SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 192. EDZAR SIDE [FLASHBACK] 2


__ADS_3

Pukul 17:05. Aku masih setia berdiri di bawah pagu gerbang rumah orang. Sempat ditawari masuk oleh satpam yang berjaga dan ngopi bersamanya di pos. Tapi kutolak dengan berbagai alasan. Aku hanya segan harus melewati batas pagar orang asing. Lagipula aku lebih senang di sini. Entah kenapa aku tidak bisa lepas memperhatikannya walau dari jauh.


Hujan sudah reda sejak beberapa saat lalu. Menyisakan gerimis-gerimis kecil yang masih cukup rapat. Meski begitu sepertinya sudah aman untukku pulang.


Aku menoleh sejenak ke arah halte yang sudah sepi. Hanya ada gadis itu yang menunggu sendirian. Keningku berkerut. Apa tak ada yang menjemputnya?


Kasihan sekali.


Aku terus mengawasinya dari jauh. Hingga tak lama kemudian sebuah mobil berupa sedan mewah datang menghampirinya. Seorang pria berjas turun dan berlari ke arahnya.


Jika aku tidak salah lihat gadis itu merengut dan menangis. Kakinya menghentak seolah merajuk. Pasti dia kesal sekali. Pria yang kupikir adalah ayahnya lantas memeluk tubuh mungil yang basah kuyup itu. Kulihat dia tersedu. Pria itu menggiringnya memasuki mobil, lantas mereka pergi meninggalkan angin yang berhembus ke arahku.


Seharusnya akupun pergi. Namun entah apa yang membawa kakiku menghampiri halte tempat dia berdiri tadi. Tubuhku mematung sesaat. Lalu, terdengar suara lirihan mengeong yang berasal dari kolong bangku.


Aku berjongkok, melongok ke dalam dan mendapati anak kucing itu kembali mengeong melihatku. Lantas kuraih tubuh mungilnya yang lembab dan kotor. Memangkunya dalam gendonganku.


Kuusap kepalanya dengan pelan. Hingga matanya membuka dan menutup merespon sentuhanku. Aku memutuskan membawa ia pulang untuk dirawat.


Saat hendak berbalik, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang berkilau. Persis di pinggir jalan tempat gadis itu kehujanan. Aku berjalan mendekat, mendapati sebuah kalung tergeletak menjuntai dan hampir jatuh ke pinggir jalan.


Lantas kuambil benda itu dan mengamatinya dalam diam. Seketika seraut wajah cantik memenuhi isi kepala. Senyumnya yang manis dan lembut kembali membuat hati bergetar. Kendati itu hanya bayangan.


Safana.


Jadi namanya Safana?


Nama yang cantik. Persis orangnya.


Tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Kusimpan kalung itu ke dalam tasku. Lalu menunduk, menatap kucing kecil yang mengingatkanku pada gadis itu.


"Safana. Kuberi kau nama Safana," gumamku seraya mengusap kepalanya. Lantas menyetop taksi yang lewat.


Akupun pulang membawa segenap rasa baru yang melingkupi hatiku.

__ADS_1


...


Keesokan harinya aku kembali ke halte itu. Bukan apa-apa, aku hanya berniat mengembalikan kalung yang kemarin kusimpan. Meski dalam hati ada secuil harapan untuk bisa melihat lagi wajah yang semalaman mengisi mimpiku.


Namun harapan tinggal harapan. Hingga sore menjelang gadis itu tak juga kelihatan. Apa sudah pulang? Tidak mungkin. Aku sedari habis dzuhur langsung ke sini. Atau ia dijemput di gerbang sekolah?


Ya. Mungkin saja.


Akhirnya aku memutuskan pulang saat adzan magrib berkumandang.


Entah apa yang membuatku begitu gila ingin menemuinya. Dia hanya anak kecil yang baru sekali saja kulihat, tapi berhasil melekat hingga tak jarang aku memimpikannya.


Hampir selama dua minggu aku rutin mengunjungi halte jika tak ada kesibukan di kampus. Harapanku masih sama. Bertemu dengannya.


Namun takdir kembali tak berpihak. Gadis itu masih saja tak terlihat. Sempat aku menunggu di dekat gerbang sekolahnya. Tapi tetap tak kutemui batang hidungnya.


Heru yang mencium ketidakwarasanku kontan penasaran. Dia kerap diam-diam mengikuti saat aku kemari. Puncaknya saat hari Senin, minggu ketiga.


