
Safa menggenggam erat tabung kecil itu dengan tangan gemetar. Dia sudah susah payah pulang ke rumah hanya untuk ini. Haruskah dia meminumnya? Tapi, sudah lama sekali sejak Safa berhenti meminum obat. Apa kali ini memang harus? Safa benar-benar membutuhkannya untuk menenangkan diri.
Sekali lagi Safa menunduk menatap butiran-butiran putih itu di dalam botol. Safa tidak mau membuat Ayah dan Bunda khawatir. Kalau mereka tidak tahu, bukankah tidak masalah?
Benar. Safa hanya perlu menyembunyikan ini dari keduanya maupun Dava.
Safa mengangguk yakin. Lalu dengan mantap dia menenggak satu butir obat dan melarutkannya dengan air. Safa menyimpan botol kecil itu di dalam laci lemari skincare. Dengan begitu, kecil kemungkinan seseorang menemukannya. Karena siapapun di rumah ini tahu, Safa tidak suka benda-benda kesayangannya disentuh. Dalam hal ini koleksi produk kecantikan yang paling berharga bagi Safa, bahkan melebihi kecintaannya pada barang-barang branded yang menempati posisi ke dua.
Safa menduduki meja sofa di walk in closet. Detak jantungnya masih belum sepenuhnya normal. Tubuhnya pun masih sedikit tremor. Beberapa kali Safa menarik nafas dalam, berharap ketenangan segera menghampirinya.
Dalam upayanya itu, Bik Inem tiba-tiba masuk. "Non, ada tamu di bawah."
"Tamu? Siapa?" tanya Safa dengan kening berkerut.
"Gak tau. Katanya mau ketemu Non."
Siapa, ya? Ini kan masih jam kerja. Rata-rata orang masih beraktivitas.
Meski sedikit kesal karena saat ini dia enggan diganggu, namun rasanya tidak sopan membuat orang menunggu. Apalagi sampai datang ke rumah untuk bertemu.
Mulanya Safa berpikir seperti itu, sebelum dia melihat sendiri siapa orang yang dimaksud Bik Inem. Gak kenal, katanya? Rupanya Bik Inem mempermainkannya.
Safa terkejut tentu saja. Namun dia segera mengontrol ekspresinya dan berusaha tetap normal.
"Om Edzar? Ada apa?"
Ya, orang itu adalah Edzar. Lelaki itu berdiri tegap di hadapannya. Matanya menatap Safa dengan rumit. Seketika Safa teringat kejadian kemarin. Safa malu bukan main. Hingga matanya berkelana ke sana kemari asal tidak melihat Edzar.
Edzar kemari di waktu seperti ini. Pasti ada hal penting, kan?
Safa diam menunggu jawaban Edzar yang tak kunjung membuka suara. Pria itu malah mematung melihatnya, membuat Safa mengernyit karena jujur saja ia tak sabar. Safa ingin segera istirahat di kamar.
Belum lagi jantungnya kembali berdetak cepat. Kalau begini ceritanya, kapan Safa bisa tenang?
Dibanding itu, Safa belum siap bertemu Edzar. Situasi yang tiba-tiba begini membuatnya bingung sekaligus canggung. Safa masih belum lupa hal memalukan apa yang terjadi di antara mereka.
"Om?" Terpaksa Safa menegur Edzar karena pria itu diam saja.
"Kamu baik-baik saja?"
"Apa?"
"Apa kamu baik-baik saja?"
Pertanyaannya di luar dugaan. Safa tidak tahu apa maksud Edzar menanyakan hal itu. Safa sama sekali tidak berpikir pria itu mengetahui sesuatu.
Sekilas Safa menangkap raut khawatir di matanya, namun semua itu tidak mungkin. Jadi Safa segera menepis pikiran yang menurutnya konyol dan tetap realistis.
__ADS_1
"Om ke sini hanya untuk menanyakan itu?" tanya Safa dengan raut datar setengah tak percaya.
Edzar tak peduli, dia mengulurkan tangan menyentuh kening Safa. "Wajah kamu pucat."
