
Bayang-bayang eskrim di rumah berlarian di kepalanya. Kira-kira habis ini enaknya makan rasa apa? Cokelat, matcha, vanilla, atau strawberry? Safa juga ada niatan menyuruh Bik Inem kupasin mangga nanti. Aduh, harumnya udah kebayang-bayang kayak nyata.
“Ya udah, kamu duduk sana lurusin kaki. Abang lanjut lari.”
Dava sempat membelikan minum sebelum kembali dengan aktifitasnya. Tuh ‘kan, Dava itu awalnya aja ngomel-ngomel, ujung-ujungnya gak tegaan.
Safa duduk meluruskan kaki di lintasan berbatu. Matanya mengamati sekitar. Banyak pengunjung mulai berdatangan. Apalagi di camping area. Wajar, sih, ini hari Minggu. Tak heran banyak keluarga yang melakukan rekreasi di sini.
Safa meminum air yang dibelikan Dava tadi. Dia lapar, tapi sepertinya menunggu Dava akan memakan waktu cukup lama. Safa hanya bisa duduk lesu. Dia gak bawa uang sepeserpun. Tapi apa gunanya uang kalau cafe saja belum buka, lagian jaraknya cukup jauh. Kalian jangan banyangin ada pedagang kaki lima, ini bukan alun-alun.
Ada minimarket, sih, dekat sini. Tapi ya itu dia, kenapa tadi dia gak minta duit sama Dava, coba?
Salah Dava juga menyeretnya tanpa persiapan, masih beruntung dia gak salah kostum. Legging hitam sebetis dan crop tee putih tipis dengan kerah lebar. Tenang, dia pakai tanktop, kok.
Ngomong-ngomong tanktop, ini siapa yang kurang ajar narik-narik talinya?
Dasar cabul!
Safa menoleh dan siap memaki siapapun. Namun kalimatnya tertahan saat menemukan wajah lucu nan imut dengan kedipan polos tengah menatapnya. Pipinya bulat, bibirnya penuh dan mungil. Aduh... anak siapa ini? Comelnya...!
Bocah laki-laki berumur sekitar tiga tahun itu melepaskan tangannya dari tali tanktop Safa. Kenapa harus itu yang ditarik, sih Dek? Gemes banget, deh.
Safa tersenyum manis, “Adek siapa ini namanya? Mamanya mana?”
Bocah itu menunjuk seorang wanita muda yang melambai ke arah mereka. Safa mengangguk dan mengirim senyum sebagai sapaan.
“Namanya siapa?” tanya Safa lagi.
“Lio.”
“Oh... Dek Lio.”
Bocah itu menggeleng, “Lio.”
“Iya, Lio ‘kan?”
Menggeleng lagi, wajahnya mulai sedikit kesal. “Lio, no Lio Lio...”
Safa mengernyit. Apa dia salah? Perasaan sudah benar. Namanya Lio, itu yang dia dengar.
__ADS_1
Terdengar kekehan di antara mereka, ternyata ibu dari si bocah. Wanita itu mengelus kepala anaknya dengan lembut.
“Namanya Rio, Dek. Karena masih cadel jadi kedengarannya kayak Lio.”
“Oh... gitu....” Safa menggaruk pipinya malu.
Dasar Safa. Gitu aja gak tahu.
“Rio... kasih rotinya ke kakak, sayang.”
Bocah itu mengangguk. Kedua tangan gembulnya mengulurkan sebuah food grade pada Safa. Safa menatap ibu dan anak itu bergantian. Ini maksudnya apa? Mau ngasih, ya? Apa Safa terlihat selapar itu sampai mengundang rasa simpati mereka? Hwa... malu banget kalo sampai iya.
“Kamu jangan salah faham dulu, ya. Ini tadi saya salah beli. Rio gak suka. Jadi saya suruh dia kasih ke siapapun yang dia mau. Eh, ternyata Rio pilih kamu. Tolong terima, ya. Anggap saja ini untuk menyenangkan anak saya.”
