
Safa berbaring menyamping di atas kasur. Matanya menatap kosong ke arah balkon. Seharian ini dia habiskan untuk tidur. Kepalanya terasa berat dan berdentam. Seberat hatinya yang diminta untuk melupakan Edzar.
Tapi Safa harus. Edzar tak nyaman dengan keberadaannya. Di luar hal itu, Safa juga merasa sangat kecewa. Jika ditanya apakah dia sakit hati dengan perkataan Edzar? Jawabannya sudah pasti iya. Bahkan Safa masih ingat dengan jelas setiap kata yang Edzar lontarkan.
Ini pertama kalinya Safa direndahkan, di depan umum, di hadapan sebagian orang yang mungkin akan mengingatnya sebagai wanita menyedihkan.
Safa marah? Iya.
Tapi dia tidak bisa membenci Edzar sebesar keinginannya. Pria itu sudah mempermalukannya. Safa tahu itu. Semuanya butuh waktu. Sebisa mungkin Safa akan lupakan dan berdamai. Itu lebih baik ketimbang kita harus terus menghindar.
Edzar tetangganya, dan sebentar lagi akan bertalian sebagai besan. Sudah pasti intensitas pertemuan mereka tetap ada. Walau mungkin akan terasa canggung.
"Sshh...." Ringisan kecil keluar dari mulutnya. Kepalanya berdenyut saat ia berusaha bangkit.
Safa memegangi kening, berjalan perlahan ke arah balkon, lalu melesakkan diri di sofa yang ada di sana. Punggungnya bersandar dengan kepala menengadah, menatap langit sore yang dipenuhi awan kelabu. Apa hujan akan turun lagi?
Ponselnya berdering nyaring. Nama Kamila berkedip meminta perhatian. Safa segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Halo?"
"Duh, suaranya lemes banget. Gimana, masih demam?"
"Udah lumayan turun. Tapi masih pusing banget."
"Iyalah pusing. Kerasa sendiri 'kan? Salah siapa hujan-hujanan."
Safa tersenyum kecil menanggapi gerutuan Kamila yang lagi-lagi menyalahkannya karena main hujan. Safa tahu sahabatnya itu khawatir. Safa juga mengaku salah. Andai kemarin Safa tak menuruti emosi dan bisa berpikir lebih logis, mungkin ini tak akan terjadi.
Ini juga bukan salah Edzar. Safa yang terlalu naive karena tak mengerti ketidaknyamanan lelaki itu.
Angin berhembus sedikit kencang, terdengar guntur mulai bergemuruh di atas sana. Safa merapatkan sweater yang membungkus tubuhnya hingga tenggelam. Demam membuatnya sensitif terhadap udara. Baju dan syal hangat satu-satunya penyelamat selain obat.
Tenggorokannya juga terasa tak nyaman hingga sulit untuk menelan. Ini pasti gejala batuk. Sungguh sangat menyebalkan.
"Saf, Lena ada DM kamu, gak? Dia berterima kasih banget, katanya sejak endorse kamu, omset di olshop kakaknya meningkat pesat."
"Kalau bisa, bulan depan mau pakai kamu lagi buat produk baru."
__ADS_1
"Saran aja, nih, Saf. Kenapa kamu gak kembangin aja kemampuan kamu ini? Lumayan, lho, hasilnya. Buat jajan skincare."
Safa termenung mendengar perkataan Kamila.
"Saya bukan kamu yang kerjanya leha-leha di rumah dan tidak punya kegiatan."
Kalimat Edzar bergaung kembali di telinganya. Berputar berulang-ulang hingga membuat kepalanya pening. Safa mengernyit dengan mata terpejam. Mungkinkah ini kesempatan yang Tuhan beri sebagai jawaban?
"Tapi... aku gak jago promosi. Itu aja caption-nya kamu yang bikin...."
Kamila berdecak, "Masalah itu gampang! Aku bisa jadi manager kamu. Untuk penghasilan, aku cuman minta 10 persen. Gimana? Ayo, dong Saf. Itung-itung kamu bantu aku yang lagi butuh uang jajan, huhu...."
"Aku juga akan cari klien sebanyak mungkin buat kamu. Semakin banyak penghasilanmu, semakin banyak pula yang ngalir ke aku. Ahh... gak sabar. Mataku menyala-nyala ngebayangin cuan."
Safa mendengus geli dan menggeleng. Tapi, apa yang dibilang Kamila ada benarnya juga. Kenapa Safa tak memanfaatkan sosial medianya yang cukup ramai?
