
"Dia kembali bereaksi dengan pendapat orang terhadap dirinya. Saya sudah pastikan, traumanya memang kembali."
Tuan Halim terdiam mendengar penjelasan Rey. Matanya kosong menatap tautan tangannya di atas lutut. Sebelum kemudian dia mendongak, "Lalu obat itu...."
"Seperti yang Om katakan, Safa mengkonsumsinya secara diam-diam, kemungkinan besar dia tidak ingin keluarga atau siapapun tahu mengenai kondisinya. Dan fatalnya dia memilih menggunakan ini tanpa resep dokter. Itu membuatnya kecanduan dan ingin terus-menerus meminumnya setiap hatinya resah atau tidak tenang. Ini sangat berbahaya. Jika dibiarkan bisa menimbulkan overdosis bahkan kematian."
"Sebenarnya, Safa sudah mengkonsumsi ini sejak lama. Bukan hanya saat bekerja di perusahaan seperti yang Om bilang atas pengakuannya."
"Jadi maksudmu, dia berbohong pada saya?"
"Sayang sekali saya harus mengatakan iya."
"Kita harus segera melakukan terapi, Om," lanjut Rey.
Tuan Halim menunduk menghela nafas panjang. Memijat pangkal hidung guna meredakan pening yang tiba-tiba melanda. Apa dia telah gagal menjadi orang tua? Dia bahkan tidak tahu kapan putrinya mengalami kesulitan. Dia pikir cukup dengan membuat Safa merasa nyaman maka semuanya akan selesai.
Bukan tanpa alasan dia membiarkan Safa tak melanjutkan pendidikan, bukan tanpa alasan juga dia memanjakan Safa dengan harta dan kemewahan. Dia hanya ingin membuat Safa bebas dengan memberi semua yang putrinya inginkan. Tanpa berniat mengisolasinya dari lingkungan sosial.
Dia juga tak mempermasalahkan Safa yang senang berdiam diri di kamar dengan dalih menonton drama. Hanya bermain dengan satu teman bernama Kamila. Dia pikir karena Safa terlanjur nyaman dengan sahabatnya. Ternyata ada alasan lain di balik itu semua. Safa tak mempercayai siapapun. Rasa pesimis yang berlebihan itu belum menghilang dari dirinya.
Lalu, apa sikap periangnya selama ini hanya kamuflase?
Semua ini bermula dari insiden di perusahaan waktu lalu. Tanpa sengaja dia menemukan sebotol kecil obat penenang dalam tas Safa. Tentu dia mengenali obat itu, Safa juga pernah menggunakannya ketika menjalani terapi psikologis saat umur 8 tahun. Tidak dia sangka hal ini akan berkelanjutan.
Ia pikir Safa sudah sembuh sepenuhnya. Entah kapan trauma itu muncul kembali, dan entah apa yang memicunya.
Sejak kecil mental Safa terbilang lemah. Perkembangan otaknya juga tak secepat anak-anak lainnya, karena dia lahir prematur. Bahkan waktu itu putrinya hampir tak selamat.
Dia ingat bagaimana sulitnya perjuangan mempertahankan nyawa bayi kecil itu untuk bisa melihat dunia. Rasanya dia berani menukar kehidupannya sendiri saat Tuhan nyaris mengambil Safa kecil darinya.
Itulah alasan mengapa dia sangat protektif terhadap Safa selama ini. Karena dia takut bahkan untuk melihatnya tertusuk jarum.
Tuan Halim mendongak menatap Rey dengan mata yang sudah membayang. "Tolong lakukan apapun," putusnya.
Rey mengangguk, "Om tenang saja. Safa itu sepupu saya. Sudah pasti saya akan melakukannya semaksimal mungkin."
Selepas dari rumah sakit, Tuan Halim bergegas kembali ke villa yang ditempatinya bersama Safa di Bandung. Sebenarnya dia tak sepenuhnya melakukan dinas di sini, untuk masalah cabang usaha sudah teratasi beberapa waktu lalu, selebihnya bisa diserahkan pada orang kepercayaan.
Namun sesaat setelah Safa dirawat di rumah sakit, diam-diam dia kembali ke Bandung menemui Rey dengan alasan pekerjaan, untuk bertanya mengenai obat yang dia temukan dalam tas Safa di tangga darurat tempo lalu.
Dia memang kecewa dan marah, tapi lebih pada diri sendiri yang merasa bersalah. Ternyata dia tak sepenuhnya mengerti perasaan Safa. Kalau dia mengerti, sudah pasti hal seperti ini tak akan terjadi.
"Pak, mampir ke kedai bakso dulu, ya," pintanya pada Pak Iwan yang sedang menyetir.
"Baik, Pak," sahut Pak Iwan.
.................
Safa duduk tegang menunggu Edzar keluar dari kamar mandi, sembari merutuki dirinya yang malah hanyut dalam buaian Edzar tadi. Safa menyentuh bibirnya yang terasa bengkak, sepertinya Edzar bukan mencium, tapi mengunyah bibir Safa hingga seperti ini.
__ADS_1
Apa yang harus Safa katakan pada ayahnya nanti. Semoga saja tidak terlihat jelas.
Safa merengut menendang-nendang kaki meja dengan pelan, tanpa menyadari Edzar yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Lelaki itu mengulas senyum, duduk di lengan sofa, merangkul bahu Safa dan menumpukan dagunya di atas kepala gadis itu.
