
“Waduh, tadi saya lihat sih keluar, Mbak. Mungkin ada sidang? Saya kurang tahu, beliau gak bilang apa-apa soalnya.”
“Gitu, ya, Pak?”
“Kira-kira... kembalinya kapan, ya?” tanya Safa lagi. Siang harinya Safa benar-benar mengunjungi kantor kejaksaan demi untuk mengantar makanan dan kalau bisa bertemu Edzar.
Tapi, lagi-lagi situasi tak mendukung.
“Wah... saya juga kurang tahu. Mungkin Mbaknya bisa tanya langsung ke Pak Edzar? Ditelpon atau chat gitu Mbak?”
Safa meringis. Dia sudah melakukan kedua hal yang dibilang Pak Satpam barusan. Tapi tak ada jawaban. Apa Edzar memang sesibuk itu sampai tidak ada waktu membalas pesannya? Mungkin Safa bisa memaklumi kalau pria itu tak mengangkat telpon, bisa saja Safa melakukannya di waktu yang kurang tepat.
“Ehm, Pak. Saya bisa titip ini di sini gak? Nanti kalau Om Edzar-nya sudah kembali, Bapak kasih ke dia, ya?”
Karena Edzar tak ada, Safa putuskan untuk menitipkan rantang bekal itu di post satpam. Safa harap Edzar mau memakannya.
Selepas itu, kakinya melangkah meninggalkan kantor kejaksaan, berjalan lesu menyusuri trotoar. Entah kenapa hati Safa merasa tak tenang.
Atau ini hanya perasaan Safa saja yang hari ini begitu gloomy?
Apapun itu, semoga di masa depan, ada hari di mana dia bisa bersatu dengan Edzar.
Semoga.
............
Safa tidak tahu dia sudah berjalan sejauh mana. Yang dia tau kakinya terasa pegal dan lelah. Safa memutuskan mampir sebentar di halte bus yang dilewatinya, menghempaskan bokongnya di kursi dan meluruskan kaki.
Pikirannya masih penuh oleh Edzar. Pria itu seolah menolak untuk pergi dari otaknya. Bayangannya melekat kuat, membuat Safa terus-menerus merasa rindu.
Sedang apa Edzar sekarang? Sidang? Safa jadi penasaran penampilan Edzar di meja hijau. Mungkin kapan-kapan Safa bisa menonton?
Tin tin!
Suara klakson yang terdengar dekat di hadapannya membuat Safa mendongak. Safa mengernyit, sepertinya dia kenal motor itu.
__ADS_1
“Leo?” panggilnya setelah si pengendara membuka helmnya.
Pria itu melambai mengulas senyum. “Kamu ngapain di sini?” Leo menengok kanan kiri, “Sendirian?”
Safa mengangguk, “He’em. Lagi bosen aja di rumah,” jawabnya penuh alasan. Syukurlah Leo percaya saja.
“Ikut aku, mau?”
“Kemana?”
“Kemana aja, terserah kamu. Kebetulan lagi free, nih.”
Safa tampak berpikir, sepertinya bukan ide buruk.
“Ya udah deh, ayo,” putusnya.
Tubuhnya beranjak menaiki motor besar Leo. Sebelum kemudian melesat membelah jalanan.
Tanpa Safa ketahui, sepasang mata mengamatinya di antara padatnya lalu lalang kendaraan.
\=\=\=
Keesokan harinya, Safa masih juga belum melihat Edzar. Kata Bik Yah, pria itu pulang ke Depok kemarin.
“Om Edzar gak pulang, Bik?
“Lho, Den Edzar kan pulang ke Depok, Neng. Ke rumah ibunya. Memangnya Neng Safa gak tahu?”
Safa menggeleng. Dia memang tidak tahu. Edzar kenapa, sih? Dia masih bisa memberi tahu Bik Yah, tapi pesan Safa gak dibalas-balas.
