
"Tirta, kamu gemukan, ya? Kok, sempit, sih?"
"Masa, sih?"
"Ya itu, ukurannya jadi gak pas gitu. Masa bajunya yang menyempit?"
Tirta mengusap lehernya sembari menunduk, melihat kemeja yang dipakainya memang ngepas sekali di badan. Beberapa kancing tidak bisa masuk ke lubangnya. Tirta meringis, sepertinya benar berat badannya naik.
"Hahaha... Tirta... Tirta. Orang lain diet kalau mau nikah. Ini malah ngegedein badan."
Reno menggeleng-geleng kepala melihat adiknya yang mati kutu di depan Sang Ibu. Tirta mendelik mendengar dirinya tengah diejek. Sebenarnya dia merasa malu dan agak tersinggung karena dibilang gendutan. Tapi apa mau dikata, itu memang kenyataan.
"Gak papa, Mas. Nanti bisa dibesarin lagi, kok, ukurannya."
Tirta mengangguk pasrah. Sepertinya mulai besok dia harus lebih giat nge-gym. Tirta tak munafik ingin badannya bagus saat menikah. Dia tak mau perutnya opset dan membuat istrinya tak bergairah saat malam pertama.
Dyah membantu sang anak melepas pakaian kekecilan itu, memberikannya lagi pemilik butik.
"Ren, Edzar mana? Dia belum coba bajunya."
"Baru nyampe katanya, Bu. Masih di depan kayaknya."
"Mas, cantik, gak?" Dona muncul dari ruang ganti bersama Citra, anaknya.
Reno menoleh dan seketika berdecak kagum melihat mereka. "Subhanallah... dua bidadari Papa cantik banget. Kayak baru turun dari khayangan," ujarnya sedikit dilebih-lebihkan.
Berbeda dengan Dona yang menggeleng menanggapi gurauan suaminya, Citra berseru riang sambil jingkrak-jingkrak kesenangan. Gadis empat tahun itu menghampiri ayahnya untuk memberi ciuman di pipi. Reno terkekeh mendapat hadiah itu. Dia balas menciumi Citra dengan gemas sampai gadis itu terpingkal kegelian.
"Mas, ih, udah. Nanti ngompol anaknya," tegur Dona melihat Citra yang mulai kewalahan dan meronta-ronta.
Reno tertawa melepas pelukannya. Citra langsung lari memeluk Dona, "Mama, Papa nafsuan," celetuknya.
Dyah, Tirta, dan pemilik butik yang berdiri tak jauh dari mereka menoleh serentak. Sedangkan Dona melotot pada Reno yang saat ini memasang wajah tanpa dosa. Dari mana Citra mendapat kosa kata seperti itu?
Reno menggaruk belakang kepala yang sebenarnya tidak gatal. Bibirnya meringis pelan tatkala mendapati seluruh tatapan mengarah padanya.
"Memang nafsuan itu apa, Cit?" Tirta berjongkok di hadapan Citra sembari matanya melirik Reno dengan cengiran jahil.
Dengan polos, Citra berkata, "Papa suka cium-cium Mama kayak tadi. Terus, Mama bilang Papa nafsuan. Memangnya kenapa, Om? Papa emang nafsuan 'kan?"
Pfft...
Tirta berusaha keras menahan tawa. Jangan tanya wajah ibunya sudah seperti apa. Wanita itu menatap anak dan menantunya dengan wajah siap mengomel.
Dan benar dugaannya, Dyah serta-merta menegur Reno dan Dona yang kini menunduk malu. "Kalian bermesraan di depan Citra?"
Mampus, batin Tirta. Dia membawa Citra sedikit menjauh dengan dalih mengajaknya melihat-lihat pakaian anak.
Sepasang suami istri itu tak bisa menjawab. Mereka tak menyangka aktivitasnya selama ini disaksikan oleh sang anak. Tapi Reno yakin tidak sampai urusan ranjang. Soal itu dia dan Dona selalu mengusahakan melakukannya di dalam kamar, dan terkunci.
"Dona, Reno. Kalian itu sudah dewasa, ada anak di antara kalian. Jangan terlalu mengumbar kemesraan. Setidaknya di depan Citra. Kalian juga harus menjaga ucapan. Anak sebesar itu masih suka meniru-niru tanpa tahu mana yang baik dan mana yang tidak untuk diucap."
"Ibu tidak mau lagi mendengar Citra berkata hal-hal seperti tadi. Tidak sopan. Jadi kalian harus ekstra berhati-hati. Ingat itu," tegas Dyah membuat Reno maupun Dona tak mampu membantah. Karena memang mereka yang salah.
