SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 89


__ADS_3

Entah berapa lama Safa termenung sendiri. Dia tidak sadar kalau Alisia sudah pergi. Safa malah dikejutkan dengan Fortuner hitam yang berhenti tepat di hadapannya. Edzar menurunkan kaca jendela menatap dirinya. Tentu saja dengan wajah minim ekspresi seperti biasa.


Safa membalas dengan kening berkerut. Dia malas membuka mulut pada pria kulkas itu. Jadi diam adalah pilihan terbaik.


Tanpa diduga Edzar bersuara, "Masuklah. Saya antar kamu ke rumah Oma," ucapnya dengan nada rendah.


Kerutan Safa semakin dalam. Sebentar, apa telinganya sedang gangguan? Dari mana Edzar tahu Safa mau ke rumah Oma? Oma mana dulu, nih?


"Mbak Miranti sempat telpon saya karena kamu tak kunjung berangkat. Dia minta tolong saya antarkan kamu ke sana."


Dasar Tante Miranti tukang ngadu! Malu-maluin banget, ih. Kenapa pula harus bilang sama Edzar? Harusnya tadi Safa tak usah kirim pesan lagi nungguin taksi. Huaa... Nyebelin. Gak tahu apa keponakannya lagi malu!


Safa melengos dan berujar ketus, "Gak perlu. Sebentar lagi datang, kok."


"Yakin? Kamu menunggu hampir satu jam."


Safa menoleh, "Om merhatiin aku, ya?" tanyanya curiga.


Edzar menghela nafas menggeleng pelan. "Kamu berdiri di depan rumah. Otomatis saya bisa lihat dari atas," ucapnya sambil menunjuk lantai dua rumahnya.


Benar juga.


Walau begitu Safa tetap tak mau ikut Edzar. Ingat, Edzar itu jahat. Safa tak mau dekat-dekat lagi dengannya. Jangan harap Safa bisa luluh hanya karena Edzar bersikap sedikit baik.


"Om pergi saja. Aku tetap nunggu taksi."


Edzar bergeming. Pria itu tak menggerakan sedikitpun mobilnya, seolah menolak permintaan Safa barusan. Safa berdecak. "Batu banget, ya, ini orang," rutuknya dalam hati.


Edzar tak mau pergi. Safa jadi kesal sendiri. Gadis itu menghela nafas kembali menatap Edzar, "Om duluan sana! Nanti malah telat gimana?"


"Itu urusan saya. Sekarang kamu naik," titahnya.


"Kok maksa, sih?" sewot Safa.


"Saya tidak memaksa. Saya hanya menjalankan amanah Tantemu untuk antar kamu ke rumahnya."


Safa berdecih sinis. "Enggak usah sok perhatian. Lagian aku gak mau repotin orang. Takut ganggu."


Jika Edzar sadar, Safa tengah mengungkit perkataannya sore itu. Di depan Mesjid Kejaksaan yang menyimpan kenangan pahit bagi Safa.


Tiba-tiba ponsel Safa bergetar, telpon dari supir Grab. Bergegas Safa mengangkatnya penuh semangat. Dia berharap taksinya segera sampai agar bisa cepat membawanya pergi dari sini.


"Halo? Mas, masih di mana, sih? Ini saya nunggu dari tadi, lho. Hampir satu jam. Niat jemput gak sih?" cecar Safa dengan nada penuh kesal.


"Aduh, maaf, Mbak. Justru saya telpon karena mau cancel. Istri saya masuk rumah sakit, mau melahirkan. Jadi saya gak bisa jemput Mbak ke sana. Maaf, ya, Mbak."


"Apa? Cancel? Kenapa gak bilang dari tadi? Tau gitu saya gak usah nungguin!"

__ADS_1


"Maaf, Mba—"


Kadung kesal, Safa mematikan telponnya tanpa mau mendengar permintaan maaf dari pengemudi taksi itu. Gampang banget ngomong maaf. Dia pikir menunggu itu enak. Meski alasannya memang urgent, tapi Safa tak bisa menahan egonya untuk marah.


Safa menghentakkan kakinya yang terbalut high heels. Jangan tanya wajahnya sudah sekusut apa. Koran usang pasti kalah saing. Benar-benar hari yang menyebalkan.


Tanpa Safa sadari semua itu disaksikan oleh Edzar. Matanya yang tajam menatap lekat pada Safa yang kini tengah bersungut-sungut memaki pelan. Berbeda dengan Safa yang marah-marah, Edzar justru tersenyum tipis mengetahui pesanan taksi Safa telah dicancel. Bolehkah dia merasa lega di atas kesialan orang?


"Gimana? Mau saya antar?"


"Mbak Miranti suruh kamu untuk cepat. Orang WO hanya bisa ditemui pagi ini," lanjut Edzar yang sebenarnya mati-matian menahan senyum.


"Dan jangan berpikir untuk pesan taksi lagi," sergahnya yang bisa menebak pikiran Safa.


Safa semakin menghentak kesal. Bibirnya mengerucut dengan kening berkerut dalam. Tanpa dia tahu tatapan Edzar melembut melihat itu. Menggemaskan, batinnya


"Masuk sendiri atau saya gendong?"


Safa mendelik tajam dengan wajah yang berusaha dibuat galak. Bukannya galak malah terkesan lucu di mata Edzar. Edzar berdehem menyembunyikan tawa. Terlebih saat gadis itu terentak-entak mendekati mobilnya. Membanting keras pintunya lalu duduk dengan tangan terlipat. Safa yang seperti ini merupakan ujian bagi Edzar. Karena dia harus mati-matian mengendalikan diri dan berusaha tetap tenang.


