Safa jalan-jalan saat sore menjelang. Wajahnya terlihat puas mendapati Safa yang takjub menatap sekitar. Suasana asri nan sejuk seolah menjadi terapi tersendiri bagi mereka. Tak heran biaya permalamnya cukup tinggi, hal ini setara dengan fasilitas yang didapatkan.


Edzar mendorong kursi roda Safa melintasi jalan setapak yang dicor. Sisi kiri kanan terdapat penghijauan berupa rumput dan pohon. Bermacam bunga hias juga turut memperindah lingkungan.


Sesekali punggungnya membungkuk menghirup aroma rambut Safa. Safa sudah pasrah dengan tingkah laku Edzar. Padahal dia sudah melarang lelaki itu melakukan hal tersebut karena rambut Safa belum dikeramas, pasti bau, kan Safa jadi malu.


Tapi Edzar tak menghiraukan, pria itu menciuminya seolah Safa wangi. Safa mendongak menatap dagu Edzar di atasnya. "A Uda, berapa kali Safa bilang gak usah pakai kursi roda. Safa masih bisa jalan, kok."


Edzar menunduk sekilas, kepalanya menggeleng tegas. "Itu akan membuatmu lelah. Kamu masih perlu banyak istirahat."


"Tapi badan Safa pegel, pengen jalan-jalan."


"Nanti, ya. Di taman saja, baru kamu boleh turun dari kursi roda ini."


Safa merengut, menatap lagi ke depan, membiarkan Edzar melakukan semaunya. Kedua tangannya menggenggam infuse, juga mangkuk toples berisi salad buah yang dibawakan Edzar.


Sesampainya di taman, Edzar menuntun Safa duduk di sebuah bangku panjang yang ada di sana. Safa benar-benar merasa jadi pesakitan yang tak bisa berjalan. Lagi-lagi duduk. Tadi duduk, sekarang duduk. Duduk terus sampai Safa jadi Gajah Duduk nanti.


"Makan dulu, ya. Kamu perlu banyak makan serat. Karena kamu gak suka sayur, Uda bikinnya salad buah. Buah-buahan juga sangat bagus untuk menaikkan mood." Edzar membuka mangkuk toples yang sudah dilengkapi garpu di dalamnya itu. Lalu menusuk potongan anggur hijau, mengarahkannya pada mulut Safa.


Safa mengunyah pelan anggur itu. Manis, ditambah saus salad yang segar. Nampaknya Edzar pintar membuat olahan. Semua makanan buatan Edzar yang pernah Safa coba, rasanya sangat enak. Safa jadi merasa kalah kalau begini ceritanya.


"A Uda suka masak?"


"Hm? Enggak juga. Uda hanya bisa."


Safa berdecak. Apa dua hal itu berbeda? Memang, sih. Mungkin pertanyaan Safa yang salah.


"Uda terbiasa tinggal sendiri saat harus berpindah-pindah tempat kerja. Jadi hal seperti membuat makanan sudah biasa Uda lakukan."


"Kan bisa beli?" tanya Safa heran. Biasanya laki-laki tak mau repot dengan hal-hal semacam ini.


Edzar menggeleng, "Rasanya lebih higenis jika membuat sendiri. Kita juga tahu kualitas bahan yang dipakai. Meski Uda sesekali beli di luar untuk makanan-makanan tertentu. Tapi seringnya Uda masak sendiri di rumah."


"A Uda suka makanan rumahan, ya?"


Edzar mengangguk seraya menyuapi Safa kembali.


"Waktu Safa sering kasih bekal, apa A Uda memakannya? Dilihat dari kehati-hatian A Uda yang suka pilih-pilih makanan, rasanya Safa tidak yakin bekal-bekal itu A Uda makan." Safa jadi merengut memikirkan itu.


Edzar mendengus geli, lantas mendongak menatap Safa. "Beruntunglah kamu cantik, karenanya Uda makan semua pemberian kamu."

__ADS_1


Safa sedikit melotot, "Alasan macam apa itu. Jadi kalau yang kasih cantik, A Uda pasti memakannya? Termasuk punya Mbak Alis juga, dong!" sewotnya.


Safa jadi teringat putri Pak RT yang juga menyukai Edzar. Ngomong-ngomong, sudah lama sekali Safa tak melihatnya. Syukurlah, setidaknya tidak ada lagi hama yang mengganggu Edzar di lingkungan itu.


