SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 157


__ADS_3

"Asyhadu allaa ilaaha illallah, waasyhaduanna Muhammadar Rasuulullah ..."


"Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad."


"Usikum bitaqwallah. uzawwijuka alama amarollohu bihi min imsakin bimakrufin autasrihiin bi ihsan ...."


"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Edzar Adhyaksa bin Raksa Manggala, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Safana Halim kepada Ananda dengan mas kawin berupa uang sebesar delapan juta dua ratus dua puluh dua ribu rupiah, dibayar tunai." Tuan Halim mengucapkan kalimat itu dengan lamat dan getar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Safana Halim binti Bapak Surya Halim untuk diri saya dengan mas kawin tersebut, tunai." Edzar menyahut dengan satu tarikan nafas.


"Para saksi, sah?"


"Sah!"


"Alhamdulillah ....."


Safa mendengar semua itu dari dalam kamar. Dia termenung, duduk di pinggir ranjang dengan pandangan kosong ke depan, menatap marmer putih di bawah kakinya nanar.


Ini seperti mimpi. Safa masih tidak percaya hal ini benar-benar terjadi. Benarkah, apa semuanya nyata. Rasanya terlalu tiba-tiba. Safa pikir, peristiwa ini akan terjadi sekitar satu atau dua tahun lagi.


Baru beberapa saat lalu Edzar melamarnya, lalu sekarang serta-merta Safa sudah menjadi istrinya.


Istri. Kata itu membuat hatinya berkecamuk. Sungguh, tak ada yang bisa menebak permainan takdir. Dari mulai lamaran yang sempat dia kira akan gagal, kemudian Tante Dyah yang tiba-tiba datang, membawa segenap restu dengan syarat yang tak terbayangkan.


Beliau ingin dia dan Edzar menikah malam ini juga. Tapi, kenapa? Bukankah sebelum-sebelumnya Tante Dyah menentang keras hubungan mereka? Kenapa tiba-tiba begini?


"Dosakah jika aku tertawa?" tanya Renata setengah berbisik, pada Rizkia yang juga bertugas menemani Safa di kamar selama ijab qabul dimulai.


Rizkia menyenggolnya, meletakkan jari telunjuk di depan bibir, memberi isyarat untuk Renata diam.


Namun Renata tak menghiraukan, dia tetap menyuarakan isi hatinya meski dengan suara pelan. "Tadi dia nyuruh Om Edzar kembali kalau sudah dapat izin dari ibunya. Sekarang, giliran direstuin dan dinikahin, malah murung begitu. Maunya apa ini anak?"

__ADS_1


"Safa hanya terkejut," ucap Rizkia hampir tak terdengar. "Kalau aku di posisinya, pasti juga akan seperti itu."


Renata mengangguk faham, "Memang, sih, aku aja gak nyangka dia akan berubah status secepat ini. Perasaan kemarin masih jomlo. Lah, sekarang udah jadi bini orang aja."


"Parahnya, yang jadi calon suaminya adalah calon Om kita sendiri ...." lanjut Renata terkikik.


"Sekarang bukan calon. Sepertinya akad sudah selesai. Bentar lagi Tante Sofi pasti ke sini."


Safa tak menghiraukan ocehan kedua sepupunya. Dia mendengar, namun hanya diam. Rasanya enggan membuka mulut sebentar saja, tubuhnya seolah lemas tak bertenaga.


Jika Edzar berniat memberinya kejutan, pria itu sangat, sangat berhasil. Bukan hanya meminang, tapi langsung dihalalkan saat itu juga.


Entah Safa harus memberi respon seperti apa. Perasaannya campur aduk. Tidak tahu senang, sedih, atau menyesal. Ketiganya sulit Safa fahami.


Senang, karena menikah dengan Edzar adalah sesuatu yang ia impikan saat pertama kali melihat pria itu. Menurutnya, Edzar merupakan satu dari sekian pria yang masuk dalam kriteria calon suaminya saat itu. Sebagai catatan, dulu Safa memandang Edzar secara fisik. Seperti yang sudah diketahui bahwa Safa pecinta pria tampan.


Tapi, Safa juga sedih. Sebenarnya dia belum cukup siap untuk menikah. Safa pikir dia masih muda, masih banyak yang ingin dia lakukan.


Beberapa orang mengatakan, jika kita sudah menikah dan terikat dengan seseorang semuanya akan berbeda. Apapun yang hendak kita jalani harus sesuai persetujuan pasangan.


Lalu, apa dia harus menyesal? Tentu itu tak masuk akal. Safa mencintai Edzar, tapi entah kenapa ada secuil rasa tak tenang menghinggapi hatinya. Safa takut tidak bisa menjadi istri yang baik bagi pria itu.


