SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 55


__ADS_3

Edzar menghentikan mobil di tempat yang Safa minta. Lelaki itu menoleh melihat Safa yang tengah membuka sabuk pengaman. Edzar berdehem, “Janjian sama siapa?”


“Hem?” Safa menoleh dengan kening berkerut.


“Itu, tadi kamu bilang janjian di sini. Sama siapa?”


Safa menatap Edzar dengan senyum menggoda, “Tumben Om kepo? Kenapa? Penasaran, ya?”


Edzar menghela nafas mengalihkan pandangan, “Bisakah kamu menurunkan kepercayaan dirimu sedikit?” ucap Edzar pelan.


“Lah, terus kenapa Om tanya kalau bukan karena penasaran?”


Edzar berdecak, “Sudah. Cepat turun. Saya hampir kesiangan.”


Safa manyun karena tak puas, “Oke-oke... sabar dong, ah,” gerutunya sembari mencangklong tas sebelum keluar. Namun gerakannya terhenti saat Edzar menahan lengannya.


Safa menoleh dan bertanya, “Kenapa, Om?”


“Itu....” Edzar menunjuk rantang di tangan Safa, “Mau kamu bawa?”


Safa menunduk melihat rantangnya, lalu menatap Edzar. “Iya. Kan tadi Safa bilang ini memang buat Safa, bukan Om.”


Pernyataan polos Safa membuat Edzar menggaruk tengkuknya. “Bisa kamu tukar? Saya... alergi asparagus.”


Safa melirik rantang dari Alisia sejenak. Lalu kembali pada Edzar yang entah sejak kapan sudah menatapnya menunggu jawaban.


“Ya udah, oke.”


Edzar mengangguk berterima kasih.

__ADS_1


“Om.”


“Hm?” Edzar kembali menoleh.


“Tangannya lepas.”


Mata Edzar turun mengikuti arah pandang Safa. Seketika dia tersadar dan segera melepas tangannya dari lengan gadis itu. “Maaf,” ucapnya sembari mengalihkan pandangan. Gelagatnya terlihat gugup, dan itu sangat imut di mata Safa.


Safa mengulum senyum mengulurkan tangan, membuat Edzar kebingungan. “Apa?” tanyanya dengan kening berkerut.


Walau begitu, Edzar tetap menyambut tangan Safa dan dibuat mematung setelahnya. Sapuan lembut di punggung tangannya menimbulkan getaran asing yang perlahan merambat ke ulu hatinya.


Pria itu membeku di tempatnya. Safa mendongak menjauhkan wajahnya dan tersenyum. “Om hati-hati di jalan, ya. Makasih udah antar Safa sampai sini.”


“Oh, iya.” Safa kembali berbalik, “Tadi Om tanya Safa janjian sama siapa, ya?”


“Hehe, tuh, Safa janjian sama Abang Grab,” ucapnya disertai cengiran. Telunjuknya mengarah pada sebuah mobil Avanza yang parkir tepat di hadapan mereka.


“Kamu itu harus pintar main tarik ulur. Buat dia terbiasa dengan kehadiranmu, atau apa pun yang sering kamu lakukan padanya. Lalu, kamu kurangi intensitasnya hingga dia merasa asing dan sedikit terusik. Percayalah, dengan begitu dia akan membuka mulutnya dan mulai berbicara padamu.”


“Tapi karena ini Om Edzar, kasusnya beda lagi. Tipe orang seperti ini tidak akan secara blak-blakan mengungkapkan isi hatinya. Dia juga orang yang terlihat bodo amat dengan sekitar. Kamu harus pandai-pandai mengambil perhatiannya.”


Safa mengingat kembali percakapannya dengan Liliana tadi malam sepulang dari rumah Edzar. Dia baru saja mempraktikan apa yang dibilang sepupunya itu. Tarik ulur.