"Kamu jauh lebih cantik, jadi Uda tetap pilih punya kamu."


"A Uda."


"Hm?"


"Berhenti gombal. Lama-lama Safa ilfil."


Edzar tertawa menggelengkan kepala. Wajah Safa yang datar saat mengatakan itu malah terkesan humor. Sementara itu, Safa memutar matanya ke samping. Apanya yang lucu?


Edzar menghentikan tawa, kali ini dia menusuk potongan strawberi untuk Safa makan. Matanya berpendar hangat menatap gadisnya yang seketika melahap buah berwarna merah itu, mengunyah dengan ekspresi kesal.


"Berapa kali Uda bilang, Uda tidak gombal. Apa yang Uda ucapkan itulah yang Uda rasakan. Kamu masih saja menganggap Uda don juan."


Safa manyun, "Habisnya sikap Uda bikin merinding. Beda banget sama yang dulu-dulu."


"Kan dulu Uda belum suka kamu. Wajar kalau berbeda."


Iya juga, sih. Tapi, perubahannya terlalu drastis. Safa jadi takut.


Rasanya Safa rela berlama-lama di taman itu. Aroma dedaunan yang fresh betul-betul membuat hatinya tenang. Mata Safa terpejam menikmati angin yang berhembus lembut di sekitarnya.


Dibanding itu, Edzar tersenyum melihat Safa yang sepertinya menyukai tempat ini. Gadis itu nampak damai sembari mengunyah buah yang sesekali Edzar suapkan.


Lantas dia beranjak ke belakang Safa. Meraup rambut panjangnya yang beterbangan terkena angin. Safa sedikit terlonjak, namun kemudian tubuhnya lemas kembali, membiarkan Edzar mengikat rambutnya sedemikian rupa. Tidak rapi, tapi cukup membuat Safa nyaman dan tak terganggu.


"Pakai apa?" tanya Safa meraba belakang kepala.


"Ikat rambut," jawab Edzar kembali duduk.


"Punya siapa?"


Kini Edzar terlihat menggaruk kepala, "Tadi ada anak kecil lewat, Uda minta ikat rambutnya satu, soalnya dia bawa dua."


Safa berkedip. Tidak salah? Edzar meminta pada seorang anak kecil? Kenapa Safa tidak dengar? Atau dia terlalu fokus dengan kedamaian taman ini?


Sudahlah, tak penting juga.

__ADS_1


"A Uda," panggilnya.


"Kenapa?"


"Safa pengen Mekdi. A Uda bisa beliin, gak?"


Mendadak wajah Edzar berubah datar, "Tidak boleh makan junk food dulu, Ai."


"Ih~ kenapa sih.... Yang sakit, kan, bukan pencernaan Safa...." rengeknya.


"Tetap saja itu tidak sehat. Tunggu setelah kamu benar-benar pulih dan dokter sudah menyarankan pulang. Baru Uda akan belikan."


"Tapi Safa maunya sekarang. A Uda mau Safa stres karena mendambakan sesuatu?"


"Kenapa kamu jadi kayak orang ngidam, sih? Perasaan Uda belum jebol kamu."


Plak.


Safa memukul lengan Edzar yang berotot. "Apaan, sih, jebal jebol. Katanya jaksa, tapi mulut gak dijaga."


Edzar meringis sambil tersenyum. "Ya sudah, Uda belikan. Tapi ada syaratnya."


"Syarat apa?"


Senyum Edzar melebar, merasa berhasil menarik Safa dalam jebakannya. Dia pun mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Safa.


"Syaratnya, izinkan Uda makan bibir kamu nanti."


Safa menegang, wajahnya seketika memerah, bahkan sampai telinga. Edzar terkekeh mendapati itu. Dengan gemas dia mengcup telinga Safa yang merona hingga membuat gadis itu makin merinding.


"A Uda apaan, sih.... Malu tahu."


"Gak ada orang, kok. Aman."


"Ya tetap saja ini tempat umum, tahu."


"Ya sudah, ayo kembali ke kamar?"


Safa menjeling kesal. "Gak usah ambigu. Dasar mesum."


"Ambigu apa, sih? Maksud Uda kamar rawat kamu. Kamu aja yang terlalu over ke mana-mana." Edzar tak mampu menahan tawa. Safa terlihat lucu saat merasa kalah.

__ADS_1


"Ah~ tau, ah! Sana beliin Mekdi!" jerit Safa kesal.


__ADS_2