
Safa menimang-nimang tubuh Ibra di pangkuannya. Sementara matanya sesekali melihat pada Edzar yang tampak sibuk menyiapkan makanan. Ya, saat ini mereka berada di dapur untuk sarapan.
Jika biasanya Bik Yah yang akan memasak, kali ini Edzar sendiri yang memaksa melakukannya. Pria itu bahkan menyuruh Bik Yah untuk keluar dan tidak masuki dapur. Ia ingin family time bersama keluarga kecilnya.
Bik Yah yang mengerti pun tersenyum. Dengan senang hati ia menyingkir. Sebelumnya Edzar memesankan makanan untuknya lewat aplikasi. Betapa tidak, Edzar sangat perhatian pada orang-orang tertentu.
"Hari ini Bibi istirahat saja. Tak perlu memasak. Saya pesankan makanan apapun yag Bibi mau," ucapnya kala itu.
'Neng Safa benar-benar beruntung mendapat suami seperti Den Edzar,' batin Bik Yah.
Safa menatap suaminya itu dengan pandangan sedikit tak enak. Seharusnya ia yang menyiapkan sarapan, bukan malah Edzar.
"A Uda, kenapa gak minta Bibi aja yang masak?"
Edzar tersenyum. "Kan Uda sudah bilang, hari ini waktu Uda full untuk kalian."
Karena weekend, Edzar ingin menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya.
"Seharusnya Safa yang melakukannya. Maaf, Safa belum bisa masak dan melayani A Uda dengan baik," ucap Safa murung.
Edzar pun menghentikan sejenak kegiatannya yang tengah menatap piring. Ia mendongak menatap sang istri yang seperti hendak menangis.
"Ai, masih ingat dengan perkataan Uda saat pertama kita menikah?"
Melihat Safa yang mengerutkan kening, Edzar pun melanjutkan. "Bahwa sebenarnya segala pekerjaan rumah adalah tugas suami."
Safa ingat. Tapi, tetap saja ia belum merasa mengabdikan diri sepenuhnya pada Edzar. Edzar adalah sosok lelaki idaman yang diharapkan wanita manapun, justru malah terjebak dengan wanita payah seperti dirinya.
"Ai, Uda tahu apa yang kamu pikirkan."
"Hentikan, Sayang. Berhentilah merasa rendah diri. Kamu mungkin tidak bisa memasak, mencuci, dan lain sebagainya. Tapi, kamu adalah wanita hebat bagi Uda. Seorang Ibu yang berjuang dan pernah berada dalam posisi hidup dan mati ketika melahirkan anaknya."
"Perjuangan itu tidak main-main. Belum tentu kami sebagai kaum laki-laki bisa menghadapinya. Jadi, sebagai gantinya Uda ingin memberikan apapun yang terbaik untuk kamu. Untuk anak kita. Untuk kalian yang bersedia bertahan dan menemani Uda sampai sekarang."
"Kamu tahu? Perasaan Uda saat dokter mengatakan kemungkinan kamu tidak akan bangun lagi. Rasanya Uda ingin mati saat juga."
"Mungkin terdengar egois. Tapi, Uda memang tidak akan sanggup mengurus Ibra tanpa kamu."
Edzar kembali menegakkan tubuh. Ia berbalik sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Mengingat masa-masa itu memang selalu membuatnya lemah tak bisa menahan emosi.
"Jadi Uda minta, berhentilah merasa tidak sempurna. Semua makhluk Tuhan tak ada yang sempurna. Uda yang kamu lihat setinggi langit pun memiliki kekurangan. Bersikaplah senyaman kamu. Karena Uda menikahi kamu bukan untuk menambah beban pikiran."
"Tidak bisa masak tidak apa-apa. Itu hanya masalah kecil. Lambat laun kamu bisa belajar. Dengan senang hati Uda akan mengajarimu. Atau kamu mau belajar langsung dari Celebrity Chef pun tak masalah. Uda akan mengundang Chef Renata dan juru masak lain yang berjenis kelamin wanita. Asal jangan minta Chef Juna aja. Karena nanti Uda akan cemburu."
Safa tidak tahu lagi harus bersyukur sebanyak apa. Baginya, bisa bersama Edzar adalah anugerah yang tidak disangka-sangka. Pria yang ternyata sudah menyimpan perasaan mendalam terhadapnya sejak belasan tahun lamanya.