Sepertinya sedikit berhasil. Edzar terlihat sedikit perasan tadi saat Safa bilang bekal itu bukan untuknya. Meski tidak terang-terangan, secara tak langsung pria itu meminta makanan Safa dengan dalih dia alergi. Walau Safa sendiri tidak tahu itu hanya alasan atau memang Edzar benar-benar memiliki masalah dengan asparagus.


Tapi Safa senang karena pria itu mulai terlihat gugup dan salah tingkah saat bersamanya. Safa semakin semangat membuka celah harapan untuk hubungan mereka. Semoga saja ini pertanda bahwa Edzar mulai terbiasa dengan kehadirannya.


Safa terkikik geli mengingat kedekatan mereka yang menurutnya semakin intens. Perlahan tapi pasti, Safa yakin dia bisa mengetuk pintu hati Edzar yang membeku. Siapa sih yang bisa menolak pesona Safana Halim yang cantik, bahenol, dan kece ini? Seo Kang Joon aja dijamin klepek-klepek kalau ketemu, sayangnya mereka bahkan tidak ditakdirkan untuk sekedar bersua.

__ADS_1


Ngomong-ngomong Seo Kang Joon, Safa lagi kesal banget sama Park Hyung Sik yang sekarang main drama bareng Han So Hee. Padahal Safa udah nge-sip banget dia sama Han Hyo Joo. Tapi, ya sudah lah, itu ‘kan karir mereka, terserah mereka mau partner sama siapa. Safa gak ada hak untuk melarang apalagi merajuk.


Lupakan pikiran absurd-nya yang tak nyambung, Safa lagi pengin makan sesuatu yang manis-manis lezat. Pisang goreng coklat sepertinya cocok untuk sore hari begini. Pilihan Safa jatuh pada sebuah kafe yang memang terkenal dengan olahan pisangnya. Beberapa kali Safa pernah mencoba dan ketagihan. Lalu sekarang Safa tergiur untuk mencicipinya lagi. Apalagi dia sempat melihat di laman instagram-nya mereka merilis menu baru yang resmi di launching hari ini.


“Mas Mas, tolong berhenti di depan sana ya,” pinta Safa pada sopir Grab yang ditumpanginya.


Dengan patuh Si Mas yang wajahnya lumayan ganteng itu menghentikan mobil di tempat yang Safa tunjuk. Morinaza Cafe. Dua kata yang tertulis di atas plang pagu bangunan bernuansa klasik bergaya konvensional.


Safa berjalan masuk setelah membayar tarif taksi, seorang petugas menyambutnya dengan ramah.


“Selamat sore, Kak. Makan di tempat atau bawa pulang, Kak?” tanyanya.


Safa menjawab bawa pulang saja karena dia sedang malas makan di luar. Lagipula suasana cafe cukup ramai, tempat duduk pun hampir penuh. Petugas itu mengarahkannya ke counter take away. Safa memesan beberapa menu termasuk pisang goreng keinginannya.


Selagi menunggu, Safa mengedarkan pandangan menatap sekitar. Cafe ini lumayan keren dan instagramable. Safa mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar untuk di upload.


“Kak Safana Halim, pesanannya.”


“Oh, iya.” Safa menoleh, “Makasih ya Mbak,” ucapnya menerima bingkisan.


Safa berbalik hendak keluar, namun matanya tiba-tiba terpaku pada satu sosok familiar yang baru saja melewati pintu masuk. Safa mengenalinya, mata Safa berubah berbinar. Dia coba melambai tapi orang itu tak melihatnya. Jadi Safa putuskan untuk berseru.


“Om Edzar!!”


Seruan itu berhasil memancing atensi publik, termasuk Edzar, orang yang Safa lihat barusan. Safa kembali mengawai tangannya dengan senyum lebar, kakinya mengayun bermaksud menghampiri Edzar yang berdiri beberapa meter jauhnya.


Baru setengah jalan, mendadak kesialan menimpanya. Entah dari mana asalnya tiba-tiba seorang pelayan datang dan menabrak Safa yang hendak melintas. Alhasil...


Brak!

__ADS_1


Prang!


Musibah tak bisa terhindarkan.


__ADS_2