Tak lama setelah itu Edzar datang, bersamaan dengan keluarga Halim yang juga baru sampai. Miranti menyalami Dyah dan mengobrol sebentar. Begitu pula Oma Halim yang berstatus sebagai calon besan. Lalu ada Tuan dan Nyonya Halim serta Dava dan para sepupunya, Renata dan kawan-kawan. Yang lainnya sebagian memilih menyusul belakangan karena berbagai suatu hal.
Mereka mencoba pakaian untuk seragaman acara nikahan nanti. Miranti, sang calon pengantin begitu antusias saat melihat beberapa kebaya modern yang dijahit khusus untuknya. Tirta pun tak lepas mengagumi calon istri yang sebentar lagi akan dia halalkan.
"Gen Halim memang tidak perlu diragukan, ya? Para wanitanya paripurna," ucap Bu Ani—pemilik butik—saat melihat Miranti dan keponakan-keponakannya keluar dari ruang ganti.
Oma Halim mengibas, namun ada senyum kebanggaan di wajahnya. "Bu Ani bisa saja. Mereka itu penggila perawatan. Hahaha...."
"Beda, Oma. Ini ada plus-nya cantik dari lahir. Makanya saya bilang paripurna."
"Udahlah, Oma... kita emang cantik, kok. Tak ada gunanya mengelak," celetuk Renata mengundang tawa orang-orang.
Liliana, Rizkia, dan Elina hanya menggeleng menanggapi kepercayaan diri Renata yang memang setingkat lebih tinggi dari mereka.
Tiba-tiba Bu Ani mengernyit, matanya menyisir satu persatu keluarga Halim di sana. "Tapi, sepertinya ada yang kurang, ya? Yang mata sipit, kok, gak ada?"
"Oh... Safa? Dia sekarang lagi sibuk kejar endorse. Biasa lah, Bu, selebgram." Renata sedikit agak sombong saat mengatakan itu. Sengaja, niatnya memang mau membanggakan Safa di hadapan seseorang. Matanya melirik pada Dyah. Tentu saja Dyah tak menyadarinya.
__ADS_1
Renata memang sudah tahu tentang Dyah yang tidak menyukai kedekatan Edzar dan Safa. Bahkan dia tahu sikap keterlaluan Edzar yang membuat Safa patah hati. Bukan Safa yang menceritakannya dengan sukarela, tapi Renata lah yang memaksa. Safa itu sedikit tertutup jika masalah hati. Dia memang ceria, namun cenderung suka memendam sendiri perasaannya.
Sebenarnya bukan hanya Renata. Rizkia, Liliana dan Elina pun tahu. Awal mula mereka curiga adalah ketika Safa meminta penghapusan grup Projek Cinta Safa. Dari sanalah semuanya tahu ada yang tidak beres. Dan saat itu juga mereka memaksa Safa untuk bercerita.
Mendapati fakta bahwa Edzar melontarkan kata-kata menyakitkan seperti itu membuat mereka marah. Setengah tak percaya sebenarnya. Karena yang mereka tahu Edzar itu pria dengan karisma yang tinggi. Mustahil pria itu merendahkan orang dengan mulutnya. Tapi melihat Safa menangis sehebat itu mau tak mau membuat mereka percaya. Tak mungkin Safa menangis tanpa sebab, kan?
"Oh, gitu? Padahal dia yang paling saya tunggu. Sekalian mau suruh iklan. Hahaha...." Bu Ani menutup mulutnya dengan tangan, tertawa anggun sesuai karakternya yang lemah lembut. "Ya, Pak, ya? Kapan-kapan saya pinjam anaknya buat promosi," seru Bu Ani pada Tuan Halim yang entah sedang berbincang apa dengan istrinya.
Tuan Halim menoleh dan mengangguk ramah, "Tentu, Bu. Kalau anaknya gak keberatan, saya boleh-boleh saja."
Sebenarnya pikiran Tuan Halim sedang merasa sedikit terganggu. Pulang dari luar kota dia langsung dihadapkan dengan prubahan Safa yang menurutnya sangat mendadak. Dia merasa putrinya tak sama lagi. Memang masih manja, tapi ada yang berbeda. Dan itu sangat mengganggu.
Nyonya halim yang menyadari keresahan sang suami mengusap pelan lengan kekar itu. Membuat si empunya menoleh dan tersenyum hangat.
