
"A Uda ...." bisik Safa parau. Safa menutupi dada juga tubuh bawahnya dengan tangan. Malu dilihat Edzar se-intens itu.
Edzar naik ke atas kasur, menghampiri Safa perlahan dengan mata tak lepas menyoroti seluruh tubuh gadis itu. Edzar sudah seperti predator yang mengincar mangsanya.
Pandangannya jatuh pada buah dada yang menyembul di bawah lengan Safa yang melingkar. Percuma, ukuran sebesar itu tidak mungkin mampu tertutupi sepenuhnya. Apalagi lengan Safa terbilang kecil.
Edzar mengungkung Safa di bawah tubuhnya. Tersenyum lembut mengecup kening gadis itu. Beralih ke hidung, pipi, lalu turun ke bibir. Memagut dan menyesapnya pelan, tidak seperti tadi yang menggebu dan terburu-buru.
"Emh." Safa menggumam kecil kala tubuh mereka bergesekan. Edzar mengakhiri ciuman itu dengan satu tarikan di bibir bawah, menimbulkan suara cecapan yang lirih dan nyata.
Nafas keduanya bersahutan. Edzar meraih lengan Safa yang melingkari dada. Seketika gadis itu menggeleng dan merengut malu. Membuat Edzar gemas dan kembali menciumnya.
Safa yang hanyut tanpa sadar menurut saat Edzar menyingkirkan lengannya. Menahannya di sisi kepala sementara pria itu mulai memberi usapan halus di sana. Safa tersentak geli. Tangan kasar Edzar menggesek permukaannya yang lembut.
Kemudian Edzar melepas ciumannya, menunduk ke bawah menatap bukit kembar dengan puncak merah kecoklatan yang pudar. Pria itu menggeram dengan rahang mengatup. Matanya semakin menggelap dengan nafas tak beraturan.
Bulat, putih, berisi, dan sekal. Begitu sempurna hingga membuat celana Edzar semakin sesak hanya dengan melihatnya.
Safa malu bukan main, dia belum pernah sekalipun menunjukkan tubuhnya pada orang lain, bahkan bundanya. Tapi, kini dia polos tanpa sehelai benang pun di hadapan Edzar. Safa sedikit tak percaya diri, takut ada yang terlihat jelek di mata suaminya itu.
Seakan mengerti keresahannya, Edzar kembali menunduk memagut bibir Safa yang sudah merah dan bengkak. Rasanya Edzar tak puas meski menyesapnya berkali-kali.
Edzar menarik lidah Safa dengan mulutnya. Melulum hingga bertukar liur di sela gadis itu yang mendesah.
"Engh .... A Uda ...."
Edzar beralih menciumi leher Safa yang wangi. Menyesap dan memberinya gigitan kecil hingga meninggalkan bekas. Perlahan turun ke tulang selangka, Edzar tersenyum mendapati kalung pemberiannya masih terpasang di sana.
Dia kecup kalung itu, lalu bergeser, menggesekkan hidungnya dengan sensual. Lidahnya terjulur, menari di atas permukaan kulit Safa yang halus dan terawat.
Ciuman itu semakin turun, hingga tiba Edzar menemukan bulatan padat dengan puncak yang mengeras. Pertanda bahwa Safa mulai terangsang. Edzar terdiam sejenak, matanya melirik ke atas, melihat Safa yang juga tengah memperhatikannya. Seketika dia tersenyum sumir, mengecup benda bulat itu tanpa memutuskan pandangan.
Safa menggigit bibir menahan geli. Cambang pria itu menggesek kulitnya dengan kasar. Sedikit sakit, tapi juga menggairahkan. Safa akui dia mulai terbuai dan menikmati perlakuan Edzar.
"Ahh ...." Ia mendesah kala Edzar menjilati sekitaran dadanya. Tangan besar pria itu aktif meremas keduanya. Menciumnya bergantian dan menyesapnya serakah.
Safa semakin dibuat menggelinjang saat Edzar meraup puncak dadanya yang sejak tadi mengeras, menunggu Edzar menyentuhnya. Geli, tapi juga nikmat. Apalagi ketika lidah pria itu menari di atasnya, menjentik dan mempermainkannya. Lalu melahap lapar, seolah ingin memasukan sepenuhnya ke mulut.
"Emh ...." Edzar menggeram rendah. Merasakan benda kenyal itu memenuhi rongga mulutnya.
__ADS_1
Sesekali kepalanya terbenam di antara belahan itu. Menghirup feromon Safa yang memabukkan. Lalu kembali menyesap bergantian puncak dada Safa yang sudah basah karena ulahnya.
Sepertinya bagian tubuh itu akan menjadi favorit Edzar mulai sekarang.
"Aw!" Safa menjerit kecil, terkejut. "Jangan keras-keras gigitnya~" rengek Safa sembari meringis, mengusap pelan puncak dadanya yang menjadi korban ketidaksabaran Edzar.
Hal itu malah terlihat seksi di mata Edzar. Safa yang mengelus dadanya sendiri seolah menggodanya. Mengundang Edzar untuk terus memainkan bulatan padat yang sekal itu.
Terlebih kulit putih Safa tampak mengkilap oleh jejak liurnya yang memenuhi hampir sebagian besar bagian dada.
