
Edzar memarkir mobilnya dengan cepat, lantas keluar dan berlari memasuki rumah sakit. Tujuannya haya satu, ruangan Safa. Dia ingin memastikan kekhawatirannya tidak benar. Berharap mereka semua hanya bercanda dan tidak serius membawa Ibra.
Namun, apa yang dia lihat sekarang. Jantungnya mencelos. Bukan hanya Ibra yang hilang, Safa juga raib, tak ada tanda-tanda kehadirannya di atas ranjang.
"Dokter!" Edzar berteriak.
"Dokter!"
Seorang perawat yang kebetulan keluar dari ruang sebelah, gegas menghampiri. "Kenapa, Pak?"
Raut Edzar terlihat panik. Nafasnya sedikit tak beraturan saat bicara. "Istri saya. Istri saya ke mana?"
"Pasien yang di sini?"
Edzar mengangguk. "Iya. Safana Halim. Di mana dia?"
Perawat itu nampak terdiam sesaat. "Mohon maaf, tapi saya kurang tahu, Pak. Mungkin Bapak bisa tanyakan pada pihak administrasi. Atau Bapak juga bisa tanya di resepsionis, Pak. Biasanya pasien yang sudah keluar datanya tercatat di sana."
Tanpa menunggu waktu lama Edzar langsung kembali ke lantai bawah. Tepat saat ia keluar dari lift, ia berpapasan dengan dokter yang bertanggung jawab menangani Safa. Sontak saja Edzar langsung menanyakan keberadaan sang istri yang tak ada di ruangannya.
"Lho, anda tidak tahu, ya? Pagi tadi istri anda dijemput paksa keluarganya. Padahal—"
Belum selesai dokter itu berbicara, Edzar sudah lari tunggang-langgang melewati pintu keluar. Si dokter menggeleng pelan, ia menghela nafas kemudian berbalik memasuki lift.
Sementara itu, Edzar memacu mobilnya membelah lautan kendaraan dengan perasaan tak karuan. Hatinya cemas. Safa dijemput paksa. Untuk apa? Tega sekali mereka membawa pasien koma dengan cara seperti itu. Terlebih ini istrinya. Bagaimana mungkin Edzar tak diajak berunding terlebih dulu.
Dan yang lebih menyebalkan adalah jalanan masih saja macet di saat genting seperti ini. Sial. Kenapa tidak ada satu pun hal baik sepanjang siang yang ia lalui. Ibra, Safa, kalian tidak apa-apa 'kan? Kenapa mereka jahat sekali.
Seakan belum cukup dengan kemacetan, tiba-tiba saja dia kena tilang. Alasannya Edzar memacu kendaraan terlalu cepat. Apa lagi ini Ya Tuhan?
Ingin rasanya ia memaki semua orang.
"Pak, jangan berbelit-belit. Saya sedang buru-buru. Bapak minta uang berapa?"
Kesal bukan main. Padahal Edzar yakin dia tak melanggar aturan lalu lintas. Tapi dia malas berdebat karena akan memakan waktu cukup lama jika meladeni oknum polisi itu.
"Lho, memangnya saya ada minta uang sama anda? Tidak 'kan?"
"Ya, lantas apa? Saya sudah serahkan semua surat-suratnya. Kenapa anda banyak sekali bicara?"
"Apa-"
"Anda ingin mengambil mobil saya? Oke. Silakan. Tapi saya minta izin untuk meminjam motor anda." Serta merta Edzar meraup gantungan kunci yang menyembul di saku celana Pak Polisi.
"Lho, lho, lho ... Apa-apaan ini? Hey, Pak!" Polisi itu berseru pada Edzar yang dengan cepat menaiki motornya. Lalu pergi begitu saja meninggalkannya yang tercengang.
"Wah ... Baru ini saya tahu seorang jaksa tak punya aturan. Seragam boleh bagus. Tampang juga bikin wanita mampus. Ck, ck, ck. Tapi dia terlalu songong sebagai anak muda. Hadeuh ... Tapi boleh lah, mobilnya juga gak kaleng-kaleng. Bisa lah, pamer dikit-dikit naik Fortuner. Uhuy ..." Pak polisi gempal itu melenggak-lenggok ke arah mobil Edzar. Bersiul sambil memutar-mutar kunci yang Edzar tukar dengan kunci motor gedenya.
"Safazar? Apa ini namanya? Kok, aneh?" gumamnya saat membaca tulisan pada gantungan yang tercantol.
__ADS_1
.........
Perjalanan yang terhambat membuat Edzar lebih lama sampai rumah. Jarak yang biasanya hanya memakan waktu satu jam jika macet, kini bertambah dua kali lipat dari perkiraan.
Edzar membuka helm, menatap bergantian rumahnya dan sang mertua yang bersebelahan. Kira-kira, Ibra dan Safa ada di mana?
Rumahnya kah? Atau justru rumah Tuan Halim?
Jawabannya ada pada suara-suara yang ia dengar. Jelas asalnya dari kediaman Halim.
Edzar bergegas turun dari motor. Lantas berjalan tegas memasuki gerbang yang entah kenapa banyak sekali mobil di dalamnya.
Tanpa mengucap salam, Edzar masuk melewati pintu depan. Mengedarkan pandangan pada orang-orang yang seketika diam melihatnya.
"Edzar? Kamu sudah pulang, Nak?" Bu Dyah mendekat begitu menyadari kehadirannya.
Wajah Edzar masam. Kaku dan dingin. "Di mana Ibra? Di mana Safa!" serunya dengan nada cukup tinggi.
