SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 182


__ADS_3

Safa termenung menatap meja di depannya. Mulutnya bungkam, tak tahu harus mengatakan apa. Sementara di depannya, Sinta, mantan wali kelas sekaligus mantan istri Edzar tengah bercerita mengenai masa lalu mereka.


"Kami menikah karena dijodohkan. Benar-benar tak saling mengenal sebelumnya."


"Semuanya bermula karena amanah dari almarhum ayah Mas Edzar, ayah mertua saya yang menginginkan kami menikah. Entah apa yang membuat beliau begitu kekeh memaksa kami untuk bersama."


"Tapi, saya pernah mendengar bahwa saat itu Mas Edzar menyukai seorang gadis, namun keduanya tak merestui."


"Akhirnya kami memutuskan menikah meski dalam keadaan canggung. Hingga satu tahun kemudian saya mengandung Dika. Itu pun atas dorongan para keluarga yang sudah santer bertanya soal anak. Sebelumnya kami belum terpikir masalah itu. Karena memang kami masih perlu mengenal satu sama lain."


"Satu persatu ujian dimulai. Kami yang belum sepenuhnya dewasa dan saling mempertahankan ego kerap kali bertengkar. Dulu, ekonomi Mas Edzar belum sebaik sekarang. Sangat jauh jika dibandingkan. Karena saat itu kami juga baru setahun lulus kuliah. Kerja pun belum lama."


"Tapi Alhamdulillah-nya, karir Mas Edzar bisa dengan cepat mendapat kepastian. Dia lulus tes CPNS di salah satu Kejaksaan di Jakarta. Tentu saya ikut senang mendengarnya."


"Namun, karena itu juga Mas Edzar harus hidup berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Yang mau tak mau membuat kami hidup berjauhan."


"Mas Edzar sudah memberi usulan untuk saya supaya mengikutinya saja. Tapi, saya yang keras kepala dan mementingkan ego ingin bertahan di Jakarta. Karena saya pun masih menunggu kepastian CPNS. Terlebih saya sudah terlanjur betah mengajar di Ibu Kota. Berat rasanya kalau harus beradaptasi dengan lingkungan baru."


"Semenjak saya hamil, hubungan kami lumayan cukup dekat. Komunikasi juga tak sekaku di awal-awal. Meski masalah pembicaraan harus saya dulu yang memulai karena sejatinya Mas Edzar orang yang pendiam, tak banyak bicara dan seperti yang kamu tahu, dia agak dingin."


Safa masih mendengarkan dalam diam. Kendati ia tak menampik hatinya berdenyut nyeri mengetahui Edzar pernah berhubungan dengan wanita selain dirinya.


"Semuanya berjalan baik. Sampai saat di mana kandungan saya membesar, Mas Edzar belum sekalipun menengok saya. Hanya sesekali dalam waktu empat bulan. Mungkin karena faktor jarak juga yang membuatnya tak bisa terlalu sering untuk pulang."


"Meski begitu kami masih sering berkomunikasi lewat telpon. Dia pun tak pernah melewatkan kewajibannya mengirimi saya nafkah setiap bulan."


"Tapi tetap, yang saya butuhkan adalah kehadirannya. Perhatiannya yang nyata."


Sinta menghela nafas berat. Ia menunduk sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Saya tidak tahan dengan hubungan kami yang menurut saya belum menemui kemajuan. Hambar seolah tanpa perasaan."


"Hingga pada akhirnya saya khilaf. Kegilaan pun dimulai saat sosok cinta pertama datang menggoda iman." Kini mantan gurunya itu nampak terisak.


Safa tidak tahu harus berbuat apa. Apa dia harus menenangkan? Tapi, entah kenapa bokongnya malas sekali terangkat.


"Perasaan saya mulai terbagi. Apalagi saya menemukan apa yang sangat saya butuhkan dalam dirinya. Pria itu begitu perhatian pada saya. Peduli. Dia pun kerap mengatar saya ke dokter kandungan untuk cek kehamilan. Hingga membuat saya lama kelamaan makin terbuai, dan sedikit melupakan Mas Edzar."

__ADS_1


"Puncaknya ketika dia membuat sebuah pernyataan, bahwa sebenarnya dia juga menyukai saya sejak dulu. Hati saya semakin dilema. Antara harus memilih cinta atau kesetiaan pada suami."


Sinta mendongak. Wajahnya sudah kuyup oleh air mata. "Pada akhirnya saya melakukan dosa paling besar yang pernah saya lakukan dalam hidup. Saya mengkhianati Mas Edzar. Benar-benar mengkhianatinya."


"S-saya ...."


"Saya .... Saya berzina dengan pria itu saat 8 bulan kehamilan," tuturnya mengejutkan Safa. Tentu ia tak bisa menahan diri untuk tidak terperangah mendengarnya.


"Saat itu Mas Edzar baru berangkat kembali ke kota tempatnya berdinas."


"Entah setan apa yang membuat saya tega melakukannya."


