
"Masih belum selesai?" tanya Edzar saat ia keluar dari kamar mandi.
Safa mendelik, "Dipikir gampang apa buka ginian?" sewotnya.
Edzar terkekeh, mendekat pada Safa yang tengah sibuk mengurai gelungan rambutnya. "Tadi katanya bisa. Gak mau dibantuin."
Safa mencebik. Ia juga tak mengira tatanan rambutnya akan serumit ini, padahal kalau dilihat biasa saja, simple. Kenapa pas mau diurai jadi susah. Safa hanya berhasil melepas konde dan beberapa jepitan lain selama Edzar menghabiskan waktu untuk mandi.
"Sini, Uda bantu."
Safa membiarkan saja tangan Edzar bergerak di atas rambutnya. Dia sudah lelah dan menyerah. Sepertinya dia memang butuh bantuan Edzar. Padahal tadi dia sengaja menyuruh Edzar mandi duluan supaya bisa terhindar dari interaksi ini.
Safa masih saja gugup dan merasa aneh berada satu ruangan dengannya. Apalagi, sekarang dia berada di hotel tempat Edzar menginap selama di Bandung. Alasannya karena pria itu tak bawa baju ganti untuk tidur. Alhasil Safa pasrah dan nurut-nurut saja ketika Edzar memboyongnya kemari. Terlebih ayah dan bundanya memberi izin penuh.
Iyalah, mereka bisa apa? Kan sekarang Safa istrinya Edzar. Jelas pria itu lebih berhak atas segalanya.
Safa menatap cermin di depan, melihat bayangan Edzar yang tengah serius membuka tautan rambut, kening pria itu sesekali berkerut. Sepertinya bukan hanya Safa yang kesulitan, tetapi Edzar juga.
"Bisa gak, A?"
"Bentar, Sayang."
Safa manyun. Dia sudah gerah dan ingin mandi. Belum lagi kebaya pas badan ini membuat tubuhnya sangat kaku karena harus bersikap tegak sedari tadi.
"Nah, sudah." Edzar merapikan rambut Safa yang kini terurai hingga punggung.
Matanya melirik ke arah cermin dan bersitatap dengan Safa. Sontak Edzar tersenyum, membungkukkan tubuh mengurung istrinya, menempatkan kedua lengannya di sisi gadis itu.
Dia kecup bahunya yang masih terbalut kebaya sambil terus memaku tatapan. Dan dibuat gemas oleh wajah Safa yang seketika memerah.
Bibirnya beralih menyongsong pipi putih itu gregetan. Tak peduli dengan Safa yang risih dan berusaha menjauhkan wajah.
"A Uda, ih! Safa belum hapus make up!"
Edzar tak menghiraukan, dia tetap menggasakkan hidungnya di sana. Matanya terpejam, tersenyum tipis merasakan permukaan halus nan lembut itu, meski sedikit berminyak karena seperti yang gadis itu bilang belum membersihkannya.
Tiba-tiba saja Safa menjerit, "Aw!"
Edzar sedikit menjauhkan muka, dan terkekeh mendapat delikan dari istrinya.
Istri. Kata itu membuat hati Edzar luar biasa damai. Tersenyum melihat Safa yang sibuk mengusap-usap pipinya yang barusan ia gigit. Edzar menangkap tangan Safa, menurunkannya dari sana. Berganti jemarinya yang membelai bekas gigitan itu.
"Maaf," ucapnya lembut.
"Sakit tau!" rengut Safa.
Edzar tersenyum, mengecup kepala Safa yang berada di bawahnya. Mereka terdiam satu sama lain, menikmati keheningan yang menenangkan.
Safa bersandar pada tubuh Edzar di belakangnya. Mata mereka saling bertaut lewat cermin. Lengan Edzar melingkar di sekitaran leher.
"Safa harus mandi ...." lirihnya.
__ADS_1
"Mau dimandiin?" tanya Edzar dengan suara serak.
Safa memukul tangan pria itu. Bibirnya mengerucut dengan rona merah yang kembali mampir di pipi.
Edzar terkekeh melepas rangkulannya. "Ya sudah, sana mandi. Jangan lama-lama, ini sudah malam," ucapnya sembari melirik jam.
Safa mengangguk dan gegas melarikan kakinya ke kamar mandi, menutup pintunya sedikit kencang. Edzar hanya terkekeh seraya menggeleng, merasa geli dengan tingkah istrinya dikala gugup.
..........
Beberapa saat kemudian Safa membuka pintu, hanya sedikit. Ia mengintip sebentar mencari keberadaan Edzar.
"A Uda?" panggilnya.
"Ya?" Edzar menyahut. Safa bisa melihat pergerakan dari atas ranjang. Sontak Safa menjauhkan diri dari celah pintu.
"Kenapa, Ai?" Suaranya terdengar mendekat. Dan Safa tidak bisa menahan debaran jantungnya yang kian menggila.
"I-itu .... Handuknya mana? Kok, gak ada?"
Sesaat hening, tak ada jawaban dari Edzar. Safa mengira mungkin pria itu tengah mengingat-ingat.
"A?"
"Oh, iya. Uda lupa kalau handuknya ada di lemari. Sebentar, Uda ambilkan."
"Sekalian sama baju Safa di koper, dong!" seru Safa saat langkah kaki Edzar menjauh.
