SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 92


__ADS_3

"Kebetulan ada kamu Edzar. Aku mau minta tolong, dong. Tolong izinkan Safa menumpang di mobil kamu, ya? Rumah kalian, kan, sebelahan. Males banget aku kalo harus nganterin dia."


Keinginan tak sesuai harapan. Tante Miranti dan Edzar sudah bertemu, bahkan terlibat beberapa obrolan antara kakak dan calon adik ipar. Tapi yang lebih tidak Safa harapkan adalah pulang bersama Edzar. Lebih baik dia pesan taksi ketimbang harus duduk dalam satu ruang dengan pria itu. Apalagi dalam waktu lama. Satu jam serasa setahun bagi Safa.


"Tante kok gitu? Safa, kan, berangkat sama Tante, pulangnya juga harus sama Tante, dong," protes Safa tak terima.


"Kamu gak kasian sama Tante? Ini sudah malam, lho. Kalo di jalan ada begal gimana? Hih, gak mau ah, takut. Tante belum kawin, you know?"


Safa cemberut. Benar juga. Sebenarnya Safa juga tidak tega kalau Miranti harus mengantarnya dulu ke rumah. Disuruh nginap pun pasti gak mau karena besok sudah harus kerja lagi.


Tapi Safa tidak mau pulang sama Edzar.


"Ini masih jam setengah tujuh, Tante. Masih rame. Begal di mana coba?"


"Jarak dari sini ke rumah Tante itu lebih dari satu jam. Ditambah harus nganterin kamu dulu. Coba bayangkan, kira-kira Tante nyampe jam berapa?"


Miranti mencari alasan. Biasanya dia juga sering pulang malam, bahkan di atas jam sepuluh kalau ada lembur. Sebenarnya dia malas saja mengantar Safa. Dan kebetulan ada Edzar, kenapa kesempatan harus disia-siakan? Terlebih Safa yang lugu percaya saja.


"Ya udah, aku pesan taksi aja," putus Safa.


Seketika Miranti melotot gemas. "Enggak!"


"Tante gak akan izinin kamu naik taksi, apalagi malam begini. Tante lebih khawatir kamu pulang dengan orang lain ketimbang kamu nginap di sini."


"Udahlah, pulang aja sama Edzar. Tante lebih percaya dia daripada sopir taksi yang bukan siapa-siapa."


"Hari gini banyak kasus yang enggak-enggak. Bukannya Tante mau nethink sama orang, tapi waspada apa salahnya, kan?"


"Tante..." rengek Safa.

__ADS_1


Kenapa jadi begini, sih? Apa tidak ada pilihan lain selain Edzar? Tidak tahukah kalau mereka terlibat sesuatu tak mengenakkan?


Edzar menatap Safa lekat-lekat. Terlihat sekali Safa enggan dekat-dekat dengannya. Padahal dia sendiri tak keberatan jika harus pulang dengan Safa. Kalau dulu Edzar akan merasa tak nyaman, sekarang dia malah senang bisa berdekatan dengan Safa kembali.


"Mbak pulang saja. Safa biar sama saya."


Safa menoleh sengit pada Edzar. Apa-apaan pria itu? Seharusnya di sini Safa yang berhak memutuskan.


"Enggak mau!" tolak Safa mentah-mentah.


"Jangan keras kepala, deh, Safa. Kamu kenapa segitu gak maunya, sih, pulang sama Edzar? Kalian itu sebentar lagi akan jadi keluarga. Yang sopan, dong, sama Edzar. Dia juga calon Om kamu."


"Mungkin karena kami belum mengenal lama, jadi Safa sedikit tak enak dengan saya." Edzar menoleh pada Safa. Tangannya terangkat mengusap pucuk kepala gadis itu sembari tersenyum lembut. Ingin sekali Safa menepisnya kalau tidak ada Miranti di sini. Kesempatan banget, sih!


Di mata Miranti, Edzar melakukan itu karena rasa persaudaraan antara Om dan keponakan. Dia jadi ikut tersenyum melihatnya. Sepertinya keluarga besar mereka akan akur.


"Tuh, Safa. Om kamu gak keberatan. Lagian rumah kalian itu sebelahan. Bukannya ini jalan yang lebih efektif ketimbang harus pulang sama Tante?"


Safa malah merengut. Kalau sudah begini, dengan cara apa lagi dia harus menolak? Safa ditekan dari dua sisi.


Mau tak mau dia mengangguk. Miranti menepuk kepalanya pelan sembari berkata, "Anak baik. Tante pulang duluan, ya."


