SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 60


__ADS_3

“Jadi ini Cafe punya Om, ya?”


“Hm.” Edzar mengemu sebagai balasan.


“Wahh... siapa sangka cafe sekeren ini ternyata punya Om Edzar,” Safa bergumam seakan tak percaya. Dia masih tidak menyangka tempat makan yang sering didatanginya milik sang pujaan. Safa jadi semakin penasaran. Edzar selalu mengejutkan Safa dengan hal-hal tidak terduga.


Mata Safa mengedar melihat sekeliling ruangan. Tadi dia belum sempat memindai karena sibuk menangis. Ditambah perubahan sikap Edzar membuat dunianya seakan berhenti berputar. Safa benar-benar kehilangan fokus.


Ruangannya cukup luas. Bagus. Konsep industrial dengan dominasi warna gelap, sangat Edzar sekali. Ada meja kerja lengkap dengan kursi ergonomis serta satu set sofa yang saat ini Safa duduki. Dinding partisi berisi beragam miniatur dan tanaman hias kecil yang menjadi pemanis.


Ruangan ini tidak se-monoton yang punya, pikir Safa.


Tatapannya beralih ke samping. Bibir Safa sedikit mengerut melihat Edzar yang duduk bersandar pada punggung sofa. Tangan Safa terangkat menusuk-nusuk lengan atas Edzar dengan jarinya.


Edzar menurunkan lengan yang semula menutupi matanya yang terpejam, kelopak itu terbuka secara perlahan sebelum kemudian menatap pada Safa. “Kenapa?” tanyanya dengan nada malas.


Safa mengerucutkan bibir, “Laper...” rengeknya dengan suara lirih.


Sesaat Edzar nampak terdiam, kemudian berkedip lalu berdehem. Tangannya merogoh saku celana meraih benda pipih di dalamnya. Jemarinya aktif mengetikan sesuatu di sana.


Safa memerhatikan itu dalam diam. Entah apa yang sedang pria itu lakukan. Semuanya terjawab saat tak lama kemudian seseorang datang mengetuk pintu.


“Masuk,” sahut Edzar dengan suara beratnya.


Lalu munculah perempuan yang Safa ketahui ternyata bernama Hani. Dia yang Edzar suruh mengambil obat tadi. Safa baru melihat rupanya sekarang. Perempuan itu melangkah dengan canggung. Di tangannya terdapat nampan berisi makanan.


Safa yang melihat kecanggungan Hani berkerut heran. Entah dia belum menyadari atau memang lupa Hani sempat mendapat tontonan gratis.


“Ini, Pak, makanannya,” ujarnya menaruh beberapa piring di atas meja. Disusul dua gelas minuman berupa es teh leci yang terlihat segar dengan garnis menawan.


Setelah itu Hani keluar meninggalkan dua sejoli itu kembali berdua. Dia tak ingin berlama-lama di sana. Melihatnya saja sudah membuat Hani panas dingin.


“Silahkan,” ucap Edzar.


Safa terdiam. Matanya menatap Edzar yang mulai menyendok makanan.


Karena merasa diperhatikan, Edzar pun menoleh menghentikan gerakan tangannya. Keningnya berkerut melihat Safa yang tak menunjukkan reaksi apapun. Katanya lapar?


“Ada apa? Kamu tidak suka menunya?” tanya Edzar. Salahnya juga tak bertanya dulu. “Saya akan suruh Hani menggantinya kalau begitu.”


Edzar berniat mengambil kembali ponsel dan menghubungi karyawannya itu. Namun perkataan Safa segera menahannya.


“Bukan masalah menunya. Tapi Safa makannya gimana? Tangan Safa kan sakit,” ujar Safa dengan muka cemberut.


Edzar baru sadar kedua tangan gadis itu terluka karena pecahan beling. Dia jadi bingung sendiri. Kalau seperti ini bagaimana gadis itu bisa makan?

__ADS_1


“Lalu bagaimana?”


Safa merengut mendapati Edzar yang malah bertanya balik. “Om gimana, sih. Ya, suapin, lah,” sungut Safa kesal.


Tadi saja manis dan lembut banget. Eh, sekarang balik lagi kayak es balok. Memang, ya, pria kalau sudah dapat maunya pasti ujung-ujungnya kita ditinggal, dicuekin. Manisnya pas sebelum nyosor aja.


Edzar menatap tangan mungil Safa yang tertutup perban. Bagian paling parah karena saat terjatuh Safa reflek menahan tubuhnya dengan itu. Edzar menghela nafas pelan. Kalau sudah begini dia bisa apa? Tidak tega juga jika membiarkannya kelaparan karena tak bisa makan.


Pada akhirnya Edzar menyimpan kembali piringnya, lalu beralih mengambil piring Safa di atas meja. Menyendok isinya sebelum kemudian mengarahkannya ke mulut gadis itu.


Safa menyambutnya dengan senang hati. Sembari mengunyah dia tersenyum, menatap Edzar yang fokus mengaduk makanan di piringnya.


