SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 172


__ADS_3

"A Uda ...." Safa tertegun menatap benda berkilau yang baru saja Edzar sematkan di jari manisnya, menggantiakan sebuah cincin yang sebelumnya terpasang di sana.


"Kenapa ...."


"Sejak awal yang kamu pakai itu cincin tunangan. Cincin nikahnya ini, baru jadi kemarin."


"Kamu suka?"


Safa mengangguk. Modelnya sama-sama simpel, tapi lebih mewah dari yang sebelumnya.


Edzar mengelus cincin itu, "Di sini juga ada nama kita."


Safa mendongak menatap Edzar. Dengan penasaran dia lepas cincin itu dan meneliti bagian dalamnya. Benar, terdapat ukiran Safazar di sana. Edzar mengambil cincin itu dari tangan Safa, memasukkannya kembali ke jari manis sang istri.


"Pakein." Dia menyerahkan satu lagi cincin yang ukurannya lebih besar. "Karena Uda gak bisa pakai emas, jadi punya Uda dibuat dari platinum," jelasnya tanpa diminta.


Safa memasukkan cincin itu ke jari manis Edzar yang panjang. Kini benda sepasang itu tersemat indah di tangan keduanya. Edzar tersenyum seraya memberi kecupan singkat di bibir Safa. Mengeratkan pelukan di bahunya yang mungil.


Badan boleh mungil, tapi ukuran dadanya sangat menantang. Dan Safa mengerti apa yang Edzar pikirkan ketika mata kelam itu menurunkan pandangan ke bawah.


Segera dia cubit perut Edzar yang dibalut kaos putih serasi dengannya. "Jangan macam-macam, ya. Ini kita lagi di tempat asing, lho."


"Memang kenapa?" tanya Edzar dengan dahi berkerut.


"Pake nanya lagi. Rumah ini belum dingajiin. Masih banyak setannya tau."


Seketika Edzar tertawa. Kepalanya terlempar ke belakang, bersandar sepenuhnya di sofa yang mereka duduki. Selepas melihat-lihat ruangan di atas Edzar langsung mengajak Safa ke ruang tengah yang memang sudah ada sofanya, karena wanita itu sempat mengeluh pegal berjalan-jalan terus.


"Kok, ketawa, sih? Safa serius tau."


"Iya, Sayang. Nanti kalau udah mau ditempatin kita adzanin dulu." Berbanding terbalik dengan ucapannya, pria itu masih menahan geli.


Bukannya apa, sejak tadi Safa tiada henti membahas hantu. Karena keparnoannya yang berlebih itu, Safa jadi tidak mau lepas dari sisi Edzar barang sedetik saja.


Prak!


"Omo!" Safa langsung loncat ke pangkuan Edzar. Memeluk leher sang suami dan menggelayutinya seperti anak monyet.


Kontan tubuh Edzar bergetar menahan tawa. Dia melirik Safa yang membenamkan wajah di ceruk lehernya. "Apa sih, Sayang? Uda gak sengaja tendang meja." Bohong. Kenyataannya dia sengaja menakuti Safa.


Habisnya gemas. Entahlah, ada keseruan tersendiri menjaili wanita itu. Padahal, Edzar bukan tipe orang yang senang bercanda. Safa seolah membawanya ke dunia yang berbeda.

__ADS_1


"Kalau kamu begini terus, jangan salahkan Uda jika mengajak bercinta di sini."


Tanpa diduga Safa menggigit bahu Edzar. Harapannya membuat pria itu kesakitan, tapi emang dasar kulitnya seliat baja, bukannya sakit, Edzar malah kegelian.


"Sengaja 'kan? Seneng banget liat Safa takut." Safa merengut menjauhkan wajah. Dia turun dari pangkuan Edzar, kembali duduk di samping pria itu.


Edzar mendekat, mengecup kilat bibir Safa yang mengerucut. "Kamu gemesin. Uda suka."


"Gak usah nakal tangannya! Safa laper tau!" Safa menepis tangan Edzar yang hendak mampir di dadanya.


Pria itu menjauh setelah mencuri satu ciuman lagi. Safa benar-benar harus sabar saat wajahnya berkali-kali tergores jambang.


"Mau makan apa? Pesan saja, ya?" tanya Edzar seraya mengeluarkan ponsel.


"Safa mau ayam geprek."


"Oke, ayam geprek. Minumnya mangga?" tebak Edzar yang sudah tahu benar kesukaan istrinya itu.


Safa mengangguk. Edzar memperlihatkan beberapa jenis minuman mangga pada Safa.