Tak berapa lama Edzar kembali. Safa mengulurkan tangannya keluar. Namun beberapa detik berlalu Edzar tak juga menyerahkan apa yang dia butuhkan.
"A Uda?"
Hening.
"A Uda, ih, kok, diam? Mana baju dan handuknya?"
Masih tak ada sahutan. Padahal Safa yakin Edzar ada di balik pintu.
Ngapain, sih, dia?
Safa merengut. Apa Edzar mau mengerjainya?
"Ai?" panggil Edzar setelah beberapa saat.
"Apa? Mana handuknya?" pinta Safa tak sabar. Tidak tahukah Edzar dirinya sudah kedinginan.
"Menjauh dari sana."
Dahi Safa mengernyit, tak mengerti dengan ucapan Edzar yang menurutnya tidak nyambung.
"Apa?"
__ADS_1
"Menjauh."
"Kenapa, sih?" tanya Safa kesal. Walau begitu dia menurut, menarik tangannya yang terulur dari celah pintu, lalu menjauhkan tubuh sesuai permintaan Edzar.
"Udah! Mau apa, sih?"
Sejenak suasana kembali hening. Safa berkerut hendak mendekati pintu lagi, bermaksud mengintip keberadaan Edzar.
Namun ....
Brak!
Tanpa diduga pintu itu tiba-tiba terbuka, sedikit keras saat berbenturan dengan dinding.
"Aaa ...!" teriak Safa seketika. Tangannya menyilang di depan dada, pun kakinya yang merapat melindungi tubuh bawahnya.
Edzar berdiri di sana, di ambang pintu dengan nafas terengah seolah habis lari maraton.
Safa kalang kabut, refleks dia berbalik membelakangi Edzar, berusaha menyembunyikan dirinya yang polos dari pandangan Edzar. Meski semuanya percuma karena Edzar sudah pasti melihatnya.
"A Uda kenapa pintunya dibuka! Safa kan belum pakai baju~" rengeknya hampir menangis. Dia malu, ini pertama kali Safa polosan di depan orang, lebih tepatnya pria.
Edzar tak menyahut. Pria itu malah mendekat, kontan Safa semakin mengkerut di tembok. Hingga tiba ia merasakan Edzar di belakangnya, merapatkan tubuh, menghimpit Safa ke dinding.
"Ai?" bisiknya di samping telinga Safa.
Safa merinding, suara Edzar terdengar begitu serak. Ditambah nafas berat pria itu yang menimpa sekitaran leher dan telinganya. Mata Safa terpejam erat, terlebih saat Edzar semakin menekan tubuhnya tanpa jarak. Bisa Safa rasakan sebuah benjolan yang mengeras menyentuh belahan tubuh belakangnya.
Edzar menggeram rendah, merasakan bajunya yang basah ketika bersentuhan dengan kulit Safa yang kuyup oleh air. Dia hampir gila hanya dengan melihat tangan gadis itu yang terulur di celah pintu tadi.
Putih, segar, dan tampak sehat. Siapa yang tidak akan tergiur? Pikiran Edzar jadi berkelana ke mana-mana, membayangkan Safa tanpa busana di dalam sana.
Dan Edzar lebih gila lagi ketika melihatnya secara langsung. Menyentuhnya dengan nyata seperti sekarang. Nafsunya langsung meluap ke ubun-ubun. Kepala Edzar pening oleh harum Safa yang memabukkan sehabis mandi. Edzar benar-benar tak bisa lagi menahan diri.
Dibaliknya tubuh Safa cepat, menyentaknya ke dinding dengan lembut. Gadis itu masih setia memejam, tak berani menatapnya. Masa bodo, Edzar sudah tidak kuat lagi. Serta-merta dia langsung mencium Safa dengan rakus, penuh nafsu dan menggebu.
Edzar menggeram. Rintihan Safa membuat gairahnya semakin menggelora. Tangannya meraba ke sana kemari, menyentuh tidak sabar tubuh Safa yang sekal dan seksi. Terutama dada berisi itu yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikiran Edzar.
Direngkuhnya pinggang Safa, memeluknya semakin merapat tanpa jarak. Mengusap pelan pinggulnya untuk kemudian dia angkat. Refleks kaki Safa melingkari pinggangnya.
"Emh ...."
Edzar membawa gadis itu di gendongan, bibirnya terus mencium tanpa henti sampai kemudian tubuh Safa terpelanting di atas ranjang.
Nafas gadis itu terengah. Matanya mengedip sayu. Menggairahkannya lagi, posisi Safa yang sedikit mengangkang efek dijatuhkan secara tiba-tiba, betul-betul membuat Edzar hilang akal.
Edzar benar-benar dibuat menelan ludah melihat pemandangan tubuh bawah Safa. Bersih tanpa bulu. Segaris merah muda pudar mengkilap di tengahnya. Pusat tubuh gadis itu adalah perwujudan dari fantasi setiap pria.
Sepertinya gadis itu tidak main-main dalam hal perawatan. Semuanya ia jaga sampai ke dalam-dalam.
Dan Edzar berani membayar mahal jika yang ia dapatkan seindah ini. Dia pastikan Safa tak akan kekurangan apapun dalam kegemarannya merawat tubuh.
__ADS_1
"Engh ...."