
“Om, bekalnya dihabisin, ya. Ini bukan Safa yang buat, sih. Soalnya Bunda marah-marah kalo Safa ikutan masak. Katanya riweuh,” ujar Safa sambil memanyunkan bibirnya.
Edzar menatap lama rantang bekal di atas mejanya. Untuk ke sekian kalinya gadis itu menyuplai makanan sebelum Edzar berangkat. Seperti tadi contohnya. Bahkan wajahnya jadi yang pertama Edzar lihat sejak dia membuka gerbang.
Tanpa diminta otaknya memutar kembali percakapan Dian kemarin. Apa Edzar memang keterlaluan atas presumsinya selama ini?
Tok, tok, tok.
“Masuk!”
Edzar membenarkan duduknya sekaligus mengakhiri lamunan. Doni masuk dengan beberapa berkas di tangan. Menyimpannya di atas meja lalu melesakkan diri di kursi, menatap Edzar yang mulai membolak-balik halaman berisi catatan pidana.
“Ini kasus kecelakaan yang melibatkan artis ‘kan?”
Doni mengangguk, “Benar.”
“Tim penyidik yang memberikan ini? Cepat sekali.”
“Iya, Pak. Mungkin mereka bekerja siang malam dan tidak tidur,” jawab Doni asal.
“Oke. Nanti saya periksa lagi sebelum dikirim ke PN.”
PN (Pengadilan Negeri)
Edzar membereskan kembali berkas yang dibawa Doni, menyimpannya di laci untuk sementara.
“Pak, Bernadin bersedia menemui anda,” ujar Doni tiba-tiba membuat Edzar mendongak.
“Ini tempatnya.” Doni mengangsurkan sebuah kertas berisikan sebuah alamat. Edzar menghentikan kegiatannya sejenak untuk melihat.
“Dia menemuimu?”
“Bukan. Orang kepercayaannya yang datang diam-diam pada saya.”
“Bagus. Tidak sia-sia kita mengikutinya sampai ke bioskop.”
Edzar memotret sobekan kertas itu sebelum membakarnya dengan geretan. Doni menatap itu semua dalam diam, dia tahu Edzar itu orangnya sangat berhati-hati. Edzar tidak akan membiarkan sesuatu apapun yang bisa saja menjadi celah bagi sebagian orang. Termasuk hal ini. Apalagi Edzar sudah lama mengincar kesempatan bertemu Bernadin.
__ADS_1
“Persiapkan dirimu. Kita akan berangkat nanti malam. Sesuai keinginannya.”
Doni hanya mengangguk mengiyakan. Memangnya dia bisa apa? Dia bekerja di bawah Edzar.
“Ah iya, Doni.” Edzar menghentikan Doni yang hendak berdiri.
Doni mengangkat alis bertanya, “Iya? Kenapa, Pak? Ada yang bisa saya bantu lagi?”
Edzar terdiam sejenak. Sebenarnya dia agak ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi dia tidak bisa menemukan jawabannya sendiri, dia perlu pendapat orang lain mengenai hal ini.
“Pak?” panggil Doni.
Edzar berdehem sebelum berbicara.
“Menurut kamu, persentase kesetiaan wanita muda itu berapa persen?”
Hening beberapa detik sebelum kemudian Doni tersadar.
“Ya?”
“Bapak bilang apa barusan?”
Sebenarnya Doni dengar, tapi dia tidak mengerti.
Edzar mengibaskan tangan mengalihkan pandangan. “Lupakan. Anggap kamu tidak dengar.”
‘Tidak dengar bagaimana, Pak? Jelas-jelas pertanyaan Bapak bikin saya kepo. Kalau gak mau bilang ngapain nanya?’ Doni menggerutu dalam hati.
\=\=\=
Sesuai perjanjian, Edzar dan Doni akan menemui Bernadin di sebuah hotel kawasan elite Jakarta. Tepat pukul 19:00 WIB. Seperti yang tertulis dalam kertas yang sudah Edzar bakar.
Saat ini mereka sudah sampai di parkiran, namun masih berdiam diri di mobil. Tak lama siluet seseorang mendekat, Doni yang pertama menyadari sontak menegakkan tubuh.
“Pak, itu tangan kanan Bernadin,” tunjuknya dengan lirikan mata.