Safa benar-benar menggairahkan. Gerakan sekecil apapun bisa membuat libidonya naik.
"Maaf, Uda tidak mau memaksa kamu. Tapi, Uda tidak tahan."
Jadi maksudnya seperti apa? Dumel Safa dalam hati.
Wajah Edzar memelas karena Safa menutup payu-daranya dengan kedua tangan. Menghalangi pria itu untuk menikmatinya. Padahal Edzar sangat suka dengan mainan barunya itu.
Jakun Edzar naik turun, matanya benar-benar menggelap, menyala akan gairah yang meluap-luap.
"Ai ...." bisik Edzar memohon.
Sesaat Edzar berkedip. Namun sejurus kemudian tubuhnya menjauh, melepas kaos putih yang dikenakannya, lalu melemparnya asal.
Berlanjut ke celana, Edzar juga membukanya sedikit tergesa, menyisakan bokser ketat yang terlihat sesak mencetak gundukan di dalamnya.
"Sudah, Ai," katanya, kembali mengurung Safa. Mata Edzar tak berhenti berkelana mengagumi keindahan istrinya. Lelaki itu tampak begitu bersemangat.
Tangannya mulai menelusuri perut Safa yang rata. Safa menoleh, terpaku menatap Edzar di atasnya. Gadis itu meneguk ludah kasar, matanya turun dan dibuat takjub dengan pemandangan perut Edzar yang terpahat sempurna. Lebih dari yang selama ini kerap Safa bayangkan. Ya, dia tak akan menyangkal otaknya yang gesrek sering melamunkan Edzar.
Salahkan Kamila yang selalu mencekokinya film dewasa.
Dan melihat Edzar sekarang seolah mewujudkan fantasi terpendamnya.
Tanpa sadar tangan Safa terangkat, menelusuri perut Edzar yang mirip papan cucian. Kira-kira, berapa lama Edzar membentuk semua ini?
"Wah ...." Mata Safa berbinar mengagumi pahatan otot lelaki itu. Dia juga mengelus bisep Edzar yang keras, terlihat seksi dengan kulitnya yang kecoklatan.
"Emh." Edzar menggeram seraya memejamkan mata. Menikmati sentuhan Safa di tubuhnya. Tak sia-sia dia berolahraga, setidaknya dia bisa membanggakannya di saat seperti ini.
__ADS_1
Cup.
Tanpa diduga, Safa mengecup puncak dada Edzar, membuat lelaki itu semakin menggeram dengan tubuh menegang sempurna. "Oh," desahnya saat Safa menjulurkan lidah bermain-main di sana.
Lucunya, Safa melakukan itu dengan raut polos juga penasaran. Edzar benar-benar dibuat gila sepenuhnya.
Berbeda dengan Safa, dia merasa gemas dengan tonjolan kecil di dada Edzar. Mendadak dia teringat adegan mantap-mantap di sebuah video yang pernah ditontonnya. Safa hanya sedang mencoba mempraktekan salah satu yang ia ingat.
Tanpa menyadari Edzar sudah menderita di atasnya.
"Ai ...." bisik Edzar parau. Mulutnya mendesis merasakan Safa menggigit kecil si sana. Tangan gadis itu juga berjalan-jalan menelusuri perutnya.
Disentuhnya kepala Safa hingga gadis itu menghentikan aksinya. Lalu membabat habis bibir penuh itu seraya melebarkan kaki Safa di bawahnya. Edzar merapatkan tubuh mereka, menggesekkan miliknya yang sudah mengeras di area sensitif gadis itu.
Keduanya menggeram dalam ciuman. Safa melenguh kala Edzar kembali menyerang dadanya dengan rakus. Meremas, melulum, hingga menggigit kecil yang membuat Safa menggelinjang tak karuan.
"Engh .... A Uda ...."
Edzar bangkit dari atas tubuh Safa. Melepas boksernya tergesa dengan nafas terengah menahan sesuatu. Lalu kembali menempatkan diri di antara kedua kaki Safa yang melebar.
Pria itu menelan ludah, menyentuhkan jemarinya di antara celah yang kini tampak basah dan mengkilap.
Edzar mendesis. Hangat dan lembab. Sepertinya Safa sudah siap untuk dimasuki.
Perlahan dia menggesekkan ujung miliknya di sana, membuat Safa melenguh sekaligus tersentak. Gadis itu mengangkat kepalanya menunduk. Seketika matanya melotot kaget.
"A Uda, sebentar," cegahnya kala Edzar mulai menekan-nekan celah intimnya. Safa mendesis merasa asing. Ia menelan ludah. Matanya berkedip gugup sekaligus takjub.
"Ada apa, Ai?" tanya Edzar tak sabar. Dia benar-benar sudah tidak tahan.
Safa beralih menatap Edzar yang duduk di antara kedua pahanya. Safa meringis, mengigit pelan telunjuknya, yang mana itu dianggap Edzar sebagai undangan.
Edzar menekan kembali pinggulnya, sontak Safa menjerit menghentikan lelaki itu.
"Kenapa lagi, Ai?" desah Edzar mulai dongkol.
"A-anu. Memangnya itu bisa masuk ...?" cicit Safa malu sekaligus ngeri.
Astaga, tolong selamatkan dirinya. Di samping itu perkataannya membuat Edzar melongo.
__ADS_1