
Satu setengah tahun kemudian ...
"Aaa ... Satu lagi, Boy."
"Hap! Pinter." Edzar menggasak rambut tipis putranya.
Bocah lelaki itu menggumam sembari terus mengunyah makanan yang disuapkan sang ayah barusan. Membiarkan tangan besar itu menyeka pinggiran mulutnya dengan kain halus nan lembut yang selalu dipakainya setiap makan.
Ibrahim Maulana Edzar. Buah hati Safa dan Edzar yang kini sudah tumbuh menjadi balita lucu nan menggemaskan.
Edzar menjauhkan tangannya. Tersenyum teduh menatap lekat pergerakan sang putra yang fokus memainkan Dinosaurus kecil berwarna kuning dan hijau muda. Meremas dan memukulkannya pada lantai. Rautnya terlihat gereget dan penasaran. Sesekali ia gigit dengan empat gigi susu yang mencuat di gusinya.
Edzar terkekeh. Menarik pelan boneka itu dari mulut putranya. "Minum dulu, Nak. Kamu membuatnya kotor lagi. Padahal baru Papi cuci kemarin," ucapnya seraya menyodorkan cangkir kecil yang lagi-lagi bermotif Dinosaurus.
Bibir mungil itu menyesap sedotan dengan lahap. Edzar tak bisa menahan gemas untuk mencubit pipi bulatnya yang cemong oleh celemotan bedak. Lantas ia cium, menggeselkan hidung, menghirup aroma wangi khas bayi yang segar dan selalu membuatnya bersemangat.
Edzar tertawa merespon tamparan kecil di wajahnya. Melihat putranya yang risih dan kegelian. Dan semakin geregetan kala mulutnya melontarkan celotehan lucu yang tidak semua orang mengerti apa maksudnya.
"Auh ... Auh ... Pipi ..."
"Auh ... Auh ..."
"Hahaha .... Kenapa, Sayang? Hem? Kesal sama Papi, ya?"
"Maaf, ya? Habisnya kamu menggemaskan." Edzar mendaratkan kecupan terakhir sebelum menjauhkan wajah.
Membereskan peralatan makan bermacam warna bekas sarapan putranya. Lalu menyimpannya ke atas meja untuk sementara.
"Ayo, kamu main sama Bik Yah dulu, ya? Papi mau mandi." Lantas ia gendong tubuh mungil itu dan membawanya keluar kamar.
"Bik, lagi ngapain?" Tanya Edzar mendapati Bik Yah yang ternyata sudah ada di depan kamarnya. Wanita baya itu tengah berjongkok mencari-cari sesuatu.
Bik Yah seketika berdiri. "Ehhh ... Papi Ganteng sama Tuan Muda Ganteng. Morning, Ganteng ...." Tangan gendut Bik Yah menoel-noel pipi kenyal Ibrahim.
Balita itu tampak risih menjauhkan wajah. Tak tanggung-tanggung, dia juga mencubit dan meremas tangan Bik Yah hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Aduh. Si Ganteng masih galak aja, ya, Den."
"Ibra, gak boleh gitu," tegur Edzar menggenggam jemari mungil putranya.
"Maaf, ya, Bik. Bibi tahu sendiri Ibra sedikit tak menyukai sentuhan orang."
"Gak apa-apa, Den. Selera Den Ibra kayaknya tinggi. Maunya dipegang orang-orang cakep aja."
Edzar terkekeh. "Enggak juga. Om dan tantenya ganteng dan cantik semua. Dia tetap gak mau."
"Itu berarti nalurinya yang pilih-pilih. Wajar, Den. Anak sekecil itu masih suka waspada sama orang-orang di sekitarnya. Cucu Bibi di kampung juga begitu, gak mau digendong kalau bukan sama orang tuanya. Pemalu banget anaknya. Persis Den Ibra. Kayaknya sebagian besar sifatnya menurun dari Den Edzar. Bibi ingat dulu Den Edzar juga begitu. Haha ..."
Edzar tersenyum. "Saya mau titip Ibra sebentar, Bik. Bisa?"
"Oh, bisa bisa. Tentu aja bisa. Memangnya Den Edzar mau ke mana?"
"Mau mandi, Bik. Keburu siang entar. Kita 'kan mau jalan-jalan."
