SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 143


__ADS_3

"Kakak Peri, di sini!" Citra berteriak melambai-lambai agar Safa cepat menghampirinya.


Setelah keinginannya untuk berfoto dengan Safa terpenuhi, gadis itu tidak malu-malu lagi. Mengajak Safa ke sana kemari melakukan swafoto di berbagai space halaman Uwa Nining yang memang terbilang elok dengan tatanan yang apik.


"Bagusan sini, Cit." Safa menunjuk undakan batu di samping kolam ikan dan jembatan penghubung gazebo. Banyak ikan koi yang berenang-renang di sana. Ikannya responsif jika kita menebar pakan.


Citra kembali berlari ke arah Safa, lalu memanggil ayahnya untuk segera memotret mereka. Safa ingin tertawa melihat raut Reno yang masam.


Memang sejak tadi lelaki itu yang bertugas sebagai fotografer, mengikuti kemana pun Citra dan Safa melangkah. Itu atas kemauan Citra, jadi Reno mana bisa menolak.


Sesekali Safa iseng mengerjainya, semisal Reno yang harus jongkok setengah tengkurap untuk mengambil angle yang bagus, dan Citra yang polos turut mendukung usulannya.


Rasanya puas sekali melihat dokter satu itu tak berdaya di hadapan anaknya. Ternyata Reno tak lebih dari suami takut istri dan anak. Apapun yang dua orang itu inginkan, sebisa mungkin Reno menurutinya.


"Om Ren! Yang bener, dong! Masa yang difoto Citra doang, Safa-nya gak kebawa." Safa merengut melihat hasil jepretan Reno yang terkesan berat sebelah. Di sana hanya ada gambar Citra, sementara Safa hanya terlihat bahunya saja.


"Iya, Papa. Kok, Kakak Peri-nya gak dibawa?"


Reno mencibir, "Dibawa, dibawa, memangnya barang?"


Setengah menggerutu Reno mengulang kembali jepretannya atas permintaan Citra. Tak jauh dari sana, Dona tergelak menyaksikan ketiganya, apalagi melihat suaminya yang semakin tak berkutik, Citra memiliki kubu baru sekarang, yaitu Safa.


Dua gadis beda generasi itu memang cocok, terlebih mereka sama-sama penggemar Korea. Safa yang cantik bak aktris Negeri Gingseng berhasil memperkuat visualisasi Citra terhadap orang-orang bermata sipit.


Sama-sama menggemari Drama Korea, pembicaraan mereka juga terdengar nyambung dan sejalan. Safa cukup pintar berbicara. Tak hanya cantik, dia memikat semua orang dengan keramahan alaminya. Sikapnya terkesan murni tanpa dibuat-buat. Tak heran Edzar dengan mudah jatuh dalam pesonanya.


Beberapa kali Dona menangkap Edzar mengamati lamat gadis itu. Pria itu juga kerap salah tingkah jika Safa menatapnya balik. Meski tak kentara, tapi jika ditelusuri lebih jauh, tatapan Edzar menyimpan berbagai makna yang tak ada seorang pun bisa menebaknya.


Dona mendongak ke lantai atas. Terhitung hampir satu jam lamanya Edzar pergi menemui Dyah. Entah apa yang akan dibicarakan ibu mertuanya itu. Satu hal yang Dona tahu, sepertinya Dyah kurang setuju dengan gadis pilihan Edzar.


Dona tidak tahu apa yang mendasari ketidaksukaan Dyah terhadap Safa. Selain minus di pendidikan, menurutnya Safa sangat masuk dalam kriteria menantu idaman. Apa mungkin karena sifat boros gadis itu yang gemar belanja? Bisa jadi. Tapi Safa melakukannya karena mampu. Menurut Dona itu sah-sah saja. Dia juga kerap membeli barang-barang branded dan mahal, tapi Dyah seakan tak mempermasalahkan.


Selama mereka mampu, apa salahnya?


Tak lama Dona melihat Edzar keluar dari pintu belakang. Kaki panjangnya melangkah menghampiri Safa yang masih sibuk bersama Citra dan Reno. Dona mengernyit, raut Edzar nampak sedikit masam walau coba disembunyikan.


Hey, dia seorang psikolog. Wajar jika dia peka terhadap ekspresi seseorang.


Sebenarnya, apa yang mereka bicarakan sampai selama itu, hingga membuat suasana hati Edzar berubah.

__ADS_1


.............


"Sudah mau sore. Ayo kita pulang."


Safa menghentikan tawa, pun Citra dan Reno yang ikut bungkam menoleh pada Edzar.


"Loh, gak ikut pengajian dulu? Bentar lagi ashar." Reno menyahut heran. Dia pikir Edzar akan pulang setidaknya menjelang magrib setelah selesai acara tasyakur.


Namun Edzar menggeleng, "Gak bisa. Dari sini ke Bandung itu jauh, belum lagi setelahnya harus pulang ke Jakarta. Menurutmu kapan aku bisa sampai?"


Safa tersentak. Edzar kenapa? Apa pembicaraan dengan ibunya berakhir buruk?


