SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 183


__ADS_3

Safa mengerjap pelan. Suara lirihan keluar dari mulutnya seiring matanya yang terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah Edzar. Pria itu menatapnya dengan mata teduh dan hangat. Bibirnya menyungging senyum, tangannya terangkat mengusap pelipis Safa dengan ringan.


"Akhirnya kamu bangun," ucapnya hampir menyerupai bisikan. "Uda sangat khawatir saat kamu pingsan tadi."


Safa mengedip lamat. Sesaat pandangannya mengedar melihat sekeliling ruangan. "Ini di mana?" tanya Safa dengan suara parau. Ia mendapati dirinya berbaring di ranjang pemeriksaan.


"Puskesmas, Sayang. Rumah sakit terlalu jauh. Jadi Uda bawa kamu ke sini."


Safa meringis merasakan pusing. Refleks tangannya memijat kepala, meringankan denyutan yang terasa.


"Masih pusing?" tanya Edzar yang kini juga memberi pijatan di kening Safa.


Safa tak menjawab. Edzar pintar, dia pasti tahu hanya dengan melihat ekspresinya yang tak nyaman.


Tak lama seseorang masuk. Wanita yang Safa tebak sebagai dokter atau bidan itu tersenyum menghampiri mereka. "Syukurlah Ibu sudah bangun. Bapaknya panik sekali tadi."


Sebenarnya Safa sedikit geli. Ini pertama kali ada yang memanggilnya Ibu. Biasanya Mbak atau Kakak.


"Ibu terlalu kecapekan, makanya perutnya keram. Lain kali jangan beraktivitas kelewat lelah, ya? Bahaya juga bagi kandungan Ibu yang masih rentan."


Safa tersentak. Ia menatap dokter berhijab itu dengan seksama. Apa katanya? Kandungan?


"Ma-maksud dokter apa?"


Dokter itu malah tersenyum. "Dari hasil pemeriksaan, anda seratus persen tengah mengandung. Dan penyebab anda sakit perut tadi, karena anda kelelahan dan terlalu tegang. Jadi saya harap ke depannya anda dan suami bisa lebih hati-hati, ya? Diusahakan tidak boleh stress juga."


Safa menoleh pada Edzar, yang langsung pria itu balas dengan senyuman. Tatapannya penuh haru. Edzar mengangguk, lantas mencium kening Safa penuh perasaan. Mengusap rambut sang istri dengan sayang, Edzar pun berbisik, "Kita akan jadi orang tua," ucapnya sedikit parau.

__ADS_1


Sepulang dari puskesmas, Safa tak berhenti merenung di perjalanan. Kejutan bertubi-tubi datang dalam hidupnya akhir-akhir ini. Safa hamil? Kalimat itu terus terngiang di otaknya. Ia benar-benar hamil. Sulit dipercaya. Dalam perutnya kini tumbuh buah cintanya dengan Edzar.


Kenapa bisa secepat ini? Bukankah mereka menikah baru sebulan lebih? Kok bisa sekarang sudah hamil? Dulu sepupu-sepupunya paling cepat dua bulan baru ada kabar sedang isi.


Apa ini sebabnya Safa jadi sering lelah beberapa hari terakhir?


Tanpa sadar Safa menyentuh perutnya sendiri. Memang bagian bawah pusar agak sedikit kurang nyaman. Bagaimana Safa menjelaskannya? Rasanya seperti kembung dan keras. Beda saja dari biasanya.


Edzar menoleh pada sang istri yang sejak tadi terdiam. Ia tahu Safa masih terkejut. Sementara ia tak bisa menahan bibirnya untuk terus tersenyum. Hatinya seolah mengembang oleh rasa bahagia tak terkira. Edzar pun sama, ia tak menyangka Tuhan akan secepat ini menghadirkan malaikat kecil di antara mereka.


Apa ini jawaban dari segala doanya? Edzar meminta untuk diberi kemudahan perihal hubungan mereka yang merenggang.


Ia tak hentinya mengucap syukur. Beberapa kali matanya berkaca saking terharu. Setelah kehilangan putra pertamanya dulu, Edzar tak pernah berpikir bahwa dia akan mengalami kebahagiaan ini lagi. Bahkan lebih, karena yang mengandung benihnya kali ini adalah wanita yang ia cinta sepenuh hati.


Dia ambil tangan Safa, lantas membawanya untuk dikecup. Bibirnya lagi-lagi menyungging, melirik sekilas sang istri yang kini juga menatapnya.


"Uda tidak tahu harus berkata apa selain berterima kasih pada Tuhan juga kamu, Ai. Uda bahagia sekali." Edzar menoleh. "Kamu juga 'kan?"


Ya, Safa tak akan menampik jika ia juga merasakan hal yang sama seperti Edzar. Namun entah kenapa hatinya masih tak tenang.


