
Safa terperanjat ketika sepasang lengan merangkulnya dari belakang. Edzar baru saja pulang bekerja dengan seragam dinasnya. Ia mengecupi kepala Safa dan membauinya dengan mata terpejam, seolah letihnya menghilang sesaat setelah ia memeluk sang istri.
"Ada apa?" bisik Edzar lembut. "Uda lihat kamu melamun. Salam aja gak dijawab."
"Maaf ..." lirih Safa.
"Ada apa?" tanya Edzar lagi.
Safa tampak mengambil nafas lalu membuangnya perlahan. "Tetangga baru kita, Bu Halimah, beliau tadi datang ke sini."
Perlahan Edzar menegakkan tubuh melepas rangkulan tangannya di leher Safa, ia beralih menempatkan diri untuk duduk di samping istrinya. "Perihal apa?"
Safa menoleh pada Edzar. "Beliau bilang anaknya kemarin habis main sama Audi."
"Terus?" Edzar masih belum menemukan inti permasalahannya.
"Pulang-pulang dia nangis dan bilang gak mau main lagi sama Audi."
"Lho, kenapa? Audi nakal?"
Saat itulah Safa kembali menghela nafas berat. "Bukan Audi yang nakal, A ... tapi anak kitaaa ..." ujarnya gemas.
"Vina nangis karena dipelototi Ibra katanya. Anak itu bilang Ibra galak, matanya nyeremin. Gimana aku gak kepikiran coba? Di sekolah Ibra baik-baik aja, kok. Gak pernah lagi rusakin barang orang, pertumbuhan nilainya juga bagus."
"Aku kaget aja Ibra bisa begitu sama anak kecil, udah gitu anak cewek pula. Dia kan udah gede, udah 6 tahun."
Usai mendengarkan keluhan Safa, Edzar pun tertawa. Hal itu membuat Safa menoleh kesal. "Kok A Uda malah ketawa, sih?"
Perlahan tawa Edzar surut, ia pun meminta maaf pada sang istri yang merasa ceritanya dianggap lelucon.
"Maaf, habisnya Uda lucu bayangin Ibra melotot. Orang dia mukanya mirip kamu, pasti imut banget, mana ada serem-seremnya. Ada-ada aja."
"Tumben A Uda belain Ibra? Ibra udah salah, lho, bikin nangis anak orang."
"Ya terus gimana? Namanya anak kecil, kan? Ada aja tingkahnya. Lagian kita belum dengar perspektif Ibra bagaimana. Kita gak bisa dong menyimpulkan hanya dari satu sudut pandang saja. Ya kan?"
Safa seolah tersadar dan langsung bungkam. "Iya, sih."
"Ibra nya mana sekarang?"
Menoleh malas, Safa pun menjawab. "Ya di mana lagi kalau bukan di rumah Bang Dava? Itu anak kayak gak bisa sehari aja gak main di sana. Kalau gak diingetin gak bakalan pulang. Susah mandi kalau lagi asik."
Edzar mengangguk mengerti. Ia pun beranjak dari duduknya. "Biar Uda yang jemput dia. Kamu masak apa?"
"Tadi Ibra minta tumis bakso. Aku juga ada goreng ayam sama tumis kangkung, sambal matah juga."
Edzar tersenyum senang. Ia menggasak rambut Safa dan mengecupnya sekilas. "Jadi gak sabar pengen makan."
"Ya udah, Uda jemput Ibra dulu."
Safa mengangguk. Edzar pun berlalu meninggalkan Safa yang kembali sibuk menonton drama di TV.
Jangan salah, meski kini usianya hampir memasuki kepala tiga, Safa masih belum meninggalkan kecintaannya pada drama Korea. Edzar juga sudah memaklumi dan tak cemburu setiap kali Safa memuji aktor-aktor di sana.
Karena menurut Edzar, meski Safa memuji jutaan lelaki di luar sana, takdir wanita itu tetap bersamanya.
__ADS_1
***
"Mas Ibra ih pinjem ..."
"Gak mau, nanti kamu rusakin lagi."
"Gak akan."
"Tetap gak mau."
"Ih Mas Ibra pelit. Seruan Vina kalo diajak main." Audi merengut menyilangkan tangannya di depan dada.
"Ya udah sana main sama Vina. Vina nya juga gak mau main sama kamu," ketus Ibra.
"Hueee ... Mas Ibra jahat! Audi gak mau main lagi sama Mas Ibra!" raung Audi sambil membanting barang di sekitarnya. Ia bahkan melempari Ibra dengan mainan miliknya yang cukup keras. Namun begitu Ibra hanya diam di tempat menatapnya.
Sampai kemudian Edzar muncul di ambang pintu, ia baru saja tiba di rumah Dava dan disuruh langsung naik oleh Lalisa. Edzar mendapati ruang bermain Audi yang sudah berantakan bak kapal pecah. Ia bahkan tak bisa membedakan mana mainan Ibra mana mainan Claudia.
