SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 48


__ADS_3

“Saf, kakinya majuin dikit.”


“Yang kanan. Dikit lagi.”


“Kurang, dikit lagi.”


“Nah... tahan.”


“Satu, dua, tiga.” Ckrek.


“Sekali lagi, ya. Satu, dua, tiga.” Ckrek.


“Daebak! Cantik. Perfect-perfect. Pindah sana, yuk!” Kamila menunjuk spot lain yang menurutnya bagus untuk berfoto. Safa hanya pasrah mengikuti.


Siang ini Kamila mengajaknya melakukan pemotretan, begitu Kamila menyebutnya. Menurut Safa kata itu terlalu keren untuk sekedar jeprat-jepret ala Kamila yang amatir. Tapi Safa malas protes, takut menyurutkan semangat sahabatnya yang tengah interes dengan dunia foto memfoto.


Gadis itu ikut ekskul fotografi di kampus, hanya karena ingin satu fraksi dengan kakak tingkat yang disukainya, bukan karena benar-benar minat. Tapi Safa berharap hasil jepretannya bagus kali ini. Safa sudah capek-capek bergaya, dia tidak ikhlas kalau hasilnya tidak memenuhi ekspektasi.


“Mil, udah kali gak usah banyak-banyak. Toh, yang dipost paling cuman satu.”


“Apaan satu. Lima. Kamu harus upload lima foto!” sergah Kamila tak setuju.


Safa memutar matanya malas. Ringan banget itu ngomong. Lima, katanya. Mereka di sini sudah menghabiskan waktu lebih dari 50 menit hanya untuk foto-foto. Lebih dari 50 gambar juga Safa yakin sudah Kamila dapatkan.


Ahelah... perasaan endors gak pernah seribet ini, deh. Iya kalau sama fotografer profesional, lah ini abal-abal aja bukan. Padahal Safa juga bisa foto sendiri di rumah pakai tripod, atau suruh Bunda dan Bik Inem yang fotoin. Gak usah bagus-bagus, Safa tetap oke mau dengan gaya apapun. Yang penting produknya terlihat jelas.


Itu pikirnya. Lain lagi saat Safa bilang pada Kamila bahwa dia menerima tawaran Lena, teman kampusnya. Gadis itu langsung bersikeras menawarkan diri jadi tukang foto. Safa bisa apa saat Kamila ngemis-ngemis dengan alasan ingin mengasah kemampuannya memegang kamera.


Catat, megang kamera!


Kalimatnya gak meyakinkan banget. Dalam hati Safa misuh-misuh karena merasa jadi kelinci percobaan bagi Kamila. Bisa-bisanya gadis itu memanfaatkannya jadi model hanya untuk berlatih.


“Mila... laper... makan, yuk....” Safa merengek dengan muka memelas parah. Kakinya pegal berdiri terus. Kamila yang maniak foto lebih menyebalkan dari saudara tiri.


“Bentar, deh, Saf. Nanggung, spotnya keren tau. Coba kamu ngadep sana,” pinta Kamila yang dengan lelah Safa turuti.


Ckrek.


Ckrek.


“Udah, ya. Gak mau tau. Pokoknya aku mau makan.”


Safa berjalan menghentak meninggalkan Kamila yang berdecak. “Ya elah, gitu aja manyun.”

__ADS_1


Kamila tidak sadar bahwa perilakunya itu menyebalkan. Bergegas dia mengikuti Safa mencari tempat duduk.


“Safa tungguin!”


Gadis itu tak menghiraukan, dia terus melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Kamila menghela nafas, Safa benar-benar ngambek sepertinya. Kalau dipikir-pikir Kamila memang keterlaluan, sih.


Bruk!


Prak!


“Astaga, Safa!”


Kamila mempercepat langkahnya menghampiri Safa. Gadis itu hampir saja terjatuh karena menabrak seseorang. Kalau orang itu tak memegangi bahunya, Safa sudah tamat menggelinding ke bawah.


“Ya ampun...! Kebiasaan banget, deh. Ceroboh! Ada yang sakit gak?”


Safa menggeleng, tapi mulutnya mengeluarkan rintihan pelan. Tubuhnya membungkuk menggapai kakinya yang ngilu karena terantuk tangga. Safa benar-benar terkejut, dia nyaris celaka kalau tidak sigap ditahan.


“Kamu tidak apa-apa? Maaf, saya benar-benar tidak sengaja.”


“Tidak apa-apa gimana? Jelas-jelas teman saya hampir jatoh tadi. Bapak jalan gak lihat-lihat, sih!” Kamila menyolot.


Pria itu meringis tak enak. Tubuhnya merunduk berniat membantu Safa berdiri tegak. Kedua tangannya meraih bahu Safa, sontak hal itu membuat atensi mereka bertemu.


