
Kaget, khawatir, marah, semuanya Edzar rasakan dalam satu waktu yang sama. Saat di mana lengkingan gadis itu menembus telinga, menusuk langsung ke jantungnya. Membuat Edzar kesakitan oleh rasa takut yang menjalar di seluruh sarafnya.
Aliran darahnya berubah cepat, menghentak naluri yang membuatnya bertindak di luar kendali. Edzar tak pernah merasakan kekhawatiran berlebih seperti ini. Sampai seluruh inderanya seolah mati hingga menurunkan tingkat intelijensi yang dia miliki.
Logika yang tiba-tiba menipis membuatnya lambat dalam berpikir. Yang Edzar tahu dia harus cepat sampai di bawah tanpa benar-benar memikirkan jalan mana yang lebih efektif. Hanya karena pintu lift yang tidak terbuka dalam waktu dua detik, dia langsung beralih pada jalan alternatif.
Kenapa Edzar harus sebodoh ini? Kalau saja dia bisa bersabar sedikit lebih lama, mungkin dia tidak akan terlambat seperti sekarang. Di mana Safa? Kenapa Edzar tak melihat satu pun orang di sini?
Punggungnya membungkuk dengan nafas memburu. Pikirannya terus berkelana dan bertanya-tanya mengenai keberadaan gadis itu. Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi? Apa sesuatu yang buruk benar-benar menimpanya? Apa dia terluka parah?
Tuhan, beri ia jawaban sekarang juga.
Di saat hatinya tengah berkecamuk, Edzar semakin dibuat terhenyak dengan sebuah genangan merah yang dilihatnya. Tepat di pinggir jalan, membasahi trotoar hingga menciptakan tumpasan yang sedikit mengering.
Edzar berusaha menelan ludah yang mendadak terasa seperti bongkahan. Hal buruk itu sungguh terjadi?
Edzar, kamu benar-benar bajingan. Ini semua salahmu. Kenapa kamu membiarkannya menunggu? Dan sekarang, kamu bahkan tidak tahu bagaimana keadaannya.
“Pak Edzar?”
Edzar tersentak, menegakkan punggungnya secara perlahan lalu menoleh ke belakang. Wajahnya berantakan dengan raut tak karuan. Seragam jaksanya basah oleh keringat.
Nafasnya tak beraturan dengan mata sedikit layu. Tatapannya kosong seolah pria itu baru saja mengalami hal berat.
Doni mematung. Untuk pertama kalinya selama mengenal Edzar, netra sekelam malam itu nampak kalut oleh sesuatu. Mungkinkah ini berhubungan dengan seorang gadis yang dilihatnya tadi? Gadis yang sudah dua kali ia lihat bersama Edzar. Doni juga mengenalnya sebagai tetangga lelaki itu.
Doni memang sampai lebih dulu di lantai bawah. Beruntung akal sehatnya mendominasi hingga tak mengikuti Edzar yang berlari seperti orang gila menuruni tangga darurat.
Kaki Edzar memang lebih panjang, tapi apa gunanya hal itu jika geraknya tak berkesinambungan dengan otak.
“Di mana dia?” tanya Edzar dengan suara sedikit serak.
Doni tahu siapa ‘dia’ yang dimaksud. Tepat saat dirinya sampai di lobi matanya menangkap beberapa pegawai kejaksaan yang berlarian ke luar gerbang. Doni yang saat itu bingung mencari Edzar sontak mengikuti karena penasaran.
__ADS_1
Awalnya dia tak mengira akan mendapati gadis itu di sana. Namun tiba-tiba Doni menyadari, dia berusaha menghubungkan dua perkara yang sempat dilihatnya.
Edzar yang menerima telpon dan menyuruh seseorang menunggu. Lalu setelah itu wajahnya berubah tegang. Doni tahu pasti apa penyebabnya sekarang. Tak lain dan tak bukan gadis bernama Safa itu.
Edzar nampak kesal karena Doni tak langsung menjawab, kakinya melangkah lebih dekat dan bertanya sekali lagi. “Doni, di mana dia?” suaranya terdengar menajam.
