SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 129


__ADS_3

"Bu." Edzar menatap ibunya lelah.


Sudah Edzar duga. Dia pikir setelah kejadian Liandra, Dyah akan kapok mencarikannya pasangan, nyatanya tidak, wanita itu hanya berusaha lebih selektif.


"Berapa kali Edzar bilang berhenti menjodoh-jodohkan. Edzar bisa cari sendiri, Edzar juga punya pilihan, Bu."


"Ya tapi sampai kapan? Dari dulu kamu juga bilang begitu sama Ibu. Mana buktinya? Belum ada satupun wanita yang kamu bawa pulang."


"Kalau begini terus kamu keburu tua. Reno bahkan sudah punya anak. Tirta sebentar lagi akan menikah. Kamu juga harus bersiap, Edzar. Tidak mungkin kamu sendiri terus sampai menopause. Mau jadi apa kamu nanti."


Sejenak Edzar terdiam. Ditatapnya sang ibu dengan raut serius, "Kalau Edzar bilang Edzar mau menikah, apa Ibu akan berhenti?"


Netra ibu dan anak itu saling berpandangan. Dyah menatap lekat mata yang mengingatkannya pada mendiang sang suami. Edzar juga paling tinggi di antara kedua adiknya. Dyah ingat dulu putra sulungnya pernah hendak mendaftar di kemiliteran. Namun tidak jadi karena Edzar lebih condong pada pendidikan hukum.


"Tergantung siapa yang mau kamu nikahi," sahut Dyah.


Edzar tercenung. Hatinya bergemuruh tak tenang. Jika ibunya tahu soal Safa sekarang, apa tidak apa-apa.


"Edzar punya seseorang yang menurut Edzar tepat," ucapnya kemudian.


Dyah tak menunjukkan reaksi apapun. Sejurus kemudian dia bertanya. "Siapa?"


Belum sempat Edzar menjawab, ibunya kembali melanjutkan. "Safa?"


Jelas lelaki itu mematung. Dia belum bilang pada siapapun tentang hubungannya dengan Safa. Dari mana ibunya tahu.


Dibanding itu, pikiran Edzar masih tak berhenti memikirkan keberadaan gadisnya yang sulit dihubungi. Ini sudah lewat 3 hari. Edzar tak bisa diam saja. Sudah cukup dia bersabar mengikuti alur. Dia tak ada waktu untuk menunggu lebih lama.


"Jadi akhirnya kamu memacari gadis itu?" tanya Dyah.


Edzar menatap ibunya lurus. "Benar," jawabnya pendek.


"Bu, Edzar hampir tidak pernah meminta apapun. Sekarang Edzar punya satu permintaan. Tolong lamarkan Safa untuk Edzar."


Hening.


Dyah menatap putranya dengan lekat. Di balik wajah datarnya, Edzar berharap-harap cemas menanti respon sang ibu.


Edzar betul-betul berharap kali ini ibunya bisa menerima Safa. Meski dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan sang ibu setidaksuka itu pada gadisnya. Tapi Edzar tak bisa melepaskan Safa begitu saja seandainya Dyah menolak niatannya.


"Memangnya kamu yakin Safa akan menerima lamaranmu?" tanya Dyah tiba-tiba.

__ADS_1


Kening Edzar berkerut.


"Kamu yakin Safa akan memerima lamaranmu setelah mengetahui masa lalumu?"


Suasana kembali hening. Edzar termangu menyerna pertanyaan ibunya. Setelah Heru, kini Dyah pun ikut membahas masa lalu.


"Memang ada apa dengan masa lalu? Semua orang juga memilikinya, kan?"


"Kamu jangan pura-pura naif. Pasti mengerti apa yang Ibu maksudkan."


Edzar menghela nafas mengalihkan wajahnya ke samping. Jakunnya naik turun menelan ludah. Edzar tak bisa bohong bahwa dia terpengaruh dan menjadi khawatir.


Ditatapnya kembali sang ibu yang menatapnya diam, "Aku akan membuatnya begitu mencintaiku hingga tak memiliki pilihan selain tinggal," putusnya tegas.


......................


Selama 34 tahun hidupnya, Edzar tak pernah merasa seresah ini. Dia selalu tenang dalam menghadapi segala hal. Berpikir dengan kepala dingin. Memecahkan masalah dengan begitu mudah. Tak pernah sekalipun Edzar mengedepankan perasaannya.