Ternyata bukan hanya Heru. Ibu pun mengendus keanehanku yang kerap pulang lebih malam dari biasanya. Hanya saja ia tak berani bertanya karena wajahku kusut setiap sampai di rumah.


"Edzar, bicara sama Ibu, Nak. Kamu ada masalah apa? Heru bilang kamu aneh."


"Aneh gimana, sih, Bu? Edzar gak papa, kok. Capek aja mikirin skripsi," sahutku seraya memasuki kamar.


Ibu diam tak bicara lagi. Aku menutup pintu. Mataku langsung tertuju pada kursi rotan di pinggir jendela. Di sanalah kucing kecil yang kuberi nama Safana meringkuk dengan mata terpejam.


Tubuhnya sudah bersih, jauh lebih terawat ketimbang saat pertama kali memungutnya. Aku mendekat, mengusap kepala hingga pangkal hidungnya. Spontan ia mengeong menyadari kehadiranku.


"Tidurlah. Kamu pasti kekenyangan setelah makan, ya?"


Aku tahu Ibu merawatnya dengan baik. Selalu memberinya makan ketika aku tak ada di rumah. Seharusnya aku berterima kasih padanya. Bukan malah menyolot setiap kali ditanya.


...

__ADS_1


"Gila kamu, ya? Aku tidak salah mengira kamu menyukai gadis SMP 'kan?"


"Memang apa yang salah? Apa ada aturan soal umur dalam menyukai seseorang?"


"Ya gak gitu juga! Kamu segitunya bolak-balik ke sini kayak orang gila! Kamu sadar gak, sih, udah kayak orang bodoh?"


"Aku tahu kamu belum pernah jatuh cinta. Tapi sekalinya jatuh cinta jatuhnya malah be*go!"


Lagi-lagi aku berdebat dengan Heru. Lama-lama dia jadi menyebalkan. Dia terus mengikutiku ke halte. Aku yang kesal lantas meninggalkannya. Memacu motorku dengan kecepatan tinggi.


Terlalu larut dalam kemarahan membuatku tak peduli akan keselamatan. Hingga akhirnya saat di tikungan sebuah mobil minibus muncul dari arah kanan. Tabrakan pun tak terhindarkan. Aku dan motorku terpental hingga beberapa meter jauhnya.


Hal yang terakhir kudengar adalah suara orang-orang yang mendekat. Dan dalam sisa kesadaranku, senyum indah seorang Safana masih saja menghantuiku.


Karena kecelakaan itulah, Ayah serta Ibu membenci seseorang yang membuatku jatuh cinta. Hingga setahun setelah lulus kuliah mereka menjodohkanku dengan Sinta.


Aku sempat keras kepala menolak. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa ketika kucing kesayanganku yang kini sudah tumbuh besar terancam dibuang. Tentu aku tidak rela. Itu satu-satunya kenangan yang ditinggalkan gadis pujaanku selain kalung yang sekarang selalu kupakai.


Aku menyerah, tak lagi mendatangi halte seperti orang gila. Heru benar, aku berubah bodoh setelah mengenalnya. Mungkin Safana memang bukanlah takdirku. Kendati begitu aku tak lepas berdoa, meminta pada Tuhan untuk mempertemukanku dengannya sekali saja. Aku hanya ingin mengembalikan kalung yang dia tinggalkan.


Jika memang kisah kami tak pernah tertulis dalam buku takdir, maka biarkan aku melepas dia sepenuhnya. Karena aku tidak mungkin bisa membuang kalung ini, selain memberikannya langsung pada pemiliknya.


Itulah segenap cerita yang bertahun-tahun kusimpan dalam kotak usang. Hingga hadirnya berhasil membuka kembali sesuatu yang ingin kulupakan.


Safana. Aku melihatnya. Setelah bertahun-tahun lalu ia hilang bak ditelan bumi.


Gadis yang tak lekang selalu hadir dalam sebagian mimpiku, seolah-olah Tuhan tak mengizinkanku melupakannya. Dia ada di hadapanku. Dengan senyum dan pesonanya yang masih sama. Dan kembali membuatku tergila-gila.


Saat itulah aku sadar, Tuhan bukan tak mendengar permintaanku, Tuhan hanya telah mempersiapkan waktu yang tepat untuk mengabulkannya.


Dan kini, gadis itu telah sah menjadi istriku. Milikku selamanya.


Safana Halim. Dialah calon ibu dari anak-anakku.

__ADS_1


__ADS_2