Pria itu dengan telaten menyuapinya lagi dan lagi, hingga makanan di atas piring tinggal sisa setengah, barulah Safa membuka mulut.


“Om gak makan?”


“Nanti. Tangan saya cuman dua. Gak mungkin makan dengan tangan kiri.” Edzar menjawab dengan nada khasnya yang datar.


Safa meringis setengah mencibir. Menurutnya kalimat itu terdengar sarkas.


“Ya sudah, selang-seling saja, Om. Abis nyuapin Safa, Om suapin diri sendiri, gitu.”


“Repot,” jawab Edzar singkat.


Safa mendelik dengan bibir sedikit mengerut. Edzar tampak biasa saja setelah ciuman tadi. Seperti tak terjadi apa-apa. Safa pikir pria itu akan berubah sedikit melunak, ternyata sama saja.


Edzar menghentikan gerakan tangannya di atas piring. Lalu, kembali melanjutkan sambil menjawab, “Hanya ingin.”


Singkat, padat, dan jelas.


Ihh...


Safa merengut parah. Kalau kakinya tidak sakit dia pasti sudah melakukan gerakan menghentak saking kesalnya. Bibir Safa melengkung ke bawah. Sekali lagi dia menatap Edzar yang cuek.


Ini membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Sempat terpikir bahwa yang tadi menciumnya bukanlah Edzar. Atau itu memang Edzar tapi dalamnya orang lain? Bisa jadi pria itu kesurupan ‘kan?


Aduh, Safa. Kesurupan itu kemasukan setan, bukan orang.


Haiihh tau, ah. Pusing pala princess.


Tok tok tok.


Hani kembali masuk dengan membawa sebuah tas plastik berlogokan nama cafe ini. Perempuan itu menyerahkannya pada Safa. Sontak hal itu membuat Safa kebingungan.


Keningnya berkerut, sekilas dia menatap Edzar yang masih setia menunduk alias fokus sama piring. Sudahlah, Safa. Ngapain mesti ditengok segala? Kamu tidak akan mendapat jawaban apa-apa.

__ADS_1


Safa kembali menatap Hani, “Ini...?” tanyanya menggantung.


“Ini ganti makanan kakak yang tadi jatuh,” tutur Hani tersenyum, gelagatnya sedikit canggung. Dia masih saja terbayang adegan bosnya dan perempuan itu.


“Eh, enggak usah, Mbak. Gak pa-pa. Ini saya udah kenyang, kok, makan ini.”


Hani melirikkan matanya pada Edzar, lalu kembali pada Safa. “Tapi, ini permintaan Pak Edzar.”


“Ya?” tanya Safa terkejut. Reflek kepalanya menoleh pada Edzar.


Edzar yang merasa ditatap pun mendongak dan mengangkat alis. “Kenapa?”


Safa menghela nafas gemas. Kenapa, sih, Edzar gak peka banget. Apa dia tak mendengarkan sampai harus tanya lagi? Jarak mereka gak ada semeter, pria itu pasti tahu apa yang dibicarakan. Ingin rasanya Safa membenturkan kepala ke meja kalau tidak akan sakit.


“Om suruh Hani ganti pesanan aku?” tanya Safa pada akhirnya. Menunggu Edzar sadar tak akan ada gunanya.


“Oh. Iya,” ucapnya pendek. Lalu, kembali mengaduk piring. Menyendok makanan dan menyuapkannya ke mulut Safa dengan santai. Safa mengunyah sambil melihat Edzar dengan datar.


Hani meringis dalam hati. Tangannya menggaruk tengkuk yang sebenarnya tak gatal. Dia benar-benar merasa salah tempat di sini.


Safa menghela nafas setelah menelan makanannya.


“Om gak usah ganti. Safa ‘kan bisa beli.”


“Kalau ada yang gratis kenapa harus beli?”


“Safa gak suka gratisan,” ucapnya berbohong. Padahal dia sangat suka. Apalagi kalau gratisannya berupa tas Chanel keluaran terbaru.


“Ya sudah. Anggap saja sebagai bayaran.”


Kening Safa berkerut. “Bayaran apa?”


“Karena saya sudah cium bibir kamu,” ucapnya seolah tak ada beban. Edzar mengatakan itu dengan sangat ringan. Hani yang mendengar hampir tersedak ludah sendiri.


Sementara itu, Safa menganga tak percaya. “Om mau bayar ciuman pakai pisang goreng, gitu?” tanyanya tak percaya.


Edzar tak menjawab.


“Om. Lipstik Safa aja harganya di atas dua ratus rebu....”


Safa ingin menangis saja rasanya. Hani meringis menatap Safa dengan iba. Kasihan banget kakak ini harus pacaran sama balok kayu kayak Edzar. Pikirnya.


Sedangkan Edzar, dia hanya santai mengangkat sendok menyuapkan makanan pada Safa. Safa mengunyah dengan raut masam, rasa makanan itu seketika jadi hambar. Entah ini harus dibilang romantis atau pragmatis.


***

__ADS_1



__ADS_2