SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 149


__ADS_3

"Ini yang juga Uda tanyakan. Kamu lihat Uda dengan wanita lain dari mana?"


Tak mau basa-basi, Safa menunjuk ponselnya di atas nakas. "Ambilin!"


Edzar menurut, mengambil ponsel dan menyerahkannya pada Safa. Sesaat Safa mengotak-atik benda pipih itu, lalu menyerahkannya lagi pada Edzar dengan layar menyala.


Sebuah foto terpampang di sana. Edzar terpaku mengamati dengan seksama gambar itu.


"Kamu dapat ini dari mana?"


"Kenapa? Kamu mau marah sama orang itu? Mau menyalahkan orang lain karena ketahuan selingkuh?" jawab Safa sengit.


Edzar menghela nafas, matanya masih menatap lekat ponsel Safa yang menyala.


"Gak bisa jawab, kan?"


"Safa kecewa. Safa pikir A Uda orang yang setia. Ternyata Safa salah."


Safa mulai menangis.


"A Uda masih ingat? Dulu Safa pernah bilang, kalau A Uda kecewain Safa sekali saja, Safa gak akan mau lagi melanjutkan hubungan kita."


"Hiks, A Uda jahat...."


"Sudah?" tanya Edzar tenang. "Jadi ini yang mengganggu pikiranmu sedari kemarin?"


Edzar menatap Safa yang berurai air mata. Tubuhnya beranjak menduduki tepian ranjang pasien, tepat di samping Safa yang terbaring dengan isak tangis yang berusaha ditahan, walau percuma.


Tangan Edzar terangkat menyusut buliran air itu dengan jemarinya.


"Ai, kamu betul-betul sudah salah faham, Sayang."


Safa menepis tangan Edzar. "A Uda selingkuh, kan.... hiks"


"Apa yang kamu maksud selingkuh?"


"Foto ini?"


"Siapa sebenarnya yang sudah berikan kamu foto ini? Uda jadi kesal sekarang. Karena dia, kamu jadi terbebani dan berpikir yang tidak-tidak."


"Safa gak-"


"Diam-" tegas Edzar, namun dengan suara lembut.


"Kamu lihat ini."

__ADS_1


Safa berusaha mengelak, dia tak sanggup menatap kemesraan Edzar dengan wanita itu.


"Ai...."


"Gak mau!"


Edzar mendorong sedikit paksa samping kepala Safa agar mau menatap layar ponsel yang ia pegang.


"Lihat! Ini yang kamu maksud selingkuh, kan?"


Safa terdiam dengan bibir mengerucut bergetar. Berusaha melarikan bola matanya ke sana kemari, asal tidak pada foto itu.


"Jelas, yang ambil foto ini belum mengenal Uda dengan baik."


"Kalau dia mengenal Uda, dia tidak akan serta-merta mengirim foto ini dan mengatakan Uda selingkuh."


"Kamu mau tahu siapa wanita yang kamu sebut selingkuhan ini?"


"Ai, ini keponakan Uda."


"Apa?"


"Namanya Eris. Dia anak dari sepupu Uda di Sumatera. Ke Jakarta karena ada pertukaran pelajar."


"Dia tinggal sama Ibu di Depok, karena sekolahnya dekat dari sana."


"Maaf Uda gak sempat bilang sama kamu, karena setelah itu Uda ditelpon Pak Kepala, katanya ada yang urgent. Niat Uda untuk hubungi kamu lagi-lagi terhalang."


"Padahal Uda kangen banget dan mau dengar suara kamu."


Safa masih terseguk dalam tangisnya. Dia menolak saat Edzar menghadapkan kepalanya menatap lelaki itu.


"Ai, percaya, Uda gak pernah main-main soal perasaan. Sekali hati Uda jatuh sama kamu, maka selamanya kamu yang akan Uda pilih."


"Kamu masih tidak percaya? Perlu Uda telpon Eris sekarang juga?"


"Buat apa?" ketus Safa parau.


"Untuk membuktikan semuanya. Untuk menyelesaikan masalah kita agar kamu tidak terus larut dalam pikiran buruk."


Sesaat suasana menjadi hening, Edzar menunggu jawaban Safa yang tak kunjung bersuara.


"Baiklah. Jika kamu enggan melihat Eris. Uda akan hubungi Reno atau Tirta. Mereka yang tahu siapa itu Eris," putus Edzar.


