SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 20


__ADS_3

Rupanya para emak-emak gak jadi memasak. Zia, putri Kak Rizki dan Rizkia itu tiba-tiba merengek minta Bakso. Si kecil yang baru berusia 4 tahun itu memang lagi senang-senangnya menjajal olahan daging, terutama Bakso.


Keinginan itu menular pada anak-anak lainnya, alhasil semuanya ikut memesan karena tergiur dan malas ribet. Ditambah suasana sejuk yang mendukung, makanan berkuah seolah menjadi pilihan paling tepat saat ini.


Selepas makan siang, Om Tirta mengajak seluruh keluarga mengunjungi wisata petik strawberry. Katanya kita bisa memetik dan mencobanya langsung dari pohonnya. Safa sudah tahu sih, karena dia juga pernah ke sana, dan Safa yakin sebagian besar dari mereka juga pernah, hal ini lebih ditujukan untuk anak-anak yang baru mulai mengenal.


Tak ayal mereka begitu antusias mendengarnya. Terbukti dari yang Safa lihat saat ini, anak-anak itu berlari ke sana kemari dengan rasa penasaran yang tinggi, Safa terkikik melihat sepupu-sepupunya yang nampak kewalahan mengejar anak mereka. Gak kebayang kalau Safa punya anak, pasti bakalan kayak gitu juga gak ya?


Tanpa sadar matanya mengedar mencari Edzar. Rupanya pria itu berjalan paling belakang. Safa berdecak saat tak sengaja memergoki pengunjung lain yang melirik-lirik ke arah Edzar. Tuh, kan. Baru sebentar Safa lengah Edzar sudah menjadi incaran.


“Dasar cewek-cewek ganjen, pengen banget Safa colok matanya,” dumelnya kesal.


Safa menghampiri Edzar sambil menggerutu. Susah memang punya gebetan ganteng dan good looking, bawaannya parno kalau dibawa ke mana-mana. Mending kalau sudah official, lah ini masih gantung dan abu-abu.


“Om, ngapain sih jalan kayak keong? Ketinggalan, tuh ...” Safa menunjuk keluarga mereka yang sudah berada jauh di depan.


Edzar hanya menatap Safa tanpa merespon apapun. Dia kembali mengamati buah-buah strawberry tanpa berniat memetiknya. Kenapa pula gadis itu mesti menyusul dirinya di belakang, Edzar bukan anak kecil yang akan panik seandainya ketinggalan rombongan.


Edzar hanya tidak tahu, bukan itu yang Safa takutkan. Melainkan sekumpulan keong racun yang sejak tadi tak ada hentinya melihat Edzar dengan tatapan lapar.


Safa merengut, karena sudah geregetan akhirnya dia menarik tangan Edzar untuk segera pergi dari sana. Entah keberanian dari mana Safa bisa melakukan itu, Safa juga tidak tahu apa yang Edzar pikirkan mengenai dirinya yang terkesan lancang, yang pasti Safa benar-benar tidak tahan melihat binar ketertarikan di mata para wanita itu.


Tak berapa lama Safa sudah melupakan kekesalannya. Terlihat dia kini tengah sibuk mengambil gambar dan melakukan vlog. Edzar sampai mengernyit melihat perubahan mood Safa yang menurutnya terbilang cepat. Meski dirinya juga kurang tahu apa yang membuat gadis itu sempat kesal tadi.


“Om, minta tolong fotoin, dong.” Safa menyerahkan kamera yang sejak tadi menggantung di lehernya pada Edzar. Edzar pun menerimanya tanpa keberatan.


Safa mulai berpose melakukan berbagai macam gaya. Dari mulai pose anggun dan manis, ceria, sampai yang konyol pun tak lepas Safa lakukan. Tanpa Safa ketahui, sudut bibir Edzar berkedut samar di balik kamera.

__ADS_1


......................


Puas dengan kebun strawberry, kini mereka beralih ke kebun teh. Kurang lengkap rasanya jika melewatkan lahan hijau yang sangat ikonik di kota Bogor itu.


