SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 52


__ADS_3

Sejenak Edzar mematung, entah apa yang dia pikirkan. Dibiarkannya Safa berbuat semaunya, sementara dia sibuk mengunyah makanan.


“Om?”


Edzar terlonjak saat Safa berbisik tepat di samping telinganya. Menyalurkan rasa geli dan gelenyar aneh yang serta-merta Edzar rasakan. Tiba-tiba dia jadi sulit menelan.


“K-kenapa?” Edzar memaki suaranya yang terdengar gagap. Mulutnya berdehem pelan berusaha terlihat tenang.


“Katanya mau makan sesendok berdua. Kok, Om Edzar makan sendiri?” Safa memajukan bibirnya cemberut. Entah kenapa melihat Edzar makan dia jadi ngiler. Padahal sejak siang Safa banyak ngemil.


“Oh, ya sudah, nih.” Edzar menyodorkan toples itu pada Safa. Tapi gadis itu malah diam tak bersuara, membuat Edzar berkerut penasaran hingga menoleh.


“Suapin. Aaa....”


Sejenak Edzar terpaku pada kedekatan mereka. Jarak yang tidak lebih dari 5 senti itu membuat Edzar bisa merasakan aroma segar dari mulut Safa. Mulut yang pernah Edzar sapa kelembutannya. Dan sialnya Edzar tak bisa menahan matanya untuk melirik ke sana.


Bibir penuh dengan warna pink mengkilap, entah gadis itu mengoleskan apa sebelumnya. Terlihat manis dan menggoda untuk disesap. Edzar meneguk ludahnya kasar. Dia tidak pernah merasa terlena pada kecantikan seorang wanita seperti ini. Paling banter Edzar hanya mengagumi mereka tanpa benar-benar menginginkannya. Tapi sekarang, entah kenapa akal sehatnya hampir hilang hanya karena melihat sebuah bibir yang terbuka seolah mengundang untuk disapa.


“Om? Cepetan... Safa pegel ini mangap terus,” ujar Safa kesal.


Gadis bodoh, seharusnya kamu bisa menahan mulutmu untuk tidak bersuara. Ucap setan yang menyaksikan mereka sejak tadi.


Spontan mata Edzar berkedip cepat. Apa yang dia pikirkan? Berkali-kali dia mengucap nama Tuhan dalam hati. Cukup sekali dia khilaf mencium bibir itu. Jangan sampai hawa naf*su membuatnya ketagihan. Inilah bahaya bila berduaan saja dengan lawan jenis.

__ADS_1


Edzar berdehem keras mengalihkan pandangan. Dengan tergesa tangannya segera menyendok lasagna dan menyuapkannya ke mulut Safa.


Safa mengernyit melihat gelagat Edzar yang tak biasa. Lalu mengangkat bahu dan kembali fokus menggosok rambut Edzar.


Dasar tidak peka.


Entah berapa lama waktu berlalu. Safa sudah selesai mengeringkan rambut Edzar, bahkan dia menyisirnya hingga rapi. Lasagna yang ia bawa juga sudah tandas. Kini tinggal mereka yang duduk diam berdampingan. Melihat langit malam tanpa bintang. Sunyi, sepi, namun menenangkan. Beginikah rasanya menghabiskan waktu berdua dengan orang yang disuka?


Safa melirik Edzar yang tengah bersidekap. Lelaki itu sudah melepas sarungnya menyisakan celana pendek selutut yang menampilkan betis berbulu. Aihh... otakmu Safa.


Baju kokonya juga sudah diganti dengan t-shirt putih polos. Mau memakai apapun Edzar tetap memesona di mata Safa. Begini, nih kalau orang sudah bucin. Seburuk apapun penampilannya tetap bikin jantung ser-seran. Eh, tapi Edzar belum pernah tampak jelek selama ini.


“Kamu tidak pulang? Orang rumah tidak mencarimu?”


“Ayah lagi dinas ke luar kota, Bunda ikut. Bang Dava belum pulang dari kantor, katanya mau lembur.” Safa merengut mengingat abangnya yang jarang lembur entah kenapa hari ini mendadak lewat waktu. Tapi ada untungnya juga sih, Safa jadi bisa berduaan dengan Edzar tanpa takut dicariin.


“Safa!” Dava berteriak di samping mobilnya. Pria itu nampaknya baru pulang. Kok, Safa gak dengar, sih? Dia juga tidak menyadari kedatangan Pajero Sport itu.


“Ngapain kamu di sana? Turun!”


Wajah Dava terlihat galak. Safa kalang kabut dibuatnya. Dengan panik Safa beranjak bersiap menaiki balkon. Edzar yang melihat itu sontak berdecak dan menahan lengannya. Apa gadis itu tidak kapok dengan kakinya yang terkilir?


Safa menoleh bertanya. “Kenapa, Om?”

__ADS_1


“Jangan lewat sana. Lewat pintu saja.” Edzar mengendikkan dagu menunjuk kamar, bermaksud menyuruh Safa keluar dari sana.


“Ahahaha, iya, yah.” Safa tertawa garing menurunkan kakinya dari railing balkon. Lalu segera berlari memasuki kamar Edzar.


Tapi ada masalah, pintunya terkunci. Safa menoleh pada Edzar, “Om, kuncinya mana?” tanyanya panik.


Edzar menghela nafas dan menjawab malas. “Di saku celana.”


Serta-merta Safa mendekati Edzar. Pria itu mengernyit sebelum terlonjak saat tangan-tangan mungil Safa menggerayanginya. Reflek Edzar mendorong gadis itu menjauh dan berujar kesal.


“Di saku kamu, Safa. Bukan saku saya!”


“Oh?”


Safa segera meraba celananya dan meringis malu ketika merasakan tonjolan kecil benda yang dimaksud. Cepat-cepat dia membuka pintu dan bergegas keluar. Hampir dia bertubrukan dengan Bik Yah saat menuruni tangga. Safa meminta maaf dan kembali berlari. Meninggalkan asisten rumah Edzar yang kini terlihat linglung.


“Lho, lho, Neng Safa?” tanyanya entah pada siapa.


Tak lama Edzar muncul dengan langkah tergesa. Wanita itu segera menjegal langkah majikannya. “Den, itu makanannya sudah bibi hangatkan.”


Edzar berhenti sejenak, “Bibi habiskan saja, ya. Saya sudah makan,” ucapnya sebelum berlalu ke ruang depan.


Si Bibi terlihat heran. Ada apa dengan mereka? Kenapa lari-larian kayak di sinetron.

__ADS_1


“Den Edzar kapan makan, ya. Perasaan dari tadi belum keluar kamar.” Bik Yah nampak berpikir keras. “Terus itu Neng Safa kapan masuknya? Kok, tiba-tiba udah muncul dari atas saja?”


Bik Yah menggaruk lehernya bingung. Apa dia yang pikun?


__ADS_2