SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 138


__ADS_3

"Selamat ulang tahun, Sayang...."


"Ayah~" Safa berlari ke pelukan ayahnya, bibirnya mencebik setengah tersenyum. Lagi-lagi gadis itu menangis haru.


Setelah semalam Edzar membuatnya tak bisa berkata-kata karena kejutan yang lelaki itu beri, sekarang giliran orang tuanya yang membuat Safa meneteskan air mata.


Bagaimana tidak, kehadiran mereka dilengkapi oleh abang yang sangat dirindukannya. Dava tersenyum merentangkan tangan. Sontak Safa melepas pelukannya pada sang ayah dan segera menghambur ke pelukan abangnya.


Safa tergugu, Dava memeluk erat sang adik seraya menciumi rambutnya. Hampir sebulan dia terpisah dari keluarga, termasuk Safa. Dava rindu keceriwisannya, manjanya, perdebatannya yang kerap membuat mereka bertengkar, berebut makanan buatan Bik Inem. Semuanya, Dava rindu semua hal tentang rumahnya.


Rasanya dia hampir putus asa kala penyidik menetapkannya sebagai tersangka. Dia tidak menyangka Galuh dapat melakukan ini—memfitnahnya. Padahal dulu mereka berteman sangat dekat. Tapi Dava juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Galuh, karena apa yang dilakukannya atas dasar kesetiakawanan. Pria itu menaruh benci karena sikap Dava di masa lalu.


Ada begitu banyak kesalahpahaman di antara mereka, mungkin setelah ini Dava perlu meluruskannya. Bagaimanapun dulu mereka adalah teman.


Satu hal yang tidak bisa Dava maafkan, pria itu sudah menyakiti Safa dan hampir membuat nyawanya melayang.


"Abang.... Hiks." Tangis Safa tak terbendung. Dia benar-benar terharu melihat keluarganya berkumpul lagi.


Dava tersenyum, "Cie.... yang kangen. Nangisnya biasa aja, dong," ledeknya, langsung mendapat pukulan dari Safa. Namun sejurus kemudian keduanya tertawa.


Tuan dan Nyonya Halim tersenyum penuh rasa sukur. Begitu pula Lalisa, Rey, dan Baskoro yang turut hadir mengunjungi Safa di vila.


Perasaan damai itu menular, menerbitkan rasa hangat kekeluargaan yang kental. Safa beralih memeluk bundanya, wanita yang berjasa melahirkannya itu menghampiri, mendekapnya erat penuh kasih sayang.


Meski Nyonya Halim terlihat galak, cerewet, dan suka mengomeli Safa, percayalah sebenarnya dia yang menyimpan kekhawatiran paling besar terhadap putrinya.


"Barakallah fii umrik, anaknya Bunda. Semoga kamu panjang umur, makin dewasa, dan nurut pada orang tua. Berhenti mendebat Bunda pastinya." Safa manyun mendengar kalimat setengah menyindir itu. "Semoga rezekinya lancar, dipertemukan dengan jodoh yang sempurna. Baik secara fisik maupun agama."


"Aamiin..." gumam Safa yang diikuti semuanya.


Safa melepas pelukan sang bunda, rautnya sembab oleh air mata kebahagiaan. Dia berbalik menghampiri Baskoro dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Dava dan orang tuanya. Pun dia memeluk Rey yang turut memberi selamat dan doa. Lalu Lalisa yang sejak tadi menatang kue, Dava mengambil alih kue berlilinkan 23 itu, kemudian Lalisa membawa Safa pada pelukan.


Semua haru biru itu berlangsung lumayan lama, Safa meniup lilin 2 angka itu, memotong kue, dan memberi suapan pertama pada ayah, bunda, dan Dava. Selebihnya ia berikan pada 3 orang yang ada di sana.


Mereka juga menyalakan Smart TV, melakukan video call dengan keluarga di Jakarta, dan keluarga Halim lainnya yang bermukim jauh di luar kota.


Semuanya terasa lengkap meski bukan pesta ulang tahun yang mewah dan megah.

__ADS_1


Safa menatap hamparan rumput luas di belakang vila. Hatinya mengembang oleh rasa lega. Dia baru saja selesai melakukan panggilan dengan Kamila. Ada pula Leo yang juga mengucapkan selamat. Lalu, tentu saja Safa menunggu Edzar, meski semalam laki-laki itu sudah mengucapkan paling awal.