"Es jelly mangga," tunjuk Safa pada salah satu menu. "A Uda mau apa?"


"Mau kamu."


"Serius. Uda maunya makan kamu," ucap Edzar sambil mengu*lum senyum.


"Tau ah!" Safa bangkit, menghentak kakinya meninggalkan Edzar.


"Ai, mau ke mana?"


"Taman!"


"Yakin? Tadi Uda lihat sesuatu di dapur."


"A Uda!!" jerit Safa. Mulai kesal dengan kejailan Edzar.


"Apa? Memang benar, tadi Uda lihat kompor di dapur."


Dan siang itu entah berapa kali Safa dibuat manyun. Dia sampai bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan suaminya berubah jadi usil. Apa memang sifat aslinya seperti itu? Mungkin ini sisi lain Edzar yang baru Safa ketahui.


Pulang dari melihat rumah, Safa dibuat terkejut dengan keberadaan sang ayah di vila. Beliau sedang bercengkrama dengan Bunda di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ayah? Kata Bunda pulangnya antara Senin Selasa?" tanya Safa heran. Kendati begitu dia tetap menyalami Tuan Halim, mengikuti Edzar yang berinisiatif melakukannya duluan


"Pekerjaan Ayah selesai lebih cepat dari dugaan. Jadi daripada lama-lama di sana, ya mending pulang."


"Kalian habis dari mana?"


Safa menoleh pada Edzar. Edzar yang peka pun segera menjawab. "Habis lihat rumah, Ayah. Kebetulan baru selesai direnov. Tinggal isi perabotan dan menyempurnakan beberapa sudut seperti halaman belakang dan taman."


"Rumah yang kamu beli untuk Safa itu?"


Edzar mengangguk. "Benar, Ayah."


Sementara Safa tampak mengerutkan kening. "Ayah sudah tahu soal rumah itu?"


"Tahu. Edzar sudah bicarakan tepat setelah kalian menikah."


Begitu? Jadi dia selalu tahu belakangan. Safa segera menggeleng. Edzar 'kan sudah bilang itu kejutan.


"Berarti A Uda sudah siapkan rumah itu sejak lama, ya? Gak mungkin secepat itu direnov. Sementara kita nikahnya beru kehitung seminggu."


Edzar menoleh, tangannya terulur mengusap kepala Safa. "Renovasinya gak banyak. Karena memang asalnya rumah itu masih terbilang baru. Uda juga bayar lebih tukangnya supaya cepat. Semuanya oke, sih, cuman sebagian besar catnya Uda ganti."


Safa mengangguk-angguk. Pantas tadi dia lihat beberapa percikan cat yang belum dibersihkan di lantai.


Obrolan berlanjut antara Ayah dan Edzar. Safa hanya diam mendengarkan. Merasa tak mengerti dengan pembicaraan menyangkut bisnis dan politik. Hadeh, kenapa rata-rata pria yang Safa kenal sangat senang dengan topik seperti itu. Kaku. Bikin ngantuk.


Hebatnya, Nyonya Halim bisa masuk dalam pembicaraan mereka. Wah, daebak memang bundanya itu.


Tiba-tiba Edzar menoleh. "Ngantuk?"


"Hm?"


"Ke kamar, gih. Tidur duluan saja gak papa," ujarnya halus.


Safa yang tidak tahan pun menurut. Dengan gontai dia menaiki tangga menuju kamar. Sebelum itu Edzar mengingatkan untuk membersihkan diri terlebih dulu, yang lantas Safa angguki dengan lemah. Matanya benar-benar 5 watt.


Entah sampai jam berapa mereka berbincang. Memang, ya, kaum bapak-bapak kalau sudah ketemu teman ngobrol yang asik, setidaknya sejalan dengannya pasti suka lupa waktu.


Hayo, siapa yang begini juga? Saat bapak kalian kedatangan tamu sesama pria, bahkan yang baru kenal sekalipun pasti ngobrolnya lama. Kalau dari magrib bisa sampai tengah malam.


Kadang Safa suka heran. Apa saja yang mereka obrolin. Udah gitu ada saja bahan obrolannya.

__ADS_1


Safa tidak tahu dia sudah tidur berapa lama. Yang pasti samar-samar dia bisa merasakan kecupan di kening juga bibir. Setelahnya guling yang ia peluk tadi berganti dengan tubuh kekar nan hangat yang berbau segar. Sepertinya Edzar baru selesai mandi. Kontan saja dia semakin merangsek membaui harum maskulin itu. Hingga kegelapan menelannya kembali ke alam mimpi.


__ADS_2