SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 123


__ADS_3

"Untuk sementara iya. Boleh, kan?"


Edzar masih saja terpaku menatap balasan Safa. Doni yang sejak tadi diam-diam melirik ikut mengernyit. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak penasaran.


"Pak Edzar kenapa, ya? Tadi mesem-mesem, sekarang malah masam," gumamnya pelan.


"Pak?" panggil Doni ragu.


Edzar menoleh, mengangkat alisnya bertanya.


"Sudah selesai. Ini saya simpan di mana?"


"Taruh di sebelah arsip tahun 2018," ucap Edzar sembari membenarkan duduk.


Pria itu menghela nafas panjang. Terlihat sekali dia tengah memikirkan sesuatu.


"Oh, oke."


Doni pun melaksanakan titah Edzar dengan baik. Menyimpan arsip yang sejak tadi ia bereskan. Selepas itu, Doni menoleh pada sang atasan. Ragu-ragu dia mendekat dan bertanya, "Pak, mau saya bikinin kopi?"


Edzar terdiam sebentar, "Gak usah, deh. Saya lagi pengen yang seger-seger."


Dan yang terbayang adalah sosok Safa yang putih, bersih, wangi dan fresh. Rasanya Edzar tidak akan puas mereguk aromanya yang menyegarkan.


"Mau saya beliin Boba?" tanya Doni kemudian.


Kening Edzar berkerut. "Memangnya saya anak kecil?" ketusnya.


"Memang yang minum Boba cuma anak kecil?"


Heran. Edzar kan pemilik Cafe. Masa mengelompokkan satu minuman hanya untuk satu faksi saja. Yang suka Boba bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga. Bahkan nenek-nenek, kakek-kakek, mereka juga kerap jajan Boba.


Apa yang salah dari Boba?


"Jangan Boba. Beliin Es Pisang Ijo aja."


"Ya sudah, oke. Uangnya?"


Seketika Edzar mendelik, lalu merogoh sakunya mengambil dompet.


"Kamu seperti anak kecil yang minta jajan," dumel Edzar seraya menyerahkan uang seratus ribuan.


"Hehe, maklum Pak, gaji saya belom turun. Saya lagi ngirit buat dua hari ke depan."


Edzar tak menggubris. Dia membuka-buka berkas perkara di mejanya.


"Beli berapa porsi, Pak?"


"Banyak tanya, ya, kamu. Ya kalau kamu mau, beli dua. Gitu aja susah."


"Baik," ucap Doni seraya berbalik hendak keluar.


"Tunggu," tahan Edzar membuat Doni kembali menghadap ke arahnya.


"Ada apa, Pak? Ada tambahan, mau beli rokok?"


"Bukan."


Ehem.


Edzar berdehem sebelum melanjutkan ucapannya. "Kamu pernah bilang bahwa laki-laki harus agresif saat mendekati wanita."


Jeda sesaat.


"Bagaimana kalau sudah saling mengungkapkan perasaan, si wanita malah minta hubungannya dirahasiakan?"


Doni terdiam berusaha mencerna pertanyaan Edzar. Matanya berkedip nampak berpikir. Kemudian ia balik bertanya, "Bapak lagi backstreet, ya?" tebaknya tepat sasaran.


Sontak saja Edzar melengos malas, "Bukankah saya sudah bilang saya punya teman?"


"Teman saya yang mengalami, bukan saya."


Hening.


Keduanya bungkam dalam pikiran masing-masing. Doni yang berusaha mencari jawaban dari pertanyaan Edzar, pun Edzar yang menunggu pendapat Doni.

__ADS_1


Sejurus kemudian Doni pun mengangguk, "Baiklah. Mau itu Bapak atau teman Bapak yang mengalami, kesimpulan saya cuma dua, sih."


"Apa itu?"


"Yang pertama, kemungkinan si wanita masih ragu."


"Ragu? Ragu gimana maksudnya?"


"Ya dia ragu sama perasaan Bapak— maksud saya teman Bapak," ralat Doni saat melihat pelototan Edzar. "Dia ragu dengan hubungan keduanya yang mungkin terlalu tiba-tiba. Mungkin sebelumnya hubungan mereka kurang baik?"


Edzar tercenung. Benar, dia dan Safa memang sempat terlibat kesalahpahaman yang membuat mereka berjarak. Tapi, bukankah itu sudah diselesaikan semalam?


"Lalu yang kedua?"


"Yang kedua, bisa jadi wanita itu malu."


"Malu?"


"Dia malu memamerkan pasangannya pada orang lain."


"Kenapa?"


"Ya alasannya bisa macam-macam. Boleh jadi si pria terlalu jelek hingga si wanita tidak mau orang lain tahu mereka sepasang kekasih. Tapi dia sayang sama si pria. Jadi pilihan terbaik adalah menyembunyikan hubungan mereka, alias backstreet."


Tidak mungkin. Saya ganteng, batin Edzar percaya diri.


"Wajah ganteng juga tidak melulu jadi kebanggaan, Pak," celetuk Doni.


"Apa?"


"Ganteng, kalau penampilan gak menarik sama aja bohong."


"Maksud kamu?"


"Perbaiki performa. Jadilah yang dia inginkan."


Kening Edzar berkerut. Dia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya. Kalau iya, mengapa Safa mengejar-ngejarnya dulu.


Sepertinya dia telah salah meminta pendapat Doni. Kesimpulannya sama sekali tak masuk akal.


Sebagai bawahan yang baik, Doni pun menurut dengan segera angkat kaki dari sana, walau dalam hati dia berdecak kesal. Tepat setelah dirinya menutup pintu, bibirnya langsung mencibir mengolok-ngolok Edzar. "Bilang saja dia yang jadi korban backstreet. Pake bawa-bawa teman buat dijadiin alasan. Hah, susah emang orang gengsian," gumam Doni sebelum kemudian berlalu.