"Lho, lho, ini keponakan cantiknya Om kenapa? Kenapa nangis, Sayang? Mas nakal ya sama Audi?"
Edzar segera menghampiri Audi lalu memeluk dan mengusap-usap punggungnya berusaha menenangkan. "Cup, cup, Sayang. Anak cantik gak boleh nangis, nanti cantiknya diambil orang, mau?"
Masih dalam keadaan terisak, Audi pun menggeleng. "Enggak mau ... hiks. Mas Ibra nakal, Om ... masa Audi gak boleh pinjam mobil-mobilannya ... hiks ... hiks ..."
Edzar menoleh pada Ibra yang sedari tadi diam menatap mereka. Edzar menatap putranya teduh dan mengulurkan tangan besarnya, memberi isyarat untuk Ibra mendekat.
Ragu-ragu Ibra pun mendekati sang ayah yang langsung merangkulnya begitu jarak mereka terkikis.
Edzar memeluk anak dan keponakannya dengan sayang, mengecup keduanya dengan sama-sama hangat.
"Mas, Audi siapanya Mas?"
"Audi, Mas Ibra siapanya Audi?"
"Hiks ... Kakak ..."
Tersenyum, Edzar mengangguk. "Betul. Nah, adik dan kakak itu apa?"
"Saudara." Ibra menjawab.
"Pinter. Dan saudara harus saling apa?"
"Menyayangi." Ibra kembali menjawab.
"Nah, karena kalian saudara, kalian harus saling menyayangi. Selain itu juga harus saling berba ...?"
Hening. Ibra maupun Audi terdiam berpikir. Audi yang larut dengan pertanyaan Edzar sudah berhenti menangis.
"Berba ...?"
"Gi ..." jawab Ibra dan Audi ragu.
Edzar menjentikkan jarinya puas. "Benar."
"Kalian harus saling menyayangi dan berbagi. Berbagi makanan, berbagi mainan, berbagi apapun yang bisa kalian kasih satu sama lain. Jangan pelit, mau itu Audi atau Mas Ibra, kalian harus sama-sama saling memberi. Paham?"
__ADS_1
"Paham enggak?" tanya Edzar halus.
Audi dan Ibra mengangguk serentak.
"Nah, sekarang Mas Ibra kasih pinjam mainan yang Audi mau, Audi kasih pinjam Mas Ibra mainan yang Mas Ibra mau."
"Mas mau pinjam apa sama Audi?"
Ibra tampak bingung sejenak. Namun sesaat kemudian matanya berhenti lalu menunjuk sebuah benda.
"Lego?"
Ibra mengangguk.
"Oke, kita tanya Audi, ya. Audi, Mas Ibra boleh pinjam legonya?"
"Boleh, Om."
Edzar tersenyum. "Anak baik."
Audi mengambil lego yang dimaksud Ibra dan menyerahkannya pada bocah lelaki itu. Ibra menerimanya dengan senang hati.
"Nah, sekarang Audi mau pinjam apa sama Mas Ibra?"
"Mobil merah."
"Yang ini?" tunjuk Edzar pada sebuah ferrari mainan berukuran sedang plus remotnya.
"Huum," angguk Audi.
"Boleh, Mas?" tanya Edzar pada sang putra.
Ibra pun mengangguk. Ia sendiri yang menyerahkan mobil itu pada Audi.
"Nah, sekarang kalian harus sama-sama bilang apa?"
"Makasih ..." jawab Audi dan Ibra serentak.
"Pintar! Anak-anak Om pintar semua, ya. Nah, karena kalian anak pintar, sekarang mainnya udahan dulu, ya? Udah sore, Audi harus mandi, Mas Ibra juga harus mandi. Sekarang kita beresin sama-sama mainannya, ya? Oke?"
"Oke, Om!"
"Oke, Papi!"
Ibra dan Audi cepat-cepat membereskan mainan yang berserak. Edzar juga membantu sesekali. Ia menatap teduh kedua anak itu dengan perasaan hangat. Letih dan lelah setelah bekerja rasanya sedikit menguap dan terhibur.
"Sudah?"
"Sudaaahh!!!"
"Oke, sekarang Audi mandi sama Mama, ya? Mas Ibra nya pulang dulu. Besok main lagi. Ya?"
"Iya, Om," angguk Audi.
Edzar menuntun Ibra dan Audi turun ke lantai bawah. Audi langsung berlari ke dapur dan meminta sang mama agar memandikannya. Sementara Edzar membawa Ibra pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Sepanjang langkah Ibra tak berhenti memandangi lego yang dipinjamkan Audi. Bukan tanpa alasan Ibra memilih benda itu, karena lego tersebut rupanya pemberian anak laki-laki rekan kerja Uwa nya.
Audi mendapat itu saat ulang tahun yang ke dua, tahun lalu. Dan Ibra ingin sekali menghilangkan benda ini sejak dulu.