Semua yang ada di sana sempat terlonjak. Tawa yang tadi memenuhi ruangan kini lenyap tak terdengar.
"Edzar, tenang dulu, Nak."
"Bagaimana aku bisa tenang saat istri dan anakku menghilang?" sergah Edzar. Bu Dyah pun bungkam.
"Bisa-bisanya kalian melakukan ini. Tega kalian menjemput paksa seseorang yang sedang koma di rumah sakit. Apa yang kalian lakukan ini sungguh tidak bermoral. Di mana hati nurani kalian?"
"Aku tidak akan memaafkan siapapun jika terjadi apa-apa dengan Safa maupun Ibra," lanjutnya tajam.
"Kami di sini, Papi ..."
Semuanya menoleh.
Renata, salah satu cucu Oma Halim muncul dari arah kamar samping tangga. Namun bukan itu yang membuat Edzar mematung, melainkan seseorang yang duduk di kursi roda yang didorongnya.
"Safa?" bisiknya tak percaya.
"Iya, ini Safa, A Uda Sayang ...." Bibir itu melengkung melempar senyum pada Edzar.
Apa ini? Apa Edzar sedang halusinasi? Sosok cantik berhijab itu benar-benar Safa?
Mata Edzar turun pada tangan wanita itu. Ibra, bayi mereka tampak tertidur lelap dalam balutan selimut bulu yang membuatnya tetap hangat meski di ruangan ber-AC.
"Dia baru mimi," jelas Safa tanpa diminta.
Mulut Edzar masih bungkam. Ia masih bingung dengan situasi yang terjadi.
"Bagaimana bisa?" bisiknya entah pada siapa. Matanya kosong menatap istri serta anak yang sejak tadi membuatnya resah tak karuan.
"Ka-kamu." Edzar tak bisa berkata-kata. Ia tak tahu harus senang atau marah karena telah dipermainkan. Tapi dibanding itu, ia lebih khawatir pada keadaan Safa yang entah kapan bangun dari koma.
__ADS_1
Cepat-cepat ia bawa kakinya mendekati Safa. Meneliti sang istri dari atas sampai bawah. "Kamu ... Sudah sadar?" ucapnya tersendat.
Tangannya menyentuh kedua bahu Safa. Memastikan sosok di hadapannya adalah nyata.
Safa mengangguk. Masih dengan senyum manis memabukkan miliknya.
Edzar mendengus tak percaya. Matanya membayang oleh air mata. Apa Tuhan sedang bercanda? Ini bukan khayalan karena Edzar sudah gila 'kan?
Jika ini mimpi, maka tolong jangan bangunkan ia selamanya.
"Ai? Ini betulan kamu, Sayang?" Suara Edzar terdengar gemetar.
Kembali Safa mengangguk. "Iya, ini Ai-nya Uda. Maminya Ibra," ujarnya sembari menimang sang putra di pelukan.
Edzar terdiam. Menggeleng dengan raut tak bisa dijelaskan. Sesaat kemudian tubuhnya menghambur memeluk Safa. Menangis dengan bahu bergetar hebat.
Reaksinya disaksikan seluruh keluarga. Suasana haru membaur melingkupi hati orang-orang di sana. Mereka terenyuh. Akhirnya, wajah Edzar yang suram kini kembali menemukan cahaya.
Safana Halim telah sadar dari koma. Sama halnya dengan jiwa Edzar yang sempat berada di ujung jurang, kini tertarik dan terselamatkan.
"Selamat ulang tahun, A Uda-nya Safa."
Edzar tersentak.
"Lepas dulu pelukannya, ya? Ini Ibra kasian kejepit tubuh gede kamu. Dari tadi gerak-gerak terus."
Kontan lelaki itu menjauhkan tubuh. Wajahnya masih dipenuhi kebingungan.
"Jangan bilang A Uda lupa sama ulang tahun sendiri?"
"Apa?"
"Sekarang kan tanggal 28 Mei. Tepat ke 35 tahun A Uda lahir dari rahimnya Ibu."
Bu Dyah tersenyum. Ia mendekat menghampiri putra sulungnya yang masih terlihat linglung. Di tangannya ada kue berlilinkan angka 35.
"Selamat ulang tahun, putraku. Terima kasih karena telah menjadi anak yang hebat dan berbakti."
Edzar terpaku. Tubuhnya kaku menatap kue serta sang ibu yang berlutut menyamakan tingginya dengan Edzar.
Benar. Ini hari ulang tahunnya. Begitu banyak hal yang ia pikirkan sampai lupa dengan hari lahirnya sendiri. Tepat 7 hari setelah kelahiran sang putra, Edzar resmi menginjak usia 35.
"SELAMAT ULANG TAHUN EDZAR ADHYAKSA."
Kalimat itu diucapkan oleh seluruh keluarga besarnya. Faktanya, mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Termasuk Safa yang ternyata sudah sadar dari lima hari yang lalu. Wanita itu hanya koma selama 2 hari. Tapi berhasil menipu Edzar hingga rasanya hampir mati.
Kenyataannya, semua kesialan yang menimpa dirinya adalah skenario dari mereka. Pun polisi gadungan yang tadi menilangnya di perjalanan.
Sial. Edzar merasa umurnya bukan 35, tapi 5 tahun. Apa-apaan kejutan menyebalkan ini? Kekanakan sekali.
__ADS_1
Tapi, hati Edzar menghangat. Karena kini ia berkumpul lengkap dengan keluarga kecilnya. Safa dan Ibra. Dua orang paling berarti dalam hidupnya.