
Gadis yang ternyata adalah Safa itu tak menjawab. Matanya menatap Edzar tak berkedip, terlena dengan pemandangan di depannya. Apa bidadara tengah turun ke bumi? Kenapa pria di hadapannya ganteng sekali? Lebih ganteng dari yang biasa ia lihat.
“Safa?” panggil Edzar.
“Eh, hoh?” Kelopak matanya kalang kabut berkedip. Menyadarkan diri dari keterpesonaan tiada tanding. Sungguh, Edzar yang bersarung dan baju koko berkali lipat memukau dari saat pria itu berseragam. Wajahnya lebih bersinar aja gitu. Atau mungkin karena ini pertama kali Safa melihat?
Intinya, Edzar dengan seragam terlihat berwibawa. Nah, Edzar versi ini terlihat lebih bersahaja. Bikin adem dan melting.
“Kamu naik ke sini lewat mana?”
Hanya saja suaranya tak berubah, tetap datar dan dingin.
Safa menunjuk railing balkon bagian samping, tepat berdampingan dengan rumahnya. Jaraknya memang berdekatan, tapi tetap saja ada jarak di antara keduanya.
Edzar tidak pernah mengira Safa akan berani melewatinya, gadis itu tapak ceroboh dan penakut. Sepertinya memang benar, seseorang akan nekat saat mereka jatuh cinta.
Edzar menunduk, Safa masih betah duduk di lantai. Gadis itu meringis memegangi kakinya. Melihatnya Edzar berdecak, tungkainya mendekat berjongkok di hadapan Safa.
Pasti terkilir.
“Apa kamu tidak berpikir dulu sebelum meloncat kemari?” tanya Edzar sarkastik.
Safa merengut, membiarkan Edzar meraih kakinya untuk dipijat pelan. Matanya mulai berair merasakan sakit. Bukan lagi, Safa bahkan terisak dan hampir menjerit.
“Hiks, sakit...” rengek Safa.
Edzar menatap gadis itu malas, “Salahmu sendiri berlagak seperti tupai.”
Pria itu beranjak memasuki kamarnya sebentar, lalu kembali membawa minyak urut. Safa tersengut-sengut saat Edzar memecal kakinya dengan hati-hati.
“Aw! Om, ih pelan-pelan! Hwaa....”
Edzar hanya bisa tahan mendengar rengekan demi rengekan yang Safa keluarkan dari mulutnya. Berusaha sabar meski telinganya terasa sakit. Sampai kemudian dia selesai dengan kaki Safa, barulah gadis itu bisa diam, meski masih terdengar sedikit sedu-sedan sisa tangis.
“Sudah. Coba gerakin.”
Safa memutar pelan pergelangan kakinya, dia mengangguk. “Sudah gak sakit. Tapi masih nyelekit, huhu....”
__ADS_1
“Nanti juga sembuh. Berhenti menangis. Salahmu sendiri kenapa harus lewat balkon kalau ada pintu.” Itu bukan pertanyaan, Edzar sedang memarahi Safa yang bebal.
Safa manyun, “Om ditelpon gak angkat. Safa WatsApp juga gak balas. Ya udah, Safa naik aja ke sini.”
Edzar diam berpikir, memang ponselnya sempat bergetar beberapa kali. Bisa disimpulkan gadis itulah penyebabnya. Nafasnya terhembus pelan, “Ini waktu sholat, wajar kalau saya gak angkat. Lagipula kamu bisa pencet bel ‘kan? Memangnya kamu ada perlu apa sama saya?”
Safa mengusap sisa air matanya di pipi, hidungnya sibuk menahan ingus yang membersit keluar. “Biasanya Om juga gak pernah balas WhatsApp Safa,” ujarnya cemberut. “Safa gak pencet bel karena Safa pikir percuma. Om aja gak mau angkat telpon. Safa kira Om Edzar gak mau ketemu Safa.”
Edzar berdecak, dia tak sekejam itu.
Safa mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.
Ketemu.
“Untung gak tumpah,” ujarnya membuat Edzar mengernyit.
Gadis itu merangkak menghampiri sebuah toples kotak berukuran kecil. Edzar baru menyadari karena letaknya di bawah kursi. Sepertinya terlempar saat gadis itu jatuh.
Dipikir-pikir, masih beruntung Safa mendarat di sini. Kalau jatuh ke bawah nyawanya bisa saja melayang. Dan Edzar akan terkena getahnya.
“Safa tuh mau kasih ini buat Om.” Safa membuka toples yang ternyata berisi lasagna. “Tapi sekarang agak berantakan. Gak papa, ya...?”
Edzar menghela nafas, dia menatap lasagna hancur itu sejenak.
“Ya sudah, sini.” Tangannya mengambil alih toples itu dari Safa. Tubuhnya bangkit hendak pergi.
“Eh-eh... Om mau kemana?” sergah Safa.
“Ambil sendok.”
“Itu ada sendoknya.”
“Kamu juga harus makan. Saya gak bisa habisin ini sendiri.”
“Ya sudah, Om duduk aja gak perlu ambil sendok lagi.”
Kening Edzar mengernyit, kakinya tetap melangkah tak menghiraukan Safa.
__ADS_1
Melihat itu Safa kalang kabut berdiri. Serta-merta dia mengejar Edzar yang hendak keluar kamar. Susah payah Safa menjegal langkah pria itu yang sudah mencapai pintu.
“Safa bilang gak perlu ambil sendok. Kita makan sesendok berdua aja.”
Tubuhnya berbalik.
Klik.
Safa mengunci pintu dan mencabut kunci itu dari tempatnya. Bibirnya mengulas senyum kemenangan.
“Kamu-“ Edzar tidak bisa berkata-kata. Gadis ini benar-benar.
Nafasnya terhembus keras berusaha sabar. Kakinya kembali mengarah ke balkon. “Makan di luar. Orang bisa salah faham kalau kita di dalam.”
Yes!
Safa mengulum bibirnya mengikuti Edzar. Mereka duduk di kursi teras yang ada di langkan. Edzar membuka toples kotak berisi lasagna itu, menyendoknya dan mulai menyuapkannya ke mulut.
Safa mengamati semua itu dari samping, Edzar sangat tampan dengan rambut setengah basahnya. Tangan Safa jadi gatal ingin mengacak-acak.
“Om punya hair dryer?”
“Kenapa?” tanya Edzar tanpa menoleh.
“Punya enggak?”
“Enggak.”
“Hish... duit banyak tapi hair dryer aja gak punya,” dumel Safa.
Dengan lancang Safa memasuki kamar Edzar membuat pria itu seketika berdiri, “Kamu mau apa?”
“Udah, Om duduk aja yang anteng, ya. Safa bukan mau nyuri, kok.” Tangannya menekan bahu Edzar untuk kembali duduk.
Gadis itu melenggang memasuki kamar membuat Edzar bertanya-tanya. Edzar terlalu lelah untuk melarang, jadi dia kembali memakan lasagnanya berusaha abai. Walau sebenarnya dia tidak suka orang lain memasuki ruang pribadinya.
Pluk.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Edzar dikejutkan dengan sesuatu di atas kepala. Dia mendongak mendapati cengiran Safa dengan wajah tanpa dosanya. Gadis itu baru saja mendaratkan handuk berukuran kecil.
“Rambut Om basah. Kalau dibiarkan kelamaan nanti gatal. Apalagi kalau dibawa tidur, kepala Om bisa pusing,” ucapnya memaksa kepala Edzar menghadap ke depan lagi. Tangannya mulai menggosok-gosok rambut pria itu.