Lagi-lagi Safa menelan kecewa. Kakinya melangkah lesu kembali ke rumah. Safa membuka lagi riwayat percakapan mereka. Tak ada satupun pesan yang Edzar tanggapi, dibaca pun tidak.
Bibir Safa mengerucut. Sebenarnya Edzar kemana? Kok, dari kemarin Safa susah sekali mau bertemu. Entah dia memang sibuk atau memang benar dugaan Safa, Edzar sedang menghindarinya. Tapi kenapa? Apa salahnya sampai pria itu tak mau menemuinya?
Setelah kemarin-kemarin bersikap manis, sekarang malah menghilang. Apakah Edzar malu?
__ADS_1
Safa menghempaskan diri di pinggir ranjang, nafasnya terhela panjang berusaha berpikir logis. Edzar pasti sibuk, dia tidak ada waktu membalas pesannya.
Atau orang yang menge-chat Edzar terlalu banyak sampai pesan Safa tenggelam dan tidak terbaca. Ya, mungkin seperti itu.
Safa menyimpan ponselnya di atas nakas. Lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Safa sengaja bangun lebih awal hanya untuk memastikan keberadaan pria itu. Soalnya Safa tunggu dari semalam gak ada. Ternyata memang benar, Edzar tak pulang kemari.
Oke, Safa. Jangan sedih. Mending kamu nonton Drakor.
Selepas mandi, Safa mengotak-atik laptopnya di atas kasur. Dia belum sarapan, tapi menggondol begitu banyak cemilan dari dapur. Dava sih tak heran. Kalau Safa sudah membawa banyak makanan, itu artinya sang adik mau hibernasi di kamar.
“Tangan kamu udah sembuh, Dek?” tanya Dava saat itu.
Safa tahu dari kemarin Abangnya bertanya-tanya mengenai lukanya. Safa bilang saja dengan jujur, bahwa dia tak sengaja bersenggolan dengan pelayan cafe hingga jatuh. Itu saja. Untuk lebih spesifiknya tak Safa uraikan. Bisa-bisa Dava ngamuk dan ngadu sama Tuan Halim.
“Udah.” Safa menjawab pendek dan cuek, membuat Dava keheranan dengan sikapnya.
Tapi Safa tak peduli. Mood-nya sedang meluncur dan Safa sama sekali tak ada niatan meladeni mulut lemes Abangnya.
Lagipula, ini sudah cukup siang untuk Dava pergi ke kantor.
Safa melihat-lihat daftar Drama yang akan dilihatnya. Enaknya nonton apa, ya? Atau Safa nonton 21+ aja? Waduh, Safa sudah janji sama diri sendiri untuk tobat. Tapi, kok ya penasaran....
Safa menggeleng. Enggak, Safa. Enggak boleh. Itu dosa. Tegur Safa pada dirinya.
Oke, jangan Safa. Itu gak baik buat otak.
Betul. Mending kamu nonton yang lebih berkualitas. Angguk Safa.
Reflek tak selaras dengan hati. Jarinya malah mengetik ‘Blue Film’ di laman pencarian. Haish, beginilah kalau keinginan lebih kuat daripada tekad.
Ya sudahlah, nanggung. Safa lanjutkan saja dengan meng-klik poster yang menurutnya paling panas. Penting juga bagi Safa melihat pemerannya. Macho dan seksi, dan pastinya cocok.
10 menit berjalan, Safa malah dibuat mendecak dengan filmnya yang terlalu bertele-tele dan membosankan. Akhirnya Safa putuskan mencari yang lain saja.
30 menit berlalu, Safa masih tak menemukan yang cocok. Jarinya tak berhenti menekan play-stop. Putar, pause lagi. Putar yang lain, berhenti. Cari yang lain. Begitu saja terus sampai film ke 15 Safa klik. Semuanya tak ada yang menghibur.
__ADS_1
Safa mendesah lelah, dia beralih mencari Drakor dan Dracin terbaru. Dan ternyata masih sama saja. Kenapa film-film sekarang tak ada yang seru?