Safa hamil. Itu berarti dia memang tak bisa lepas dari sosok Edzar. Safa mengerti Edzar sangat bahagia. Pria itu pernah kehilangan seorang anak. Dan kehamilan Safa kali ini jelas mengobati rasa kekosongannya.


Sungguh miris sekali, pria seperti Edzar bisa mengalami diselingkuhi. Mendengar cerita dari Sinta, entah kenapa hati Safa ikut merasakan sakit. Ia tak bisa membayangkan separah apa kekecewaan Edzar. Sehancur apa suaminya di masa lalu ketika mengetahui putranya menjadi korban perbuatan dosa istri dan selingkuhannya.


Ia lebih tidak percaya, Sinta, mantan wali kelas yang mengukir kesan baik di benaknya bisa memiliki kisah sekelam ini.


Hati Safa sakit. Ia merasa begitu bersalah karena sempat menaruh benci pada sosok Dika yang ternyata hanya tinggal nama. Safa merasa begitu jahat. Safa sadar ia terlalu egois memikirkan perasaannya sendiri. Tanpa tahu bahwa Edzar lebih sakit saat harus mengingat masa lalu. Menguak luka lama demi bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


Hebatnya, Edzar masih bisa bersikap tenang. Pria itu bahkan tidak marah kendati Safa pernah memaki sang putra yang sudah tiada.


Safa malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia sebagai wanita dan juga calon ibu memiliki pikiran sepicik itu.


"Kita shalat dulu, ya? Habis itu makan." Edzar tersenyum meliriknya, mengusap tangannya di atas pangkuan.


Safa mengangguk. Lantas pria itupun memutar kemudinya ke sebuah pelataran masjid yang cukup besar. Adzan ashar tengah berkumandang. Kali ini Safa membiarkan Edzar membukakan pintu untuknya. Bisa ia lihat raut Edzar terlihat senang.


Dengan hati-hati Safa turun dibantu Edzar. Pria itu jadi semakin protektif terhadap pergerakannya. Sampai-sampai Safa diantar hingga depan toilet sekaligus tempat wudhu.


Safa malu saat beberapa pasang mata perempuan melihat ke arah mereka. Namun Edzar seolah bodo amat. Dia bahkan tak mau pergi sampai Safa selesai buang air dan bersuci. Seakan-akan kalau Edzar meninggalkannya bahaya akan datang di kamar mandi.


Agak konyol, tapi berhasil membuat hati Safa menghangat.


Selepas shalat, Edzar membawanya pulang ke Depok, ke rumah Ibu Dyah. Safa bersyukur mertuanya itu menyambut hangat kedatangannya. Kendati beliau sudah merestui hubungan mereka, Safa tetap merasa sedikit canggung dengan ibunda Edzar itu.


Raut bahagia tak bisa disembunyikannya kala Edzar memberitahu kemungkinan dirinya hamil. Sebenarnya dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ulang ke spesialis kandungan. Sekaligus untuk mengetahui berapa usia kehamilannya.


Ibu Dyah menyuruh Edzar untuk segera membawanya ke kamar. Safa tak menolak karena ia memang merasa lelah setelah seharian berkendara ke sana kemari.


"Maaf, Uda bawa pulang kamu ke sini. Besok Uda sudah mulai kerja lagi. Uda hanya ingin kamu ada yang jagain saat Uda pergi. Sebenarnya di rumah juga ada Bik Yah. Tapi beliau suka sesekali pergi ke luar. Dan Uda khawatir kalau kamu ditinggal sendiri. Gak papa 'kan? Kamu keberatan sementara tinggal di sini?" Edzar bertanya ketika mereka sampai di kamar.


Safa duduk di pinggir ranjang, sementara Edzar berlutut di hadapannya.


"Mungkin kamar ini tak senyaman kamar di rumah kamu. Ini kamar yang Uda tempati sejak kecil. Terakhir direnov saat Uda SMA. Sedikit usang, tapi syukurlah Ibu tetap merawatnya dan membersihkannya meski Uda sudah jarang tidur di sini."


Safa melihat sekeliling ruangan. Memang tak semodern dan semewah kamar di rumahnya maupun rumah Edzar yang baru. Tapi menurutnya juga tidak terlihat usang. Malah terkesan klasik. Dari mulai lemari, bed, hingga nakas semuanya terbuat dari kayu jati.

__ADS_1


Sepertinya. Entahlah, Safa kurang mengetahui perbedaan bahan-bahan mebel. Tapi dari teksturnya yang keras dan bisa bertahan sampai sekarang, tentu perabotan ini memiliki nilai jual yang tinggi.


"Gak masalah. Asal tidak ada kecoa," jawab Safa yang sebenarnya sedikit asal. Dia bingung mau berkata apa. Terlebih ia masih merasa canggung pada Edzar.


__ADS_2