Edzar dan Doni pun turun, bergegas mengikuti orang yang dimaksud. Orang itu mengarahkan mereka pada sebuah ruang privat, semacam ruang pribadi yang diperuntukkan bagi kalangan atas.
__ADS_1
Setelah sekian pencarian akhirnya Edzar bisa berhadapan langsung dengan Bernadin, salah satu penyandang dana dari sebuah proyek besar yang melibatkan seorang pejabat negara.
Mereka dipersilahkan duduk dan disuguhi berbagai hidangan, Edzar menatap itu semua dengan datar. Dia tahu ini hanya siasat Bernadin untuk mengulur waktu. Meskipun Edzar tidak suka menunggu tapi baiklah, untuk kali ini dia bersedia menurunkan sedikit standar kapabilitasnya.
“Maaf, aku akan mengisi perutku dulu. Kalian makanlah, semuanya hidangan terbaik di hotel ini.”
Bernadin mulai menyantap makan malamnya. Doni menoleh sekilas pada Edzar. Hidangan di depannya memang terlihat lezat, tapi Doni tidak akan makan kalau Edzar belum melakukan pergerakan. Hey, instingnya tak sekuat Edzar dalam membaca situasi. Bisa saja dalam makanan ini ada racun.
Tanpa diduga Edzar mengambil segelas anggur dan meminumnya. Doni mengerti secara tidak langsung pria itu mengatakan padanya bahwa makanan itu bersih dan aman. Jangan tanya bagaimana cara Edzar mengetahuinya, karena dia sendiri pun tidak mengerti.
Lupakan kemampuan ajaib lelaki itu, lebih baik Doni segera mencicipi jamuan mewah di depannya. Kapan lagi dia bisa makan makanan mahal seperti ini. Doni bukan Edzar yang kaya raya. Dia hanya jaksa dengan gaji pas-pasan.
30 menit berlalu hanya diisi dentingan sendok dan obrolan ringan, lebih tepatnya ocehan tak penting Bernadin yang sesekali ditanggapi Doni. Edzar masih setia dengan wajah kakunya. Dia tak menyentuh apa pun selain anggur tadi. Tangannya bersidekap menunggu keduanya selesai bersantap.
Sikap tenangnya tak lepas dari perhatian Bernadin. Sejak datang kemari pria itu lebih banyak bungkam. Namun Bernadin tak menampik ada aura ketegasan yang kuat. Hal itu diam-diam membuat Bernadin sedikit tertarik dengan anak muda di depannya. Dari segi manapun Edzar tampak menonjol, tipe pria yang sangat dominan dan pantang menyerah.
Selesai makan, Bernadin mengelap mulutnya dengan saputangan. Pria dengan perut sedikit tambun itu membenarkan posisi duduknya. Matanya mulai menatap Edzar dengan lurus hingga suasana berangsur serius. Doni bisa merasakan perbedaan udara di sekitarnya. Ia pun siap menyimak percakapan yang akan berlangsung antara dua orang itu.
“Kenapa kamu harus repot-repot seperti ini? Mencariku. Bukankah ini tugas penyidik untuk mencari seorang saksi?”
Edzar diam sejenak sebelum kemudian menjawab dengan tenang. “Karena saya senang bekerja dengan cara saya sendiri.”
Alis Bernadin terangkat, “Bukan karena kamu tidak percaya pada mereka?”
“Apapun itu, dalam hal ini saya bisa menjadi jaksa sekaligus penyidik jika diperlukan.”
Hening. Hawa di ruangan itu mendadak sedikit tak nyaman. Kepala Bernadin mengangguk pelan. Tatapannya tak lepas menatap Edzar dengan lekat.
“Anak muda yang menarik. Sayang sekali kamu malah direpotkan dengan hal seperti ini. Kenapa tidak fokus saja mengembangkan bisnis yang lebih menguntungkan?”
Edzar tidak terkejut Bernadin mengetahui pencahariannya selain di ranah hukum. Dapat dipastikan pria itu menyelidikinya terlebih dahulu.
“Mengenai di mana saya bekerja itu bukan urusan anda. Kedatangan saya ke sini untuk menarik anda sebagai saksi. Mohon kerjasamanya.”
Bernadin terkekeh meminum anggurnya. Keadaan kembali diliputi keheningan. Doni yang sejak tadi hanya diam pun tak berani mengeluarkan suara.
“Apa keuntunganku mengikutimu?”
__ADS_1