Doni tersadar dan reflek menyebutkan sebuah tempat di mana gadis itu berada. Belum selesai menjelaskan lebih rinci, Edzar sudah kembali melesat dari hadapannya. Dan Doni hanya bisa menghela nafas melihat itu. Apa cinta memang membuat orang hilang kewarasan?
Ya, Doni menganggap semua dugaannya selama ini memang benar. Edzar tengah jatuh cinta. Walau pria itu masih terlihat berusaha menyangkal perasaannya.
Edzar berlari di sepanjang lorong, tak ia pedulikan orang-orang yang menyapanya saat berpapasan. Tujuan Edzar hanya satu, yaitu ruangan Dian. Edzar tidak tahu kenapa Doni menyebutkan ruang kerja sepupunya dan bukan rumah sakit. Yang Edzar tahu dia hanya mengikuti naluri untuk sampai kemari.
Kakinya berhenti, nafas Edzar tersengal saat dia mematung tepat di depan pintu yang terbuka lebar.
Di sana, Edzar melihatnya. Gadis itu. Safana Halim.
Edzar masih saja terpaku saat Safa meluruskan bokongnya dari sofa. Gadis itu berdiri setelah tahu siapa yang datang. Bibirnya mengulas senyum lebar dan melambai.
“Om...” panggilnya.
Safa melihat penampilan Edzar yang acak-acakan. Lalu bertanya dengan polosnya, “Om habis lari?”
Edzar tak menjawab. Tanpa diduga kakinya melangkah mendekati Safa. Seperti adegan slow motion pria itu melesat dengan cepatnya sampai Safa tidak sadar ketika pria itu meraihnya dalam dekapan. Sangat erat. Hingga dia kesulitan untuk bernafas.
“Om—“
“Kamu baik-baik saja?”
Safa bisa merasakan nafas dan denyut jantung Edzar yang bersahut-sahutan.
Kepalanya mengangguk kaku. Safa masih terkejut dengan pelukan tiba-tiba lalaki itu.
Tangannya meremas pinggang Edzar yang tanpa lemak, lalu berkata dengan suara bergumam.
__ADS_1
“Om... Safa gak bisa nafas...”
Sontak Edzar melonggarkan pelukannya. Tangannya beralih pada bahu Safa, menatap wajah itu dengan seksama. Lalu, tatapannya berbentar mengelilingi tubuh mungil itu. Memutar-mutar bahunya sampai Safa meringis merasa tak nyaman.
“Edzar, apa yang kamu lakukan? Kamu membuatnya pusing,” tegur Dian.
Edzar tak menanggapi. Namun tangannya berhenti bergerak. Matanya berpendar redup, Edzar masih tak percaya dengan penglihatannya.
“Kamu tidak apa-apa?
“Apa ada yang luka?
“Mana yang sakit?” tanya Edzar beruntun.
Safa tersenyum bingung. Memangnya dia kenapa?
“Tadi Mbak-nya hampir ketabrak motor, Pak. Untung langsung saya tarik,” ujar seorang pria yang ternyata security.
Safa meringis, dia telah salah mengira bapak itu fans-nya. Ternyata si bapak melambai karena ingin memberitahunya bahwa dia berada dalam zona bahaya.
Memangnya kamu siapa, Safa? Sampai punya fans segala. Artis juga bukan.
“Terima kasih, ya, Pak. Bapak menyelematkannya tepat waktu,” ujar Dian.
Security itu mengangguk, lalu keluar karena dia harus kembali berjaga.
“Benar, kamu baik-baik saja?”
Dian berdecak, “Safa baik-baik saja, Edzar. Kamu gak lihat dia berdiri di hadapanmu?”
“Malah kamu yang sepertinya gak baik-baik saja.”
Dian menggeleng melihat penampilan Edzar. Lihatlah pria itu sekarang, berantakan tak seperti biasanya. Edzar itu tipe pria yang super rapi dan tenang. Tapi saat ini Edzar seolah habis diterjang badai. Rambut awut-awutan, baju basah keringatan, sangat bukan Edzar sekali.
__ADS_1
Belum lagi ekspresinya yang kalut, Dian hampir tidak mengenali Edzar tadi.