Safa khawatir tak mampu mengimbangi Edzar sepenuhnya. Umur mereka terpaut sangat jauh. Tahun ini Safa baru menginjak 23. Sementara Edzar, beberapa bulan lagi lelaki itu berulang tahun yang ke 35.


Dunia Safa dan Edzar jelas berbeda. Dan Safa tak menampik dia takut kehilangan zona nyamannya. Dia tidak ada persiapan untuk ini. Terlepas dari lamaran tak terduga, Safa lebih tergemap oleh statusnya yang kini sudah berubah.


Cklek.


Seseorang membuka pintu. Nyonya Halim masuk dengan hati-hati. Matanya tampak merah dan sedikit sembab. Terlihat sekali wanita itu baru saja menangis.


Kaki jenjangnya melangkah mendekati Safa yang terduduk di atas kasur. Sebelumnya dia memberi isyarat pada Renata juga Rizkia untuk segera bersiap, membantunya memboyong Safa keluar. Mereka berdua mengangguk, lantas membiarkan ibu dan anak itu menghabiskan waktu sebentar.

__ADS_1


"Safa?" panggil Nyonya Halim sembari mendudukkan diri di sampingnya.


Safa tak menyahut, namun matanya berkaca, pun bibirnya bergerak mengatup.


Nyonya Halim memeluknya dari samping. Saat itulah air mata yang sejak tadi ditahannya jatuh meluncur. Safa tergugu, dia merangsek ke pelukan sang bunda yang turut menangis di balik bahunya. Acap kali tangannya mengusap punggung Safa yang bergetar.


"Ssshht .... Anak Bunda udah gede, udah sah jadi istri orang."


Safa semakin tersedu. Rizkia dan Renata yang melihat itu hanya diam, tak berani mengusik suasana haru antara keduanya. Keheningan menyelimuti sepenjuru kamar, hanya diisi suara Safa yang sesenggukan.


Tak berapa lama Nyonya Halim menjauhkan tubuhnya. Tersenyum seraya mengeringkan wajah Safa dengan tisu. "Untung make up-nya waterproof," selorohnya berniat memecah ketegangan. "Ayo, kita keluar. Suami kamu sudah menunggu."


Safa termangu. Suami? Edzar suaminya sekarang?


Fakta itu membuatnya menelan ludah.


Safa hanya bisa pasrah kala sang bunda juga sepupunya menggiring dia keluar. Letak kamar ini tepat di samping ruang depan yang menjadi tempat acara. Safa semakin deg-degan seiring kakinya mendekati pintu.


Dia menarik nafas banyak-banyak ketika benda itu terbuka secara perlahan. Seluruh mata mengarah padanya begitu kaki Safa menginjak area luar kamar.


Safa menunduk tak berani mendongak. Tangannya saling bertautan di depan tubuh. Dia luar biasa gugup. Terlebih, Safa bisa merasakan sepasang mata itu menatapnya lekat.


Nyonya Halim mendorong pelan tubuh Safa, sedikit memaksa untuk gadis itu kembali berjalan. Meneguk ludah kasar, Safa melangkah mendekat pada sekumpulan orang di tengah ruangan itu.


Terasa begitu cepat, sekonyong-konyong dia sudah sampai di depan sebuah meja yang ia tahu menjadi arena ijab qabul tadi. Safa masih setia menunduk kala tubuh jangkung itu bangkit berdiri di hadapannya. Mengulurkan tangan dengan maksud agar Safa menyalaminya.


Safa terdiam sesaat, tubuhnya mematung, menatap lekat tangan itu. Beberapa detik berlalu sampai akhirnya Safa menyambut ragu-ragu, menunduk, mencium takzim punggung tangan dari seseorang yang sekarang sudah resmi menjadi imamnya.


Safa pasrah kala Edzar meraih dagunya untuk mendongak. Sejurus kemudian sebuah kecupan mampir di permukaan kening, cukup lama. Lelaki itu membaca sebait doa yang Safa tidak fahami artinya.


Kemudian menjauh. Lelaki, atau yang sekarang bisa Safa sebut sebagai suaminya itu tersenyum. Mata kelamnya berpendar lembut, dan Safa bisa melihat pupilnya yang memerah seperti habis menangis.

__ADS_1


"Istriku," bisiknya singkat, namun mampu membuat hati Safa bagai diterjang badai dahsyat.


Edzar Adhyaksa. Pria dingin yang sempat mati-matian ia kejar, kini telah sah mempersuntingnya sebagai istri.


__ADS_2