Lelaki itu sibuk meneliti wajah Safa, sementara si empunya mematung dengan tubuh sekaku papan. Hatinya bergemuruh dengan perasaan tak karuan. Matanya kosong menatap dada bidang terbalut seragam milik Edzar.
Untuk ke sekian kali mereka berada dalam jarak sedekat ini. Dan Safa masih saja sulit menahan perasaannya.
Safa menepis tangan Edzar. "Sebenarnya Om ada keperluan apa?"
"Saya perlu memastikan keadaan kamu."
Safa mengernyit dengan mata menyipit. Jelas ia tak mengerti maksud Edzar. Dan lagi, sejak kapan pria itu menaruh perhatian padanya?
"Memangnya aku kenapa?"
Mulut Edzar terbuka hendak menjawab, namun entah kenapa dia mengatupkan kembali bibirnya dan malah diam.
Lama-lama Safa jadi kesal. Kondisi tubuh yang tidak terlalu baik juga turut membuatnya sensitif.
"Kalau begitu sudah, kan? Om sudah lihat aku baik-baik aja. Jadi sekarang bisa pergi."
Safa hendak menutup pintu yang langsung ditahan oleh Edzar. Gadis itu mendecak lelah. "Apa lagi~"
"Kamu betulan baik-baik saja?"
"Memangnya Om pikir aku kenapa? Atau Om berharap aku kenapa-napa, begitu? Sayang seka—"
Sesaat suasana jadi hening. Safa terdiam di tempatnya berdiri, di bawah tatapan Edzar yang lekat dan tak bisa ia mengerti. "Lalu, apa itu jadi urusan Om?"
"Bukan, kan?"
"Jadi untuk apa merepotkan diri seperti ini?"
Edzar tak langsung menjawab, hal itu membuat Safa jengah. "Sudahlah—"
"Karena saya peduli."
Lagi-lagi Edzar melontarkan jawaban mengejutkan. Pria itu memang ahli mematikan suasana. Kata-katanya tak terduga, sikap Edzar yang seperti ini sungguh sulit ditebak.
Ini tidak benar. Hatinya mulai berharap kembali, dan ini mengerikan. Safa tidak mau kecewa lebih jauh lagi.
"Omong kosong," bisiknya pelan.
"Saya tidak butuh kepedulian Om. Sekarang pergi, atau saya akan lapor pada pihak keamanan karena sikap Om yang mengganggu."
Edzar tidak protes saat Safa menutup pintu tepat di depan wajahnya. Tubuhnya mematung dengan wajah tak beriak. Namun siapa yang tahu hatinya tengah berkecamuk saat ini.
__ADS_1
Saya?
Safa tidak pernah berbicara sekaku ini meski Edzar telah menyakitinya. Apa gadis itu ingin memperjelas batas di antara mereka? Ternyata rasanya sungguh tidak nyaman. Dan Edzar tak bisa berkutik kala mengingat perlakuannya dulu lebih parah dari yang Safa lakukan.
Edzar menghela nafas dan berbalik meninggalkan rumah Safa. Percuma dia memaksa. Walau hatinya berontak ingin mendobrak pintu itu, memastikan gadis itu benar baik-baik saja. Tapi logika mengatakan hal itu akan memperumit keadaan. Safa akan lebih membencinya.
Siang ini dia nekat meminta izin untuk pulang lebih cepat. Beruntung Edzar tak ada jadwal sidang. Edzar masih ingat dengan jelas suara isakan memilukan yang ia dengar. Dan ia yakin telah terjadi sesuatu. Ada hal yang coba Safa sembunyikan, itu sudah jelas.
Edzar sempat mendatangi perusahaan Pak Halim, dia tahu Safa mulai bekerja di sana. Tapi yang ia dapat dari security katanya gadis itu sudah pulang diantar sopir kantor. Tak butuh waktu lama bagi Edzar melajukan mobilnya hingga sampai di sini.
Dan benar saja, gadis itu nampak pucat dan tak sehat. Sebenarnya apa yang terjadi. Apa yang membuat Safa menangis. Ini sungguh mengganggu Edzar.
