
"Ibu kenapa tidak bilang kalau mau ke sini? Tahu begitu Edzar jemput tadi."
Dyah tersenyum menatap anaknya, tangannya terangkat mengusap lembut bahu kekar Edzar. "Gak perlu, kamu pasti capek pulang kerja. Lagian Ibu sama Liandra ke sini."
"Lin, sini. Ini, lho, anak Tante yang kemarin diceritain. Namanya Edzar."
"Edzar, kenalin ini Liandra, anak teman Ibu waktu SMA. Dia lulusan UI, lho."
Liandra tersenyum malu-malu mengulurkan tangannya, menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil sesekali menatap Edzar. "Liandra, Mas."
Edzar menatap uluran tangan itu dengan datar, demi kesopanan mau tak mau dia menyambutnya. "Edzar," ucapnya singkat, sesingkat tangannya yang tak sampai satu detik ia tarik kembali.
Liandra sampai ragu mereka sempat bersalaman.
Edzar tahu apa maksud ibunya datang kemari bersama seorang wanita. Apalagi kalau bukan untuk dijodohkan?
Sebenarnya Edzar lelah. Lelah dengan pekerjaan, lelah dengan semua yang ia hadapi akhir-akhir ini sampai harus mengorbankan perasaan seorang gadis yang sebenarnya enggan ia sakiti.
Namun ia harus. Satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian orang itu, Edzar harus menjauhkan Safa darinya.
Ini juga kesalahannya yang tanpa berpikir panjang memanfaatkan keberadaan gadis itu saat di hotel untuk menghindari kecurigaan bahwa dia sebenarnya menemui Bernadin. Edzar tidak mengira hal itu akan berdampak sebegitu buruk hingga mengancam nyawa.
Tapi sekarang Edzar bisa bernafas lega, akhirnya dia berhasil mengalihkan perhatian orang itu dari Safa. Meski setelah ini dia harus berpikir lebih keras lagi untuk masalah Bernadin. Setidaknya, sekarang Safa sudah aman.
Selama beberapa jam Edzar berusaha bersabar, dia paling tidak nyaman ada orang asing di rumahnya. Apalagi Edzar sadar, beberapa kali ibunya mencari berbagai alasan untuk meninggalkannya berduaan dengan Liandra.
Liandra memang cantik, santun, dan tentunya berpendidikan. Wanita itu juga terlihat cerdas. Sangat luwes saat berbicara. Namun lagi-lagi Edzar seolah mati rasa. Semua itu tak cukup membuat hatinya tergerak.
Edzar malah merasa pening dan ingin buru-buru ke kamar untuk segera tidur. Beberapa kali ia tak fokus saat menanggapi pembicaraan. Liandra mendominasi percakapan antara mereka. Karena Edzar hanya diam, sejatinya dia memang tak pandai mengobrol dengan seseorang. Edzar akan bersuara ketika ditanya, selebihnya dia hanya menjadi pendengar.
Pikiran Edzar bercabang pada beberapa hal, termasuk gadis yang mungkin saat ini tengah membencinya. Hati Edzar sedikit tak rela, jakunnya naik turun menelan ludah mengingat kembali raut terluka itu.
__ADS_1
Tangisnya yang pecah dan terdengar memilukan di telinga Edzar. Tidak ada yang tahu bagaimana sulitnya ia menahan diri untuk tidak berbalik dan menariknya ke dalam pelukan. Atau saat gadis itu berjalan di bawah guyuran hujan, Edzar hanya bisa melihatnya dari jarak jauh. Mengikuti dan memastikan dia tetap aman.
Meski setelahnya Edzar mendengar gadis itu jatuh sakit. Setidaknya itu lebih baik.
Edzar tidak akan mengelak lagi bahwa dia memang menyayangi Safa. Perasaan itu tumbuh begitu saja di hatinya. Gadis itu berhasil mendobrak pertahanan yang selama ini ia bangun.
Dengan lancangnya masuk membawa desiran aneh yang menggelikan. Membuat Edzar tak mampu membendung luapan perasaan yang kian melonjak setiap harinya.
Tapi sekarang, dia hanya bisa menahan semua itu. Perasaan ini terlalu berbahaya. Dia tidak mau menyeret gadis itu pada lingkaran hidupnya yang kadangkala riskan.
Safa terlalu manis untuk bersanding dengannya. Gadis itu pantas mendapat seseorang yang lebih baik.
Hanya saja, apa dia ikhlas melihatnya bersanding dengan yang lain?
