
Melihat serpihan semangka, melon, dan kawan-kawannya membuat Dava meringis ngeri. Dapat dipastikan Safa menggunakan teknik memotong daging saat memotong buah-buah yang seharusnya nampak segar itu.
Berbeda dari Dava, Tuan Halim justru terkekeh geli. Kepalanya tergeleng melihat mahakarya putri tercintanya yang bisa dibilang menyeramkan. Potongan buah itu lebih parah dari anak-anak yang baru belajar masak-masakan. Terutama semangkanya banyak yang hancur, hingga menghasilkan serbuk-serbuk berwarna merah mengambang di sana.
“Ayah... jangan ketawa. Bukankah kita tak boleh menilai sesuatu dari penampilannya?”
Melihat wajah semangat Safa yang surut seketika perasaan bersalah muncul di hati Tuan Halim. Dengan penuh kelembutan pria itu tersenyum menatap putrinya sebelum kemudian meraih sendok berniat mencicipi puding air di hadapannya.
“Benar kita tidak boleh melihat sesuatu dari penampilannya. Ayah yakin puding buatan Safa ini rasanya....”
Mendadak ruang makan begitu hening tepat saat Tuan Halim memasukkan satu sendok puding ke mulutnya. Nyonya Halim mengernyit iba pada suaminya, sementara Dava meneguk ludah menunggu reaksi sang ayah yang tiba-tiba berhenti mengunyah.
“Gimana, enak enggak, Yah?” Safa menatap berbinar tanpa tahu apa yang dirasakan Tuan Halim saat ini. Pria itu mati-matian menahan mulutnya agar terkatup rapat, berusaha tersenyum di tengah rasa aneh yang melanda indera perasanya. Ekspresinya menjelaskan segalanya, namun itu hanya berlaku bagi dua orang, Dava dan Nyonya Halim.
Sedangkan Safa mengira Tuan Halim menikmatinya karena tidak ada tanda-tanda Tuan Halim akan memuntahkannya.
Tidak tahan melihat suaminya yang terdiam, Nyonya Halim segera memberi air menyuruh sang suami segera menelan makanan itu. Dengan rasa penasaran yang tinggi wanita itu ikut mencoba puding buatan Safa.
Tidak seperti Tuan Halim yang susah payah menelannya, Nyonya Halim meraup tisu mengeluarkan kembali puding di mulutnya, meraih gelas berisi air dan meminumnya hingga tandas. Nyonya Halim melotot kesal pada Safa, ia tak menyangka rasanya akan sehancur ini.
Nafasnya terhembus keras saat melihat ekspresi polos anaknya.
“Safa, kamu masukin garam berapa ember, hah? Mau bikin darah tinggi?”
Dava mengernyit, untung dia tidak nekat mencoba. Senyum Safa surut, dia menggaruk kepalanya gugup.
“Garam? Emang puding harus pake garam juga, ya?”
Nyonya Halim menggeram gemas, membuat Bik Inem yang entah sejak kapan berada di sana menahan tawa.
__ADS_1
“Kayaknya Non Safa salah masukin gula, Nyonya. Bibi lupa gak kasih nama di toples bumbu.”
Semuanya terdiam, kecuali Dava yang tak bisa lagi menahan tawanya. Sudah ia duga kemampuan adiknya begitu payah di dapur. Orang yang baru mencoba saja tidak akan separah ini, setidaknya meski tekstur tidak padat tapi rasanya masih bisa ditelan.
Ting Tong.
“Biar saya yang buka, Nyonya.”
Bik Inem bergegas ke ruang depan untuk melihat siapa yang datang. Safa masih cemberut meratapi kegagalannya. Sementara itu Bik Inem kembali ke ruang makan membuat semuanya menoleh.
Siapa yang bertamu di jam seperti ini?
“Siapa, Bik?” tanya Tuan Halim.
“Itu, Tuan. Kayaknya tetangga baru kita, deh.”
\=\=\=
Yang satu terlihat tak nyaman, satunya lagi terlihat berbinar. Nyonya Halim keluar dari arah dapur membawa nampan. Bik Inem sendiri masih sibuk membereskan dapur, mengevakuasi kekacauan yang Safa buat.