Mungkin ini kali pertama dia memusingkan sesuatu yang berasal dari hati. Setelah pembicaraannya dengan sang ibu, Edzar menjadi sedikit khawatir. Terlebih belum ada kabar sama sekali dari Safa.


Apa benar Safa akan meninggalkannya setelah tahu masa lalunya?


"Mas Edzar gak makan?"


Pertanyaan itu membuatnya tersentak. Edzar menoleh pada seseorang di depannya. Pada akhirnya dia terpaksa menghadiri kencan buta ini, demi menjaga nama baik ibunya terhadap orang tua si perempuan.


Edzar tak menjawab, namun tangannya bergerak mengangkat garpu menyuapkan pasta ke mulut. Mengunyahnya santai dengan wajah tak beriak. Tidak ada yang tahu sekusut apa pikirannya sekarang.


Akan tetapi, ternyata di mata Lusi—wanita yang saat ini menjadi partner kencannya, Edzar sangat mempesona. Meski sikapnya terlalu cuek dan dingin, tapi karismanya begitu kuat hingga Riri yakin semua wanita yang sudah ditatap Edzar hatinya akan bergetar.


Dengan raut malu-malu Riri kembali bertanya. Sebisa mungkin dia harus memulai pembicaraan karena Edzar terus bungkam.


"Mas Edzar sudah berapa lama menjadi jaksa?"


"Lebih dari lima tahun."


"Oh, kalau begitu sudah pernah dimutasi ke mana saja?"


Edzar menghentikan makannya sejenak, mendongak menatap perempuan di hadapannya. "Apa itu penting?" tanya Edzar dingin.


Dia tidak suka bicara panjang lebar apalagi terhadap orang asing. Terlebih saat ini mereka tengah makan, dia paling tidak suka berbincang sambil menyantap. Menurutnya itu melanggar etika kesopanan.

__ADS_1


Tiba-tiba dia teringat ocehan Safa. "Ada apa dengan Om? Memangnya Om bangsawan yang tidak bicara saat makan?" cibirnya saat itu.


Hatinya menghangat, Edzar benar-benar rindu raut cantik menggemaskan itu.


"Oh, maaf." Riri melirih dan kembali fokus dengan piringnya.


Tunggu sebentar, sepertinya ada yang Edzar lewatkan. Saat ia bicara dengan Heru, Safa berada di kamar mandi. Jarak kamar mandi dari sofa yang mereka duduki tidak cukup jauh hingga masih bisa terdengar.


Apa gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Heru?


Wajah Edzar berubah tegang. Jika benar, apa mungkin kepergiannya karena menyangkut hal itu? Safa salah paham padanya.


Tapi Edzar sudah yakin dia berbicara dengan suara kecil waktu itu. Dia tidak tahu kalau Safa memiliki pendengaran yang cukup tajam.


Serta-merta Edzar bangkit hingga kursi yang didudukinya menderit. Riri mendongak dengan tatapan heran. Apalagi Edzar memanggil pelayan untuk meminta bon.


"Mas Edzar mau ke mana?"


"Kamu lanjutkan makan. Saya harus pergi. Makanan ini biar saya yang bayar."


Raut Riri berubah keruh. Namun Edzar tak peduli dan tetap pergi setelah membayar tagihan.


Edzar memasuki mobilnya dan lekas meninggalkan restoran juga Riri yang kini tengah merengut menahan marah.


Namun, harus ke mana dia mencari Safa?


Edzar kembali dibuat pusing memikirkannya. Kalau begini terus, mau tak harus dia harus memakai jalan terakhir. Tapi sebelum itu Edzar mengirim pesan pada Safa. Tak peduli gadis itu menjawab atau tidak.


"Ai?"


"Kamu di mana? Saya ingin bicara."


Masih tak ada tanggapan. Safa benar-benar membuatnya hilang kesabaran.


"Kamu tidak mau jawab?"


"Kalau begitu jangan cegah saya untuk menemui orang tuamu. Saya akan lamar kamu sekarang juga."


Edzar melempar ponselnya ke samping. Untuk sekarang, dia harus menemui seseorang yang bisa membantunya melacak keberadaan Safa.


"Kamu bermain-main dengan orang yang salah, Sayang," gumamnya dengan mata menyorot tajam ke depan.

__ADS_1


__ADS_2