
Kamila mengernyit melihat Safa yang senyum-senyum sendiri di layar ponselnya. Mereka tengah melakukan Vodeo Call seperti biasa. Ngerumpi, gosip, dan lain-lain. Tentunya membahas hal-hal seru dan viral. Terutama postingan Nyai Lambe yang kerap berseliweran di Instagram.
Huh, mantap memang kalau sudah ngomongin orang. Gurih, renyah, krenyes rasanya. Kriuknya tak ada dua.
"Kamu ngapain sih ketawa-ketiwi gak jelas? Jangan bilang kerasukan. Katanya, menjelang magrib begini setan lagi gencar-gencarnya berkeliaran. Hih, gak takut apa kamu? Perumahan kamu kan asri. Banyak pohon-pohon rindang yang pastinya disukai Mbak-mbak Kunti. Cepetan masuk sana!"
Safa malah tergelak mendengar ocehan sahabatnya. Apalagi raut Kamila begitu serius seakan-akan benaran ada. Sangat konyol dan absurd.
"Lucu banget ya kamu masih percaya begituan."
"Halah ... Ngemengnya sok. Giliran nonton horor malah tremor dan pingsan."
Safa tertawa. Obrolan mereka berlanjut sampai mamanya Kamila berteriak menyuruh gadis itu mandi. Ia terkikik. Ternyata bukan hanya bundanya yang hobi berteriak. The Power of Emak namanya.
Ia simpan benda pipih itu ke atas meja kopi di sebelahnya.
Lain pagi lain sore. Safa kembali standby di balkon lantai dua sembari nyemil biskuit. Ia bersandar nyaman di atas sofa dengan kedua kaki yang menekuk. Mulutnya sibuk mengunyah dan terkadang menggumamkan nyanyian tak jelas. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama lagu yang dibuatnya sendiri.
Tampak santai dan tak memiliki beban. Itulah Safa. Orang lain akan mengira dia selalu bahagia. Padahal Safa juga bisa sedih. Saat tokoh favoritnya di film berakhir mati, misalnya. Atau saat drama Korea yang sedang disukainya tiba-tiba hilang karena berhenti tayang. Safa ingin menangis rasanya. Sakitnya kayak ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Alasan penangguhannya sih, katanya melenceng dari fakta sejarah dan ada unsur-unsur yang memancing kontroversi. Kayak kasus Mr. Queen tempo lalu. Safa kurang mengerti. Dia tahunya cuma nonton terus suka. Udah gitu aja. Boro-boro sejarah negara orang, asal-usul negara sendiri saja gak tau.
Safa mendongak menatap lembayung sore yang berpendar keoranyean. Suara puji-pujian di mesjid terdekat mulai terdengar dan biasanya tidak akan berhenti sampai adzan magrib berkumandang.
Ia jadi teringat perkataan Kamila. Masa iya hari gini masih ada setan? Tapi, makhluk halus kan memang ada. Safa salah satunya. Iya, kulit Safa halus selembut sutera.
Safa terus mengunyah meresapi butiran coklat dari biskuit yang dimakannya hingga lumer di mulut. Dinikmati bersama es teh yang manis dan dingin adalah sensasi yang paling Safa sukai.
Seperti nama biskuitnya, Good Time.
Good time, good feel, good view. Waktu paling baik untuk bersantai adalah sore hari. Dengan perasaan yang baik, juga pemandangan yang baik. Tepat seperti yang Safa rasa dan alami sekarang.
__ADS_1
Selain pemandangan senja yang indah, ada satu view lain yang menurut Safa jauh lebih indah. Safa menurunkan kakinya menjejak lantai. Ia berjalan mendekati railing menatap ke bawah.
“Mas Ganteng!” serunya pada seseorang di bawah sana.
Edzar baru saja keluar dari Fortuner hitamnya. Seragam coklat tua masih melekat di tubuh kekarnya yang proporsional. Gak terlalu besar, gak terlalu kecil juga. Pas lah, sesuai kriteria Safa. Persis Oppa Hyun Bin pokoknya.
Safa melambai dengan senyum lebar di wajah cerianya. Dan semakin lebar lagi saat Edzar mendongak menatap ke arahnya. Pria itu berdiri beberapa saat, sempat celingukan entah mencari apa.
Mungkin Edzar berpikir ada orang ganteng selain dirinya yang Safa panggil. Tapi mendapati lingkungan komplek yang sepi, pria itu kembali mendongak ke arahnya.