Lelaki itu sama terkejutnya, “Safa?”


Mereka saling tatap tak menyangka. Kamila mengamati keduanya bergantian, wajahnya menyiratkan perasaan heran.


Tahu-tahu senyum Safa melebar, mendadak gadis itu menerjang tubuh Baskoro dalam pelukan. Beruntung pertahanan lelaki itu cukup kuat, kalau tidak mereka berdua pasti terjatuh. Atau lebih parahnya Kamila ikutan jatuh karena berdiri di antara mereka.


“Om kemana aja, sih? Kenapa gak pernah main ke rumah lagi? Safa kangen tau...” rengek Safa manja.


Baskoro terkekeh membalas pelukan Safa. “Om gak kemana-mana, Sayang.... Hanya ke luar kota sebentar.”


Safa mencibir, “Mana ada tujuh tahun sebentar.”


Bibirnya mengerucut. Sontak Baskoro tertawa renyah melihat raut yang menurutnya lucu itu.


“Gadis kecil Om sudah besar, ya sekarang. Om sampai pangling liat kamu.”


“Iyalah, Safa ‘kan udah gede. Om gak boleh panggil Safa gadis kecil lagi.”


Lagi-lagi Baskoro tertawa. Dia benar-benar tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Safa. Tujuh tahun lalu gadis itu masih berseragam putih biru. Tapi lihatlah sekarang, remaja yang dulu imut kini sudah berubah lebih dewasa dan cantik. Hanya sifatnya yang tidak berubah banyak, masih sama kekanakan.

__ADS_1


“Tak kira yang Om tabrak artis Korea. Eh, taunya bocah gembul yang suka ileran, hahaha....”


Safa merengut melepas pelukannya. “Enak aja. Safa udah gak ileran lagi sekarang.”


“Kecuali kalau lagi bobo, ya ‘kan?” timpal Baskoro dengan wajah jenaka.


Safa tak mengelak, dia memang kadang ileran kalau tidur terlalu nyenyak. Dan itu akan membuatnya terbangun karena bau tak sedap. Safa akan mengganti sarung bantal dan guling atau bajunya saat itu juga. Kalau tidak dia akan terjaga oleh rasa tak nyaman.


Tatapan Baskoro beralih ke samping Safa. Kamila masih berdiri dengan wajah bingung. Safa yang melihat itu langsung berinisiatif mengenalkan mereka.


“Oh iya, Om. Ini Kamila. Dia teman Safa sejak SMP kalau Om ingat.”


“Tapi gak mungkin, sih. Waktu itu cuman ketemu sekali pas jemput Safa,” lanjutnya bergumam.


Tanpa diduga Kamila terperangah, mulutnya menganga lebar dengan mata sedikit membola. “Oh... Om Brewok?” hebohnya tiba-tiba, membuat Safa maupun Baskoro menoleh.


Seketika dia tersadar dan minta maaf, “Hehe, maaf.”


“Jadi ini Om yang pernah jemput kamu di sekolah waktu itu, Saf? Aku gak bisa ngenalin karena sekarang dagunya bersih, hehe.”


Safa menyikut pelan perut Kamila, bibirnya tersenyum kering menatap Baskoro. Pria itu nampak kebingungan, sepertinya memang hanya Kamila yang ingat. Wajar, sih. Pertemuan mereka hanya terjadi satu kali, itu pun hanya selewat.


“Om pasti lupa. Ya udah Safa kenalin lagi aja, ya?”


“Namanya Kamila, Om. Dia teman Safa dari jaman piyik sebenarnya. Kita satu TK waktu itu, tapi ketemu lagi pas SMP.”


Baskoro mengangguk mengulurkan tangannya pada Kamila, wajahnya mengulas senyum ramah saat mereka bersalaman.


“Kalian di sini main?”


“Enggak juga, sih Om. Tadi kita abis numpang foto-foto buat endors. Ini sekalian makan aja.”


“Siapa yang endors? Kamu atau dia?” tanya Baskoro ingin tahu.


“Safa, Om. Aku cuman fotoin aja, hehe.”


Mulut Baskoro sedikit terbuka, tangannya menunjuk Safa seolah memastikan. “Safa?”


Kamila mengangguk. Baskoro seolah tak percaya, matanya memandang Safa dari atas ke bawah. “Jadi selain berubah cantik, sekarang kamu jadi artis?”


Safa mencebik, “Apa maksudnya? Dari dulu Safa cantik, kok. Dan Safa bukan artis,” ketusnya.


“Kalau begitu berarti selebgram? Percaya, sih, tampang kamu meyakinkan,” angguk Baskoro.

__ADS_1


__ADS_2