"Oh, iya. Ya sudah taruh aja Den Ibranya di ruang tengah, Den. Kasih mainan juga. Biar nanti Bibi awasin."
Edzar mengangguk. Lantas menuruni tangga menuju ruang tengah yang ada televisi besar dan karpet luas. Ia dudukkan Ibra di sana. Membiarkan putranya bergerak bebas merangkak dan berjalan ke sana kemari.
"Ibra di sini dulu, ya, Nak? Papi siap-siap dulu. Nanti kita main ke luar."
Setelah mengatakan itu Edzar bergegas naik ke kamar. Mengambil tas mainan dan lekas membawanya kembali ke ruang tengah.
Tanpa menunggu waktu lama ia mandi dan bersiap sesuai janjinya yang akan mengajak Ibra jalan-jalan.
.........
"Auh ... Auh ..." Ibra menunjuk seekor hewan jinak di dalam sebuah pagar pendek yang tingginya ramah untuk anak-anak. Mungkin hanya setengah betis Edzar.
__ADS_1
"Itu Iguana," ucap Edzar memberitahu seraya berjongkok merangkul pinggang putranya dari belakang.
Tubuh Ibra berjinjit antusias. "Nana."
Edzar terkekeh, mencium gemas punggung kecil itu. Sedetik kemudian Ibra menyeretnya sedikit ke sebelah.
"Cici!" serunya keras.
Lagi-lagi Edzar tertawa. "Iya. Kelinci, Sayang."
"Nunus?"
"Gak ada Dinosaurus."
Ibra menoleh menatapnya. Matanya berkedip polos. Sesaat Edzar mematung karena ekspresi itu mengingatkannya pada seseorang.
"Pipi! Na!" Teriakan Ibra memecah lamunan.
Edzar berkedip, menghela nafas lalu mengikuti arah pandang putranya. Ternyata air mancur menari yang meliuk-liuk di tengah danau.
Lagi-lagi ia terpaku. Sebuah kenangan berlarian di otaknya tanpa bisa ia cegah. Edzar menelan ludah. "Ibra mau lihat itu?"
Ibra tak menjawab. Tapi matanya yang tak lepas menatap atraksi air cukup membuat Edzar mengerti bahwa putranya tertarik.
Lantas ia pun menggendong Ibra, membawanya lebih dekat ke tepi danau, tepat di samping jejeran patung setengah badan penggagas Konferensi Asia Afrika.
Ya. Pagi ini Edzar membawa putranya ke Kiara Artha Park. Jalan-jalan melihat kebun binatang kecil dan tempat lain yang sekiranya membuat Ibra tertarik.
Edzar tersenyum menatap Ibra. Apalagi melihat raut terperangah putranya dengan mata membelalak dan bibir setengah terbuka. Benar-benar menggemaskan.
Ia ikut memandang ke depan. Tatapannya menerawang melihat liukan air mancur yang bergerak seiring irama.
"Pruufftt ...." Ibra meniup ludah dengan bibir mengerucut. Sontak Edzar menggeleng, merogoh saputangan di saku celananya. Lantas menyeka air liur yang berhamburan membasahi dagu pria kecil itu.
"Ibraaa ....!"
Seorang wanita mendekat dengan wajah cerianya. Pashmina-nya berkibar tertiup angin kala ia berlari mendekat.
"Ibra Sayang ...."
Edzar menatap datar wanita yang kini tersenyum cerah melihat putranya. Mengambil alih tubuh mungil itu. Lantas mengangkatnya tinggi dan sedikit diayun-ayun.
Ibrahim tergelak. Wanita itu menggeselkan hidungnya. Menggelitik perut buncitnya yang terbalut kaus putih serasi sang ayah.
Kakinya terentak-entak di udara. Suara tawanya menggetarkan hati Edzar yang kini menghangat. Menatap keduanya dengan perasaan damai dan tenteram.
Wanita itu menoleh. Melempar senyum padanya. "Kalian sudah makan?"
Edzar menggeleng. Masih dengan wajah datar.
Respon Edzar tak lantas melunturkan senyum lembut bak Bidadari itu. Ia justru meraih tangan Edzar. Merangkumnya dalam genggaman seraya menggendong Ibra di tangan satunya.