Ketimbang Tuan Halim, Nyonya Halim sebagai ibu lebih menyadari perbedaan pada putrinya. Safa jadi lebih banyak diam dan sangat jarang berteriak-teriak seperti biasa. Gadis itu seperti tengah menahan sesuatu. Entah apa, yang pasti ia berharap semuanya menjurus pada hal positif.
Safa yang mulai tertarik mencari uang, beraktivitas di luar, menurutnya itu sebuah gebrakan yang bagus bagi kehidupan sosial putrinya. Selama ini Safa lebih senang menghabiskan waktu di rumah. Pasif dan tak ada semangat. Apapun yang membuat Safa berubah, Nyonya Halim tetap mensyukurinya.
"Dava, punya kamu gimana? Pas?"
Dava mengangguk menjawab pertanyan bundanya.
Satu persatu dari mereka mencoba pakaian yang sudah dijahit dengan berbagai desain keinginan masing-masing. Termasuk Edzar yang kini sudah berganti lagi dengan baju semula.
Pria itu berdiri di sisi jendela, menatap lurus jalanan di bawah sana. Mengamati hilir mudik kendaraan sembari menunggu semuanya selesai.
Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Edzar menoleh dan menemukan Reno berdiri dengan Citra di gendongannya. Gadis itu tertidur pulas. Tak heran karena hari memang sudah gelap.
"Gak ditaruh sofa aja? Citra berat kali," ucap Edzar menatap heran saudaranya.
"Lagi rewel, bangun terus kalo dilepas."
"Memang berat, sih. Tapi tak seberat rasa rindu yang terpendam. Ya, kan?" Reno menaik turunkan alisnya menatap Edzar. Sudut bibirnya menyeringai lebar. "Ngaku aja, deh. Abang lagi mikirin seseorang, kan? Siapa, nih? Safa, ya?" Suaranya berbisik saat menyebutkan nama itu.
Sedikit banyak Reno tahu mengenai Safa yang berusaha keras mendekati Edzar. Tapi hanya sebatas itu, tentu Reno tidak tahu sudah sedekat apa mereka sebenarnya.
"Ngomong-ngomong, gadis itu masih deketin Abang?"
Tak ada jawaban. Reno melihat Edzar mengangkat tangan mengusap pelan kepala Citra.
"Bang."
"Hmm."
"Abang ada masalah sama keluarga Halim?"
Kening Edzar berkerut, "Masalah apa?"
Reno mengangkat bahu, "Aku hanya merasa ganjil sama keponakan Mbak Miranti. Kalau lihat Abang tuh tatapannya gimana banget. Kayak nyimpan dendam gitu, lho Bang."
"Keponakan yang mana?"
"Itu, lho. Yang empat itu. Safa juga deket sama mereka."
Iyalah deket. Kan sodaranya.
Edzar nampak terdiam sejenak, sebelum bergumam 'oh' sambil mengangguk.
"Oh iya, tadi aku sempat lihat Instagram Safa. Ck, pantas gak ke sini, orang lagi pacaran." Reno terus mengoceh tanpa tahu raut Edzar yang sedikit berkerut.
"Pacaran?" lirih Edzar pada diri sendiri. Namun ternyata Reno mendengar dan mengira pertanyaan itu untuknya.
"Iya, pacaran. Dan kalau diingat-ingat aku pernah ketemu mereka di Cafe. Aku juga sempet kirim foto, deh, ke Abang. Ingat, gak?"
"Foto?"
"Hmm. Itu pun kalau Abang belum hapus."
"Nih. Cowok ini." Reno menunjukkan postingan Safa di handphone-nya. "Cakep, sih. Kayaknya seumuran."
"Bagus, deh. Kasihan daripada ngejar-ngejar Abang mulu. Sia-sia. Dia bukan tipe Abang. Ya 'kan?" Reno berucap santai sembari memberi kecupan di rambut putrinya.
__ADS_1
Edzar melengos menatap kembali ke luar, matanya terlihat menerawang. Sekilas memang biasa saja, tapi Reno tahu Abang sulungnya itu tengah memikirkan banyak hal.
"Aku dengar, Ibu kenalin Abang sama seseorang?" tanyanya memulai pembicaraan.
Edzar terdiam, seolah enggan untuk menjawab.
"Kemarin Dona sempat mengobrol sama Ibu. Sempat juga melihat fotonya. Cantik, terpelajar, dewasa. Sesuai kriteria Ibu. Apalagi yang Abang tunggu?"
Hening. Reno mengayun-ayun tubuh Citra di pelukannya karena gadis itu sempat melenguh.