Panjang umur. Yang dinanti pun akhirnya tiba. Nama Edzar mengambang di layar Iphone-nya, meski tanpa foto. Kalau dipikir-pikir, Safa belum pernah melihat Edzar memasang foto profil, ada sih beberapa kali Safa lihat, itupun bukan fotonya sendiri, melainkan foto langit senja atau tanaman dan pemandangan.


Safa menggeser ikon hijau, menerima panggilan video dari Uda tercinta. Aduh, perutnya geli. Safa mesem-mesem sendiri jadinya.


"Assalamualaikum, Ai," sapa Edzar pertama kali. Pria itu tengah duduk di kursi kerja di ruangannya. Wajahnya tampak sedikit lelah, mungkin efek perjalanan semalam. Edzar pasti kurang tidur karena paginya dia harus langsung ngantor.


"Waalaikumussalam, A Uda...." sahut Safa tak kalah manis. Dia sudah diberi tahu menjawab salam yang tepat oleh Edzar. Bukan Waalaikumsalam, melainkan Waalaikumussalam.


Senyum Edzar terbit, "Suaranya jangan begitu. Kamu bikin Uda tegang, Sayang."


"Ish, apaan sih mesum. Memang suara Safa gimana?"


"Suara kamu manja setengah mendesah. Uda jadi berpikir yang tidak-tidak."


"Otak Uda aja yang ngeres."


"Memang," jawab Edzar jujur. "Sejak mengenal kamu."


"Hm," gumam Edzar singkat.


"A Uda kayak ngantuk banget gitu. Semalam gak tidur emang?"


"Tidur jam tiga. Lupa ada kerjaan yang belum selesai."


Safa mencibir, "Kan, sok-sokan nyusul ke Bandung, sih."


"Ya mau gimana. Kamu bikin Uda gila karena gak bisa dihubungi."


Safa tak menyahut lagi, hanya saja matanya berkedip polos, membuat Edzar gemas melihatnya. Sayang sekali mereka jauh sekarang.


"Minggu depan ada acara khitanan anak sepupu. Kamu ikut, ya?"


Itu bukan pertanyaan, melainkan permintaan. Safa mengernyit menatap Edzar. "Khitanan?"


"Iya. Kamu ikut."

__ADS_1


Tuh, kan. Mulai lagi sikap pemaksanya. Safa meringis menggaruk pipi, bersiap mengeluarkan bantahan.


"Kamu sudah janji tidak lagi menyembunyikan hubungan kita," cetus Edzar.


"Tapi....."


"Ai, Uda gak main-main. Kalau kamu masih seperti ini, terpaksa Uda menikahi kamu secara paksa."


Safa merengut, "Terserah," ketusnya. Dia merasa Edzar terlalu memaksakan kehendak, tanpa memikirkan perasaannya.


Edzar yang seolah mengerti apa yang Safa pikirkan, kontan menyahut. "Kalau kamu tidak ikut, mereka akan terus mencarikan Uda perempuan lain. Memangnya kamu ikhlas kalau Uda berkencan dengan wanita selain kamu?"


"Ya tinggal ditolak bisa, kan?"


"Kamu tidak tahu mereka segigih apa. Uda pernah dijebak menghadiri suatu acara, padahal di tempat itu hanya ada wanita yang sebelumnya mau dikenalkan."


"Kamu mau, ya, Ai? Sekalian Ibu juga mau ketemu sama kamu."


"I-ibunya A Uda?"


Edzar tersenyum, "Iya, calon mertua kamu."


Tubuh Safa menegang, rautnya terlihat ragu-ragu. Dan Edzar tahu karena apa.


"Ibu baik, kok, Ai. Kamu gak perlu takut, kan ada Uda."


"Tapi ibunya A Uda gak suka sama Safa...." lirih gadis itu.


Lantas Edzar terdiam, sesaat sorotnya nampak kosong, sebelum kemudian dia menghela nafas, menyandarkan punggung di kursi. Bibirnya kembali mengulas senyum, guna menenangkan Safa yang mendadak resah.


"Uda sudah bilang, kamu harus percaya sama Uda. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tenang, ya? Jangan terlalu dipikirkan. Ibu gak segalak itu, kok."


Mau tak mau Safa mengangguk. Percuma juga dia sembunyi terus. Apalagi dia gak rela kalau Edzar harus kencan dengan wanita lain.


"Ya sudah, tapi A Uda janji gak akan tinggalin Safa di sana."


Maksud Safa, Edzar harus selalu ada di sampingnya saat acara berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2