Hingga malam menjelang pun Edzar tak bisa tenang. Otaknya terus tertuju pada Safa. Mungkin Safa bisa menipu semua orang dengan ekspresinya yang manis dan menggemaskan. Namun bagi Edzar yang sudah terlatih dalam membaca situasi tentu merasakan kejanggalan.
Menghela nafas pelan, Edzar bangkit dari rebahnya di kasur. Kaki panjangnya melangkah membuka pintu balkon yang sebelumnya sudah terkunci. Edzar butuh udara luar untuk menyegarkan pikiran. Ini pertama kali Edzar sebegininya memikirkan orang, terlebih seorang wanita.
Meski Safa terang-terangan menolaknya, Edzar bisa melihat gadis itu sedikit gugup tadi. Bisa jadi ini karena kejadian kemarin. Mengingatnya saja sudah membuat Edzar memerah.
Sebenarnya Edzar juga merasa malu. Tidak ada yang lebih memalukan dari kehilangan kontrol di depan orang. Dia juga sempat berpikiran liar yang membuatnya harus beberapa kali mandi air dingin.
Gadis itu sangat berbahaya bagi pengendalian dirinya. Hanya dengan melihatnya saja sesuatu dalam tubuhnya sudah bergelora. Safa mengingatkannya pada rasa panas saat pertama kali meminum wine.
Edzar menoleh melihat rumah di sampingnya. Hatinya tiba-tiba berdesir. Apa menyukai seseorang memang semenggelikan ini?
Edzar tak dapat menahan diri saat kakinya bergerak melintasi pembatas balkon. Dalam sekejap dia sudah berdiri di depan kamar Safa. Lampunya sudah gelap, sepertinya gadis itu memang sudah tidur. Edzar duduk menyandarkan punggungnya di tepi jendela. Kepalanya menengadah menatap langit malam dengan sinar bulan yang redup.
Mata tajamnya seketika memejam. Tahu-tahu seraut wajah cantik menghiasi pikirannya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Safana, nama yang sangat indah. Safana melambangkan pesona dan karisma. Ia adalah seorang yang glamor, perasa, pemimpi, tulus, semangat, dan mudah jatuh cinta. Sangat sesuai dengan gadisnya yang cantik dan periang. Safa juga suka kemewahan, namun dia baik dan jujur. Hatinya penuh afeksi dan reaktif. Dia mudah terenyuh dengan sesuatu.
Parasnya bagai candu bagi Edzar. Matanya selalu rindu melihat sosoknya yang juwita. Meski lengkungan indah itu tak pernah lagi nampak di hadapannya, setidaknya gadis itu masih ada dalam jangkauan.
Perasaan yang hilang itu....
Akan coba ia genggam kembali.
Edzar membuka matanya perlahan. Tatapannya seredup rembulan yang bersinar di atas sana. Keresahan mendadak hilang, entah kenapa tempat ini membuat Edzar merasa tenang. Mungkinkah karena dia tahu Safa ada di balik punggungnya? Tertidur lelap dengan wajahnya yang damai.
"Aku tahu, saat ini kamu membenciku," gumamnya lirih.
"Aku juga tahu telah menyakitimu dengan sangat dalam. Perbuatanku mungkin tak bisa dimaafkan."
"Meski begitu aku ingin meminta maaf dengan tulus. Maafkan aku. Maafkan aku, Safa."
"Maaf karena telah membuatmu kecewa."
Edzar menghela nafas lega. Kalimat yang sejak dulu ingin ia ungkapkan sekarang keluar tanpa beban. Meski dia tahu Safa tak mendengarnya.
__ADS_1
Malam sudah sangat larut, jarum jam sudah melewati angka dua belas. Segera Edzar bangkit dan memanjat balkon untuk kembali ke rumahnya. Gerakan Edzar terlihat lincah, kaki jenjangnya melangkah memasuki kamar.
Bersamaan dengan Edzar menutup pintu, mata Safa terbuka secara perlahan. Tatapannya lurus ke arah jendela tempat Edzar bersandar. Ekspresinya tak terbaca, sejurus kemudian dia menarik selimut dan kembali membenamkan wajah di atas bantal.