Begini lebih baik. Sepertinya Safa masih diliputi rasa cemburu. Edzar tak mau memperparahnya.

__ADS_1


Karena Reno tak mengangkat panggilan, maka Edzar beralih ke kontak Tirta. Kebetulan sekali, dalam dering ketiga pria itu langsung menerima Video Call darinya.


Wajah Tirta sempat mengernyit melihat Safa yang tersedu. Kemudian dia menatap Edzar, "Ada apa, Bang? Safa kenapa?"


Sejak Edzar menghadiri acara khitanan cucu Uwa Nining tempo lalu, semuanya menjadi tahu hubungan Safa dengannya. Berita cepat menyebar, bahkan Tirta yang tidak hadir saja bisa tahu.


"Ta, Abang mau minta tolong, dan jawaban kamu merupakan hidup dan mati Abang sekarang."


Tirta mengernyit, "Apaan, sih, Bang? Sejak kapan Bang Edzar jadi lebay kayak Bang Reno?"


Wajah Edzar sedikit melas, "Ini bukan waktu menanyakan itu."


"Sekarang tolong kamu bantu jelaskan, siapa perempuan yang ada di foto ini?" Edzar menunjukkan ponsel Safa yang menampilkan foto Edzar dan wanita yang pria itu sebut bernama Eris.


"Itu Eris, kan? Aku ingat karena kerudung itu aku sendiri yang beli minggu lalu."


Edzar menghela nafas lega. Dia mengangguk, sedikit melirik Safa yang lambat-laun mulai berhenti terisak.


"Benar. Dan siapa itu Eris?"


"Kok Abang malah nanya? Udah gak kenal sama keponakan sendiri?"


Edzar mengangguk, "Kenal. Masalahnya Safa gak kenal. Dia mengira Abang selingkuh sama keponakan sendiri." Matanya kembali melirik Safa yang merengut salah tingkah.


Edzar mendengus, tersenyum geli melihat tingkahnya. Sangat menggemaskan.


Tirta yang mengerti mengangguk paham. Dengan sukarela dia menjelaskan siapa itu Eris yang bersama Edzar tempo hari. Dia mengatakan Eris adalah keponakan mereka dari sepupu di Sumatera, keluarga mendiang Ayah mereka yang memang merupakan orang Minang.


Eris masih sekolah, tepatnya kelas sebelas Sekolah Menengah Atas. Postur tubuhnya memang tinggi, bahkan jauh melampaui Safa. Gadis itu tampak setelinga Edzar jika berdampingan. Persis seperti yang Safa lihat di foto.


Bahkan saat ini Eris tinggal di rumah Tante Dyah di Depok, seperti yang Edzar bilang padanya. Tirta yang memang masih tinggal bersama sang ibu tentu tahu. Bahkan saat ini dia mau ke sekolah Eris untuk menjemput gadis itu. Kasihan, katanya Eris masih orang baru, takutnya tidak tahu alamat dan berujung nyasar.


Sementara naik ojek atau taksi online, Tirta melarang keras karena dia sudah mendengar kejadian yang menimpa Safa kemarin lalu. Pria itu jadi lebih mawas diri pada orang-orang terdekatnya.


"Kalau terjadi apa-apa dengan Eris, matilah kita, Bang, diamuk emaknya yang kayak Godzilla melahirkan itu," tandas Tirta di ujung penjelasannya.


Edzar mendengus geli, menoleh pada Safa yang mendadak bisu sejak tadi. "Gimana? Apa sekarang kamu percaya? Masih mau curiga sama Uda?"


Safa tak menjawab, gadis itu memainkan jemarinya membentuk gerakan abstrak di dada Edzar yang terbalut kaus putih pas badan.


Tentu Edzar gemas bukan main, dicubitnya hidung Safa yang mungil, lalu dia kecup bekas cubitannya itu. Edzar tersenyum ketika Safa memukulnya lemah.


Keduanya larut dalam dunia sendiri, tanpa menyadari Tirta yang memutar mata jengah di seberang sana.


Nasib orang yang hanya dipanggil saat dibutuhkan, batinnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu waktu lama, Tirta memutus sambungan video itu secara sepihak. Tak peduli Edzar masih mau bicara atau tidak. Yang pasti dia tidak sudi menyaksikan tingkah menggelikan dari dua sejoli yang baru resmi itu.


__ADS_2