SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 146


__ADS_3

"Apa? Jadi Pak Iwan tinggalin Safa di sana?"


Pak Iwan menunduk, "Maaf, Nyonya. Tapi tadi Non Safa bilang Nyonya suruh saya pulang duluan. Karena kuenya sudah ditunggu."


"Kapan saya bilang seperti itu?"


Pak Iwan tampak mengernyit, sama seperti Nyonya Halim yang berkerut heran.


"Bukankah tadi Nyonya kirim pesan lewat WhatsApp? Non Safa sendiri memperlihatkannya."


"Apa?"


"Saya tidak merasa pernah mengirim pesan."


Keduanya diliputi kebingungan. Kalau bukan Nyonya Halim yang kirim pesan, lalu yang dia lihat itu chat siapa?


"Pak Iwan, Bapak tinggalin Safa di mana tadi?"


"Kedai mie tek-tek, Nyonya."


"Jemput sekarang juga!" tegas Nyonya Halim.


"Rey bilang Safa tidak boleh sendirian. Ada kemungkinan sewaktu-waktu dia akan menyakiti dirinya sendiri karena efek dari ketergantungan obat. Itulah kenapa saya dan Tuan sebisa mungkin selalu menemaninya."


Pak Iwan menelan ludah khawatir, juga merasa bodoh karena berhasil dibohongi Safa. Kalau sampai terjadi apa-apa, dia siap menerima konsekuensi apapun.


Tak lama setelah itu, Pak Iwan kembali ke kedai yang semula ia tinggalkan. Namun sesampainya di sana dia tak mendapati tanda-tanda keberadaan Safa sama sekali. Apa Safa sudah selesai makan, atau kedai ini memang bukan tujuan sebenarnya.


Lalu, kemana gadis itu pergi?


"Mas, Mas, lihat perempuan, gak? Masih muda, kulitnya putih, matanya agak sipit, tingginya sekitar segini, rambutnya panjang, pakai baju putih dan celana jeans. Tadi saya menurunkannya di sini. Barangkali Mas-nya lihat?" Pak Iwan bertanya pada salah satu pelayan lelaki yang sedang wara-wiri mengantar pesanan.


Pria itu nampak terdiam berpikir, mencoba mengingat seseorang yang Pak Iwan gambarkan. Namun sejurus kemudian kepalanya menggeleng, menyerah. "Maaf, Pak. Sepertinya saya tidak lihat. Kurang tahu juga, mungkin karena terlalu banyak orang yang saya lihat hari ini."


"Eh, kamu lihat gak?" tanya si pelayan pada temannya yang kebetulan lewat. "Atau kalian semua ada yang lihat gak? Cewek, matanya sipit, pake baju putih, celana jeans. Katanya tadi sempat ke sini," lanjutnya bertanya pada seluruh pengunjung.


Pak Iwan menghela nafas kala semuanya menggeleng. Harus ke mana dia mencari Nona Mudanya. Saat dia hampir berbalik meninggalkan kedai, salah satu wanita yang merupakan pelanggan berseru keras.


"Oh! Mungkin yang Bapak maksud perempuan yang tadi mau masuk ke sini tapi gak jadi, ya? Rambutnya cokelat panjang, kan?"


Spontan Pak Iwan mengangguk antusias, "Benar, Mbak. Mbak-nya lihat?"


"Iya tadi saya lihat dia kayak mau masuk, tapi gak tau kenapa malah gak jadi. Mukanya kayak sedih gitu. Sempat mau saya tanya, tapi dianya keburu pergi," jelas si wanita.


"Perginya ke mana, Mbak?" tanya Pak Iwan cepat.


"Tadi saya lihat ke arah sana. Tapi maaf, selebihnya saya gak tahu." Wanita itu menunjuk arah kanan dirinya, yang berarti kiri bagi Pak Iwan.


"Ya sudah, Mbak terima kasih. Kalau begitu saya permisi. Maaf mengganggu waktunya, Mas, semuanya, mari." Pak Iwan mengangguk segan kemudian berlalu dari sana.

__ADS_1


Dia terus bertanya pada orang-orang yang dilewatinya. Meski jawaban yang didapat tetap sama, mereka tak ada yang lihat. Padahal dia sudah menggunakan foto Safa yang tersimpan di galeri ponselnya, namun tetap saja, sulit mencari satu orang di kota yang terbilang besar ini, terlebih asing.


Ibarat kata mencari jarum di tumpukan jerami. Itulah yang sedang pak Iwan alami.


Sementara itu, di sudut lain kota Pasundan, Safa baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Menenteng berbagai macam barang yang terbungkus apik dalam paper bag.


Sekeras apapun dia menahan, tetap saja, baginya belanja merupakan healing terbaik yang pernah ada. Safa mengintip ponsel, melihat chat balasan dari pengemudi taksi yang dia pesan.


Safa mengedarkan pandangan mencari mobil yang dimaksud. Tak lama seorang pria keluar dari pintu kemudi tak jauh darinya. Menghampiri Safa yang tengah celingukan.


"Mbak Safana Halim?"


"Eh, iya, Mas. Taksi online 'kan?"


"Betul, Mbak. Mari?"


Safa mengangguk, mengikuti langkah si pengemudi yang terbilang masih muda itu ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.