Cup.
"Kenapa manyun gitu, hmm?"
Safa tak menjawab dan terus memasang wajah masam. Menoleh pun tidak. Edzar menahan geli melihat raut marah gadisnya, terkesan lucu dan menggemaskan.
"Ai?" panggil Edzar mesra.
"Sayang?" Safa masih setia bungkam.
"Cinta~"
Kali ini Safa bereaksi, "Ih, apaan sih geli banget!" serunya seraya melepas rangkulan Edzar. Padahal dalam hati dia ketar-ketir. Edzar mulai menunjukkan tanda-tanda kesurupannya lagi.
Sepertinya memang benar, lelaki itu kerasukan jiwa Kaisar romantis di masa lalu. Hih, kok ngeri.
Tak ada gunanya Safa menghindar. Tangan Edzar yang panjang mampu meraihnya kembali dengan mudah. Bahkan sekarang Safa berada di pelukannya, bersandar di dada bidang Edzar yang mirip papan cucian.
"Jangan gerak-gerak, atau nanti dia akan bangun lagi. Saya susah, loh, tidurinnya."
"Bodo amat. Siapa suruh nyosor-nyosor," cibir Safa.
"Ya udah lepas. Katanya takut bangun," ketus Safa yang dibalas gelengan oleh Edzar.
"Enggak. Begini aman. Asal kamu jangan nakal saja."
Safa mendelik menoleh ke belakang, yang langsung Edzar manfaatkan untuk mencuri ciuman.
Cup.
Hih, lama-lama Safa tendang juga anunya.
"Gak kebalik, ya? Bukannya di sini Om yang nakal? Om yang suka nyosor-nyosor aku. Nanti kalo aku hamil gimana?" seru Safa dengan nada tinggi.
Tanpa diduga Edzar malah tertawa. Keras banget. Safa sampai bengong melihatnya. Ini kali pertama Edzar tertawa selepas itu sampai air matanya keluar.
"Hahaha....."
"Aduh, Sayang. Kamu itu gemesin banget, ya. Mana ada orang hamil hanya karena pelukan dan ciuman."
"Atau jangan-jangan ini kode? Kamu mau hamil anak saya?" tanya Edzar menaik-turunkan alisnya.
Safa merengut malu, "Si-siapa bilang! Safa gak mau hamil anak siapapun!"
"Iya, kamu gak boleh hamil kecuali anak saya."
__ADS_1
Safa menyerah. Ngomong sama Edzar gak akan ada ujungnya. Entah kenapa lelaki itu jadi banyak bicara. Menyebalkan.
"Terserah. Mending sekarang Om pulang. Sebelum Ayah datang dan nendang Om dari sini."
"Biar saja," jawab Edzar santai. Pria itu sudah kembali ke mode kalem. Memeluk Safa erat dari belakang. Sesekali dia menghirup wangi rambut gadisnya yang selembut sutera.
"Om, ini bukan waktunya debat, ya. Pulang sana. Nanti Ayah keburu dateng terus mikir macem-macem gimana?" tanya Safa gemas.
"Kenapa sih memangnya? Santai aja kali."
"Santai, santai, pala kau santai," dumel Safa tak jelas.
"Gak mau tau pokoknya Om pergi dari sini sekarang! Atau aku gak mau lagi ketemu sama Om," ancam Safa yang sebenarnya dia tidak yakin akan berhasil.
Namun ternyata hal itu cukup berpengaruh bagi Edzar. "Lho, kok gitu? Gak bisa, dong. Kalau saya kangen gimana?"
Safa hanya mengangkat bahu tak acuh.
Edzar menghela nafas ketika suasana di antara mereka mendadak hening.
"Ai?" panggilnya pelan.
"Ai coba noleh sebentar. Dengerin saya."
Safa tak menggubris. Memangnya apa, nanti dia dicium lagi. Dia sudah tahu modus Edzar.
Berbanding terbalik dengan pikiran Safa, Edzar justru terlihat serius.
Ditariknya pelan bahu Safa hingga menoleh ke belakang. Belum sempat gadis itu protes, Edzar sudah lebih dulu menyela.
"Kamu khawatir hubungan kita akan ketahuan?" tanya Edzar dengan suara halus.
Safa terdiam menatap lelaki itu.
"Kamu gak baca pesan saya, ya?"
Dahi Safa mengerut. Pesan?
"Mana hape kamu?"
Lantas Safa menunjuk meja. Lekas Edzar mencondongkan tubuh meraih benda pipih itu. Safa mengerang protes karena merasa terjepit saat Edzar menunduk.
Mereka kembali ke posisi semula. Edzar mengotak-atik ponsel itu sebentar, lalu memperlihatkan layarnya ke depan wajah Safa.
Terdapat laman percakapannya dengan Edzar. Safa mengernyit mencoba memahami apa yang salah. Lalu kemudian Edzar menjelaskan. "Di sini tertulis, kalau sampai saat itu kamu tidak membalas pesan saya, saya akan temui orang tua kamu dan lamar kamu."
"Dan kamu tidak balas pesan saya. Berarti saya berhak lamar kamu sekarang."
Apa? Kenapa begini? Edzar tidak serius, kan?
__ADS_1