Bodo amat, Safa. Kamu lapar. Terima aja. Lagian gak baik nolak rezeki.
Dengan sok malu-malu Safa menyambut makanan itu dari tangan si bocah. Sepertinya Tuhan terlalu sayang padanya sampai tidak tega melihatnya kelaparan. Memang, ya, rezeki itu bisa datang dari mana saja.
“Makasih, ya. Dek Rio baik banget. Lucu, deh.” Safa mencubit lembut pipi bulat nan kenyal itu dengan gemas.
Rio mengangguk dengan polos setengah datar. Safa jadi teringat Edzar yang jarang berekspresi. Apa waktu kecil lelaki itu juga terlihat selucu ini?
Safa melahap rezeki tak terduga nya dengan nikmat. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Ternyata itu Dava, dan dia tidak sendiri. Tebak siapa yang datang bersama abangnya yang cakep bin ganteng ini.
Yup, benar. Edzar.
Kenapa Om-om yang hot-nya ngalahin Michele Morrone itu ada di sini? Maksudnya, kenapa tiba-tiba bisa bareng Dava gitu?
Yaelah, Safa... ini ‘kan fasilitas umum. Semua penghuni komplek berhak berada di sini.
Iya juga, sih. Tapi entah kenapa Safa merasa lain.
Ah, sudahlah. Mending Safa makan lagi rotinya.
“Itu... kamu dapat itu dari mana?” tanya Dava heran.
Sebenarnya Dava merasa tak enak karena dia lupa memberi Safa uang. Dia ingat malah sudah setengah jalan. Tanggung kalau balik lagi, sama aja jaraknya.
Safa yang ditanya tak menjawab. Dia masih kesal dengan abangnya. Biarin aja dia penasaran. Biar dia sadar.
__ADS_1
“Safa, abang tanya itu kamu dapat dari mana?” Suaranya mulai terdengar tegas.
Safa menoleh, “Apa?” tanyanya polos. Sok polos lebih tepatnya.
Dava menghela nafas berusaha sabar. “Kamu dapat sandwich itu dari mana?”
“Kenapa memangnya?”
“Abang gak ngasih kamu uang. Kamu gak mungkin beli ‘kan?”
“Itu tau,” jawab Safa cuek. Dia kembali memakan sandwich-nya.
Tapi tiba-tiba Dava merebut paksa sandwich itu dari tangan Safa.
“Abang apa-apaan, sih? Safa lapar tau!”
“Berapa kali abang bilang jangan makan makanan dari orang asing!”
Safa merengut menundukkan kepala. “Tapi Safa lapar...” cicitnya pelan.
“Tetap jangan kamu makan. Kamu gak ingat waktu itu-“
Ucapan Dava terhenti saat Edzar menepuk bahunya. Lelaki itu beralih mengambil sandwich yang tinggal setengah di tangan Dava.
“Makanan ini bersih. Kenapa kamu harus sekhawatir itu?”
Edzar menyerahkan kembali roti isi itu pada Safa.
Dava mengerti yang dimaksud bersih itu apa. Tapi...
“Bagaimana Mas Edzar bisa yakin?”
“Mas tau siapa pemberinya?” tanya Dava lagi.
Safa juga menatap Edzar dengan heran. Mau tak mau dia ikut mempertanyakan hal yang sama dengan Dava. Meski dia yakin ke-khawatiran Dava itu tidak mungkin.
Edzar nampak diam. Wajahnya yang tenang sangat sulit untuk ditebak. Heran, kok ada orang yang hampir terlihat gak punya emosi begini.
Setelah beberapa saat terdiam, Edzar mendongak menatap dua orang di hadapannya yang menunggu jawaban. Matanya beralih pada Safa.
__ADS_1
“Karena kalau ini beracun, bukankah adikmu tidak akan baik-baik saja sekarang?”