Safa masuk di kursi belakang, menempatkan barang belanjaan di sampingnya, lalu kembali membuka ponsel yang sempat dia matikan selepas kepergian Pak Iwan di kedai mie tek-tek.


Safa pesan taksi pakai ponsel satunya, jadi aman. Ketika layar itu menyala, puluhan bahkan hampir ratusan pesan masuk di aplikasi telpon hijaunya. Safa berdecak karena hal itu membuat kinerja ponselnya melambat.


Dia biarkan saja sebentar, setidaknya sampai pengambilan datanya selesai dan ponselnya kembali berjalan normal.


Safa tidak menyadari sepasang mata memeprhatikannya sejak tadi. Sejak mobil itu berjalan, si pengemudi taksi tak henti meliriknya dari kaca spion depan. Safa yang terlalu fokus bahkan tidak tahu jalan yang mereka lewati bukan jalan yang biasa dilalui menuju villa.


"Mbak, dompet saya ketinggalan di kursi belakang. Bisa tolong ambilkan?"


Safa berkedip, "Oh, kirain apa," ucapnya menghela nafas samar.


Safa mulai mencari di sekitar kursi yang ia duduki. Bahkan sampai mengangkat kantung-kantung belanjaannya guna menemukan dompet yang dimaksud.


"Kok, gak ada ya, Mas? Masnya yakin tadi simpan di sini?"


"Yakin, Mbak. Tadi saya tiduran di sana."


Dahi Safa mengerut, kembali menggeledah jok penumpang itu dengan seksama.


"Ya sudah, biar saya cari sendiri, Mbak," ucap lelaki itu sembari melepas sabuk pengaman.


Safa mengangguk tanpa curiga. Dia sedikit menyingkir kala tubuh laki-laki itu condong ke belakang, menggeratak sekitaran kursi yang Safa duduki.


"Aduh, susah," keluhnya seraya meranggung memindahkan tubuh ke belakang.


Safa tersenyum canggung, dia juga kembali ikut mencari walau tak menemukan apapun. Matanya melongok ke sela kursi dan pintu, saat itulah dia merasa sesuatu yang tidak beres.


Pergerakannya berhenti seketika. Rasa was-was mulai muncul, susah payah dia menelan ludah menolehkan kepala ke belakang. Tubuhnya menegang menatap pria yang kini juga tengah memandangnya.


Masalahnya bukan itu, Safa merasa sebuah tangan terselip di bawah bokongnya, persis ia duduki saat ini. Perlahan jemari itu bergerak, membelai bagian belakang tubuh Safa yang terbalut celana jeans.

__ADS_1


Safa mulai gemetar ketakutan, terlebih saat pria itu mulai mendekat mengungkung Safa di antara pintu. Sontak Safa mundur meski percuma. Punggungnya tak ada ruang untuk berherak lebih.


"M-mas, ka-katanya mau cari dompet...." cicit Safa bergetar.


Pria itu tak menjawab. Safa menepis tangan yang hendak menyentuh wajahnya. "Mas jangan kurang ajar, ya! Atau—"


"Atau apa? Lapor polisi?"


"Sayang sekali, sebelum itu terjadi aku tak yakin eksistensimu di dunia ini masih ada."


"Berbuat jahat itu tidak perlu tanggung-tanggung. Toh, sama-sama akan dipenjara, kan?"


Safa menggeleng rikuh, "J-jangan, Mas. Saya mohon. Lebih baik tidak sama sekali ketimbang dipenjara. Mas minta apa? Uang? Atau ini? Ini jam langka, lebih mahal dari 1 unit mobil." Safa melepas jam tangan yang ia kenakan, menyerahkan pada lelaki itu yang masih setia diam.


"Mas minta apa? Akan saya kasih semuanya...." Mata Safa mulai berair. Tubuhnya bergetar parah. Isaknya lambat-laun terdengar lirih.


Pria itu tersenyum, "Oke, dengan senang hati," ucapnya menerima pemberian Safa.


"Tapi, kamu terlalu sayang untuk dilewatkan. Sudah kukatakan, berbuat jahat itu tidak perlu tanggung-tanggung, kan?"


Safa melotot, "Jangan! Mas sadar, Mas!"


"Salahkan kecantikanmu yang membuatku hilang akal."


"Lepas!"


Safa memberontak kala lelaki itu mulai merengkuhnya. Dia menjerit berusaha melepaskan diri. Tangan mungilnya menggedor kaca, berharap ada seseorang yang menyadari dan mau menolongnya.


"Tolong....!!!"


"Mas jangan....!"


"Hiks, Ayah....!!!"


Tangis Safa pecah seiring dia merasa tangan itu meraba tubuhnya. Ponselnya berkedip, nada dering memekakan terdengar dari bawah kursi. Dengan gemetar dia berusaha meraihnya, namun gagal karena lelaki itu mencekal dan mencengkram kuat pergelangan tangannya.


Entah siapa yang menelpon, Safa berusaha menendang lelaki itu, mencari alat vital yang menjadi kelemahannya. Namun seolah sadar dengan pergerakannya lelaki itu dapat berkelit dengan mudah.


Safa tak henti berteriak minta tolong. Tak peduli tenggorokannya sakit saking kerasnya dia mengeluarkan suara.


"Percuma. Di sini sepi, hampir tidak pernah orang lewat ke sini."


"Hiks, lepas...."


Srek!


"Aaaa....!!!"


"Ahh...."

__ADS_1


__ADS_2