"Mau apa?!" tanya Safa sengit pada Edzar yang tiba-tiba mendekat, mencondongkan tubuh mengikis jarak. Jelas saja jantungnya dibuat kelonjatan.


Mata Edzar menatap Safa dengan lekat, sejenak dunia seolah berhenti saat mereka berpandangan. Edzar mengamati wajah lembut Safa yang menggoda untuk dicium. Tangannya gatal ingin mengusap di sana. Terlebih saat rona merah itu muncul membaur dengan perona pipi yang membias di permukaan. Edzar gemas bukan main. Wajah Safa hampir tanpa pori. Kulitnya seputih pualam dan sehalus porselen. Benar-benar menguji iman.


Biasanya, Edzar lebih menyukai kecantikan wanita yang sederhana, dewasa, lembut, berbudi luhur dan santun. Ia tidak menyangka jika gadis inilah yang membuat hatinya kembali bergetar setelah sekian lama. Kepribadiannya yang ceria berhasil mengubah hidup Edzar. Karakternya yang unik dan periang menghembuskan warna baru di setiap harinya.


Edzar rindu. Rindu dengan Safa yang selalu mengganggunya. Rindu senyum hangat dan tatapannya yang memuja. Semua kemewahan itu, Edzar berjanji akan mendapatkannya kembali.


"O-om...."


Bisikan lembut itu berhasil menarik Edzar dari lamunannya. Safa terlihat tegang dengan wajah merah padam. Gadis itu berusaha keras menelan ludah, tubuhnya mengkerut di sandaran kursi. Matanya tak lepas melihat Edzar yang terdiam. Tubuhnya terpaku dalam kungkungan lengan kekar yang terbalut seragam.


Edzar ingin berlama-lama menikmati pemandangan di depannya. Namun waktu dan pekerjaan mendesaknya untuk mengakhiri semua ini. Dengan masih menatap Safa, sebelah tangannya terangkat meraih seat belt. Mengaitkannya hingga mengalung di tubuh gadis itu.


Klik.


Lengkungan lembut terpatri di wajah Edzar yang biasa datar. Membuat Safa terhanyut dan hampir menampar pipinya sendiri. Ini pasti mimpi. Safa sedang berkhayal. Lelaki itu tidak mungkin tersenyum.


Safa mengedipkan matanya berkali-kali. Edzar menjauh mengembalikan posisinya di kemudi. Pria itu segera menarik perseneling menjalankan mobil. Sementara Safa masih mematung dengan tubuh sekaku papan.


"Kamu terlalu gugup sampai lupa sabuk pengaman?"


Angan-angannya pecah saat mendengar suara Edzar. Safa melemaskan duduknya agar terlihat lebih santai. Rileks, Safa. Baru segitu saja sudah lemah. Gimana mau benar-benar lupain kalau kamu masih sering goyah?


Sekilas Safa mendelik tajam, sebelum kemudian dia membuang muka ke sisi jendela. Senyum kecil kembali terbit di bibir Edzar. Kalau tidak ingat hubungan mereka yang tengah berjarak, Edzar pasti sudah meraup wajah menggemaskan itu dan menciuminya hingga puas.


Ya Tuhan, ternyata jatuh cinta semenggelikan ini.

__ADS_1


Tapi Edzar suka.


"Tunggu," tahan Edzar saat Safa hendak membuka pintu. Mereka sudah sampai di rumah Oma Halim.


Safa menoleh melihat tangannya yang dipegang Edzar. Lalu beralih menatap si pemilik dengan wajah datar. Safa tak bersuara, tapi dia menunggu apa yang ingin Edzar katakan.


"Kriteria pria idamanmu...." Edzar menggantung ucapannya, "Seperti apa?"


"Ya?"


"Ehm, ini keperluan riset," lanjut Edzar sembari berdehem.


Kening Safa berkerut.


Riset?


Apa seorang pekerja hukum membutuhkan riset semacam ini?


Edzar mengulum bibir melepas tangan Safa, mengalihkan wajahnya ke tempat lain. Air mukanya terlihat gugup. "Tidak perlu dijawab kalau kamu keberatan."


Hening.


Safa terdiam, menatap Edzar yang kini tampak sibuk dengan dashboard mobil. Entah apa yang pria itu lakukan. Menepuk-nepuk permukaannya seolah ada debu. Padahal yang Safa lihat mobil Edzar jauh dari kata kotor.


Yang Safa tidak tahu, Edzar sedang berusaha mengalihkan kegugupannya.


Masih dalam keadaan bertanya-tanya, Safa pun menjawab. "Baik, mapan, tampan dan muda."


Sebenarnya kata terakhir tidak penting. Muda yang Safa maksud yaitu bukan bapak-bapak atau kakek-kakek. Tapi sepertinya Edzar menanggapi itu dengan serius.


"Muda?"


"Bagaimana dengan pria di atas tiga puluh tahun?"


"Bagaimana apa?"


"Menurutmu apa masih termasuk muda?"


Safa mengangkat bahu sambil melengos. "Pikir saja sendiri."


Tanpa harus dijelaskan pun Edzar pasti tahu jawabannya. Kenapa harus bertanya?


"Apa ada cara untuk terlihat lebih muda?"


Safa tidak tahu apa yang terjadi pada Edzar sampai bertanya hal-hal seperti ini. Dia ingin segera keluar dan meninggalkan Edzar yang terlihat aneh. Maka dari itu Safa jawab saja dengan asal.


"Pakai krim mata dan pelembab bibir."

__ADS_1


Setelah itu Safa keluar dari mobil Edzar, tentu saja dia sempat berterima kasih sebagai formalitas kesopanan.


Sementara Edzar mematung memikirkan anjuran Safa. "Krim mata dan pelembab bibir? Apa itu?" gumamnya pelan.


__ADS_2