
Udara yang tadi sejuk dan segar mendadak jadi hareudang pas tahu lagi-lagi dia kecolongan. Sepertinya ulat nangka mulai terang-terangan menunjukkan ketertarikan. Bahaya, ini bisa jadi ancaman.
Langkah Safa yang berderap mengalihkan atensi dua objek yang jadi pemicu perubahan cuaca dalam hatinya. Safa menatap sekilas pada Alisia, wanita itu mende*sah malas dan membuang muka. Safa tak peduli, dia beralih menatap Edzar, lalu pada rantang di genggaman pria itu. Seketika bibirnya mencebik kesal.
Tapi Safa segera merubah ekspresinya, bisa kegirangan anak Pak Rete kalau Safa berwajah masam. Dikiranya Safa cemburu, padahal iya. Walau begitu, Safa gak akan nunjukin banget kalau dia kepanasan.
Alisia meliriknya dengan tatapan mengejek yang tak kentara, apalagi saat melihat rantang di tangan Safa, wanita itu langsung mengulum senyum penuh kemenangan. Kesal, sih. Tapi biarlah, untuk menjatuhkan lawan kita perlu menerbangkannya dulu. Biar sakitnya afdol.
“Eh... ada Safa. Mau apa? Kasih bekal, ya? Aduh... sayang banget, Mas Edzar sudah duluan menerima masakan saya. Maaf, ya,” ujar Alisia dengan wajah menyesal yang dibuat-buat. “Tapi... kalau mau kamu bisa kasih itu ke Bibi di sini.” Maksudnya adalah Bik Yah.
Safa memutar bola matanya malas. Akting banget ini cewek. Kalau ikut casting jamin gak bakal lolos.
“Siapa bilang ini buat Om Edzar? Orang Safa mau piknik sama teman, kok.”
Edzar yang mendengar tanpa sadar mengernyit. Dia melirik rantang di tangan Safa. Gadis itu sudah rapi. Mau ke mana?
“Masa? Terus, kamu ngapain ke sini?”
“Kenapa memangnya? Mbak Alis kepo, ya?”
“Enggak. Ngapain? Saya gak punya waktu untuk sekedar penasaran pada hidup orang.”
“Masa? Terus, tadi ngapain nanya?” tanya Safa sedikit menirukan kalimat Alisia.
Alisia sedikit gelagapan, tangannya terangkat menyelipkan rambut ke belakang telinga. Lalu kembali bersidekap dengan anggun. Safa mendengus, menurutnya Alisia itu sok cantik.
“Itu ‘kan sekedar basa-basi. Saya hanya berusaha ramah pada tetangga.”
Safa menatap Alisia dengan wajah polos andalannya, “Susah enggak?”
Alisia mengernyit, “Apanya?”
__ADS_1
“Usahanya.”
“Maksud kamu?”
“Tadi Mbak Alis bilang berusaha ramah. Orang yang memang sudah ramah gak perlu usaha lagi untuk terlihat ramah ‘kan?”
Alisia menganga menatap Safa, “Jadi maksud kamu saya gak ramah, gitu?”
Safa menggeleng ringan, “Enggak, Safa gak ada bilang gitu. Mbak Alis sendiri yang berkesimpulan. Ya ‘kan, Om?”
Edzar yang sejak tadi hanya diam sedikit tersentak. Matanya menatap dua perempuan itu bergantian. Kebingungan tersirat jelas di wajahnya. Dia paling pasif jika berurusan dengan masalah wanita.
“Kenapa tanya saya?”
Safa menatap Edzar dengan kesal. Dalam hati dia berdecak memaki wajah datarnya yang sialan ganteng. Dasar triplek, mimpi apa Safa bisa menyukai pria itu?
Alisia tersenyum mengejek, dia merasa menang melihat raut mengkal Safa. “Udah, deh Safa. Berhenti merepotkan orang. Kamu buat makan sendiri aja mesti dimasakin pembantu. Segala pakai nyiapin bekal buat Mas Edzar.”
“Apa itu pembantu? Safa gak punya pembantu. Safa punyanya asisten,” dengusnya ketus.
“Sebutan pembantu terlalu kasar jika diucapkan oleh orang yang katanya ramah.” Safa sengaja menekan kata ramah untuk mencemuh Alisia.
Sepertinya cukup berpengaruh. Wajah Alisia sedikit memerah.
“Kamu-“
“Bik Yah!”
Safa tak menghiraukan Alisia yang mungkin hendak memakinya. Safa capek gak mau debat lagi. Bisa kering liptint-nya jika meladeni si dokter gigi itu.
“Kenapa, Neng?” sahut Bik Yah yang saat itu baru keluar.
__ADS_1
“Bibi lagi beres-beres?”
“Iya, Neng. Kenapa memang?”
“Itu, sekalian Safa minta tolong cariin gelang di kamar Om Edzar, ya. Kayaknya semalam ketinggalan di sana. Soalnya Safa cari-cari di rumah gak ada.”
“Oh iya, semalam Neng Safa ‘kan habis main sama Den Edzar, ya. Oke deh, Neng tenang saja Bibi cariin nanti.”
Kamar? Main?
Lagi-lagi Alisia dibuat gagal faham oleh kalimat Safa. Maksudnya apa, sih? Safa habis main sama Edzar? Main apa sampai harus di kamar segala? Poin pentingnya adalah, mereka sudah sedekat apa?
Sedangkan Edzar menghela nafas mendengar percakapan antara Safa dan Bik Yah yang bisa saja menimbulkan statement buruk di telinga orang lain.
Bukan bisa lagi, tapi sudah. Alisia salah satu orang yang salah faham sekarang.
“Kalian....” Perempuan itu seolah kehilangan kata-kata. Ditambah lagi ucapan Safa berikutnya membuatnya mati kutu.
“Om, ayo katanya mau berangkat? Safa udah ditungguin sama Kamila, tau. Tadi aja cerewet banget suruh cepet-cepet. Sekarang malah molor karena hal gak penting.”
Safa menoleh pada Alisia yang terdiam, “Tadi Mbak Alis tanya Safa mau ngapain ke sini ‘kan?”
“Ya itu, Safa mau cari gelang, sekalian mau berangkat sama Om Edzar karena kita udah janjian. Iya ‘kan, Om?” Safa merangkul lengan Edzar dengan manja.
Sebelum Edzar mengeluarkan kata-kata yang bisa menghancurkan reputasinya, cepat-cepat Safa menggeret pria itu untuk segera memasuki mobil. Meninggalkan Alisia yang kini menggeram tertahan karena merasa direndahkan.
Safa melambai dengan senyum kelewat lebar sebelum memasuki kursi penumpang di samping Edzar. Membuat Alisia semakin dongkol menghentakkan kakinya dengan kesal. Safa terkikik geli, dia menyuruh Edzar untuk segera menjalankan mobilnya kalau tidak mau kesiangan.
Di perjalanan, Safa tak hentinya tertawa keras seolah kesetanan. Edzar yang sedari tadi dilanda kebingungan menatap gadis di sampingnya dengan heran. Mereka tak ada janji seperti yang Safa bilang tadi. Lalu, dia harus membawa gadis itu ke mana?
“Ini... saya harus mengantar kamu ke mana?” tanya Edzar pada akhirnya.
__ADS_1
Safa menghentikan tawa dan tersadar. “Oh iya. Om turunin Safa di pertigaan aja, ya. Safa udah janjian di sana.”
Safa tak sekejam itu menyuruh Edzar mengantarnya sampai ke rumah Kamila yang sudah jelas jaraknya jauh dari Kejari. Bisa-bisa Pak Jaksa dicecar atasan karena terlambat.