Senyum Miranti bagai bencana bagi Safa. Apalagi saat melihat wanita itu menjauh, rasanya Safa ingin ikut. Jangan kira dia menerima begitu saja. Karena setelah Miranti pulang, Safa akan pesan taksi online atau telpon Kamila kalau perlu. Asal dia bisa terhindar dari rencana pulang bersama Edzar.


Namun lagi-lagi hal itu berhasil Edzar cegah. Lelaki itu seakan memiliki kemampuan membaca pikiran. Edzar menahan lengan Safa yang bergeser menjauhinya. Pria itu tak memberi kesempatan sedikitpun untuk Safa melancarkan aksinya. Serta-merta Edzar langsung menyeretnya ke arah mobil di parkiran.


Tapi saat sampai di sana Safa malah dibuat mematung oleh kehadiran Liandra yang berdiri di samping mobil Edzar.


Edzar habis pergi dengan Liandra? Lalu kenapa sekarang malah ngotot mengajaknya pulang bersama? Apa pria itu berniat menambah luka di hati Safa? Safa masih belum sepenuhnya sembuh dari patah hati. Haruskah Edzar begitu kejam seperti ini?

__ADS_1


Sebenarnya apa mau pria itu? Safa sudah berusaha sekeras mungkin untuk menjauh sesuai keinginannya. Sikap Edzar yang seperti ini malah mempersulitnya.


"Sudah selesai, Mas? Ini... siapa?" tanya Liandra menatap bergantian Edzar dan Safa.


Dia terkejut Edzar membawa wanita lain saat kembali. Matanya turun melihat tangan keduanya yang bertautan. Salah, lebih tepatnya Edzar yang menggenggam pergelangan gadis itu. Hal itu menunjukkan bahwa Edzar lah pihak yang menyeretnya kemari.


Belum sempat Edzar menjawab, Safa sudah mendahuluinya, "Saya keponakannya, Mbak."


Edzar langsung menoleh ke samping. Dan detik itu juga dia menyadari ketidaknyamanan gadis itu. Matanya menyiratkan luka yang seketika membuat Edzar tersadar. Apa yang sedang ia lakukan? Menyakiti dua wanita dalam satu waktu sekaligus?


Jawaban Safa membuat senyum Liandra seketika terbit. "Ternyata keponakan," ucapnya lega. Wanita itu mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Kenalin, saya Liandra."


Sejenak Safa mematung, tangannya menggeliat pelan hingga mau tak mau Edzar melepas genggamannya. Ragu-ragu Safa membalas uluran tangan Liandra. "Safa," ucapnya setengah tersenyum.


Senyum itu malah menyentil hati Edzar. Lagi-lagi dia membuat Safa terluka. Seharusnya Edzar tahu, meski Liandra bukan siapa-siapa baginya, tapi pikiran Safa beda lagi.


Perjalanan diliputi keheningan. Edzar yang bungkam dan Safa yang tak berani mengeluarkan suara. Karena kalau Safa bicara sekali saja, maka akan ketahuan bahwa dia sedang menahan tangis. Hanya Liandra yang nampak biasa. Sesekali mengajak Edzar berbincang walau jawaban yang didapat pendek-pendek.


Keadaan remang menguntungkan Safa yang duduk di kursi belakang. Dengan begitu tidak akan ada yang tahu ekspresinya saat ini seperti apa. Mobil mendarat di depan rumah Liandra. Wanita itu tersenyum melepas sabuk pengaman dan berberes tasnya.


Tanpa diduga Liandra mencondongkan tubuh ke arah Edzar. Kejadian selanjutnya semakin membuat hati Safa teriris sembilu. Liandra mengecup singkat pipi Edzar, setelahnya dia menjauh dengan senyum malu-malu. "Makasih, ya, Mas, sudah antar saya. Saya senang bisa pulang bareng Mas Edzar." Ucapnya tulus.


Liandra keluar dan berdiri di pinggir jalan, melambai pada mobil Edzar yang kembali melaju meninggalkannya dengan perasaan senang. Tubuhnya berbalik memasuki halaman, lalu membuka pintu memasuki rumah.


Hati Liandra berbunga-bunga, namun hati Safa jelas terluka. Gadis itu mematung sepanjang jalan, pun dengan Edzar yang tidak menduga Liandra akan seberani itu menciumnya. Terlebih di hadapan Safa. Edzar meminggirkan mobilnya setelah dirasa cukup jauh dari rumah Liandra. Matanya melirik Safa dari kaca spion depan.


"Mau pindah ke depan?" tanyanya pelan.


Safa tak menjawab, hanya saja kepalanya menggeleng memberi penolakan. Edzar menghela nafas dan kembali berkata, "Tadi itu—"

__ADS_1


"Tak perlu dijelaskan. Kita bukan siapa-siapa."


__ADS_2