Edzar sedikit terlonjak saat satu lengan Safa melingkari perutnya. Kontan ia mematikan kompor untuk kemudian menoleh.
Ibra tergelak di gendongan maminya. Hingga Edzar tak bisa menahan diri untuk mengecup pipi bulatnya yang kenyal serta lembut. Wangi harum bayi seketika menyeruak menyusup indera penciuman.
__ADS_1
Safa tersenyum. Ia yang gemas ikut melabuhkan kecupan. Gelakak Ibra pun semakin keras karena kedua pipinya di-uyel dari kedua sisi. Kaki dan tangannya mengejat kegelian.
"A Uda, stop. Kasian, hahaha ..." Safa tertawa sekaligus tak tega melihat Ibra yang kewalahan dengan serangan papinya.
"A Uda, ih. Nanti ngompol!"
"Kan pakai pempers?"
"Ya tetep aja kasian. Itu anaknya sampe terengah gitu. Hihihi."
"Kamu juga gemas kan? Jujur aja, sih," ucap Edzar seraya menjauhkan wajah.
Ibra tampak menggasak kedua matanya.
"Tuk, kan. Jadi ngantuk dia. Belum makan juga. A Uda, sih."
Edzar tersenyum. "Makan di beranda, yuk? Pasti enak."
"Harus diangkut lagi piringnya," keluh Safa.
"Udah. Kalau itu serahin sama Uda. Kamu tinggal bawa Ibra aja. Biar Uda yang bawa ini semua. Lagian gak banyak. Cuma dua piring omelet dan buburnya Ibra."
Safa menurut. Mereka pun makan di beranda belakang dengan pemandangan taman belakang rumah Edzar yang minimalis dan dipenuhi tanaman hidroponik. Safa lupa, suaminya memang menyukai penghijauan.
Safa juga suka. Tapi tak seperti Edzar yang sampai kerasan menanam dan merawat sendiri tanaman itu.
Setelah Edzar membuka semua perihal keuangannya pada Safa, Safa hanya bisa melongo dan terperangah. Bagaimana tidak, ternyata Edzar lebih kaya dari Dava. Abangnya yang pebisnis itu ternyata kalah saing oleh Edzar yang diam-diam menyimpan banyak aset.
Memang, Edzar bukan orang yang mengandalkan gaya. Pria itu lebih pada membeli sesuai kebutuhan.
Melihat sumber uang sang suami yang tak bisa dibilang sedikit, Safa hanya mampu banyak-banyak bersyukur pada Tuhan. Dan berdo'a semoga rezeki yang diberikan menjadi berkah untuk mereka. Sejak memutuskan berhijab, Safa sudah mulai sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaannya belanja gila-gilaan.
Ia sudah berkeluarga. Tanggung jawabnya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk anak dan suami.
Meski Safa belum bisa memakai syar'i dan masih berkiblat pada gaya. Tapi, setidaknya ia sudah punya rasa malu bila auratnya terlihat oleh orang selain Edzar.
Edzar adalah lelaki yang dipilihkan Tuhan untuk menjadi imamnya. Pria itu mampu menggiringnya secara perlahan ke ranah yang lebih baik. Serta-merta dia menyesal karena sempat meragukan Edzar dan merasa malu dengan perbandingan umur di antara mereka. Jujur saja saat itu Safa masih gengsi. Labil juga.
Tapi, sekarang Safa tahu. Edzar adalah pria langka yang wajib ia pertahankan.
Safa mendongak menatap sang suami yang berjalan di sampingnya. Tangan kirinya menggendong Ibra. Sementara tangan lainnya merangkul pinggang Safa dengan mesra.
Tak ayal pemandangan itu sedikit menarik perhatian publik. Terlebih keduanya sempat viral atas insiden memalukan bersama putri Pak RT. Nama Edzar ikut terseret dalam ketenaran sang istri. Followers IG-nya mendadak naik dengan lonjakan drastis. Bukannya senang, Edzar malah jengah karena banyak wanita tak tahu diri yang masih saja mengiriminya pesan.
Demi keamanan rumah tangganya, Edzar menutup akun itu dan menghapusnya. Karena memang sebelumnya Edzar membuat akun untuk men-stalking Safa yang waktu itu belum menjadi istrinya.
Sekarang Safa sudah sah ia miliki. Jadi akun itu tak ada gunanya lagi.
