
"Kita mau ke mana, sih, A?" tanya Safa saat Edzar membawanya ke jalan yang berkelok-kelok.
Mereka baru saja pulang dari mengantar keluarga Edzar ke Bandara. Edzar juga sempat memintanya mengemas pakaian sebelum berangkat. Tentu saja Safa terheran-heran. Pria itu tak mengatakan ke mana mereka akan pergi.
Pemandangan di sekitar mulai berubah lebih asri. Setelah melewati sebuah portal, Edzar membawa mobilnya masuk lebih dalam ke sebuah area. Safa tidak tahu ini area apa karena saat masuk gerbang pertama dia tak begitu memperhatikan.
Tak lama belok di tikungan, masuk jalan lain lagi dan lurus.
Sungguh memusingkan, batin Safa.
Sesaat kemudian Fortuner Edzar berhenti di sebuah parkiran luas yang rindang. Safa menengok kanan kiri dan sekitar. Hal pertama yang menarik perhatiannya yaitu satu pendopo yang berdiri tak jauh dari mereka. Bentuknya unik seperti saung-saung khas Sunda pada umumnya.
Safa menoleh pada Edzar yang tengah membuka sabuk pengaman. Pria itu meliriknya, "Ayo turun," ucapnya sembari memakai jaket yang tersampir di jok mobil.
"Ini ... kita di mana? Ngapain?" tanya Safa penasaran.
Edzar hanya tersenyum sebagai tanggapan. Pria itu keluar, lalu berputar membuka pintu di samping Safa. Edzar membantunya turun. Sejenak Safa terdiam mengamati sekeliling area parkir yang dikelilingi pohon-pohon besar. Pertama kali menginjak kaki di tanah, Safa sudah merasakan udara dingin dan sejuk.
"Ini Lembang. Kemarin Uda booking cottage untuk kita liburan," jelas Edzar yang kini tengah mengeluarkan tas travel dari bagasi.
Sempat tak habis pikir, kenapa gak pakai koper saja. Dan saat Safa bertanya, jawaban Edzar sungguh tak masuk akal. Sedikit aneh. Katanya, dia lagi gak mood bawa koper. Jadi tas travel menjadi pilihan.
Haih, sudahlah. Mending ikuti saja dan lihat bagaimana bentukan cottage yang Edzar maksud.
Setelah check in di resepsionis, mereka di arahkan oleh salah satu staf ke unit yang telah dipesan. Ada staf lainnya juga yang membawa barang bawaan mereka.
Sepanjang langkah Safa tak henti berdecak kagum mendapati pemandangan yang asri nan teduh. Yang paling Safa suka adalah udaranya. Sangat segar. Lalu ada bunga-bunga yang menghiasi sisi kanan kiri walk line yang mereka lintasi.
Tak berapa lama mereka sampai di gerbang masuk cottage. Rupanya Edzar membawa Safa ke sebuah cottage dengan nuansa pedesaan yang kental. Desain bangunannya mengusung konsep tradisional Sunda dengan material kayu dominan cokelat.
__ADS_1
Sangat aestetik dan klasik. Lintasan bebatuan tertanam apik, serta ada kendi dari batu alam lengkap dengan gayung yang terbuat dari batok kelapa dan bambu sebagai gagangnya. Lucunya ada bunga-bunga mengambang di sana.
Kata staf-nya itu berguna untuk cuci tangan atau kaki jika kita ingin memasuki cottage selepas jalan-jalan di luar. Staf itu juga menjelaskan serinci mungkin mengenai fasilitas yang akan mereka dapat. Dan dari sana Safa tahu harga menginap permalamnya ada di kisaran angka 5 juta.
Tapi menurut Safa itu sepadan dengan akomodasi serta view yang bisa mereka akses selama di sana.
Selepas kepergian para staf itu, Edzar mengajaknya room tour, melihat-lihat ruangan yang terdiri dari ruang tamu, ruang makan, dan dapur tanpa sekat. Terlihat lapang dan luas.
Meski mengusung tema alami pedesaan dan tradisional, di dalamnya tak lepas dari peralatan modern dan mewah. Ada penghangat ruangan juga.