“Diminum dulu, Nak Edzar.”
Safa berdecih mendengar suara halus bundanya. Pencitraan, pikirnya.
“Safa, ngapain kamu di sana? Duduk sini!” ujar Nyonya Halim setengah berbisik. Kan? Baru juga bilang. Nyonya Halim melotot pada Safa yang nampak tak tahu malu duduk di samping Edzar. Benar-benar bocah gendeng!
Matanya beralih pada Edzar, Nyonya Halim meringis melihat ekspresi anak itu yang nampak tegang, membuatnya kembali menoleh pada anaknya dan memberi tatapan peringatan. Namun apa mau dikata, Safa yang keras kepala bersikap abai dan pura-pura tak melihat.
“Kamu tetangga baru itu?”
__ADS_1
Edzar mengangguk sopan, “Benar, Pak.”
Tuan Halim mengangkat alis mengalihkan pandangan pada putrinya. Orang awam saja pasti tahu anak itu sedang mencari perhatian. Terlihat dari matanya yang tak pernah lepas menatap lelaki di sampingnya.
"Ehm."
Edzar berdehem canggung. Tak disangka niatnya hanya mengembalikan kotak makan malah berujung duduk di ruang tamu. Edzar baru ingat benda itu setelah tak sengaja melihatnya di dapur, sebelum dia lupa lebih baik mengembalikannya dengan segera.
Edzar pikir Bik Yah langsung mengembalikannya setelah dicuci, tapi ternyata seperti di awal, wanita itu lupa. Edzar sendiri tak bisa menyalahkan asisten rumahnya, lupa adalah sifat alami manusia, kesal pun tak ada gunanya.
Dan sekarang asisten rumah Edzar itu malah jatuh sakit, karena dia bukan orang yang suka menunda-nunda maka Edzar memutuskan mengembalikannya sendiri. Sekalian berterimakasih secara langsung.
Namun nahas, siapa yang tahu ia malah akan terjebak di kediaman Tuan Halim. Edzar lupa rumah ini tempat bernaung gadis yang akhir-akhir ini menunjukkan ketertarikan padanya.
“Kalau begitu, saya permisi pulang. Sekali lagi terima kasih makanannya.”
Edzar sudah hendak berdiri saat tiba-tiba saja Safa melingkarkan tangan di lengannya. Mata Edzar sedikit membola melihat tindakan gadis itu, cukup terkejut Safa memiliki keberanian menyentuhnya. Meski Edzar tahu Safa menyukainya, tapi sebelumnya Safa tak pernah seagresif ini.
“Biar Safa antar.”
Suasana yang sejak awal dilingkupi kecanggungan kini semakin tak nyaman. Jelas Edzar tak setuju ide gadis itu.
“Tidak perlu repot-repot. Rumah saya tidak jauh.”
“Siapa yang bilang rumah Om jauh. Safa tau, kok, rumah kita hampir menempel. Maksud Safa antar sampai teras. Atau ... Om berharap Safa antar sampai kamar?” Safa berkedip genit.
Nyonya Halim terperangah melihat kelakuan putrinya. Dia tahu Safa memang ganjen pada lawan jenis, terutama yang berwajah tampan. Tapi apa hanya dia yang menganggap ucapan Safa barusan terdengar bi*nal? Astaga, sebenarnya gen siapa yang mengalir di tubuhnya. Dari mana sifat tak tahu malu itu berasal?
Tuan Halim berdehem keras. Mata yang sejak tadi menyorot tajam kian menusuk menampilkan kewaspadaan. Instingnya sebagai seorang ayah yang begitu menyayangi sang putri tak bisa disembunyikan. Netra itu jelas menunjukkan rasa protektif yang besar.
__ADS_1
“Safa ...? Bersikap sopanlah, Nak.”
Teguran halus itu berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang menegang. Edzar yang terbiasa dengan berbagai jenis orang nampak biasa saja, cenderung tenang tak terintimidasi. Hal itu membuat Tuan Halim diam-diam merasa kesal hingga tanpa sadar mendengus.