Dia masih harus beli Es Pisang Ijo buat Edzar yang sedang galau.


..............


Malam harinya Edzar benar-benar ke rumah Safa. Hanya saja tidak sebagai tamu seperti niat awal, dengan terpaksa lagi-lagi Edzar harus berperan sebagai pencuri, memanjati pagar yang menjadi pembatas rumahnya dengan gadis itu.


Pintu bergeser setelah ia mengetuk, wajah terkejut Safa adalah pemandangan pertama yang ia lihat. Raut gadis itu berubah panik. Kalang kabut kepalanya menengok ke belakang, lalu menghela nafas setelah mendapati pintu kamarnya tertutup.


Segitu tidak mau orang lain tahu?


"Om ngapain ke sini?" tanya Safa setengah berbisik.


Raut Edzar terlihat datar. "Sudah saya bilang malam ini saya ke rumah, kan?"


"Harus banget manjat balkon? Kalo orang lain lihat gimana?"


Edzar mendengus samar, lalu tanpa permisi melewati tubuh Safa yang berdiri di ambang pintu. Safa ternganga melihat Edzar yang nyelonong masuk begitu saja.


"Om-"


"Kamu gak izinin saya lewat pintu depan, kan? Ya sudah, saya lewat sini," ucapnya ringan memotong perkataan Safa. Lelaki itu menghempaskan bokongnya di single sofa dekat jendela.


Safa terdiam, lalu meringis menggaruk leher. "Lagian Om mau ngapain, sih?"


"Harus banget ada alasan mau ketemu kamu?" Kenapa sekarang dia yang jadi kelihatan ngebet. "Dulu aja kamu nekat loncatin balkon buat ketemu saya."


Safa menunduk, matanya sesekali melirik Edzar dengan wajah terlihat bersalah. Memang benar dulu dia senekat itu.


Edzar menatap Safa, mengirim isyarat untuk gadis itu mendekat.


Ragu-ragu Safa melangkah ke arah Edzar, tahu-tahu pria itu meraih tangannya dan menariknya lembut hingga Safa menduduki salah satu paha kekar itu.


Di antara kedua kaki Edzar yang sedikit melebar, Safa menunduk menahan malu. Keras. Kelihatan banget Edzar suka olahraga. Aih, harus banget begini? Bisa-bisa Safa malah salah fokus.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau merahasiakan hubungan kita?" tanya Edzar dengan suaranya yang halus.


Safa terdiam, dan Edzar dengan sabar menunggu gadis itu bicara. Lebih baik tanya langsung pada orangnya daripada harus berbelit-belit dengan Doni.


"Ai?"


Beberapa detik masih tak ada jawaban, hingga kemudian gadis itu membuka suara. "Safa malu," bisiknya.


Sunyi.


Perlahan kepala Safa mendongak, hanya untuk mendapati raut Edzar yang tenang seperti biasa.


"Malu?" tanya lelaki itu.


"Malu kenapa? Kamu malu berhubungan dengan saya?"


"Atau karena saya terlalu tua buat kamu?"


Safa terperangah, sontak dia menggeleng rusuh. Tak disangka Edzar akan berpikir begitu.


"Enggak, bukan itu!"


"Lalu?"


"Sa-Safa....."


Tok tok tok.


"Safa?" panggil seseorang dari luar.


Itu suara Nyonya Halim.


Safa melotot. Buru-buru dia berdiri dan menatap kalut pintu kamarnya. Gimana ini? Safa menggigit jarinya panik. Lalu dia menoleh pada Edzar yang bisa-bisanya masih terlihat santai.


Safa berdecak menarik pria itu untuk beranjak dari duduknya. Sedikit susah karena Edzar seolah memaku bokongnya di sana.


"Om sembunyi!" seru Safa berbisik.


"Apa-"


"Syuut... diem. Ada Bunda di luar."


"Kamu belum jawab pertanyaan saya."


"Iya nanti Safa jawab! Sekarang keluar dulu!" Safa mendorong tubuh besar Edzar ke arah pintu balkon.


Sangat berat, Edzar sedikit melakukan perlawanan meski ujung-ujungnya dia berhasil keluar.


"Diam di sini, jangan bersuara. Atau Om pulang aja sana."


Setelah mengatakan itu Safa bergegas masuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Edzar yang bahkan tidak diberi kesempatan untuk bicara.


"Bunda?" ujarnya setelah membuka pintu. Raut Nyonya Halim terlihat heran.


"Kenapa lama sekali buka pintunya?"


"Ah? Itu, Safa tadi di kamar mandi, lagi pipis. Hehe, ada apa, Bunda?"


Nyonya Halim tak langsung menjawab, matanya sedikit melirik ke dalam kamar. Keningnya berkerut, "Pintu balkonnya kok terbuka? Bunda kan sudah bilang jangan dulu main angin malam."


Dia tahu kebiasaan Safa yang suka membuka jendela atau pintu di malam hari. Padahal sudah dibilang itu tidak baik untuk tubuh.


"Tadi Safa abis buang rambut. Nanti ditutup lagi, kok. Bunda ada perlu apa?"


"Kamu udah minum obat?"


"Udah."


"Rapihin penampilan kamu, ada yang cari di bawah."


"Hah? Siapa?"


"Jangan banyak tanya. Sekarang ganti baju yang lebih sopan."


Setelah itu Nyonya Halim gegas kembali ke lantai bawah. Safa mematung mencoba menebak siapa yang bundanya maksud ingin menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2