Beralih ke ruang tidur. Di sana ada double bed yang dilengkapi dipan Jepang dengan ketinggian kurang lebih tiga puluh senti dari permukaan lantai. Material kayu itu membingkai kasur di tengah-tengahnya.
Safa duduk di pinggiran kayu yang mengelilingi tempat tidur itu, menyentuh birai kelambu yang menjuntai di setiap sudut ranjang.
Dapat dipastikan kamar ini didesain khusus untuk pasangan. Kesan romantis dan hangat begitu kental di dalamnya. Safa menoleh saat Edzar menggeser pintu kaca yang menjadi penghubung balkon. Tak main-main, view di sana sangat indah. Ditambah udara dingin yang membuat perasaan jadi tenang.
Edzar berbalik, tersenyum, memberi isyarat untuk Safa mendekat. Safa menurut, dia bangkit dan berjalan menghampiri Edzar. Pria itu langsung merangkul, memeluknya dari belakang.
Edzar mengecup puncak kepala Safa, menumpukan dagunya seraya mengeratkan pelukan. Sudut bibirnya menyungging senyum, kemudian dia bertanya. "Suka?"
"Hmm," gumam Safa disertai anggukan.
"Uda belum bisa membawamu ke Korea seperti yang dijanjikan. Untuk sekarang, tidak apa-apa, kan, kita di sini dulu?"
Safa mendongak, "Iya, Uda Ganteng."
Edzar terkekeh, menunduk mengecup sekilas bibir Safa yang hari ini terpoles lipstik orange nude. Edzar suka, Safa nampak cerah dan segar, membuat dia betah berlama-lama memandangnya. Walau biasanya juga begitu, Edzar selalu dibuat terpesona oleh kecantikan Safa.
Seperti sekarang, dia tak kuasa menahan gemas untuk menggigit benda kenyal itu. Sontak Edzar tertawa mendapati Safa yang merengut, mendelik kesal seraya membuang muka.
__ADS_1
"Ai?"
"Sayang~" Edzar menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Jantung Edzar berdebar kencang. Safa yang merajuk seperti ini sangat manis baginya. Edzar suka setiap kali istrinya bersikap manja. Entah kenapa, padahal dulu Edzar sangat anti dengan tipe wanita merepotkan seperti ini.
Tapi, Safa berhasil mengubah pandangannya. Sebenci apapun kita terhadap sesuatu, tidak ada yang tahu hal itu dapat berubah sewaktu-waktu.
Karena hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Semudah Safa mengambil seluruh perasaan yang ia punya.
Kruukk ....
Suara itu menarik Edzar dari lamunan. Tangannya merasakan getaran yang berasal dari perut Safa. Dia menunduk, terkekeh geli melihat sang istri yang kini tengah merunduk, menyembunyikan wajahnya yang merengut malu.
"Lapar?"
Safa tak menjawab. Rambut cokelatnya terurai ke depan.
"Mau ke resto atau pesan? Hm?" Masih tak ada sahutan.
Edzar meraup rambut Safa, menyatukannya ke belakang, menggenggamnya dalam satu tangan. Tangan yang lain meraih dagu Safa, menolehkan kepala gadis itu ke belakang hingga kini mereka saling bertatapan.
"Ke resto, yuk? Sekalian jalan-jalan. Sayang kalau di kamar terus. Kecuali kalau kamu mau melakukan sesuatu yang lebih hangat dan menyenangkan di sana." Mata Edzar merujuk pada ranjang berkelambu di belakang mereka.
Seketika wajah Safa merona. Tangannya memukul dada Edzar yang terbalut sweater rajut berwarna navy serasi dengannya. Entah kapan pria itu menyiapkan baju couple semacam ini.
"Safa mau foto-foto."
Edzar mengangguk, "Oke. Uda siap jadi fotografer kamu."
__ADS_1
"Tapi yang bagus. Jangan kayak waktu di Kampung Korea. Safa belum siap, A Uda main jepret aja," rengut Safa.
Pria itu tertawa, mencubit gemas pipi Safa yang halus dan putih. Jarinya sampai terlihat kontras di sana. "Karena kamu cantik dalam pose apapun. Apalagi candid, Uda suka," ungkapnya jujur.