Mungkin dengan ini, Safa bisa menunjukkan pada Edzar bahwa bukan dia saja yang sibuk. Safa bisa jauh lebih sibuk dari lelaki itu.
"Emm... kayaknya bukan ide buruk. Asal kamu selalu bantu aku. Itu bisa bikin aku tenang."
Ya, barangkali ini merupakan permulaan bagi Safa untuk melangkah keluar dari zona nyaman.
Tak lama setelah itu, telinganya menangkap suara deru mobil yang Safa tahu persis siapa pemiliknya. Reflek matanya menurun ke bawah. Tanpa diminta tatapannya mengarah pada sosok yang baru saja keluar dari pintu kemudi.
Rinai air jatuh menimpa kepalanya, mencetak bintik-bintik kecil di atas permukaan seragamnya. Safa tersentak kala pria itu tiba-tiba mendongak. Mereka bertatapan sejenak, sebelum kemudian Safa menoleh mengalihkan pandangan.
Safa tak bisa menahan denyutan nyeri yang menyerang hatinya. Sama seperti langit, matanya juga siap menurunkan hujan dari perasaannya yang mendung.
Ketika dia melirik lagi ke bawah, Edzar sudah berlalu ke rumahnya. Safa menghela nafas, berusaha menghalau rasa sakit yang bertalu menyesakkan dada.
Tahan Safa. Dia sudah menyakitimu. Kamu tidak pantas menangisinya seperti itu. Dalam waktu sebulan semua ini pasti akan berakhir. Dan kamu bisa menjalani hari dengan tenang.
Benar, Safa hanya perlu bersabar. Badai pasti berlalu.
Tok tok tok.
"Non, ini salad buahnya. Sebaiknya Non Safa segera masuk. Hujan semakin deras. Ayo, biar Bibi tutup pintu balkonnya. Anginnya gak baik buat kesehatan Non saat ini."
__ADS_1
"Iya, Bik."
Safa manut dan berlalu memasuki kamar. Bik Inem mengunci pintu penghubung itu dan membantu Safa duduk di ranjang. Menyusun bantal agar Safa bisa bersandar dengan nyaman saat memakan buahnya.
"Mas Dava tadi bilang, sore ini Non gak usah mandi dulu. Diseka aja. Lagian ini udah hampir maghrib. Tadi Bibi mau bangunin lebih awal, tapi gak tega karena Non pules banget tidurnya."
"Abang pergi, Bik?"
"Iya. Tadi katanya ada meeting sebentar. Mas Dava juga berpesan, Non gak boleh telat makan. Obatnya juga jangan lupa diminum."
Safa mengangguk, "Gitu? Ya sudah, Bik. Sekarang aja Safa bilasnya," putus Safa.
"Baik, Non. Bibi siapin dulu air hangatnya, ya?"
Bik Inem segara melangkah ke kamar mandi. Safa melahap sedikit buahnya selagi menunggu airnya siap.
Tiba-tiba pandangan Safa jatuh pada meja konsol yang letaknya sekitar satu meter dari ranjang. Jejeran botol Cimory yang sudah berubah menjadi hiasan cantik nan aestetik menarik perhatiannya.
Itu adalah jajan pertama yang ia dapatkan dari Edzar. Safa sampai enggan membuangnya. Akhirnya dia berusaha keras mengubah limbah itu jadi sesuatu yang lebih bernilai. Walau tidak sebagus buatan tangan ahli, karena Safa juga hasil meniru dari YouTube.
"Ini hiasan apa, sih? Norak banget."
Safa mendengus mengingat Dava yang mengernyit jijik melihat hasil karyanya. Tapi tak apa, kata Bik Inem bagus, kok.
Rautnya berubah murung. Apa dia sanggup membuang Cimory-cimory lucu itu ke tong sampah?
Padahal dia susah payah membuatnya.
"Ayo, Non. Airnya sudah siap. Mau Bibi bantu?"
Safa menggigit bibir sedikit malu, "Bantuin, ya, Bik. Safa gak bisa gosok punggungnya...."
Bik Inem mengulum senyum geli, "Kenapa harus malu-malu begitu, sih Non? Lupa pas bayi siapa yang pertama kali mandiin?"
Bibir Safa manyun, "Ya sekarang kan beda lagi, Bik. Safa bukan bayi...."
"Hahaha... iya, ya. Duh, Bibi lupa. Badan yang dulu tepos, sekarang udah montok dan seksi. Gak kerasa banget, ya."
__ADS_1
"Bibi apaan sih...." rengek Safa malu.
"Hahaha....."