"The real keluarga idaman." Kalimat itu kerap terdengar di telinga Edzar maupun Safa.
__ADS_1
Edzar bergumam, "Ternyata menjdi terkenal itu tidak enak."
Safa terkekeh. "Kalau gitu, kenapa A Uda nekat nikahin Safa?" tanyanya menantang.
Dengan pasrah Edzar menjawab. "Karena kamu terlanjur mengambil hati Uda."
Ia menoleh. Keduanya saling melempar tatapan memuja. Edzar mengulurkan tangan, mengusap sisi kepala Safa yang terbalut pashmina coksu.
"Dulu Uda merasa sangat berdosa karena kerap memikirkanmu meski sudah menikah dengan wanita lain. Tapi sekarang Uda lega, karena kamu sudah sepenuhnya Uda miliki."
"Perjalanan kita tidak mudah. Uda harap kamu juga bersedia menjaga keutuhan rumah tangga kita."
Safa balas tersenyum. Ia mengambil tangan Edzar dari kepalanya, lalu menggenggamnya di pangkuan. "Tentu Safa bersedia. Sejak Safa memutuskan menerima A Uda sebagai teman hidup, itu berarti Safa siap akan segala resikonya."
Edzar tersenyum. Lantas membawa Safa ke pelukan. Suasana ruang kerjanya yang hening membuat ocehan Ibra terdengar lantang.
Mereka terkekeh. Edzar pun menempatkan Ibra di tengah, lalu memeluk Safa dan Ibra secara bersamaan.
Tawa ketiganya pecah. Potret keluarga bahagia pun tak terelakkan. Kehangatan begitu kental terasa saat Safa dan Edzar kompak menggelitiki tubuh sang putra yang sontak menggelinjang.
Edzar tersenyum teduh melihat pemandangan itu. Hatinya penuh oleh letupan rasa syukur karena Tuhan sudah memberikan mereka sebagai pelengkap hidupnya.
Menikah adalah nasib, mencintai itu takdir. Karena kita bisa berencana menikah dengan siapa saja tapi kita tidak bisa merencanakan cinta kita untuk siapa.
Itulah yang sebelumnya Edzar alami bersama Sinta. Mungkin Edzar bisa saja menikahi wanita manapun, tapi Edzar tidak bisa mencegah hatinya untuk terus tertuju pada Safa.
Safana Halim. Ibrahim Maulana Edzar. Mereka adalah sesuatu yang lebih berharga dari berlian. Satu-satunya anak dan istri yang ingin ia miliki selamanya.
Jujur saja, Edzar tak berniat memberi adik untuk Ibra. Ia trauma dan tak ingin lagi merasakan hampir mati karena kehilangan Safa.
Baginya, Ibra saja sudah cukup. Edzar tidak akan sanggup jika Safa harus hamil lagi.
Itulah alasan mengapa Edzar selalu menggunakan pengaman saat bercinta. Safa mengira karena Ibra masih terlalu kecil, jadi ia ingin menunda kehamilan berikutnya.
Padahal, Edzar memang sengaja dan tak ada niatan untuk memiliki anak lagi. Ia belum mengatakannya pada Safa. Karena Safa selalu bersemangat ketika membahas kehamilan berikutnya. Belum genap satu tahun, wanita itu sudah merencanakan program dan rekomendasi dokter obgyn terbaik di Jakarta.
Edzar tak sampai hati menghancurkan suasana hati sang istri. Biarlah nanti ia bicarakan secara baik-baik. Bahwa selamanya Edzar tak ingin memiliki anak lagi.
"Ai."
Wanita yang tengah sibuk membuat putranya tertawa itu menoleh. "Iya? Kenapa?"
"I love you," bisik Edzar. Lengkap dengan senyum yang kerap membuat hati Safa bergetar. "Bukan lagi cinta. Tapi memuja."
"Harus kamu tahu, betapa Uda memujamu, Safana Halim."
Tuh, kan. Bagaimana Safa tidak merona? Gombalan Edzar semakin parah setiap harinya. Jantungnya dibuat jedag jedug setiap waktu.
'Ibra, apa kamu juga akan mengikuti jejak Papi yang bucin ini? Siapapun wanita yang akan kamu puja kelak, Mami berharap dialah wanita terbaik yang ditakdirkan oleh Tuhan,' batin Safa.
__ADS_1