
Saya bersyukur untuk itu. Jujur saja apa yang dikatakannya memang benar. Dan sepertinya Ibu menyadari gurat kelelahan di wajah saya, karena setelah itu rautnya berubah sendu. Ibu menyesal dan meminta maaf. Saya tersenyum mengerti. Beliau hanya tidak ingin saya melewatkan untuk bertemu wanita itu. Dia seorang pramugari, waktunya tidak banyak.
Keesokan harinya saya tak membuang waktu lagi untuk pindah ke rumah baru. Tuntutan pekerjaan mendesak saya untuk segera meninggalkan rumah Ibu. Bukan tak ingin berlama-lama dengannya, sejatinya saya juga masih rindu. Tapi mau bagaimana lagi, saya tak bisa berleha-leha dan mengabaikan amanah hanya karena masalah personal.
Ibu pun ikut mengantar saya bersama Bik Yah. Beliau ingin melihat rupa bangunan yang akan ditinggali putranya. Ibu tak berkata apapun, tapi saya bisa melihat raut kepuasan dalam matanya saat menginjak dan melihat sendiri rumah berukuran cukup besar itu. Ibu juga sempat menginap satu malam di sana, sebelum kembali pulang keesokan harinya.
Semua berjalan dengan baik. Saya disambut ramah oleh penghuni cluster di sana, terutama para ibu-ibu yang terlihat antusias dengan kedatangan saya. Sejujurnya itu membuat saya canggung, tahu sendiri saya bukan orang yang pandai beramah tamah. Tapi demi menjalin hubungan baik, sebisa mungkin saya harus ikut sapa-menyapa dengan mereka.
“Bik, biar saya saja yang belanja. Bibik tulis saja di kertas, apa yang harus saya beli,” ujar saya ketika melihat Bik Yah sibuk berberes. Sebenarnya hal ini ingin dilakukan Ibu kemarin, tapi saya larang karena tak mau merepotkan.
Bik Yah memberi saya list seperti yang diminta. Karena malas ke pasar, jadi saya memilih untuk ke supermarket saja.
Tanpa diduga, di sana saya bertemu salah satu tetangga yang kemarin sempat menyapa. Kalau tidak salah orang-orang memanggilnya Nyonya Halim.
Beliau bersama putrinya yang seorang gadis belia. Saya tidak tahu umurnya berapa karena wajahnya kemudaan sekali. Rupanya cenderung oriental. Saya sempat membantunya membereskan keranjang.
__ADS_1
Sejak hari itu saya kerap mendapat perhatian dari mereka. Terutama gadis itu. Saya tidak buta untuk melihat ketertarikan di matanya. Namun tak begitu saya tanggapi karena mungkin itu hanya gelora seorang remaja yang masih santer-santernya merasakan cinta. Tak lama lagi juga akan hilang kalau bertemu yang baru dan lebih menarik. Itu pikir saya.
Siapa yang menyangka gadis itu begitu gigih tak kenal lelah. Setiap pagi memberi bekal, walau saya tahu itu bukan masakannya. Lalu di sore hari dia akan standby di atas balkon, berteriak melambaikan tangan lengkap dengan senyumnya yang lebar.
Kejutan lainnya ternyata keluarga mereka yang akan berbesanan dengan Ibu. Tirta resmi melamar pujaan hatinya yang merupakan adik dari Tuan Halim, tetangga saya.
Hal itu membuat saya tak bisa menepis kehadiran putrinya yang mengganggu dan merepotkan. Saya malas membuat masalah atau perseteruan kalau-kalau gadis itu mengadu. Walau nyatanya tidak.
Waktu berlalu begitu cepat. Lama kelamaan eksistensinya seolah menjadi kebiasaan. Entah kenapa tak ada lagi rasa kesal saat melihatnya.
Walau hati masih jengah dengan ocehan-ocehan tak penting dari mulut ceriwisnya.
Dia lucu, manis, agak konyol, dan sedikit ceroboh. Tak jarang saya menyaksikan gadis itu terjatuh karena ulahnya sendiri. Manja dan suka menangis karena hal sepele. Itulah definisi yang bisa saya jabarkan tentangnya.
Gadis periang dengan senyum seterang baskara. Rupa yang adiwarna. Mata benderang laksana rembulan. Keunikannya sering kali membuat orang tertawa. Dia gadis yang mudah disayangi. Hidupnya terlalu manis sampai saya takut mencemari parasnya yang murni.
__ADS_1
Saya tidak tahu kapan mulanya desiran itu berlabuh. Kapan rasa peduli itu muncul. Mata yang senantiasa ingin melihatnya. Hati dan pikiran yang mulai bertentangan. Afeksi yang serta-merta hadir tanpa diminta.
Berkali-kali saya berusaha menyangkal, menanamkan dalam hati bahwa itu hanya sebuah bentuk rasa peduli terhadap sesama. Benar. Itulah alasan saya memberinya roti saat di taman. Melihatnya kelaparan membuat saya tergerak melakukannya. Namun Dian memecah semua pemikiran itu. Saya tidak menyangka aksi pengecut itu disaksikan olehnya. Itu pertama kali saya kehilangan muka di hadapan sepupu sendiri.
Entah apa yang membuat saya tak berani menghampirinya sendiri. Setelah berhasil membujuk anak lelaki itu, saya langsung berbalik kembali mengulang lintasan hingga bertemu dengan saudaranya. Itulah alasan mengapa kami bisa terlihat bersama.
Keberadaannya mulai menimbulkan rasa gugup, khususnya kalau gadis itu sudah bersikap agresif seperti berdekatan dan menyentuh saya. Saya orang yang pasif terhadap wanita, tidak pernah sekalipun saya bersentuhan selain berjabat tangan dalam konteks kerja.
Sebisa mungkin saya menjauh dan menghindar. Menurut saya gadis itu terlalu berbahaya karena bisa menghancurkan prinsip yang saya bangun sejak lama.
Pernah sekali saya terpaksa menembus batas karena situasi yang buntu. Saya terdesak kala itu, merasa tak ada pilihan lain selain memanfaatkan keberadaanya.
Namun saya tak memikirkan semua itu akan berbuntut pada kewarasan saya sendiri. Ciuman itu malah membuat saya penasaran dengan rasa bibirnya yang ranum. Akibatnya setan selalu datang menghasut dan menggoda untuk melakukannya lagi. Syukurlah logika masih menguasai.
Tapi lagi-lagi keadaan seakan menguji. Keberadaannya di Cafe cukup mengejutkan. Senyumnya kembali membius dan mengirimkan afeksi tak berdaya. Terlebih saat gadis itu akhirnya terjatuh karena ulah salah satu pelayan. Tanpa sadar saya memaki karyawan sendiri karena menganggapnya ceroboh.
__ADS_1
Melihatnya terpuruk dan disaksikan oleh khalayak ramai membuat hati bergetar tak nyaman.
Perasaan apa ini? Kenapa saya begitu tak tega melihat raut cerahnya yang meredup? Saya bukan tipe orang yang lemah dengan air mata. Tapi, kenapa saya bisa kehilangan kendali hanya karena melihatnya menangis?