"Papi jangan cemberut terus. Iya, Mami salah. Mami minta maaf karena tidak menepati janji. Kemarin mau langsung pulang, tapi Kamila ngajak reuni dulu sama teman-teman SMA. Maaf, ya?"
"Sekarang kan kita sudah jalan bertiga. Iya 'kan, Ganteng?"
Cup.
Ibra terkikik geli menerima kecupan di pipinya.
"Kamu tahu dari mana warna baju kita?" tanya Edzar datar.
Kontan bibir yang terpoles lipstik nude itu mengerucut mendapati Edzar yang masih saja bersikap dingin.
"Tadi Bik Yah kirim foto kalian."
"Udah, dong. Jangan marah terus. Nanti malam Mami kasih hadiah. Janji."
__ADS_1
Edzar mengangkat satu alisnya. "Hadiah apa?"
"Rahasia." Wanita itu tersenyum. Mengedipkan satu matanya lantas pergi bersama Ibra.
Edzar menatap keduanya dari belakang. Mematri senyum dengan pandangan teduh. Tawa mereka berbaur menciptakan candu. Menghadirkan rona bahagia yang menular. Membuat hati bertalu.
Ia lantas menyusul, merangkul dua orang kesayangannya dan memberi mereka satu persatu kecupan.
"Uda rindu," bisiknya pelan.
Wanita itu mendongak, hingga mata mereka bertemu dan saling terpaku. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum paling indah di mata Edzar.
"Safa juga rindu."
Keduanya tersenyum. Safa menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Pun Edzar yang merangkul anak istrinya dari belakang. Menyaksikan dancing fountain yang dulu pernah mengukir kisah di waktu berbeda.
"Harusnya kita malam ke sininya. Malam lebih bagus tau."
Edzar menumpukan dagunya di atas hijab sang istri. "Kalau malam Ibra tidur. Kasihan."
"Oh, iya juga, sih." Safa mengangguk. Lantas mengecup kepala putranya yang wangi shampo bayi.
"Ibrahim. Gantengnya Mami, kamu dimandiin siapa, Sayang?"
Edzar mendenguskan tawa. Ibra tak menjawab sama sekali pertanyaan Maminya. Safa mengerucut melihat putranya yang sibuk sendiri.
"Kangen mimi kayaknya," ucap Edzar yang melihat Ibra asik memainkan dada Safa.
"Papi juga?" tanya Safa mendongak.
Edzar menunduk. "Hmm," gumamnya tersenyum tipis. Lantas mengecup kilat bibir Safa. Yang langsung mendapat pukulan kecil dari wanita itu.
"Ish. Gak tau tempat banget, sih. Ini tempat umum. Ada Ibra juga."
"Ya sudah. Ayo pulang."
"Ngapain?" tanya Safa was-was.
"Ngapain lagi? Melepas rindu lah. Dua hari Uda gak dapat jatah."
Safa memutar matanya malas. "Terus Ibra mau dikemanain?"
"Titip Oma sama Opa."
"Egois kamu, ya, A. Ibra aja belum nikmatin miminya."
Kini giliran Edzar yang memutar mata. "Lagi-lagi Ibra. Ibra lebih egois kalau sama kamu. Dia gak pernah sebentar aja biarin kita berduaan," rengutnya mengingat sikap menyebalkan sang putra.
Safa pun terkekeh mendengar rajukan itu. Ia usap bisep Edzar sebentar, lantas menjawab. "Ya sudah, nanti malam Ibra kita titip sama Bunda, ya?"
"Jangan cemberut gitu, dong. Safa kan jadi gemas."
Kontan Edzar kembali menunduk. "Beneran, ya?"
"He'em." Safa mengangguk.
"Serius?"
"Dua rius."
Senyum Edzar mengembang. Tangannya mengeratkan pelukan pada pinggang sang istri. Ia ciumi sisi kepala yang terbalut pashmina pastel itu. Menghirup wanginya yang tak lekang membuatnya mabuk kepayang.
Akhirnya dia bisa memiliki waktu berdua dengan Maminya Ibra.
Ibra, maafin Papi. Nyatanya Mami kamu lebih tergoda dengan otot kekar Papi ketimbang perut kamu yang penuh lemak itu.
..............TAMAT...............
__ADS_1