"Tuhan menghukum saya dengan kejadian yang tak disangka-sangka. Ketuban saya pecah dini saat berhubungan. Kami yang tidak sadar tetap larut dalam dosa. Hingga saat saya dibawa ke rumah sakit, janin sudah tidak tertolong." Sinta kembali menangis. Wanita itu tersedu meratapi penyesalan terdalam di hidupnya.


"Mas Edzar marah besar. Dia mengetahui perselingkuhan saya. Dan semakin berang saat tahu anaknya meninggal karena kebodohan yang saya buat sendiri."


"Hubungan kami semakin dingin. Bukan lagi, tapi retak dan mustahil bisa diperbaiki."


"Yang tidak saya habis pikir, dia masih bisa berbaik hati dengan menyembunyikan aib itu dari seluruh keluarga."


"Saya tak bisa berbuat apa-apa ketika akhirnya Mas Edzar menjatuhkan talak, menggugat cerai saya tepat setelah keadaan saya pulih pasca operasi."


Safa tersentak saat tiba-tiba Sinta menyentuh tangannya di atas meja. "Ketahuilah, kamu adalah wanita beruntung karena bisa mendapatkan cinta dari Mas Edzar. Dia pria yang sangat baik. Meskipun sikapnya yang diam seringkali membuat orang salah faham."


"Saya sangat bersyukur, Mas Edzar sudah menemukan cintanya, yaitu kamu."


"Saya bisa merasakan cinta yang begitu besar. Perlakuannya sangat berbeda terhadapmu. Dia berubah menjadi pria yang diidamkan para wanita di luar sana, termasuk saya yang dulu."


"Dia tak pernah seperhatian itu pada saya dulu. Tidak juga menatap saya selembut ia menatapmu. Mas Edzar yang sekarang, seolah menumpahkan semua perasaannya sama kamu."


"Kamu beruntung Safa. Saya bahkan harus menghabiskan satu tahun kebersamaan untuk bisa membuatnya menatap saya lebih dari 2 detik. Mas Edzar sangat sulit didekati. Dia pria dengan benteng pertahanan terkuat yang pernah saya kenal. Sampai-sampai saya pernah mengira bahwa dia tidak tertarik pada wanita."


"Ternyata saya salah. Mas Edzar hanya belum menemukan wanita yang tepat untuk menjadi wadah mencurahkan seluruh isi hatinya."


"Tapi sekarang dia sudah menemukannya. Kamu adalah wanita yang dia pilih."

__ADS_1


"Percayalah, Safa. Mas Edzar sangat mencintaimu. Kendati dia tidak jujur mengenai hubungan kami sebelumnya, itu karena dia berniat memberitahunya setelah kamu selesai terapi. Psikolog kamu, Rey, pernah berkata bahwa kamu sangat tidak dianjurkan untuk mendapat tekanan dalam masa terapi."


"Untuk itu, hal ini menjadi kebimbangan baginya. Mas Edzar menjadi serba salah. Pada akhirnya kamu tahu juga dari Ibu."


"Saya mengatakan ini bukan untuk membelanya, tapi memang seperti itu kenyataannya. Rey sudah cerita semua pada saya, mengenai permasalahan kalian."


"Makanya, di sini saya merasa memiliki kewajiban untuk ikut menjelaskan."


Kening Safa berkerut. "Bu Sinta mengenal Kak Rey?" tanyanya penasaran.


Sinta tersenyum. "Kebetulan dia adik tingkat saya saat kuliah. Kami masih kerap beberapa kali bertemu dalam kesempatan kerja."


"Saya tahu kamu menikah dengan Mas Edzar juga dari dia."


Begitu?


Safa tak banyak menanggapi. Bukan tanpa alasan, sejak tadi dia menahan pening dan rasa tak enak di perutnya. Semakin lama semakin tak nyaman. Hingga dia tak bisa menahan ringisan.


"Safa? Kamu kenapa?"


Safa menggeleng. Dia juga tidak tahu. Setahunya ia tak punya riwayat sakit maagh yang parah. Tapi, kenapa perutnya sakit sekali?


"Awh ...." Keringat dingin mulai mengucur di dahinya.


Sinta panik. Dia bangkit dari duduk dan menghampiri muridnya itu. "Safa? Hey!" Ia berteriak dan refleks menahan tubuh Safa yang limbung dari kursi.


"Tolong ...!"


"Ai!" Edzar yang baru menyusul selepas membersihkan makam, terkejut melihat istrinya yang pias dan hampir pingsan. Dia segera mengambil alih tubuhnya dari pelukan Sinta.


"Ai, Ai kamu kenapa? Bangun, Sayang!" seru Edzar menepuk pipi sang istri. Wajahnya panik luar biasa.


"Bawa ke rumah sakit aja, Mas." Salah satu pengunjung mengusulkan.


Edzar mengangguk. Lantas segera membawa Safa ke mobilnya dan gegas mencari rumah sakit, atau setidaknya klinik, puskesmas, apapun yang bisa menjadi pertolongan pertama.

__ADS_1


__ADS_2