Terdengar helaan nafas berat dari Edzar, "Entahlah. Belum srek aja."
Reno menatap abangnya dari samping, mengamati ekspresi Edzar yang tenang. Edzar itu pendiam, sulit untuk akrab dengan orang apalagi wanita.
"Karena Abang gak benar-benar menjalani pendekatan. Kalau Abang serius, Insyaallah hati Abang akan terbuka."
"Kamu tidak mengerti," bisik Edzar.
"Apa yang tidak aku mengerti? Apa Abang menyukai orang lain? Atau ini berhubungan dengan masa lalu?" tanya Reno menggebu.
Edzar menggeleng, "Sama sekali bukan."
"Lalu apa? Apa yang membuat Abang ragu-ragu begini?"
"Atau memang benar, sudah ada seseorang di hati Abang?"
Kali ini Edzar menoleh dengan pelan. Matanya lekat menatap Reno yang kini sedikit membuka bibirnya. Diamnya Edzar membuat Reno yakin dengan satu kesimpulan.
"Jadi benar?" tanya Reno lamat. "Siapa?" bisiknya lagi.
Lama tak menjawab, suasana diisi keheningan. Sampai sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.
"Edzar, Reno. Ayo, pulang. Yang lain sudah turun." Dyah berdiri beberapa meter di ujung sana.
Sekilas ia melihat Edzar yang mematung. Kemudian bibirnya melempar senyum pada sang putra sulung. Edzar membalas tatapan ibunya, lalu beranjak mengekori Reno yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Edzar menyetir dalam senyap. Dyah duduk di sampingnya dengan pandangan lurus mengarah ke luar. Sang Ibu berencana menginap kembali di rumahnya. Edzar tak keberatan, malah dia senang karena merasa ada teman. Edzar hanya jemu kalau ibunya sudah membicarakan Liandra, dan ujung-ujungnya akan membahas pernikahan.
Jujur, dia sedikit merasa tertekan. Di sisi lain perasaannya tengah berkembang pada Safa. Namun di sisi lain juga ibunya tak berkenan. Entah alasan apa yang mendasari ketidaksukaan sang ibu pada gadis itu.
Ada satu hal lagi yang memberatkan hatinya. Bisa dibilang ini ketakutan terbesar Edzar saat ini.
Keamanan Safa.
Sampai sekarang Edzar masih belum yakin dan tenang. Entah kenapa dia merasa semuanya tak semudah yang ia pikir. Jangan sampai usahanya untuk menjauh selama ini berakhir sia-sia. Edzar sudah mengorbankan perasaannya. Kebencian Safa juga ia peroleh dengan sukarela.
Lalu, apa Tuhan masih ingin memberi ujian?
Edzar memelankan laju mobilnya ketika memasuki gerbang perumahan. Pendar kekuningan mendominasi setiap pinggir jalan yang ia lewati. Senja sudah beranjak malam.
Pukul 21:19.
Cukup larut. Terlebih bagi seorang gadis yang entah baru pulang dari mana. Mata Edzar memaku pada dua orang di sepan sana. Safa yang baru turun dari sebuah motor bersama seorang pria yang sepertinya tampak familiar. Edzar ingat pria itu yang pernah menjemput Safa tempo hari. Dan Edzar baru sadar dia juga orang yang sama dengan pria di foto yang Reno tunjukkan tadi.
Apa mereka memang pacaran?
Sesuatu merenyut dalam dadanya. Edzar berusaha menelan ludah dan terlihat santai di depan sang ibu. Ketika dia turun untuk membuka gerbang, tatapan mereka sempat beradu. Safa melihatnya sekilas sebelum kembali berbincang dengan pria itu.
Edzar kembali ke mobil, menarik perseneling dan melajukannya pelan-pelan memasuki halaman. Pikirannya berkecamuk, perasaan tak nyaman menghinggapi hatinya. Lamunannya buyar kala sang ibu bersuara.
"Gadis macam apa yang baru pulang jam segini. Bersama seorang pria pula?"
"Dia kerja, Bu."
"Kerja? Bukannya pekerjaan seperti itu termasuk bebas, ya, bisa dilakukan kapan saja?"
Edzar menghela nafas, "Semua pekerjaan harus konsisten, Bu. Ada target harian tertentu."
"Kamu belain dia? Apa jangan-jangan kamu suka sama gadis itu?"
Edzar diam tak menjawab. Dan itu sudah cukup membuat Dyah tahu bahwa feeling-nya selama ini benar.
__ADS_1
***