Cukup lama mereka bersitatap sebelum Edzar mengangguk dan berlalu memasuki rumahnya.
Edzar itu sebenarnya pria yang sopan. Hanya saja dia bingung mau menanggapi seperti apa. Makanya dia hanya mengangguk. Itu yang Safa tangkap. Ngangguk saja sudah bikin Safa bahagia, apalagi kalau senyum.
Entah kapan Safa bisa melihat senyuman Edzar. Terlebih senyum manis yang akan Safa lihat saat pertama membuka mata.
Sabar, Safa. Baru juga sehari. Harus ada hari-hari berikutnya untuk mendapat semua itu.
***
Safa masih bergelung dalam selimut. Tubuhnya meringkuk memeluk guling dengan bibir mengulas senyum. Gadis itu sedang bermimpi indah. Seseorang tengah melamarnya dengan begitu hangat dan romantis.
Sayang sekali Safa tak bisa melihat wajah si pria dengan jelas. Padahal, mana tahu itu ilham untuk Safa mengetahui siapa jodohnya.
“Safa ...!”
Sayup-sayup suara itu mulai memasuki gendang telinga Safa. Merambat pada matanya yang sedikit demi sedikit mulai terbuka. Safa berkedip pelan berusaha mengumpulkan kesadaran. Siapa yang pagi-pagi begini sudah membuat keributan?
Safa menguap lebar. Gedoran itu mulai terdengar tak sabar. Dengan malas Safa mengibas selimutnya dan bangkit dari ranjang.
Masih sedikit sempoyongan, Safa membuka kunci kamarnya. Dan Safa menyesal karena setelahnya benda yang terbuat dari kayu itu hampir saja mengenai dirinya.
__ADS_1
Kalau tidak ingat Nyonya Halim adalah bundanya, sudah Safa sumpah serapahi habis-habisan.
“Lama banget, sih.” Nyonya Halim menggerutu sambil memasuki kamar.
“Bunda ‘kan udah ingetin kamu pasang alarm biar gak kesiangan. Jadi anak susah banget diatur. Cepat mandi. Habis itu bersiap. Kita akan ke rumah Oma pagi ini juga.” Nyonya Halim mendorong Safa menuju kamar mandi. Safa hanya pasrah, dia belum memiliki tenaga untuk melawan.
“Jangan lama-lama mandinya, Bunda tunggu di bawah.”
Nyonya Halim berbalik lagi saat mencapai pintu, “Jangan lupa juga seragaman dari Tante kamu itu dibawa.”
***
Safa sudah siap untuk berangkat. Dia berjalan lesu menarik koper berisi pakaian ganti yang dibutuhkan. Nanti malam adalah acara lamaran Tantenya, adik perempuan Tuan Halim.
Padahal kalau dipikir berangkat nanti sore juga masih sempat. Sekalian bareng ayah dan abangnya yang akan menyusul. Tapi, Tuan Halim bilang lebih baik standby sejak pagi di sana. Karena tahu sendiri persiapan wanita bagaimana. Apalagi Bunda harus bantu-bantu karena dia yang mengatur EO.
Pak Iwan memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi. Tuan Halim berpesan untuk berhati-hati membawa keluarganya dalam perjalanan.
Safa memutar bola mata. Seperti mereka akan pergi ke luar kota saja. Padahal masih sekitaran Jaksel.
Sementara keluarganya sibuk dengan ini itu, Safa melirik ke rumah sebelah, tepatnya lantai dua yang ia yakin sekali kamar Edzar ada di sana.
Safa cemberut. Dia sedih karena harus meninggalkan calon imamnya yang masih coming soon itu walaupun sehari saja.
Hey... bagaimanapun Safa harus waspada karena lelaki seperti Edzar ini rawan menemukan tikungan. Safa gak rela kalau misalkan Edzar berbelok dari jalan lurusnya menuju Safa.
Awas saja kalau itu terjadi. Safa gak akan segan-segan perkosa Edzar tanpa pikir panjang.
Hehe, bercanda. Gini-gini Safa juga ingat dosa.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Edzar tiba-tiba muncul di pintu balkonnya. Safa melambai dengan senyum lebar. Pria itu hanya menatapnya tanpa ekspresi. Namun begitu, Edzar seakan menyuntikkan semangat untuk Safa yang tadi sempat lesu.
__ADS_1
Terimakasih, My Future Husband. Safa janji akan cepat pulang.