Safa tidak tahu kapan mereka mempersiapkan kebutuhan piknik seperti bekal dan tikar, sepertinya sudah prepare dari jauh-jauh hari.


Yang jadi pertanyaan, bukankah tadi mereka tidak jadi memasak? Lalu, dari mana datangnya makanan dan lauk yang tersaji sekarang? Apa mereka beli di restoran?


“Oma yang bawa. Sengaja cuma buat makan di kebun teh.”


Dan Safa hanya bisa tercengang mendengar jawaban Renata, salah satu sepupu sablengnya. Kalau Oma bawa makanan, lalu kenapa tadi siang repot-repot mau masak yang ujung-ujungnya beli bakso?


Safa benar-benar tak habis pikir. Memang, sih, Oma Halim terkenal cinta banget sama kebun teh, tak heran Oma menyiapkan secara khusus makanan yang akan dibawanya ke sini.


Kebun teh menyimpan cerita dan kenangan tersendiri bagi Oma Halim. Dengar-dengar kisah cinta Oma dan Opa bermula dari sini, makanya tempat ini bisa dibilang spesial.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi seperti biasa Edzar kebanyakan menjadi pendengar ketimbang memulai topik.


Aish ... gemes jadinya.


“Gimana rasanya jalan berdua sama Edzar ...?” bisik Renata menggodanya.


Safa menoleh tak mengerti. Maklum, otaknya rada lemot saking fokusnya memperhatikan Edzar. “Maksudnya?”


Renata berdecak, “Gak usah pura-pura deh kamu. Semua orang juga tau tadi kamu berduaan sama doi di kebun strawberry.”


Kontan mata Safa melotot. “Semua orang?” pekiknya pelan.

__ADS_1


“Hehe ... enggak, sih. Cuman kita-kita aja, yang lain sibuk sama urusan masing-masing.” Yang dimaksud kita-kita adalah sepupunya, para cucu Halim.


Nafasnya terhembus lega. Entah kenapa Safa merasa gugup luar biasa saat Renata bilang semua orang. Mungkinkah diam-diam Safa merasa ragu dan takut? Apalagi setelah mendengar perkataan ibunya Edzar beberapa jam lalu yang seolah tak setuju jika dirinya jadi calon memantu.


Meski belum tentu pemikirannya benar, mungkin saja Safa yang terlalu negative thinking ‘kan? Semoga saja begitu.


“Apaan, sih. Orang cuman foto-foto doang.”


“Ipiin, sih. Iring cimin fiti-fiti diing. Cuman foto-foto tapi sukses bikin doi senyam-senyum,” cibir Renata lengkap dengan bibirnya yang nyinyir.


Safa mendelik menatap Renata seolah wanita itu adalah alien. Tentu saja, siapa yang akan percaya dengan ucapannya barusan? Edzar senyam-senyum? Ngaco! Orang dari tadi Safa yang barengan. Gak ada, tuh, sedikit pun bibirnya tersungging, apalagi semar mesem seperti yang Renata bilang. Cekik saja dirinya jika itu benar.


“Kak Ren, apa Safa terlihat menyedihkan sampai segitunya Kak Ren berusaha menghibur Safa?”


Renata memberikan tatapan datarnya, “Yasudah kalau gak percaya.”


“Oh, jelas ... Safa gak mau jatuh sakit setelah dilambungkan setinggi langit.”


Safa membuang muka dengan wajah merengut lucu. Sialnya tatapannya justru berlabuh pada Edzar. Mereka beradu pandang cukup lama sampai Safa menyadari bahwa kameranya masih di tangan Edzar.


Waduh, kok mereka jadi mirip pasangan, ya? Edzar santai banget pegang barang Safa. Bahkan pria itu terlihat sesekali menggunakannya untuk memotret pemandangan.


Hanya seperti itu saja berhasil membuat hati Safa berdesir dan menghangat. Astaga, dia benar-benar sudah meleleh oleh Edzar.


Benarkah apa yang Renata bilang? Menyebalkan, Safa jadi berharap bahwa itu benar.


Tanpa orang lain sadari, seseorang menatap keduanya dengan pandangan sulit diartikan.

__ADS_1


__ADS_2