"Edzar?"
"Edzar?"
Edzar tersentak saat sang ibu datang mengguncang sedikit bahunya. Dia menoleh mengangkat alisnya bertanya, membuat Dyah berdecak tak habis pikir.
Dyah meringis menatap Liandra tak enak hati. Sang putra mengabaikannya, Dyah tahu itu. Sejak tadi ia di dapur mengawasi keduanya. Dan hanya Liandra yang aktif berbicara, sementara Edzar malah diam seperti melamun.
"Antar Liandra pulang, gih."
Kening Edzar berkerut mendengar perintah itu.
"Ini sudah malam. Tadi kita naik taksi ke sini. Kasihan kalau Liandra harus naik taksi lagi."
Edzar tak sampai hati untuk menolak. Dengan malas lelaki itu beranjak mengambil kunci ke kamarnya. Lalu turun lagi melaksanakan titah sang ibu untuk mengantar Liandra.
"Hati-hati di jalan...."
__ADS_1
Di atas sana, Safa melihat semuanya. Dia tak menampik rasa iri yang serta-merta menyergap hatinya. Edzar terlihat sangat perhatian saat membukakan pintu untuk wanita itu. Mata Safa sendu menatap kepergian mobil Edzar yang melaju menjauhi rumah.
Mau ke mana mereka? Apa jalan-jalan berdua menghabiskan malam romantis? Besok weekend. Banyak orang menggunakan kesempatan ini untuk berpacaran.
Kecuali jomlo seperti Safa tentunya. Sudah jomlo, patah hati pula. Kurang menyedihkan apa hidupnya.
Safa berbalik menjauhi jendela. Kakinya menghentak membuka pintu kamar dengan kesal. Berjalan menuruni tangga untuk mengambil cemilan di dapur. Tapi....
"BIBIK...! INI MAKANAN PADA KE MANA? KOK, GAK ADA?" jerit Safa saat tak mendapati satupun makanan ringan di kulkas. Di tekas juga gak ada.
Bik Inem tergopoh dari ruang TV, "Lha, Non Safa gimana, sih? Kan Non sendiri yang kemarin habisin. Bibik belum belanja, Non. Bahan makanan masih banyak. Kan biasanya Non Safa yang suka beli ciki-ciki begitu. Bibi gak tau, taunya keripik, udah. Mau dibeliin takut salah. Selera kita kan beda, Non."
Safa manyun. Benar, memang dia yang habiskan. Setiap kali hatinya resah pasti larinya ke makanan. Tapi sekarang Safa harus bagaimana? Masa nyemil sayur? Ih, gak mau. Buah? Safa lagi pengennya makan micin.
Dia melirik jam yang menunjukkan angka 21 lebih 15 menit. Belum terlalu malam, minimarket juga masih buka. Sepertinya tak masalah kalau Safa keluar sebentar. Mumpung Dava lagi sibuk di ruang kerjanya.
Bergegas Safa mengambil dompet di kamar. Tak lupa sebuah cardigan untuk menutupi tanktop-nya. Setelah itu Safa siap untuk keluar.
Karena jarak yang lumayan dekat, jadi Safa putuskan untuk jalan kaki. Lagian dia gak bisa naik motor. Sepeda saja gak lancar. Mobil apalagi.
Tak sampai 10 menit Safa tiba di minimarket. Dia segera mengambil keranjang dan memasukkan beberapa cemilan yang diinginkannya.
Dari mulai keripik kentang, pisang, dan singkong. Keripik tempe, chitos, jagung, serta makanan ringan lain yang menurutnya enak. Safa juga memasukkan beberapa makanan instan, salah satunya topokki pedas yang menjadi favoritnya saat ini.
Saat tengah memilih-milih, seseorang tiba-tiba menyapanya.
"Safa?"
Safa menoleh, keningnya berkerut melihat pria yang terlihat sedikit asing di matanya. Dengan ragu Safa menyebut nama pria itu, "Kak Diko?"
Diko tersenyum dan mengangguk. Membuat Safa menghela nafas lega karena tak salah mengenal. Mereka masih tinggal satu komplek, namun jarang bertemu. Jadi Safa tak terlalu ingat pria itu. Hanya saja beberapa kali sempat berpapasan.
__ADS_1
"Apa kabar?" tanya Diko.
"Baik," jawab Safa singkat dengan seulas senyum. "Kak Diko bagaimana? Baik juga 'kan?" lanjutnya berusaha ramah.