"Biasa aja dong ngomongnya," gumam Reno pelan. "Citra, sudah foto-fotonya, ya. Papa capek, lho. Kamu juga harus mandi sebelum banyak orang. Ajak Mama, gih."


Entah gadis itu yang terlalu peka akan situasi, atau Citra memang polos hingga segera menghampiri ibunya yang sejak tadi berdiri di atas jembatan, memperhatikan mereka.


Selepas Dona dan Citra pergi, Reno kembali menatap Edzar yang kini tengah membantu Safa naik dari undakan kolam.


"Kalau Abang mau pulang, jangan lupa pamit, terutama sama Uwa Nining, Leni dan suaminya."


Edzar menghela nafas, "Kamu pikir aku manusia tanpa tatakrama? Jelas kami berdua akan pamit."


Tibalah Safa mohon diri pada Tante Dyah. Jantungnya bertalu gugup, memikirkan kalimat apa yang baiknya ia katakan. Namun sebelum itu ia dan Edzar berpamitan lebih dulu pada si pemilik hajat. Uwa Nining dan keluarga.


"Kenapa gak diam dulu, toh? Sebentar lagi tasyakuran. Kalian juga belum lama di sini. Gak mau nginep aja?" tanya Uwa Nining.


Edzar tersenyum tipis, "Enggak, Uwa. Kami harus pulang sekarang. Edzar sudah diwanti orang tuanya Safa agar pulang sorean."


"Begitu, toh..." gumam Uwa Nining. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Sering-seringlah berhenti jika lelah. Terutama kamu, Edzar. Setelahnya kamu masih harus balik ke Jakarta."


"Tunggu sebentar. Leni...." Uwa Nining berseru keras, yang lantas dibalas sahutan tak kalah keras dari Leni di dapur. "Iya, Mah...."


"Cepat itu udah selesai belum? Orangnya udah mau pergi, nih!"


"Siap bentar lagi!"


Tak lama Leni muncul dari dapur, menenteng beberapa kresek besar yang entah berisi apa saja.


"Ini?" Edzar tampak kebingungan saat Leni menyerakan semua bingkisan itu padanya.

__ADS_1


"Kakaren, A." (Makanan sisa hajat, atau bisa juga berarti oleh-oleh)


"Apa, sih, gak usah," tolak Edzar.


"Heh, gak baik nolak rezeki, ya. Meski sampeyan itu kaya," ketus Leni. "Ya kan, Teh?"


Safa hanya bisa meringis canggung. "I-iya," ucapnya sedikit menggaruk pipi.


"Ini buat berdua sama si Teteh. Gak mau tau, bawa pokoknya. Ada mangga juga. Katanya Teh Safa suka banget mangga. Nah, ini beda, Teh. Masih seger. Baru metik dari pohonnya. Kebetulan punya tetangga udah mateng."


Kening Safa mengerut tak enak, "Kenapa harus repot-repot, sih, Mbak.... Jadi gak enak, deh."


"Gak enak apa, toh, Nak? Di sini itu sudah biasa, kalau ada acara seperti ini, keluarga gak boleh pulang dengan tangan kosong," jelas Uwa Nining.


Sejenak Safa mematung. Dibanding keluarga Edzar yang lain, mereka menerima Safa dengan baik. Safa diperlakukan dengan hangat di sini. Namun, apa gunanya semua itu bila ibu kandung Edzar sendiri tak menyukainya.


Edzar menghela senyum, menerima semua bingkisan dari tangan Leni yang terlihat sangat kerepotan. Kasihan juga.


"Ya sudah, hatur nuhun, Uwa. Kalau begitu kami pamit." (Hatur nuhun : terima kasih)


"Bu, Edzar pulang duluan," ucapnya menghampiri sang ibu yang sejak tadi bungkam. Mencium tangannya dengan hormat, lalu mengecup sekilas pipinya.


"Hati-hati," gumam Dyah.


"Hm."


Edzar berbalik, matanya bertemu dengan Safa yang terpaku. Tadinya dia mau langsung saja mengajak Safa ke mobil. Namun tanpa diduga gadis itu berjalan melewatinya. Kontan Edzar menoleh.


Tampak Safa berdiri di depan ibunya. Gadis itu terlihat ragu mengulurkan tangan pada Dyah yang terlihat datar. Cukup lama tangannya menggantung di udara. Pun suasana yang mendadak hening tak mengenakkan.


"Ai—" Ucapan Edzar terhenti kala dilihatnya sang ibu mulai menyambut tangan putih gadisnya.


"Hati-hati," pungkas Dyah, kemudian berbalik memasuki rumah Uwa Nining. Diiringi tatapan nanar Safa yang sekeras mungkin menahan hatinya yang kembali merenyut.


Canggung. Itulah yang terjadi selepas kepergian Dyah. Edzar menghela nafas menghampiri Safa yang enggan beranjak.


Diraihnya pelan bahu gadis itu hingga berbalik, "Ayo," bisiknya.


Safa mendongak, kemudian mengulas senyum yang terlihat seperti dipaksakan di mata Edzar.

__ADS_1


"Hmm," gumamnya, menggenggam jemari Edzar yang merangkulnya.


__ADS_2